The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 62


__ADS_3

*****


Dhany kembali ke ruang keluarga tempat semua berkumpul, ia berusahya menutupi semua beban pikirannya dengan senyuman tingkah dan konyolnya.


"Tuan kami pamit pulang dulu, terima kasih karena telah menerima kedatangan kami yang sungguh rusuh ini," pamit William dengan sopan.


Dhany menganggukan kepala, "Pulanglah, tapi lain kali tolong jangan ajak adek lucknutmu ini, bisa setres gue liat dia nempel di bini gue," protes Dhany.


Leon tersenyum bahagia, puaslah hatinya melihat tuannya tengah menggosok pangkal hidungnya. Ia sengaja bertingkah karena ia tau tuannya tengah banyak beban pikiran.


"Tapi tuan, saya bahagia apalagi bisa lihat nyonya yang cantik ini," ucap Leon sambil menoel pipi gembil Nandha.


"UNCLE...!!!" teriak Taekie dari arah dapur saat melihat pipi sang eomma di toel Leon.


Taekie berjalan mendekat lalu menarik tangan Leon dan,


"Aarrghhhhhh."


Teriakan memilukan yang lolos dari mulut Leon. Ia meringis kesakitan karena gigitan Taekie di tangannya. Semua orang tertawa lebar termasuk para maid yang ada disana.


"Bagus, anak appa memang the best," puji Dhany sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.


"Uncle Eon bandel sih, udah di bilangin nggak boleh nakal apalagi genit ke eomma tapi masih genit aja, Aekie kan emoci," amuknya dengan cedalnya yang membuatnya semakin menggemaskan.


"Taekie sayang, nggak boleh gitu ke orang yang lebih TUA, kita harus hormat, tapi kalau sama yang model beginian...langsung dibantai saja," ucap Nandha sambil mencekik leher Leon.


"Uhuuk...uhuuk..uhuuk.." Leon terbatuk karena cekikan Nandha. Ia terus meronta sampai akhirnya Nandha melepaskan cekikannya dan berkata, "Makanya jangan bikin suami sama anak gue ngamuk, kalau nggak mau gue bantai, okey boy?"


Leon tersengal-sengal, ia hirup semua udara segar yang ada di sekitarnya, "B-baik n-nyonya, tapi lain kali jangan cekik saya," saut Leon dengan nafas terputus-putus.


"Terus lu mau gue apain ha?" tanya Nandha dengan wajah malahsnya.


Bukan Leon namanya kalau takut dan tidak jahil, seakan cekikan Nandha tidak cukup untuk membuatnya jerah kini dia semakin gencar menjahili istri Tuannya itu.


"Emmm, kasih kiss aja ya nyonya," usul jahilnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


BUG


Sebuah bantal sofa melayang jatuh tepat di wajah Leon yang tengah bergenit-genit ria.


"KELUAAAAAAAAAAR!!" teriak Dhany frustasi.


Nandha mendekati Dhany dan mengusap punggungnya, "Sabar, besok nyari anak buah yang lain ya. Yang ini di buang saja," kata Nandha sambil terus mengusap punggung sang suami.


"Eh? jangan dong, gue kan cuma bercanda nyonya, masak iya nyonya tega sama gue yang unyu ini," bujuk Leon yang sedikit panik mendengar ucapan Nandha.


"Iya, kayaknya aku perlu cari tangan kanan yang lain," timpal Dhany dengan mimik wajah sedihnya.


Lemas sudahlah Leon mendengar penuturan Dhany yang ingin mencari orang kepercayaan yang baru. Perlahan tapi pasti jatuhlah 2 butir air matanya dan akhirnya menangislah Leon.


Melihat Leon menangis semua orang tertawa terbahak-bahak. Nandha sendiri tertawa ngakak sampai rasa nyeri menyerang perutnya yang terluka.


"Eh-eh kamu kenapa yang?" tanya Dhany saat melihat Nandha meringis kesakitan sambil memeriksa seluruh tubuh Nandha.


"Ada apa nyonya?" tanya bocah kembar William dan Leon bersamaan.


Nandha menggelengkan kepala, "Nggak papa cuma nyeri sedikit," aku Nandha.

__ADS_1


"Ya udah bang kita pulang aja biar nyonya sama tuan istirahat," ajak Leon yang langsung menarik tangan abangnya keluar dari rumah Dhany. Namun sebelum keluar, ia sempat mengancam Dhany, "Kalau tuan sampai cari penggati saya, saya pastikan bakal bunuh pengganti saya."


Dhany hanya tertawa melihat Leon yang berani mengancamnya dengan mata elangnya. Dhany kembali fokus kepada sang istri sedangkan Taekie ia titipkan pada para maid. Dhany langsung menggendok Nandha naik ke kamarnya dan ia baringkan dengan hati-hati.


"Nggak perlu segitunya juga kali Dhan, gue cuma ngegrasa nyeri gara-gara ketawa," tegur Nandha.


"Nggak!! kamu istriku, kamu nggak boleh merasakan rasa sakit," tegas Dhany sambil melotot.


"Oke terserah kamu saja," ucap Nandha pasrah.


Kriik...kriiik..kriik


terjadilah pembekuan obrolan, Dhany masih sibuk dengan pemikirannya tentang perjanjiannya dengan Jafar tadi.


"Eem, mio cara. A-aku mau cerita ke kamu sebelum kamu denger ini dari orang lain," kata Dhany dengan hati-hati.


Nandha mengerjap bingung, "Oh oke cerita apa?" tanya Nandha.


Dhany perlahan-lahan menceritakan semuanya mulai dari pertemuannya dengan Jafar di sekolah, guru sinting yang masuk ke ruangan mereka hingga taruhan dia dengan Jafar.


Saat Dhany mengatakan bu Siska masuk ruangan saat ia tertidur nampak sedikit perubahan di wajah cantik Nandha. Hal itu semakin jelas saat ia mendengar cerita pertarungan antara suaminya dengan Jafar.


"Dalam hidup lu ini, sebenernya siapa sih gue buat elu Dhan?" banya Nandha santai namun cukup menancap di telinga siapapun yang mendengarnya.


"Kamu orang terpenting dalam hidupku," aku Dhany jujur.


"Kalau emang gue penting buat elu seharusnya elu nggak pernah makek gue buat taruhan nggak jelas gini Dhan," ucap Nandha marah.


"M-maaf sayang," ucapnya lirih.


"T-tapi..."


"KELUAR...!!!" teriak Nandha penuh amarah.


Dhany menuruti semua ucapan Nandha, ia memang salah karena menjadi istri tercintanya sebagai bahan taruhan, namun ia sungguh terpaksa. Walau berat hati akhirnya Dhany berjalan meninggalkan Nandha yang tengah menautkan alisnya.


Dhany kembali ke ruang kerjanya untuk mengotak-atik laptopnya. Ia menghubungi keluarganya dan keluarga Nandha untuk memberi tau bahwa Nandha sudah pulang kerumah.


Dhany menyibukkan diri dengan berkas dan rencana- rencana yang ia rancang bersama William dan Leon tempo hingga akhirnya ia tertidur.


Di pagi harinya saat ia terbangun ia bergegas kembali ke kamarnya, dilihatnya Nandha tengah merias diri di depan cermin.


"Yang kamu kok pakek seragam sih, emang kamu mau sekolah hari ini?" tanya Dhany lembut.


Hening....


Nandha tak menjawab pertanya Dhany, ia bahkan tak menoleh sedikitpun pada suaminya.


"Oke maaf," ucap Dhany lirih. Dia langsung pergi ke kamar mandi yang ada di kamarnya.


Dhany terkejut saat keluar kamar ia tak mendapati sang istri di meja rias, ia lantas turun ke meja makan untuk mencari namun nihil, ia hanya menemukan para maid yang menunggunya.


"Dimana nyonya?" tanyanya sambil duduk di kursi.


"Nyonya sudah berangkat tuan, beliau bahkan belum sempat sarapan," kata maid sambil menungkan teh di cangkirnya.


Dhany menghentikan acara sarapannya sewaktu mendengar kata 'belum sarapan' dari maid, ia langsung berlari mmeninggalkan meja makan untuk berangkat sekolah.

__ADS_1


Dhany mengebut dalam perjalanan menuju sekolah, saat sampai ia melihat Nandha tengah menempelkan wajahnya di meja dengan ekspresi sendunya.


"Dhan kok tumben Nandha gitu?" tanya Carla saat melihat kedatangan Dhany.


Dhany menghela nafasnya, "Dia ngambek sama gue, dia aja rela nggak sarapan biar nggak ketemu gue. Gue yakin dia belum minum obatnya," ucap Dhany dengan pandangan yang terfokus pada Nandha.


Carla diam dan berlalu kembali ketempat duduknya. Sepanjang pelajaran Nandha and the genk diam seribu bahasa, dan itu tak luput dari pengamatan semua guru yang mengajar.


Teng...Teng...Teng


Bel istirahat pun berbunyi, Nandha dan yang lainnya berhamburan menuju kantin. Namun atsmosfer mereka masih aneh. Hanya Carla yang tertinggal di kelas, ia mengatakan kalau akan menyusul setelah membereskan bukunya.


"Nandha, Dhany, kalian di panggil kepala sekolah," ucap Carla saat datang dari arah belakang.


Nandha mengerjap bingung, "Oh, oke," katanya singkat.


Nandha dan Dhany pergi menghadap kepala sekolah seperti kata Carla, namun saat melewati depan UKS tiba-tiba tubuh mereka terdorong masuk.


"Woy kerjaan siapa sih ini? bukain woy gue mau keluar," teriak Nandha dari dalam ruang uks.


"Segitu nggak maunya kamu sama aku ya Ndha," tegur Dhany.


Nandha berbalik dan berkata, "Menurut lo? gue ini manusia biasa Dhan, gue punya hati, bayangin aja gimana kalau lo tau mama di jadiin bahan taruhan sama papa, sakit nggak??" tukas Nandha penuh amarah.


"Maaf."


"Bodo ah, mending lu cari jal*ng aja biar bisa lo jadii tar...eeemmm." Nandha terbelalak mendapatin ada sesuatu yang kenyal menempel pada bib*r mungilnya.


Dhany geram mendengar ucapan Nandha yang menurutnya menyudutkan dirinya itu, ia lantas menarik tengkuk Nandha dan mencium bibirnya. Setelah ia merasa bahwa Nandha telah tenang ia melepas pangutannya.


"Dengerin aku dulu, please," bujuknya mengiba.


Dhany memeluk erat tubuh mungil Nandha, "Aku marah banget waktu itu, aku nggak terima mendengar dia bilang kalau kamu itu wanitanya, aku cemburu, aku gelap mata," aku Dhany dengan suara serak.


Nandha diam membantu mendengar semua penjelasan Dhany.


"Dia bilang dia bakal rebut kamu dari aku, aku udah terlanjur sayang sama kamu, aku nggak mau kamu pergi dari hidupku," lanjut Dhany.


"Aku suami kamu, tak bisakah kita kembali seperti dulu jujur saja, aku merindukanmu." Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Nandha.


Dhany melepas pelukannya dan berbalik meninggalkan Nandha, namun belum genap 3 langkah ia mendengar suara isakan dari seorang wanita, siapa lagi kalau bukan Nandha.


Nandha menangis dalam diam, ia hanya menumpahkan ratusan air mata yang dari kemarin ia tahan.


"Hey kok nangis, yang buka mata kamu, kamu kenapa?" tanya Dhany sang langsung memeluk erat Nandha.


Nandha hanya menangis hingga tertidur di dalam pelukan Dhany, dengan telaten Dhany mengurus tubuh lemas Nandha akibat kelelahan.


"Will, bawain makanan ke uks, jangan ya pedes sama asem ya," perintah Dhany saat menghubungi william dari ponselnya.


"Maaf."


Kata-kata inilah yang keluar dari mulut Dhany berkali-kali, dengan setia ia mengurus dan menjaga Nandha. Ada saja yang ia lakukan pada tubuh sang istri. Entah yang ngelap kringet di kening Nandha, yang menggosok-gosok telapak tangannya lah, dan masih banyak lagilah.


Tidak lama William datang membawa semua pesanan Dhany, sesungguhnya ia ingin ikut bersama Dhany menjaga majikan perempuannya itu namun apa daya Dhany menolaknya dan menyuruhnya untuk pergi dari ruang uks tempat Nandha terbaring istirahat.


*****

__ADS_1


__ADS_2