
Budayakan like, koment, vote dan follow ya biar Chiplux makin semangat up nya.πππ
Dari awal mereka mengobrol sampai Dhany yang sibuk membujuk Nandha, ternyata ada sepasang mata yang mengawasinya. Dan tersenyum melihat interaksi mereka.
****
"Aduuh ... gila ngilu banget anjiir," rintih Jafar saat pertama kali membuka matanya.
"Kamu udah sadar? bagian mana yang sakit?" tanya seorang guru cantik yang ada disana.
"Anda siapa? dan dimana saya?" tanya Jafar sambil memandang ruangan yang serba putih itu.
Guru itu mendekat sambil membawa segelas air putih, "Nama saya Siska, saya guru matematika. Kamu sekarang ada di uks karena pingsan di tempat sampah," ucap bu guru cantik yang ternyata adalah bu Siska.
"Apa?!! saya pingsan di tempat sampah?"
"Ya, tadi kamu dibawa pak satpam dan juga tukang kebun dalam keadaan pingsan. Pas saya tanya kamu kenapa mereka cuma bilang kamu di temukan pingsan di tempat sampah sehabis cekcok dengan salah satu siswi bernama Nandha." bu Siska menjelaskan dengan rinci.
Jafar kembali mengingat kejadian dimana dia di hajar tanpa ampun oleh Nandha. Nampak jelas guratan urat di leher Jafar karena saking kesalnya.
"Kenapa Nandha jadi begitu kasar, ini pasti karena pengaruh cowok brengsek itu," ucap Jafar penuh emosi.
"Maaf menyela, tapi apa hubungan kamu dengan Nandha?" tanya bu Siska yang tak sengaja mendengar keluhan Jafar.
Jafar memandang bu Siska dengan penuh rasa curiga. "Apa urusannya sama ibu?" tanya Jafar dengan nada yang sedikit tinggi.
"Kamu tenang saja, mungkin kita bisa menjadi patner." tawar bu Siska pada Jafar.
Jafar menaikkan alisnya, "Patner? jangan bilang ibu mau jadi patner s*x saya?" ucap Jafar yang memang otaknya di penuhi dengan hormon yadong.
"Sembarangan!!"
Bu Siska hampir saja memukul kepala Jafar karena amarahnya, "Saya lihat kamu sepertinya menyukai Nandha. Kamu pasti tau siapa rival kamu kan."katanya.
"Taulah. Rival saya yang paling berat kan si Dhany," jawab Jafar berapi-api.
Bu Siska bersemirk mendengar ucapan Jafar, "Bagus kalau kamu sudah tau, oleh karena itu saya mau menawarkan kerjasama karena saya menyukai Dhany." ucap bu Siska lagi.
"Karena saya menyukai Dhany jadi Nandha adalah halangan terbesar saya. Jadi apa kamu mau bekerja sama dengan saya." bu Siska mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Jafar. Tanpa rasa ragu Jafar pun menerima tawaran bu Siska dengan senang hati.
"Jadi apa rencana anda?" tanya Jafar sembari melepas tangannya menyudahi acara berjabat tangannya.
"Kamu kasih kontak kamu saja nanti saya kabari lebih lanjut mengenai rencana kita," kata bu Siska sambil bersemirk.
Jafar pun menuliskan nomor ponselnya di hp bu Siska yang bergambarkan apel krowak.
"Senang bekerjasama dengan anda," ucap Jafar sambil menyerahkan ponsel bu Siska, "Kalau begitu saya permisi dulu," kata Jafar berpamitan dan pergi meninggalkan bu Siska yang sedang berjaga.
Saat ia keluar dari uks ternyata saat itu sedang waktunya istirahat. Semua pandang tertuju padanya, mungkin ini efek atas kejadian ia yang di buang oleh Nandha di tempat sampah.
"Apa lo lihat-lihat!!" Jafar meneriaki beberapa orang yang tengah berbisik dan tertawa sambi melihat ia.
"Lawan Nandha yang cewek aja kalah masih sok-sokan. Paling nanti lawan gue juga bakalan kalah," cibir salah satu orang yang melihat adegan itu.
"Sini lo kalo berani!!" Jafar menghampiri anak yang tadi mencibirnya.
Jafar langsung menarik kerah leher anak tadi dan langsung meninju wajahnya. Semua siswi yang melihatnya menjerit histeris. Tak ada yang berani melerai perkelahian antara Jafar dengan siswa tadi. Jafar menghentikan gerakannya setelah lawannya mengaku kalah.
Dengan emosi meledak-ledak Jafar pergi dengan mengabaikan semua pandangan-pandangan orang-orang yang meremehkan dia. Dia langsung pergi kearah parkiran untuk mengambil mobilnya dan pergi meninggalkan sekolah.
"Sial banget sih, kenapa gue harus jadi pusat perhatian dengan cara kayak gini coba," gerutu Jafar di dalam mobil.
Dengan kecepatan penuh Jafar melajukan mobilnya pulang kerumahnya. Karena jalanan yang terhitung sepi membuat perjalanannya lancar tanpa kendala. Saat sampai di rumah ia di kejutkan oleh kehadiran Lional dan kedua orang tuannya yang duduk berkumpul di ruang keluarga.
"Jafar ... kamu udah pulang nak, bunda baru aja mau telfon kamu," kata Wanda yang menyambut kedatangan dari putra sulungnya.
"Ada apa ini?" tanya Jafar cengoh.
"Kamu kesini dulu," kata Wanda yang langsung menarik tangan Jafar agar duduk di sebelah Lional. Terlihat jelas raut ketidak sukaan diwajah Sandy sang ayah.
"Sebenernya ada apa sih bund? mending cepetan ngomong deh, soalnya ada yang nggak suka kalau aku disisni," ujar Jafar sambil menatap sang ayah secara terang-terangan.
"Kamu!!" Sandy menunjuk kearah Jafar.
"Ayah ... cukup!!kalian kesampingkan dulu masalah kalian. Ingat kita nanti malam harus menunjukan ke semua orang kalau keluarga kita itu baik-baik aja," kata Wanda.
"Kalian berdua nanti ikut bunda ke butik temen bunda ya, kalian harus pilih jas yang paling bagus karena kita akan pergi ke pesta penting malam ini."
"Pesta penting?" tanya Jafar dan Lional bersamaan.
"Ada orang paling berpengaruh yang ngundang kita buat hadir di acara pestanya," kata Sandy setelah menurunkan egonya. "Disana kalian nanti jangan malu-maluin ayah. Karena ini acara orang penting pasti tamu-tamunya juga bukan orang main-main, cari kenalan yang menurut kalian cantik dan dari keluarga kaya," lanjutnya.
"Apa?! ayah mau kita jadi ******** yang moroti harta cewek gitu?" ujar Jafar.
__ADS_1
Sandy mendelik mendengar ucapan Jafar, "Daripada kamu hanya bisa meniduri wanita-wanita yang tidak jelas asal usulnya," ucap Sandy sarkas.
"Ayah," kata Wanda lirih.
Karena tak ingin istrinya mengomel akhirnya Sandy pun memilih meninggalkan mereka ber3, "Kamu urus saja mereka bund, pokoknya ayah mau lihat mereka nanti malam udah siap aja," katanya yang langsung pergi keluar rumah untuk kembali ke kantor.
"Jadi kenapa kalian sudah pulang jam segini?" tanya Wanda sambil berkacak pinggang.
"Lional bosen bund di sekolah banyakan jamkosnya, makanya Lional milih pulang aja kerumah,"
Wanda memandang ke arah Jafar seolah-olah meminta penjelasan.
"Nggak asik, orang-orangnya ngeselin," aku Jafar.
Wanda menghelanafasnya, "Oke apapun alasan kalian bunda nggak peduli, pokoknya sekarang kalian ikut bunda ke butik temen bunda," kata Wanda yang langsung menarik tangan kedua anaknya.
*****
*Flashback on*
Di sebuah apartemen mewah seorang laki-laki muda tengah sibuk dengan beberapa berkas di atas mejanya di temani dengan sebotol wine dan juga sekotak rokok. Terlihat jelas bahwa ia sedang dalam suasana hati yang sangat baik.
Drrrrtttzz ... drrrrtttzzz
Ponsel yang ia taruh di atas mejapun tiba-tiba berdering.
"Halo tuan Bryan," sapa seseorang dari seberang sana.
"Ya ada apa?"
"Menurut kabar yang saya terima malam ini tuan muda Effendi akan pergi balapan dengan seseorang bernama Jafar."
"Jafar?"
"Iya tuan. Jafar sosok masalalu nona muda. Dia adalah mantan kekasih nona muda, saat mereka masih pacaran si Jafar ini berselingkuh dari nona saat ulang tahun si cowok ini. Dia kepergok oleh nona saat sedang melakukan hubungan s*x bersama teman nona sendiri."
"Lalu?"
"Setelah nona kembali dari Inggris untuk menikah dengan tuan muda Effendi, si Jafar ini muncul lagi. Mereka bertemu di sebuah toko sepatu mewah yang ada di mall milik nona muda. Dulu si Jafar berpikir kalau nona itu anak orang miskin makanya dia seenaknya saja. Di pertemuan itu nona sempat berselisih dengan wanita yang menjadi selingkuhan itu. Mereka berebut sepatu. Disana nona juga di hina mati-matian oleh selingkuhannya si Jafar.
"Apa?!! cari tau identitas wanita itu dan laporkan pada saya. Setelah itu apa yang terjadi?"
"Nona muda menyerahkan sepatu yang di inginkan si pelakor tadi, tapi sebelumnya ia pakai dulu. Nona menghina balik si pelakor dan juga si Jafar. Nona dan tuan muda bahkan tak ragu untuk mengeluarkan blackcard mereka di hadapan orng banyak."
"Sekarang aku mau kamu ikuti mereka kemanapun itu. Dan buat dokumen entah itu video atau foto." perintah Bryan.
"Baik tuan."
Bryan kembali melanjutkan kegiataannya memeriksa dokumen-dokumennya itu.
"Gue harus segera menyelesaikan urusan dokumen ini, kalau nggak gue nggak bakal bisa ke tempat itu besok malam," ucapnya lirih.
Bryan gelut dengan dokumennya hingga larut malam, tepat jam 23.00 WIB pintu ruang kerja Bryan di ketuk oleh pelayan.
Tok ... Tok ... Tok
"Tuan Bryan ada orang yang ingin menemuin ada," kata seseorang dari balik pintu. Bryan Agatha yang tengah memeriksa dokumen pun terpaksa menghentikan kegiatannga itu.
"Biarkan dia masuk."
"Tuan Bryan ini pesanan anda, semua sesuai keinginan anda," kata seorang pria berpakaian serba hitam yang baru saja masuk. Pria itu menyerahkan sebuah amplop dan juga sebuah memory card.
"Bagus."
Bryan langsung memeriksa isi dari amplop tersebut. Ia bersemirk melihat sebuah foto yang sungguh menarik perhatiannya.
"Kerja bagus, pergi cari Allo untuk minta bonus," perinta Bryan sambil terus tersenyum.
"Baik tuan, saya permisi dulu. Terima kasih." orang berpakaian serba hitam itu pun pergi meninggalkan Bryan yang asik memeriksa foto tersebut.
"Hanya sebuah kutu saja berani mempermainkan adik kesayanganku," ucap Bryan sambil merobek salah satu foto yang ada di tangannya.
Bryan menggapai ponselnya dan mengotak-atiknya.
"Hallo Leshya," ucap Bryan menyapa orang di seberang sana.
"Ya tuan," jawab orang yang di panggil Leshya.
"Kosongkan jadwal saya untuk 2 hari kedepan," perintah Bryan pada Leshya sang asisten urusan kantor umum.
"T-tapi tuan, besok anda ada rapat dengan perusahaan elektronik tuan Xie dari China."
"Bilang saja saya ada urusan mendadak dengan kantor pusat." Bryan langsung memutuskan telfonnya setelah merasa apa yang ingin ia sampaikan selesai.
__ADS_1
Bryan menyandarkan punggung lebarnya pada kursi putarnya, "Sepertinya hariku besok akan sangat menyenangkan," ucapnya sambil bersemirk.
Bryan bergegas pergi tidur karena ia tak sabar menunggu matahari terbit esok hari.
*Flasback off*
*Keesokan harinya*
"Maaf anda siapa ya?" tanya seorang satpam yang menghetikan pergerakan seorang pria mengenakan pakaian serba hitam yang sungguh mencurigakan. Pasalnya pria itu mondar-mandir dan celingak-celinguk memperhatikan suasana sekolah. Saat itu hari masih sangat pagi, para siswa dan guru pun belum ada yang datang.
Pria itu semakin mendekat dan akhirnya membuka topi yang ia pakai.
Kini pria misterius itu sudah ada di dalam area sekolah. Ia dengan santai mengelilingi seisi sekolah, seolah-olah ia tengah bernostalgia dengan suasana disana. Sampailah dia di depan mading sekolah. Dia diam sejenak mengamati apa saja yang ada di mading itu, setelah puas ia menempelkan sebuah foto. Setelah melancarkan segala rencananya, pria itu pergi keruang kepala sekolah.
"Tidur dulu kali ya, gara-gara bangun kepagian mata gue jadi ngantuk sekarang,hooaaammm." ucap pria itu sembari menguap.
Pria itu langsung membuka pintu ruang kepsek dan merebahkan tubuhnya dengan santai, saking santainya ia seperti menganggap bahwa itu adalah rumahnya sendiri.
Entah berapa lama pria itu tertidur lelap sampai ia mendengar teriakkan seseorang.
"S-siapa kamu?!! sedang apa kamu di ruangan saya?!!" kepala sekolah itu gemetar ketakutan saat melihat pria asing di ruangannya.
"Apa anda lupa dengan saya pak," ucap pria itu sembari membenarkan posisi rambutnya yang menutupi sebagian dari wajahnya.
"Anda!!!"
"Lama tak bertemu ya pak," ucap pria itu dengan santai.
Kepala sekolah yang awalnya terlihat ketakutan kini berubah menjadi lebih santai. Mereka berbincang bersama dengan sangat akrab. Terdengar suara riuh murid-murid yang bergosip tentang foto di mading.
"Kayaknya udah ada yang lihat nih," batin Bryan bersorak bahagia.
"Kalau begitu saya pergi ke tempat lain dulu ya," pamit pria itu.
"Baik-baik. Jangan lupa lain kali kalau mampir kesini hubungi saya biar saya bisa buat persiapan." kata pak kepsek.
"Ahaha, baik pak kalau begitu saya permisi.
Pria itu pergi dengan santainya melewati siswa yang sedang bergosip. Ia tampak tersenyum puas di bawah topinya.
"Eh bukannya ini ruangan yang di bilang pak kepsek ya? coba mampir dulu deh," ucap pria itu dengan dihiasi senyuman iseng.
"Eeh ada orangnya!!" ucap pria itu terkejut setelah melihat bayangan seseorang didalamnya.
"Lah bukannya mikirin pelajaran malah ngebucin disini," kata pria itu lagi. Sudah tau ada orangnya bukan segera pergi ia malah menguping di balik pintu. Merasa penasaran dengan obralan orang di dalam membuat pria itu masuk tanpa izin.
"Dududu, dasar bocil ... bukannya sekolah yang bener malah ngebucin disini!!"
"Abang/Bryan!!!" kedua pasangan yang ada di dalampun terkejut saat pria itu masuk secara tiba-tiba yang tak lain dan tak bukan adalah Bryan Agatha.
"Ngapain lo disini?" tanya Nandha sarkas.
"Kenapa? lo nggak suka gue ada disini?" tanya Bryan sambil bersemirk.
Nandha berlari memeluk tubuh tegap Bryan, "Boleh dong ... gue malah seneng kalau ada lo disini," ucapnya.
"Stop!!" Dhany menarik tangan Nandha hingga pelukan Nandha dan Bryan pun terlepas.
Bryan mengangkat sebelah alisnya, "Maksud lo apa?"
"Jangan sentuh bini gue," teriak Dhany.
BLETAK
Bryan memberi sebuah jitakan di kepala Dhany, "Sebelum dia jadi bini lu, dia itu adek gue bangsul," kata Bryan dengan wajah songongnya.
"Sayangnya gue menolak ingat fakta itu bung," Dhany menggoda Bryan dengan sepenuh hati.
Merekapun tertawa bersama.
"Bang, lu ngapain disini?" tanya Nandha.
"Gue bikin kejutan buat elu. Lo tau kan apa maksud gue," ucap Bryan sambi mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan bilang kalau masalah foto itu elo yang bikin," kata Dhany sambil memasang tampang kesalnya.
Bryan bingung akan ekspresi yang di tunjukan oleh Dhany, "Iya, kenapa lo nggak terima?" tantang Bryan.
"Good, lo emang good boy. Kakak terbaik sedunia," ucap Dhany yang langsung memeluk Bryan.
Mereka pun akhirnya tetawa bersama.
*****
__ADS_1