
Budayakan like, koment, vote dan follow ya biar Chiplux makin semangat up nya.πππ
*****
"Adik?" gumam Boy dan Vian.
"Carla kalian kenal orang-orang hebat ini darimana coba?" tanya Boy.
"Nanti dulu, woy Will sini," Carla melambaikan tangannya pada William.
"La jawab dulu lah," rengek Boy.
"Lo nanya kenapa kita-kita kenal sama orang-orang ini?" tanya Carla.
"Karena mereka orang tua gue!!" seorang gadis bertopeng yang suaranya di kenal jelas oleh Boy dan Vian.
"Nan .... hemmm." Carla membungkam mulut Boy dengan tangannya, karena takut di dengar oleh orang lain.
"Jangan lemes deh mulut elu," kata Carla sambil melotot.
Boy menganggukan kepalanya, "Jadi elo anaknya tuan Alexander ya?" tanya Boy saat terlepas dari bungkaman Carla.
"Gitu deh."
"Kalau lo tadi gandengan sama orang itu, artinya orang itu Dhany dong, " bisik Boy di telinga Nandha sambi melirik kearah laki-laki bertopeng yang tengah mengobrol bersama dengan Bryan.
"Yoi ... emang mau gandengan sama siapa lagi," jawab Nandha.
Pesta pun kembali berjalan dengan santai dan terkendalai. Sampai akhirnya tanpa sengaja Victoria melihat bayangan Jafar tengah berbincang dengan para pengusaha muda.
Victoria pun bergegas pergi mencari Carla dan yang lainnya. Pas sekali semua temannya tengah berkumpul setelah sibuk dengan beberapa tamu undangan.
"Hey gengs, kalian tau nggak siapa yang gue lihat tadi," bisik Victoria.
Mereka pun saling memandang sambil mengankat bahu masing-masing.
"Emang kamu lihat siapa sih?" tanya Vian.
"Paling dia lihat anggota keluarga Carenn," sahut William datar.
__ADS_1
"Keluarga Carenn?" tanya Victoria bingung.
Nandha melirik kearah Dhany yang tepat sedang memandangnya pula.
"Sejak kapan daddy ada kerjasama bareng keluarga Carenn?" tanya Dhany berbisik pada telinga Nandha.
"Setau aku sih daddy nggak pernah ada proyek sama mereka. Apa jangan-jangan ini ulah abang?" balas Nandha yang langsung melirik pada Bryan yang tengah duduk sambil memegangi segelas anggur sambil terus menatap keluarga Carenn sambil bersemirk.
"Kerjaan Bryan nih," batin Dhany.
"Tunggu deh, keluarga Carenn itu siapa sih?" tanya Victoria yang masih tak tau siapa yang tengah di maksud oleh teman-temannya.
Carla yang mendengar pembicaraan sahabatnya itu menghela nafasnya, "Keluarga Careen itu ... keluarganya si Jafar." jelas Carla dengan nada malas.
"What?!!"
"Gue sama Nandha pernah nyelidikin siapa itu si Jafar kenapa dia bisa sesombong itu. Nggak lama juga sih kita risetnya, kita nemuin fakta kalau Jafar itu berasal dari keluarga Carenn, keluarga terkaya di Indonesia. Fakta ini dulu banget sih, nggak tau juga sekarang masih menjabat jabatan ini apa enggak." jelas Carla lagi.
"Dalam keluarga Carenn yang aku tau ada 4 orang, Sandi Carenn ayahnya si kadal, Wanda ibunya dan adiknya Lional Carenn. Yang gue tau cuma ini sih. Tapi, menurut kacamata kepengusahaan gue, gue nggak pernah tau kalau perusahan Agatha ada proyek sama PT. Carenn Jaya." sambung Carla.
"Kalau menurut gue ini semua ulah kakak gue." kata Nandha.
Nandha mengangguk, "Kalian pasti masih ingat dong masalah tadi pagi yang foto gue nendang si kadal amazon. Nah ternyata itu ulah kak Bryan. Dia pagi-pagi dateng ke sekolah cuma buat pasang itu foto doang." kata Nandha.
"Wah ... siap-siap ****** aja si Jafar. Dia udah di target kak Bryan mana bisa selamat." ucap Suci bahagia.
Semua orang menganggukan kepala. Carla berjalan ke meja yang berisikan desert yang sungguh menggugah seleranya. Saat hampir sampai di meja itu, tiba-tiba seorang laki-laki menabraknya.
"Maaf-maaf saya nggak sengaja," kata laki-laki yang menabraknya menggunakan bahasa inggris.
"Makanya kalau jalan itu lihat sekitar, pakek itu mata jangan pakek mata kaki," jawab Carla sarkas.
Jafar terhenyak melihat sosok yang ia kenal tengah berdirik sambil bersemirk.
"Yo ... biasa aja kali bro. Itu mata udah hampir keluar dari tempatnya deh." ejek Carla.
"Kenapa lo ada disini?!! ini bukan tempat buat orang kayak lo," ucap Jafar menghina Carla.
Carla mendengar ucap Jafar pun tertawa pelan, "Gue nggak pantas ada disini? woiii ... sadar coy. Bukan gue yang nggak pantas ada disini, tapi elo." jawab Carla sarkas.
__ADS_1
"Apa?!! tunggu, kalau lo ada disini berarti Nandha dan temen-temen elo yang lain ada disini juga dong, kalian kan sepaket,"
"Of Course dong!!"
Kejutan besar buat seorang Jafar melihat seluruh teman-teman Carla tengah berdiri tegap sambil memandang rendah dirinya. Sesungguhnya bukan keberadaan teman-teman Carla yang membuatnya terkejut, akan teteapi keberadaan 2 orang bertopenglah yang membuat dia terkejut setengah mati.
"Siapa si Carla yang sesungguhnya? kenapa orang-orang penting ini ada di belakang mereka?" batin Jafar bertanya-tanya."Mereka semua ada disini, lalu dimana Nandha? biasanya setiap ada mereka, maka disana juga akan ada Nandha." lanjutnya yang masih membatin.
"Kak ... " Lional menepuk punggung Jafar pelan.
Jafar memalingkan wajahnya, "Apa?" tanyanya.
"Di panggil ayah."
Jafar pergi meninggalkan Carla dan yang lainnya begitu saja. Carla dan yang lainnya tampak bahagia, sedang Lional yang masih ada di posisinya nampak bingung melihat suasana yang ada disana.
"Lo kan yang ada di arena balapan waktu itu," kata Lional sambil menunjuk kearah William yang berdiri di sebelah Dhany.
"Lalu?"
"Ngapain lo disini? lo pasti ngikuti kakak gue kan," tuduh Lional.
William menatap datar Lional, "Bac*t!!!" katanya sambil mengacungkan jari tengahnya.
Lional dengan berat hati hanya bisa menahan amarahnya saat mendapati savage dari William. William terus menatap kearah Lional dengan tatapan mautnya. Awalnya Lional memang melawan tatapan itu namun tidak lebih dari 5 detik, dia sudah memalingkan pandangannya. Dia tak sanggup melawan tatapan maut dari seorang William.
"Santai Will, lo nggak liat apa dia udah ketakutan gitu masih aja di tatep kayak gitu," kata Nandha.
Karena takut pada William akhirnya Lional pergi meninggalkan tempat itu. Ia menyusul sang kakak yang kini tengah berdiskusi dengan sang ayah.
"Ayah nggak mau tau, pokoknya kamu harus bisa deketin anak tuan Alexander. Kamu tadi juga udah lihatkan yang mana orangnya." kata Sandi. "Dan kamu Lional, kamu harus bisa temenan sama putra keluarga Effendi. Mereka semua adalah orang-orang yang berpengaruh di dunia." lanjut Sandi.
Jafar dan Lional hanya bisa patuh akan perintah sang ayah karena di ancam akan di keluarga dari dalam surat keluarga kalau sampai berani membantahnya. Jafar berjalan mendekati Nandha yang kebetulan waktu itu tengah sendirian.
"Hai nona, bolehkan saya menemani anda?" tanya Jafar sopan dan haus sekali.
Nandha menatap Jafar sekilas dan berkata dengan sarkas, "Oh hay sampah, maaf saya tidak ingin di temani dengan laki-laki yang hanya berpikir dengan bagian bawahnya saja." Nandha pun melenggang pergi meninggalkan Jafar yang tengah tertegun.
*****
__ADS_1