
Budayakan like, koment, vote dan follow ya biar Chiplux makin semangat up nya.πππ
****
Nandha bangun dari tidurnya yang di rasa sangat panjang. Nandha beberapa kali mengerjapkan mata.
"Ini kan kamar gue? kenapa gue bisa disini?" ucapnya lirih dengan mata yang menatap interior di sekitarnya.
"Duh pusing banget njay," keluh Nandha.
"Lo udah sadar dek?" tanya Bryan tiba-tiba dari sudut kamar Nandha.
"Kakak? ngapai lo disitu udah kayak penunggu aja," kata Nandha enteng.
Bryan berjalan mendekati Nandha, "Buka mulut lo," perintahnya.
Nandha mengerucutkan mulutnya, "Nggak mau, nanti pasti di masukin obat," ucap Nandha menolak membuka mulutnya.
Bryan menghela nafasnya, "Nggak adek gue tersayang ... gue cuma mau ngetes suhu badan elo," kata Bryan.
"Bener yak?"
"Iya dek, nih lihat gue bawa termometer. Kalo lo masih rewel gue ganti nih termometer pakek termos es," ucap Bryan menggoda sang adik.
"Kakak ...." Nandha memukul tubuh Bryan menggunakan guling yang ada di sebelahnya.
"Aduh ... udah woy," Bryan mecengkram tangan Nandha dan menghepaskan tubuh adiknya di atas ranjang.
"Mau apa lo kak?" tanya Nandha santai.
Bryan bersemirk, "Gue mau apa yang gue mau," katanya.
"Jangan ambigu, buruan ukur nih," Nandha membuka mmulutnya lebar-lebar.
"Nggak seru lo. Gue pikir lu bakal panik dan mikir gue bakal apa-apain elo," ucap Bryan menampilkan raut wajah kecewa.
"Lagian muka elo itu nggak pantes jadi orang cabul. Eeh bentar ... laki gue mana?" tanya Nandha saat menyadari suaminya tak ada disana.
__ADS_1
"Gue suruh balik ke markas, katanya tadi ada acara perekrutan anggota baru," kata Bryan.
Nandha berkedip beberapa kali sebelum kembali teringat tindakannya pada Jafar, "Kak gue mau ngomong, gue sekarang udah inget apa yang terjadi. Gue tadi hampir bunuh orang, tapi anehnya sekarang perasaan gue biasa aja," ucap Nandha memberitahu Bryan.
"Lo nggak ada rasa takut atau bersalah gitu?" tanya Bryan heran.
Nandha menggeleng, "Enggak kak, malah yang gue rasain itu rasa puas seakan gue udah lama nggak minum." aku Nandha.
"Ini aneh, seharusnya lo ngerasa bersalah dan ketakutan ... kok ini malah sebaliknya," kata Bryan bingung akan reaksi yang di berikan oleh adiknya.
"Mana gue tau kak."
"Tadi si Dhany bilang kalau lo cuma ngeluh sakit kepala terus pingsan lagi," ujar Bryan sambil menggosok hidungnya.
"Lah jadi gue pingsan berapa kali kak?" tanya Nandha.
"Lo pingsan 2x nyet."
"Buset banyak bener, tapi kok elo nggak keliatan kalau khawatir sama keadaan gue," ucap Nandha sambil memonyongan bibirnya.
"Gimana mau khawatir kalau udah ada prediksi," jawab Bryan.
"Jangan jadi adek lucknut lo ya."
"Hahaha, bercanda kak, betar deh. Kok gue ngerasa kalau ada sesuatu yang gue lupain ya?" kata Nandha.
"Jujur dulu lo pernah minta ke gue buat ngehapus ingatan elo. Waktu itu umur lo baru 15 tahun." kata Bryan.
"Ngapus ingatan?"
"Waktu itu kita habis perang di Singapura selama 3 hari, kayak biasa lo bertugas bunuh lawan secara senyap. Tapi nggak tau kenapa lo tiba-tiba pulang nangis histeris dan kejang-kejang, mohon-mohon buat ingatan lo di hapus." jelas Bryan.
"Terus kak ... "
"Kita semua bingung dong, mana kalau kita tanyain alasan lo buat ngapus itu ingat lo selalu nangis dan langsung pingsan. Dari sejak saat itu kita jadi nggak pernah nanyain alasan itu karenabtakut kesehatan elo bermasalah.
"Sebenarnya apa yang terjadi saat itu, dan kenapa gue ngerasa kayak ada sesuatu dari jiwa gue yang kembali? Gue harus cari tau," batin Nandha.
__ADS_1
"Pasti itu pengalaman terburuk dalam hidup gue deh, kayak gue nggak harus inget itu lagi," ucap Nandha sambil memegangi kepalanya.
Bryan mengangguk, "Ya udah, semua terserah lo aja, mending sekarang lo telfon laki lo sebelum para anggota Ghost Crime kepalanya ilang di penggal ama laki lo," kata Bryan memberi saran.
"Lah kenapa gue bisa lupa sama itu orang?" katanya lirih.
Nandha mencari ponselnya dimana-mana, "Kak kayaknya hp gue ketinggalan di markas deh. Pinjem hp lo dong."
Bryan memberikan ponselnya, namun tanpa memberi tahu sandinya pada Nandha.
Nandha terpaku menatap display ponsel sang kakak yang menampilkan kombinasi angka untuk membuka kuncinya. Di otak-atiknya beberapa saat dan akhirnya terbukalah.
"Loh ... loh ... loh kok, lo bisa buka kuncinya?" tanya Bryan terkaget-kaget.
"Lo kira adek lo ini orang dungu yang cuma atau gimana cara ngabisi uang ortu gitu?" kata Nandha sinis.
"Hahaha, gue lupa dek, kan udah lama juga kita nggak barengan. Kalau gitu lo telfon aja Dhany gue keluar dulu." ujar Bryan serasa beranjak pergi dari kamar Nandha.
"Kagak ada!! Lo tungguin gue disini karena ada yang mau gue tanyain ke elo, selangkah aja lo rubah posisi lo itu ... gue pastiin dompet dan akun elo bakal bolong," ancam Nandha sambil mencengkram lengan Bryan.
"Sial ... padahal baru aja gue mau kabur biar nggak di tanya yang aneh-aneh sama dia." gumam Bryan.
"Apa-apaan nih?" tanya Nandha saat melihat nama Dhany di kontak hp Bryan.
"Apa lagi sih dek?"
"Lo gimana sih bang, si Dhany kan adik ipar elo masak lo kasih nama 'Tokek Paijo'?" protes Nandha.
"Itu hp siapa?" tanya Bryan santai.
"Hp elo."
Bryan berkata dengan santainya,"Nah pinter, jadi suka-gue dong mau kasih nama apa."
" jangan ngeselin deh kak, "kata Nandha.
"Udah sana buruan lu telepon tuh laki lu, sebelum dia bikin rusuh, "kata Bryan pada Nanda.
__ADS_1
Nandha pun menuruti perintah sang kakak dan segera menelpon Dhany. Nandha menunggu cukup lama agar panggilannya segera diangkat oleh Dani.
*****