The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
episode 129


__ADS_3

*MENGANDUNG UNSUR BULLYING*


Setelah memakan waktu cukup lama akhirnya Dhany berhasil menenangkan Reno yang mendadak di serang oleh kepanikan. Terpaksa ia juga harus membangunkan Nandha yang baru saja tertidur di atas pangkuannya. Dengan mata yang masih mengantuk Nandha pun memandang wajah Reno yang tengah meminum teh hangat.


"Lo sebenarnya kenapa Ren? Apa yang bikin lo tiba-tiba kena panic attack kayak tadi?" tanya Nandha.


Reno menyeka sisa sisa teh yang ada di atas bibirnya. Ia beberapa kali memandang Nandha dan juga Dhany secara bergantian. Setelah menenangkan dirinya Reno pun mulai bercerita tentang masa kecilnya.


"Jadi gini ...." Reno pun memulai ceritanya.


Hari itu bertahun-tahun yang lalu sewaktu Reno masih duduk di bangku kelas 1 SMP sekolah terfavorit yang ada di kotanya. Ia seorang anak dari keluarga yang sederhana, ayahnya hanya seorang tukang bakso dan ibunya buruh cuci baju dan menyetrika di sekitar rumahnya. Namun walau terlahir dari keluarga yang sederhana nyatanya Reno terlahir dengan kepintaran yang sangat unggul. Ia mampu masuk sekolah ternama melalui beasiswa, tapi karena hal inilah ia harus mengalami hal yang membuatnya trauma.


Berada di sekitar orang-orang kaya membuat Reno menjadi bahan bullying. Beberapa temannya merasa tidak senang. Mereka berasa bahwa tempat Reno bukanlah di sini. Harusnya Reno ada di sekolah pinggiran tempat orang-orang miskin tinggal. Bagas adalah salah satu teman Reno kala itu. Ia adalah putra orang terkaya di daerah tersebut. Ia sangat gemar mem-bully Reno bersama dengan ke-lima temannya. Seperti siang itu saat istirahat sekolah tubuh ringkih Reno di tarik paksa masuk ke dalam toilet. Di dalam toilet Reno di dorong ke sudut ruangan.


"Lo ngapain masih disini, hah?!" teriak Bagas tepat di depan wajah Reno.


Reno yang di teriaki seperti itu hanya mampu membungkuk dengan badan yang mulai menggigil.


Galang salah satu teman Bagas yang ikut mem-bully Reno kini menonyor kepala Reno sampai terbentur dengan dinding tembok kamar mandi.

__ADS_1


"Lo itu orang miskin, ngga cocok ada di sini. Lebih baik lo pergi ke sekolah yang ada di pinggiran sana? atau mending lo ikut bapak lo yang jualan bakso itu, hahahahaha." tawa Galang dan ke 5 temannya yang lain.


Dengan nada yang bergetar Reno memberanikan diri bertanya kepada para pembullynya itu, "Gue punya salah apa sama  kalian? gue ngga pernah ganggu kalian kan, tapi kenapa kalian selalu usik gue?"


"Ya karena lo miskin!!" jawab Jaka.


Reno yang mendengar ucapan dari Jaka lantas mengangkat kepalanya dan memandang Ke arah Bagas dan teman-temannya, "Kalian denger ini baik-baik!" ucap Reno dengan amarah yang berapi-api.


"Mungkin gue emang masuk sekolah ini lewat jalur beasiswa. Orang tua emang cuma penjual bakso dan buruh cuci tapi seenggaknya gue bukan anak manja kayak kalian. Gue bukan kalian yang masuk sini lewat jalur orang tua dan yayasan. GUE MASUK SINI ATAS UDAHA GUE SENDIR!!!! PUNYA HAK APA KALIAN MENGHAKIMI GUE KAYAK GINI??!!" teriak Reno dengan air mata yang mengalir.


Bagas and the gang yang mendengar ucapan frustasi Reno dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya bukannya merasa kasihan malah tertawa terbahak bahak dan memandang sengit ke arah Reno yang tengah menutup wajahnya. Di tariknya tangan Reno yang sedari tadi menutupi wajahnya. Ia di tarik dan di paksa menunduk di sejajar dengan kloset.


Dagu Reno di tarik dan di cengkram dengan sangat kuat oleh Bagas agar tatapan mereka saling bertemu. "Ngga usah sok lo di depan kita, makan nih usaha sendiri yang lo banggain itu." Reno merasa gemetar hebat saat melihat sorot mata penuh amarah yang di kedua mata Bagas. Ia tengah menerka-nerka apa yang akan di lakukan oleh Bagas dan teman-temannya. Namun belum sempat ia memperoleh jawaban atas apa yang akan di perbuat. Tiba-tiba ia di paksa mendongak dengan cara rambutnya yang di jambak dan di tarik hingga ia menjerit kesakitan. Ia yakin dengan pasti bahwa beberapa helai rambutnya pasti tercabut sampai ke akarnya. Tidak sampai di sana, Reno tidak tau siapa yang melakukannya karena semua terjadi dengan sangat cepat. Kepala yang sedari tadi di paksa mendongak tiba-tiba di dorong paksa masuk ke dalam kloset. Saat itu perasaan Reno tengah bercampur aduk menjadi satu, ada rasa takut, marah, sedih, kecewa dan jijik pada dirinya sendiri. Kenapa ia tidak terlahir sebagai anak orang mampu yang bisa berbuat semaunya.


Kenapa ia harus terlahir dari keluarga sederhana yang cenderung miskin? Ada rasa jijik karena tidak mampu melawan dengan kekuatan sendiri dan malah mengeluh. Entah berapa lama hal itu terjadi yang pasti tiba-tiba pandangan Reno menggelap dan tak sadarkan diri.


"Jadi kurang lebih kayak gitu Ndha. Dan hal itu terus berlangsung sampai gue lulus," ucap Reno sambil menyeka air mata.


"Kenapa dia harus bertahan di kondisi dan seperti itu? Terus gimana perasaan dia sekarang yang sekolah di kawasan anak-anak  orang kaya yang songong ya?" batin Nandha.

__ADS_1


"Kalian pasti berpikir kenapa gue mau bertahan di sekolah itu dan malah lanjut di sekolah yang isinya anak-anak konglomerat kayak kalian," sambung Reno.


Nandha membulatkan matanya, "Njir, nih anak dukun kah?"


"Kalau gue tau emangnya kenapa?" tanya Dhany dengan hati-hati.


Reno kembali menarik nafasnya dengan berat, "Semua demi almarhum bapak. Dulu bapak eneng banget pas tau gue dapet beasiswa di sekolah ternama. Bapak minta gue buat terus belajar biar gue bisa masuk universitas dan jadi orang sukses. Beliau ngga mau gue mengalami kesusahan karena kurangnya pendidikan."


"Maaf kalau gue lancang, tapi kapan bapak lo meninggal?" tanya Nandha.


"Ngga lama setelah bapak tau gue jadi korban bullying di sekolah."


"Kita berturut cita ya Ren." Di usapnya pundak Reno dengan lembut oleh Dhany.


"Udah gapapa." Di tengoknya jam tangan yang bertengger di tangan Reno. "Kalian masuk aja, kasihan Nandha tadi dah ngantuk kan? Gue balik dulu dah jam 9 malam nih."


Dengan wajah yang mulai kembali di serang kantuk Nandha pun meminta Reno agar menginap saja malam ini. Dengan sedikit perdebatan akhirnya Reno menuruti ucapan Nandha dan Dhany untuk menginap di rumah keduanya malam ini.


*****

__ADS_1


__ADS_2