
Dhany menatap wajah letih sang istri yang tengah terlelap di kursi penumpang setelah bergumulan panas di dalam mobil. Tanpa berpamitan pada kedua orang tuanya Dhany langsung melajukan mobilnya menuju kediaman pribadinya. Ditengah perjalanan Dhany menelfon kepala maid, ia meminta agar di siapakan selimut tebal di depan rumah.
Perjalanan itu di temani cahaya temaram bulan purnama. Entah berapa lama kedua pasangan muda tersebut memadu kasih hingga tanpa sadar hari sudah malam. Arus kendaraan terlampau lancar, tidak semacet saat dia kembali dari mall. Hanya butuh beberapa menit sampai mobilnya memasuki istananya.
Sesuai perintah yang di berikan melalu sambungan telefon tadi. Pemandangan yang di lihatnya saat memasuki gerbang rumah adalah jejeran maid dan penjaga rumah yang menunggu di teras. Salah satu dari maid tersebut membawa sebuah selimut tebal.
"Silakan tuan selimutnya," kata seorang maid saat melihat majikannya keluar dari mobil. Tak lupa ia juga menyodorkan selimut yang dari tadi ia bekap.
"Terima kasih Lily. Tolong kalian semua berbalik badan baik yang perempuan ataupun laki-laki.
"Baik tuan."
Dhany berjalan membuka pintu penumpang membungkuk. Selang beberapa menit Dhany dengan santainya melangkah melewati barisan maid dengan menggendong sebuah buntalan selimut. Para maid yang melihat kejadian tersebut menerka kalau tubuh nyonya-nya kini hanya tertutup selimut tanpa pakaian satupun. Hal itu terbukti dari bahu mulus Nandha yang tengah mengintip.
"Tolong antarkan air hangat ke kamar saya," perintahnya sebelum menghilang dari hadapan para maid.
Dhany merebahkan tubuh lemah Nandha dengan lembut seakan-akan tubuh itu akan hancur jika ia kasar. Dia bahkan sempat menggoyangkan tubuhnya karena merasakan tubuh Nandha menggeliat tak nyaman dalam gendongannya sebelum di rebahkan. Seakan dia tengan merawat seorang bayi, bayi besar tentunya.
Seorang maid masuk membawa sebaskom air hangat setelah mengetuk dan mendapatkan ijin darinya.
"Letakan saja disini, tolong ambilkan handuk," perintah Dhany. "Terima kasih kau bisa keluar sekarang." Maid itu pergi meninggalkan tuannya sesuai perintah.
Setelah memastikan maid tersebut keluar dan menutup rapat pintunya, ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan untuk mengunci pintu tersebut. Perlahan membuka bungkusan selimut pada tubuh istrinya danโ
Woaw ... Pemandangan indah tubuh indah mulus tanpa benang sehelaipun tersaji epik di depan mata Dhany. Menurut Dhany tubuh itu semakin indah dengan bercak biru keunguan yang merupakan hasil karyanya. "Indah sekali ... Sangat indah saat tanda kepemilikan ini memenuhi tubuhmu," Dhany bermonolog.
Perlahan laki-laki itu mengusap tubuh istrinya dengan handuk yang sudah di basahi dengan air hangat. Sesekali Nandha akan menggeliat saat handuk itu menyentuh tubuhnya. Jika sudah seperti maka Dhany dengan senang hati akan menepuk pantat sekal Nandha, memberi rasa nyaman.
Butuh waktu 10 menit untuk Dhany menyelesaikan semuanya. Bukan hanya menyeka tubuh istrinya tapi juga memakaikannya piama bermotif BT21. Di kecupnya kening sang istri, "Sleep well sayang," katanya sebelum pergi membersihkan dirinya sendiri sebelum menyusul Nandha ke negeri dongeng.
*****
__ADS_1
Cahaya matahari mengintip dari celah gorden mengusik tidur sepasang sejoli yang tengah terbuai mimpi indah. Dhany dan Nandha mengerjap di saat bersamaan. Keduanya mengedip beberapa kali berusaha menyesuaikan intensitas cahaya yang memasuki retinanya.
"Morning Queen," sapa Dhany setelah mengecup bibir pasangannya, katanya sih morning kiss.
Nandha menduselkan wajahnya di dada si laki-lakinya, "Morning too Buluk," balasnya dengan cengiran.
"Dih, kok Buluk? Perasaan gue ganteng loh."
"Cih kepedean," cicit Nandha dengan tangan yang sudah mencubit pinggang Dhany.
"Aduh ... Aduh ... Ampun Yang. Mandi yuk Yang," ajak Dhany.
Nandha tampak menimang beberapa saat sebelum mengangguk lemah, "Gendong, pant*tku sakit," Nandha merengerek layaknya anak kecil.
Dhany menjapit hidung bangir Nandha di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, "Dasar manja."
"Ehehehe ...."
"Kok kamu malah ketawa sih Yang?" rajuk Nandha.
"Hahaha, maaf Sayang. Udah ah, jangan ngambek terus. Mending sekarang kamu turun dulu aku mau ke toilet." ucap Dhany sambil mengelus kepala Nandha dengan lembut.
"Oke, jangan lama-lama, ya?" Nandha turun dari mobil dan berjalan santai menuju kelas.
"Maafin aku sayang," batin Dhany saat menatap punggung Nandha yang berjalan menjauhi mobilnya.
Di dalam kelas Nandha nampak lesu dan lemas tidak seperti biasanya.
Pagi itu semua berjalan dengan baik tanpa ada sesuatu yang mencurigakan, kecuali batin Nandha yang sedari tadi pagi memang sudah tidak tenang. Semua kecemasannya menjadi kenyataan saat ia bertemu dengan Reno saat akan pergi ke kantin menyusul teman-temannya.
"Heh tukang bolos!!" teriak Reno dari belakang. Pemuda itupun tampak berlari mendekat mengejar jalan Nandha yang sengaja mengacuhkannya.
__ADS_1
"Lo kenapa diem aja?" tanya Reno polos.
Nandha berbalik menatap Reno dengan tajam, "Lo bisa nggak sih, nggak ganggu gue?" sarkas Nandha.
"Nggak bisa, gimana dong?"
"Dahlah, bodo amat." putus Nandha kesal.
"Pacar lo mana? Tumben dia nggak ngintilin elo," tanya Reno yang membuyarkan lamunannya, "Benar. Dimana suaminya tadi? Tadi pagi dia ijin ke toilet sesaat sebelum bel istirahat berbunyi, sekarang sudah istirahat. Lalu pergi kemana pemuda itu?" Batin Nandha gundah.
Nandha kembali tersadar saat mendengar teriakan singkat dari Reno. Saat ingin mengamuk pada Reno. Gadis itu malah di suguhi pemandangan dimana si ketua osis tengah bersimpuh dengan buku-buku yang ia bawa tergeletak di lantai.
"Loh?! Lo kenapa?" Nandha panik dan langsung membantu Reno. "Lo nggak papa kan?"
Panik? Ya. Suara Nandha terdengar sangat panik saat melihat keadaan Reno saat ini. Nandha mengemas buku yang berserakan dan mengulurkan tangan berniat membantu Reno kembali bangun. Namun ia malah mendengar rintihan dan desisan dari mulut lawan bicaranya.
"Kayaknya kaki lo keseleo, ya? Tangan lo juga berdarah gitu. Yaudah buku lo biar gue yang bawa, lo pegangan aja sama pundak gue. Gue anterin lo ke tempat tujuan lo." Ujar Nandha. Reno terkesima. Dia tak tau bahwa gadis rusuh yang di panggil tukang bolos ini ternyata sosok yang sangat baik hati.
"Gue mau ke ruangan bu Siska, tolongin ya?" pinta Reno, agak sedikit memelas. Nandha hanya berdehem, moodnya kembali hancur saat mendengar nama guru matematikanya itu.
Mereka berdua berjalan beriringan dengan tangan Reno yang bertengger epik di pundak Nandha. Semua siswa menatap aneh kearah mereka berdua. Pasalnya ini kali pertama mereka di lihat tengah akur di depan umum. Biasanya mereka akan saling adu bacotan unfaedah sepanjang hari.
"Mau gue temenin masuk?" Tanya Nandha sambil melirik Reno saat sampai di depan ruangan sang guru.
"Iya, susah juga gue jalannya sambil bawa buku."
Nandha menghela nafas dan membiarkan Reno mengetuk pintu. Merasa tak ada jawaban maka Reno memutuskan untuk masuk. Tapi saat pintu ruangan itu terbuka yang pertama ia lihat adalah hal yang tidak senonoh. Sesuatu yang seharusnya tidak di lakukan di lingkup sekolah. Melihat hal itu Nandha menggertakan giginya lantas melempar segebok buku yang sedari ia bawa ke arah tatapannya saat ini.
"B*JINGAN BUSUK!!"
*****
__ADS_1