
*****
Bryan tengah duduk di sebuah kafe yang cukup tenang. Walau tampak tenang tapi tentu tetap ada beberapa gadis yang terkikik heboh karena ketampaan sosok itu.
Kring ... Kring ...
Suara bel bertanda ada tamu lain yang datang. Seorang gadis dengan hoodie oversize di tambah dengan sebuah masker yang bertengger epik di wajahnya. Senyum simpul terpatri di wajah Bryan membuat beberapa gadis heboh.
"Maaf aku terlambat," ucap gadis itu seraya menarik kursi di hadapan Bryan.
"Tak apa," balas Bryan singkat.
Gadis itu akhirnya membuka maskernya, "Hufftt ... Panas banget astaga. Ah ya, apa kamu sudah lama disini?" ucapnya setelah terbebas dari maskernya.
"Lumayan, aku datang lebih awal karena tak ingin membuatmu menungguku, Suci." ucap Bryan. Entah kenapa ia menonjolkan lafal kata Suci dalam ucapannya.
Suci, teman Nandha. Kekasih dari Bryan Agatha. Gadis manis yang biasanya paling waras dalam geng Nandha ini tampak gelisah di depan sang kekasih. Bryan itu kakaknya Nandha jadi dia sama seperti Nandha. Mereka mempunyai tingkat kepekaan yang sangat tinggi.
Sama seperti saat ini, Bryan menatap Suci dengan cukup hangat tapi penuh misteri. Karena keheningan diantara mereka membuat suasana berubah menjadi canggung.
"Kamu baru pulang dari sekolah kan? Pasti belom makan, jadi kita makan dulu ya. Soalnnya aku juga belom makan tadi, terlalu banyak rapat hari ini," ajak Bryan berusaha memperbaiki suasana.
Sang kekasih tampak sedikit terkejut sampai ia tersentak kaget, "A-ah ... o-oke S-sayang," jawab Suci tergagap.
Bryan tampak acuh dengan balasan Suci yang tampak terbata-bata. Seolah-olah tuli Bryan memilih memanggil pelayan dan memesan beberapa menu sesuai kesukaan dirinya dan sang kekasih.
"Kamu mau ngomong apa?" tanya Bryan to the point.
Suci mempermainkan jarinya di bawah meja. Nafas mendadak tercekat hingga ia kesusahan untuk mengais sedikit udara.
"A-anu ... Aku mau kita udahan," ucap Suci sambil memejamkan mata.
Hening.
Tak ada jawaban dari Bryan sangkin sepinya mereka bahkan bisa mendengar nafas satu sama lain walau samar. Bryan mengeluarkan sebungkus rokok beserta pematiknya.
"Apa alasan yang akan kau berikan?" tanya Bryan dengan deep voice yang mampu menghantarkan perasaan takut pada lawan bicaranya.
__ADS_1
"K-kakak terlalu ba-."
"Baik? Apa aku terlalu baik buat kamu, hm?" tanya Bryan lagi. Suci bahkan tak berani memandang kearah Bryan yang sedang memasang ekspresi datarnya dengan asap rokok yang keluar dari mulutnya.
"Sepertinya saya sudah terlalu baik dan terlena dengan peran saya sebagai orang baik, hahaha."
"M-maksud Kakak apa ya?"
Bryan kembali tersenyum, "Tak ada. Seharusnya kamu mengatakan semuanya dengan jujur. Saya tau dari awal kamu tak pernah mencintai saya. Kamu menerima saya hanya karena tidak tega sebab saya kakak dari sahabatmu di tambah saat itu keluargamu sedang dalam kesusahan".
"Apa kamu sudah menemukan sosok yang brhasil membuatmu jatuh cinta?"
Suci memngangguk lemah.
"Kuharap siapapun yang kau cintai itu bukan milik seseorang. Karena itu hal yang salah, jangan merusak hubungan orang lain, oke?" Bryan mengusak helaian rambut Suci dan lekas berdiri.
"Kakak mau kemana? Makananya kan belum datang?' tanya Suci berusaha mengulur kepergian laki-laki tampan yang baru saja menjadi mantan kekasihnya.
"Jangan hentikan aku atau kafe ini akan berubah menjadi lautan darah."
"Dan aku tau siapa orang yang kamu sukai itu, My Ex."
*****
Dhany melangkah dengan lebar sambil menggertakan giginya. Sepanjang perjalanan ia tak pernah berhenti mengumpat. Apakah dia tengah emosi? Ya, jelas. Pada siapa dia marah? Oh sudah pasti pada Nandha, sang istri. Dalam otaknya hanya ada pertanyaan "Mengapa Nandha bisa dengan lancang membebaskan Ratu?"
BRAK!!
Suara dentuman jelas dari pintu besar yang di tendang olehnya. Semua orang yang ada disana terkejut kecuali Nandha yang asik makan ramen instan bersama Ratu.
"Apa kamu nggak punya sopan santun?" sarkas Nandha.
SRET
Dhany menarik tangan Nandha dengan kasar, "Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Dhany geram.
"Tampaknya selain kamu nggak punya tata krama kamu juga buta ya, atau jangan-jangan kamu juga bodoh?" balas Nandha santai.
__ADS_1
Mendengar ucapan Nandha yang cukup sarkas itu membuat Dhany naik pitam. Di tariknya kerah seragam Nandha hingga gadis itu merasa sesak nafas. Namun keadaan seperti ini tidak berlangsung lama. Karena entah intuisi darimana Nandha balik menarik tangan Dhany lantas berputar sebentar dan langsung menghempaskan tubuh pemuda itu begitu saja.
"Setidak tau apapun kamu, tolong jangan kasar sama perempuan. Lo lahir juga dari rahim perempuan bukan dari belahan cakwe," ucap Nandha.
"Ratu ayok, gue cariin lo teman tinggal yang aman." Nandha menarik tangan Ratu untuk pergi meninggalkan markas Ghost Crime.
Semua anggota yang ada disana tampak terpaku dengan apa yang baru saja terjadi. Tak ada yang menyangka bahwa pemimpin mereka sang Dewa Kematian akan dihajar oleh seorang wanita hingga terkungkung dibawah wanita tersebut. Sungguh pemandangan yang tak pernah ada di bayangan mereka.
Bahkan William yang merupakan tangan kanan sekaligus teman dari keduanya itu tampak terpaku dan membatu. Sepersekian detik ia langsung berlari menghadap sang majikan.
"Anda tak apa-apa Tuan?" tanya William yang berhasil membuyarkan lamunan Dhany.
Dhany menggeleng sejenak, "Nggak apa-apa. Tolong selidiki kemana Nandha membawa Ratu," perintah Dhany yang langsung di angguki oleh William. "Baik Tuan."
Disaat semua orang masih memproses apa ang terjadi. Mereka tak sadar ada sosok yang tengah tersenyum di balik wajah terkejutnya.
"Kita mau kemana sih Ndha?" tanya Ratu yang sudah tak sanggup menahan keingintahuanya.
"Gue udah cariin lo tempat tinggal yang baru. Tapi lo harus inget, nggak ada yang boleh tau tempat tingal lo yang sekarang. Bahkan termasuk temen-temen geng lo dulu," kata Nandha.
"Lo nggak takut gue khianatin lo dan balik musuhin lo kayak dulu?" Ratu terus saja bertanya. Karna di kepalanya sedang berputar berbagai pertanyaan yang sangat ingin ia ketahui jawabannya.
Dengan keadaan yang masih fokus pada jalanan Nandha menjawab pertanyaan Ratu dengan tenang, "Semua manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua selama kesalahannya tidak terlalu fatal. Itu kalau menurut gue. Kita ibaratkan aja kesalahaan itu adalah kobangan lumpur pekat. Lo udah pernah di dalam kobangan lumpur itu, terus ada seseorang yang nyelametin kamu. Kira-kira suatu saat pas kamu ketemu kubangan lumpur lagi lo mau nggak masuk lagi kedalamnya? Kalau lo waras gue yakin jawabanya nggak bakal mau masuk lagi. Tapi kapasitas otak manusia itu berbeda-beda jadi, yah ...."
Mendengar ucapan dan penjelasan Nandha yang cukup sedikit bertele Ratu tampak cukup bingung sampai akhirnya gadis itu mengangguk. Atmosfir dalam mobil itu kembali hening sampai akhirnya Ratu berusaha mencairkan suasana agar tidak terjadi kecanggungan. Tak butuh waktu lama akhirnya suasana menjadi hangat, bahkan sesekali mereka bercanda dan bergurai sampai akhirnya sebuah mobil truk terlihat oleng dari arah yang berlawanan.
"NANDHA AWAS!!!!"
BRAK!!!
BRAK!!!
PRANG!!!
"Sshhh ... N-nandha!!!"
*****
__ADS_1