The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 75


__ADS_3

Budayakan like, koment, vote and follow ya, biar Chiplux makin semangat upnya.


"Ngapain kalian bisik-bisik disana?!! Sini nggak !!!"


*****


Nandha terus saja mengamuk karena perutnya yang lapar. Ia tak henti-hentinya memberi suara 8 oktaf kepada Dhany, William, dan juga Leon.


"Hufth, kenyang ... " Nandha mengusap perutnya yang sedikit membuncit.


"Udah kenyangkan?" tanya Dhany pelan-pelan.


"Ya, emang kenapa?"


"Kamu kalau lagi laper serem," ucap Dhany sambil berlindung di balik tubuh William.


"Lagian kalian jalan aja kek putri solo, lemot." cibir Nandha.


"Kamu mau aku makan sekarang?" tantang Dhany.


Nandha mendelik ke arah Dhany, seolah-oleh berkata tidak.


"Nggak ada acara makan-makan."


"Pffttt .... " William dan Leon hampir saja tertawa melihat pertikaian antara Dhany dan William.


"Berani ketawa gue potong lidah kalian," bisik Dhany mengancam William dan Leon.


Seketika William dan Leon menjadi diam tak bersuara.


"Kenapa pada diem? btw ya Leon, elu sekolah dimana? kenapa nggak sekolah di tempat yang sama kek William?" tanya Nandha.


"Gue sih tinggal nungguin abang urus dokumen-dokumennya.


"Lah ngapa jadi gue?" sahut William.


"Kau kan abang."


"Iya, tapi kau kan suda dewasa. Udah bisa urus semuanya sendiri."


"Nggak mau pokoknya abang yang urusin, kalo emang mau aku urus sendiri, Kenapa pas awal-awal bilang mau urusin hah? bikin adek kecewa aja."


Begitulah pertikaian William dan Leon. Dhany beringsut mendekat kearah Nandha yng fokus menatap kejadian itu.


"Chagi, ada popcorn nggak? lagi seru nih," ucap Nandha.


"Nggak ada lah yang, kamu pikir disini cafe," balas Dhany.

__ADS_1


"Ya kali aja kamu nyimpen cemilan gitu."


William dan Leon masih saja berkelahi mendebatkan siapa yang akan mengurus dokumen kepindahan Leon.


"Daripada kalian ribut terus, biar gue aja yang urus dokumennya. Kamu maunya kapan pindah?" ucap Nandha melerai pertikaian kedua saudara itu.


"Serius?! nyonya nggak bohon kan?" tanya Leon dengan mata yang berbinar-biar.


"Iya ... jadi lebih baik kalian berhenti deh." Nandha memijit pelan kepalanya yang mulai pusing.


"Kamu kenapa yang?"


"Nggak, aku nggak papa kok," jawab Nandha yang memilih mengelak dari pertanyaan Dhany.


"Yakin? habis makan bukannya seger kamu malah keliatan pucet lho," kata Dhany yang sudah sangat khawatir.


"Aku nggak papa. Ayo anterin aku liat Ratu." pinta Nandha.


"Oke ... oke ayo."


Dhany membawa Nandha ke ruang bawh tanah. Tempat William menyekap Ratu selama ini. Tak henti-hentinya Nandha di buat kaget dan terpukau melihat ruangan" yang ada disana.


"Hoooeeek .... hooeeeek." Nandha mendadak mual saat melewati sebuah ruangan yang sangat gelap dan berbau anyir khas darah.


"Kenapa?" tanya Dhany sambil memijat tengkuk Nandha.


"Astaga aku lupa ingetin kamu biar pakek masker."


"Emang itu ruangan apa?"


"Itu namanya ruang penyiksaan. Tempat kita introgasi musuh atau penghianat. Buat mereka yang bikin kesalahan atau kasus besar. Mereka semua bakal di introgasi disini,"


"Kasus besar?"


"Iya, contohnya orang kita berkhianat dengan cara menjual informasi tentang kita ke musuh, atau musuh yang diam-diam masuk buat jadi mata-mata." jelas Dhany sambil terus memijat tengkuk Nandha.


"Apa kamu dulu introgasi Ratu disini?"


"Iya, tapi aku nggak siksa dia. Waktu itu aku belum selesai introgasi, aku nggak tahan ninggalin kamu di rumah sakit. Jadi ku suruh aja William sama Leon yang urus dia." Dhany membawa Nandha pergi dari tempat pengap itu ke ruangan tempat Ratu.


Cekleeek


Ratu memalingkan wajahnya saat mendengar suara pintu terbuka. Dia tampak terkejut melihat Nandha kini ada dihadapannya.


"Nandha ... " ucap Ratu lirih.


Ratu langsung berlari ingin berlari untuk menyerang Nandha.

__ADS_1


"Mau apa lu?" ucap Dhany.


Dhany mengacungkan pistol Glock 20 yang terkenal akan kemampuan membunuhnya itu tepat di dahi Ratu. Ratu dan Nandha sama-sama terkejut melihat senjata api. Nandha melirik Dhany sekilas. Semakin terkejutlah Nandha melihat ekspresi Dhany yang begitu dingin.


"Apakah dia masih suamiku yang bucin itu? kenapa gue ngerasain hawa membunuh yang begitu kuat?" batin Nandha. Tak dapat di sangkal bahwa dia sekarang tengah ketakutan.


"Mundur atau gue tarik pelatuknya,"


"Jangan!! gue mundur, gue masih mau hidup. Nandha please bantuin gue." Ratu memohon agar Nandha mau membantunya untuk menghadapi Dhany.


"Jangan ganggu dia!!!" Dhany berteriak karena murka.


"Ndha ... please. Kita kan temen," Ratu masih saja memohon belas kasihan Nandha.


"Sekarang aja lu ngaku jadi temen gue, kemarin elu nusuk gue," cibir Nandha.


Ratu diam seribu bahasa.


"Lo pikir istri gue ini bakal selembek itu, sampai bisa lu kadalin," ucap Dhany sarkas.


"J-jadi kalian?"


"Kenapa? lu masih mau berusaha naik ke ranjangnya?" ucap Nandha tak kalah sarkasnya.


Ratu menunduk malu, ia teringat ucapan yang begitu sombong setiap harinya.


"Kenapa? malu? jangan lo pikir ini cukup buat elu. Gue bahkan belum bikin perhitungan sama lo gara-gara mulut lenje lo itu, yang seenak jidat lampor ke pak Jenong kalo gue bolos. Bahkan lo nggk sungkan buat bilang kalau gue yang hasut temen-temen gue."


"Gue bingung ... sebenernya gue ama lo itu ada masalah apa sih? sampai lo segitu bencinya sama gue," kata Nandha.


Wajah Ratu tampak memerah padam. Seoalah-olah ia ingim menyampaikan sesuatu yang udah di tahannya selama ini.


"Asal lo tau, gue itu dulu suka sama Jafar!!" ucap Ratu.


"Apa?!!" Nandha dan Dhany berucap bersamaan.


"Ya gue suka sama Jafar. Gue udah incer dia dari lama, tapi malah lu yang jadian sama dia. Lo tunjukin kemesraan kalian di depan gue. Nggak itu aja, lo bahkan punya mobil yang gue pinginin.Dan sekarang gue suka Dhany, tapi malah dia udah suami lu aja. Lo bukan anak orang kaya tapi punya segalanya. Lo pasti jadi simpanan om-om kan, atau jangan-jangan lo udah jual diri lo,"


DOOOORRR


Dhany tak tahan mendengar ucapan Ratu. Dalam keadaan emosi yang sudah meluap-luap akhirnya membuat ia menarik pelatuk pistol yang sedari tadi ia pegang.


"Jangan lo pikir karena lo cewek gue bakal sungkan dan nggak bakal kasar sama lo. Dalam kamus seorang mafia, cowok atau cewek, pria maupun wanita, semua sama saja." ucap Dhany penuh amarah. "Lo berani ngata-ngatain istri gue, udah bosan hidup lu?" lanjutnya.


Ratu dan Nandha gemetar hebat. Ratu memang sudah pernah melihat kegarangan Dhany, tapi hal itu masih saja mengagetkan dan menakutkan untuknya. Sedangkan Nandha, tiba-tiba kakinya selembek jelly. Dia memang bad girls, tapi ini pertama kalinya ia melihat seseorang di tembak di depan mata kepalanya sendiri.


*****

__ADS_1


__ADS_2