The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 112


__ADS_3

*Budayakan like, koment, vote dan follow ya biar Chiplux makin semangat up nya. Happy reading.😊😊😊


Dhany mengangkat telepon dari sang mama. Tak lama setelah mereka mengobrol tiba - tiba nampak jelas ekspresi kaget di wajah Dhany. Nandha yang sedari tadi hanya memperhatikan saja. Kini mulai bingung apa yang sebenarnya mereka bicarakan*.


******


“Ada apa Yang?” tanya Nandha.


“Enggak, cuma tadi mamah bilang di suruh cepet-cepet pulang ada yang mau di omongin,” jawab Dhany yang masih fokus dengan ponselnya.


Nandha memiringkan kepalanya, “Beneran nggak ada apa-apa?” tanyaku lagi.


Dhany menghembus nafas kasar, “Leon udah pulang, ada beberapa luka bakar di tubuhnya. Itu sebabnya kita harus pulang buat lihat keadaan dia.”


“Apa?! Kok bisa? Gimana ceritanya sih?” tanyaku dengan suara tinggi. “Ya udah kita pulang sekarang, makanannya kita bungkus aja.” Sambung Nandha.


Mereka pun memutuskan untuk membungkus makanannya. Setelah semua pesanan terbungkus Nandha dan Dhany segera meluncur pulang ke rumah keluarga Effendi.


Selama perjalanan Dhany dan Nandha tak saling menyapa. Mereka seakan hanyut dalam pikiran masing-masing. Nandha yang bingung atas apa yang terjadi, sedangkan Dhany bingung dengan keadaan Leon. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit akhirnya mereka sampai di rumah keluarga Effendi.


“Selamat datang Tuan dan Nyonya muda,” sapa para pekerja yang ada di rumah itu.


“Dimana papa sama mama pak?” tanya Dhany pada seorang pria tua.


Pria tua itu pun menjawab, “Tuan dan Nyonya ada di halaman belakang Tuan.”


Dhany lantas menarik Nandha agar lekas sampai di halaman belakang. Disana nampak kedua orang tuanya tengah duduk di pinggir kolam dj temani secangkir teh panas yang masih mengeluarkan kepulan asap tipis. Di depan mereka duduk seorang laki-laki yang sangat di kenali oleh Dhany.


“Leon!” teriaknya. Dhany berlari menghampiri Leon.


Di tatapanya seluruh tubuh Leon.


Nandha yang di tinggal oleh Dhany kini tengah menatap suaminya yang sedang terkejut dan menutup mulutnya. Nandha yang melihat ekspresi Dhany langsung ikut menyusul ke posisinya.


BLETAK


Dhany menggeplak kepala Leon.


“Baji*gan busuk! Gue kira lo kenapa-kenapa, kata mama lo kena luka bakar, sekarang mana lukanya?” tanya Dhany. Di dudukkannya tubuh lelahnya di samping adik sahabatnya itu.


“Anu Boss, sebenernya lukanya nggak parah kok, cu-cuma celana gue aja yang robek. Bukan luka tubuh,” jawab Leon takut.


“Celana robek?!” Dhany menatap ke arah sang mamah yang sedang duduk di bangku taman belakang. “MAMAH!” teriaknya sekencang-kencangnya.


Katrine yang mendengar teriak anaknya spontan langsung memalingkan wajah ke arah dimana teriakan berasal. Nandha yang melihat kejadian itu hanya mampu menatap ketiga orang itu secara bergantian.


Nampak jelas raut bingung di wajah Nandha, “Tunggu ... ini sebenarnya ada apa?” tanya Nandha.

__ADS_1


“Nggak ada apa-apa kok Nyonya,” jawab Leon. Nampak senyum manis tersungging di wajah mulus Leon.


BRAK


“Leon!”


William dan Bennedict tiba-tiba masuk dan berteriak-teriak layaknya orang kesurupan. Mereka berdua lari ke arah Leon yang sedang duduk tegak di samping Dhany.


“Mamp*s gue, kayaknya gue bakal kena geplak nih sama abang gara-gara ke bakar,” batin Leon.


“Leon, gue denger lo luka. Dimana yang luka?” tanya William dengan ekspresi yang sangat khawatir. “Bukan itukan yang luka?” tanya William lagi.


“A-anu bang, itu ....”


“Apa?”


Dengan keberanian ekstra akhirnya Leon mengaku, “Anu Bang, yang luka itu ... celana Abang,” jawabnya tersendat.


“Apa?” tanya William.


“Jad maksud elo, yang kena luka bakar itu celana gue bukan elo?” tanyanya.


“Iya Bang,” jawab Leon.


William menunduk, “Bangke! Beraninya elo sobekin celana gue!” teriak William sambil menerjang tubuh Leon.


Dhany dan yang ainnya hanya mampu melihat adegan Leon yang di kejar oleh William di susul oleh Ben yang mencoba menghentikan pertikaian di antara saudara kembar itu. Leon yang memang lebih gesit di banding William tentu saja berhasil meloloskan diri.


“Hah ... hah ... hah, udah cukup Bang, gue nggak sanggup lagi kalau harus lari-lari,” pinta Leon dengan nafas tersengal-sengal.


“Buat kali ini aja gue lepasin elo,” sahut William sambil selonjoran.


Tengku dan Katrine mengikuti mereka dan duduk di sofa yang masih kosong. Di lihatnya kelakuan anaknya bersama teman-temannya yang sungguh menggelitik. Tetapi mereka tidak sadar bahwa ada 1 orang yang tiba-tiba menghilang.


“Loh dimana Nandha?” tanya Katrine sambil celingukan.


“Tadi aku liat dia jalan ke dapur, aku susul duu aja deh.” Dhany melenggang pergi meninggalkan Papah dan Mamahnya serta ke3 sahabatnya.


Saat sampai di dapur ia melihat istrinya dengan cekatan tengah minuman dan menyiapkan beberapa cemilan di atas nampan. Di dekatinya sang istri dengan hati-hati.


“Kamu ngapain repot-repot bikin ginian? Kan tinggal suruh maid aja.” Dhany melingkarkan tangannya di pinggang ramping Nandha.


Nandha mengusap pipi Dhany, “Nggak papa, dari tadi aku nggak ngerti kalian ngomongin apa. Jadi aku pergi buat minuman aja, lebih enak,” jawab Nandha.


Dhany membalik tubuh Nandha menjadi saling berhadapan, “Aku nggak mau lihat kamu ngerjain pekerjaan rumah selama disini.” Dhany memberi ultimatum pada Nandha.


“Nggak mau! Aku tetep bakal lakuin semua pekerjaan dapur sama Mamah,” balas Nandha.

__ADS_1


Dhany mengangkat sebelah alisnya saat mendengar jawaban dari Nandha. Dia tak menyangka istrinya akan membantahnya hanya karna urusan dapur.


“Kamu mau bantah aku ya, hemm?” Dhany berdeham di akhir pertanyaannya.


Nandha menggelayutkan tangannya pada leher sang suami, “Kalau iya kenapa? Suamiku tersayang kan ngga bakal hukum aku cuma buat urusan sepele,” kata Nandha.


“Oho ... maaf Sayang, kali ini aku bakal bikin perhitungan buat urusan sekecil apapun, jadi silakan terima hukumanmu.”


Dhany langsung menyambar bibir mungil Nandha dan mel*matnya. Nandha yang terkejut hanya mampu mengerjap bingung merasakan benda kenyal nan bahas menyentuh bibirnya. Dhany yang sedari tadi menutup matanya kini sudah membuka sebelah matanya. Dilihatnya wajah cengoh sang istri.


“Cepat tutup matamu dan nikmatilah,” perintahnya di sela cium*n.


Nandha yang terkejut dengan cepat mengikuti arahan Dhany, gadis itu dengan cepat menutup matanya dan mempererat pelukannya. Sebelum menutup matanya kembali Dhany sempat bersemirk lalu kembali melanjutkan acara hukum menghukumnya.


“Allahu Akbar!!”


Teriak Bennedict saat melihat Tuannya tengah bercumbu dengan sang Nyonya. Karena terlalu menikmati cumbu*n sang suami, Nandha jadi sama sekali tidak menyadari kedatangan Ben. Berbeda dengan Dhany yang menyadari keberadaan Ben membuat dirinya dengan sigap meraih sebuah serbet dan di lemparkannya ke arah mulut Ben yang tengah berteriak sambil memutar tubuh mereka.


“Emm ... em ... eem ....” gumam Ben yang mulutnya tersumpal oleh serbet hasil lemparan Dhany.


Dhany melepas pangutannya tapi tidak melepaskan pelukannya. Nandha yang masih mengatur nafasnya terus memeluk tubuh tegap Dhany.


“Yang,” panggil Dhany.


Nandha hanya membalas dengan deheman, “hm ....” jawabnya.


“Itu anu, tadi si Ben lihat kita lagi anuan,” kata Dhany sambil memainkan jarinya.


“Apa?! Kok bisa sih?” tanya Nandha.


“Ya bisalah, ya udah mending sekarang kita kesana dulu. Jangan lupa itu dibawa.” Dhany menuding nampan yang tadi siapin oleh Nandha.


Dhany meninggalkan Nandha yang nampak jengkel dengan dirinya. Nandha bergumam sendirian di dapur. Setelah selesai menata semuanya Nandha kembali ke ruang tamu. Di hidangkannya minuman dan snack di hadapan tamunya.


“Nyonya itu kenapa lipstiknya belepotan?” tanya Ben menggoda istri tuannya.


Nandha mendelikan matanya di Ben, tapi Ben tidak menghiraukan pelototan dari Nandha, laki-laki itu malah semakin gencar menggoda kedua bossnya itu.


“Nah Boss, itu bibir lu ngapa ada lipstiknya?” tanya Ben menggoda Dhany.


“Habis minta jatah, jomblo nggak bakal paham!” balas Dhany dengan savagenya.


Semua orang tertawa mendengar balasan savage Dhany saat di goda oleh Ben. Siapa sangka Ben yang berniat menggoda Tuan alias Bossnya itu malah kena batunya sendiri. Kini dia harus menerima dengan lapang dada di tertawakan oleh semua orang.


Ben menatap Nandha yang tengah tertawa puas. Gadis itu memberi isyarat bibir yang mengatakan, “Mamp*****os lo.”


*******

__ADS_1


__ADS_2