
Budayakan like, koment, vote, dan follow ya gaes, biar Chiplux semangat upnya.
*****
"Astaga rumah gue!! gara-gara si Boy sama yang lainnya rumah gue jadi macem kapal kena badai," ucap Dhany yang masih memangku sang istri.
*Flashback on*
1 jam yang lalu
"Dhan, rumah segede ini cuma lo tinggalin berdua doang?" tanya Boy sambil mengunyah makanannya.
Dhany menelan makanan yang ada di mulutnya sebelum berkata, "Enggaklah, kan ada para maid disini. Lagian ada satpam sama kang kebun juga," terang Dhany.
Boy berdecak kagum akan sikap dan keterangan dari Dhany, "Gila ... rumah lo keren banget Dhan. Tapi gue penasaran sama identitas elu. Siapa sih elu itu? kok bisa punya kekayaan sebanyak ini," tanya Boy dengan polosnya.
Dhany dengan santainya menjawab, "Gue nggak yakin kalau lu nggak bakal kaget kalau tau siapa gue," jawabnya.
Boy dan Vian saling memandang. Mereka tak mengerti akan ucapan Dhany yang ambigu. Akhirnya mereka kembali bertanya, hingga akhirnya Dhany menjawab. Karena mereka telah usai menyatap makan siangnya, kini mereka tengah berjalan menuju ruang santai. sepanjang jalan Boy dan Vian tak henti-hentinya mencecar Dhany dengan pertanyaan seputar identitasnya, hingga sampailah mereka di ruang santai.
"Yakin lu nggak bakal kaget?" tanya Dhany sambil mengangkat sebelah alisnya.
Boy dan Vian dengan kompak menganggukan kepalanya.
Dhany menghela nafas panjang karena frustasi.
"Yakin?" tanyanya sekali lagi.
"Iya Dhan ya ampun. Gue penasaran banget sama identitas kalian berlima tau nggak sih. Secara kalian berlima kan tiap hari pakek baju mewah, mobil kelas atas, kan kita jadi penasaran," ucap Boy panjang lebar, "Gue nggak bakal kaget kecuali kalian bilang kalau kalian itu adalah keturunan dari 5 keluarga terkaya di dunia." lanjutnya.
"Kalau iya gimana?" serobot Victoria yang memotong perbincangan Boy dengan Dhany.
"Kalau iya, gue bakal pingsan di detik itu juga," jawab Boy.
Dengan gemas Carla memotong obrolan itu dan menjawab dengan santai, "Iya kita emang anak dari orang-orang kaya itu."
__ADS_1
"WHAT ... ?!!"
Boy dan Vian sama-sama terkejut mendengar kalimat yang baru saja di lontarkan oleh Carla.
"Berisik Bambang!!" ucap Nandha yang terbangun karena teriakan Boy dan Vian.
Dhany langsung memberi sebuah kiecupan hangat di dahi Nandha saat melihat istrinya itu bangun, "Hay sayang," sapanya dengan penuh kasih sayang.
Nandha mengerjap bingung saat melihat wajah Dhany yang begitu dekat dengannya. Ia tidak ingat kalau ia telah mendorong tubuh sang suami hingga jatuh terduduk di sofa.
"Aahhhhh, apa yang terjadi? kenapa gue ada di pangkuan elu?" tanya Nandha dengan wajah blushing.
"Kamu nggak ingat?" saut Dhany yang membalas Nandha dengan sebuah pertanyaan.
Nandha menggeleng lemah.
Terbesit ide jahil di kepala Dhany, "Kamu tadi hampir merkosa aku di depan mereka," ucapnya dengan nada dibuat seolah-olah ia adalah korbannya.
Dalam sekejap teman-temannya yang lain ikut mengerti akan ulah Dhany dan mereka malah ikut menjahiin Nandha yang nampak seperti orang linglung.
"APA?"
"Kita tau kalian pasutri, tapi kalau lu mau grep*-grep* laki lu nanti aja nunggu kita pulang," timpal Carla yang nyablak.
Suci, Boy, Vian dan William hanya menganggukkan kepala.
"Sebejat itukah gue?" ucap Nandha sambil menutupi wajahnya.
Tawa mereka pecah saat melihat ekspresi Nandha yang malu dan bersembungi di balik dada bidang Dhany sambil menutupi wajahnya karena malu.
"Ululuh, imut banget dah bini gue," ucap Dhany yang gemas.
"Jiwa jombloku meronta," ucap boy yang sirik akan kemesraan kedua temannya itu.
Carla yang mendengar keluhan Boy langsung membalasnya dengan candaan yang cukup savage, "Iri bilang boss, awokawok."
__ADS_1
Mereka semua kembali tertawa, Boy yang di beri savage oleh Carla tidak terima dan membalas savage tersebut dengan tak kalah pedasnya, "dasar lampir, bikin emosi jiwa aja," balas Boy sambil memalingkan wajahnya.
Carla melepar cemilan yang ada di depannya sambil berteriak, "Sekate-kate lu ngatai gue lampir, sini gue sambel mulut lu." carla berjalan mendekati Boy dan langsung menyerangnya dengan memberi cekikan menggunakan lengannya.
Boy meronta meminta tolong namun, bukannya di tolong yang ada malah di ketawain sampai nangis-nangis sama mereka. Mereka terus bercanda hingga tanpa sadar jam sudah menunjukan pukul 4 sore. Mereka akhirnya pamit undur diri kecuali William.
*Flashback off*
"Sabar tuan, namanya aja habis kedatangan tamu barbar," ucap William menenangkan tuannya.
Nandha yang pergi ke toilet setelah mengantar teman-temannya mendekat kearah Dhany, "Emang bener ya , kalau tadi aku sebejat itu?" bisiknya yang enggan di dengar oleh William.
Namun karena ia sudah lama ikut bersama Dhany merajai dunia mafia, hal ini membuat panca indranya menjadi super sensitif. Mendengar ucapan Nandha membuat ia tak tahan untuk tertawa.
"saya baru tau kalau tertanya nyonya bisa di tipu dengan begitu mudah sama yang lainnya, hahahhahahaha." goda William di iringi tawa kencang layaknya seorang raksasa.
"Hmm, jadi kamu tadi ngerjain aku ya," ucap Nandha sambil bersemirk memandang wajah Dhany.
Dhany hanya nyengir saat di tegur oleh sang istri. Ia merasa senang dan bahagis saat melihat rencananya berjalan dengan sukses. Nandha yang kesal akan sikap Dhany yang menurutnya ngeselin itu. Dengan wajah cemberut ia kembali kekamarnya meninggalkan Dhany dengan William berduaan.
"Yak sayang ... kamu nggak marahkan?" teriak Dhany yang cemas kalau sang istri ngambek.
Nandha berhenti melangkah dan berbalik, "Gue bukan bocil yang akan ngambek cuma gara-gara hal kecil doang," ucapnya santai.
Dhany menghela nafas lega saat mendengar jawab sang istri yang datar dan terkesan dingin namun nyatanya memberi perasaan yang sangat hangat jauh kedalam hatinya.
"Ya ampun ... bos gue jadi bucin lagi deh," batin William merasa sedikit khawatir akan perasaan tuannya itu.
William dan Leon yang sudah bersama Dhany sejak mereka duduk di bangkun sekolah dasar, akhirnya membuat ikat batin yang sangat kuat. Mereka akan tau kalau satu sama lain bahkan saat salah satu dari mereka berada dalam bahaya.
Dhany membawa William pergi ruang kerja sekaligus ruang belajarnya, disana terdapat sebuh foto Dhany yang memegang senjaga, atau lebih tepatnya pistol lengkap dengan yang berukuran besar sebesar papan reklame yang ada di pinggir jalan.
"Gimana dengan tugas yang aku berikan? apa berjalan dengan lancar?" tanya Dhany to the points saat mereka sampai di dalam ruang belajar Dhany.
William tersenyum lebar, terlihat jelas ia tengah bahagia, "Ya tuan, semua berjalan dengan lancar, dia melakukannya dengan sangat baik," lapor William dengan senyuman menghiasi wajah mulusnya.
__ADS_1
****