
Budayakan like, koment, vote dan follow ya biar Chiplux makin semangat up nya. Happy reading.πππ
"Saya melihat merk dan barang - barangnya semua kelas atas tapi selalu salah menggunakannya. Jadi aku putuskan biarkan saja dia!!!" kata Dhany.
*****
"Apa maksud dari ucapan kamu ini??" tanya Wanda.
Dengan santainya Dhany bertanya, "Menurutmu bagaimana suamimu ini bisa menjadi penguasa di Indonesia. Apa anda tahu bagaimana tuan Susanto meninggal??"
"Tuan Susanto ?? Maksud kamu Susanto Abdijaya??" tanya Wanda dengan hati yang mulai berdegup kencang.
Kini senyum miring khas Dhany telah menghiasi wajah maskulin Dhany, "Benar, orang yang saya maksud adalah Susanto Abdijaya. Anda pasti lebih akrab dengan beliaukan, karena anda kan PUTRI TUNGGALNYA!!" kata Dhany.
"Apa yang kamu tau tentang kematian ayah saya??" tanya Wanda dengan keringat dingin dan jantung yang berdebar hebat.
"Saya akan beritahu sebuah fakta yang mungkin akan membuat anda kehilangan akal. Kematian tuan susanto Abdijaya bukan karena kecelakaan seperti yang di laporkan. Beberapa bulan setelah penguman kematian tuan Susanto, seseorang membayar organisasi kami sebanyak 15 triliyun hanya untuk mencarikan info mengenai hal ini. Dan kami menemukan sesuatu yang sangat tidak masuk akal dan gila," kata Dhany berputar - putar.
"Siapa?!! Siapa orang yang rela bayar kalian sebanyak itu hanya untuk sebuah info kasus kematian?" tanya Wanda yang hampir menangis kebingungan.
"Bukan saya yang berhak memberi jawaban," jawab Dhany santai.
"Lalu siapa?!! Cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi!!" Wanda ingin kembali menerjang Dhany yang tengah duduk di sofa bersama tubuh Nandha.
DOOORRR
Satu tembakan di lepaskan oleh Bennedict. Walau peluru itu tidak di tujukan untuk membunuh, namun hasil dari tembakan itu berhasil menggores pipi mulus yang mulai berkerut itu.
"Hancur sudah kantor gue," batin Bryan sambil menggosok pangkal hidungnya.
"Jika anda tidak mau mati disini silakan diam dan tetap tenang," ucap William memberi peringtan.
"B-bunda ... J-jangan dengerin k-kata mereka ... M-mereka pasti hanya me-membual," ujar Sandi disela rintihannya.
"Kenapa tuan Sandi?? Apa anda takut kalau istri tercinta anda ini mengetahui semua hal itu," kata Dhany sambil menatap sandi dengan sangat intens.
"Uhhhgggg ... " Nandha membuka matanya perlahan.
Melihat istri di pangkuannya sudah sadar membuatnya senang. Di tatapnya sang istri dengan punuh kasih.
"Kamu udah sadar Yang?" tanya Dhany sambil mengusap rambut Nandha.
Nandha hanya mengangguk. Gadis itu memutar kepalanya untuk melihat ada yang terjadi. Namun yang di lihatnya adalah pemandangan yang sangat mengerikan. Dimana - mana berceceran cairan merah kental berbau anyir.
Tubuh Nandha kembali menggigil dan perutnya mulai mual saat melihat apa yang ada disana. Ada potongan tangan Sandi yang di ceraikan oleh William. Jafar yang terbaring lemah dengan kaki dan lengan sudah berlubang dengan cairan merah keluar dari lukanya.
"Nggak papa. Peluk aja aku kalau kamu takut," kata Dhany berusaha menenangkan sang istri yang menggigil hebat.
Mendengar ucapan sang suami yang membuat hatinya tenang. Namun itu saja tidak cukup. Akhirnya gadis itu bangun dan duduk di pangkuan sang suami. Di peluknya erat - erat leher Dhany karena saking takutnya.
"Kalian malah enak mesra - mesraan sedangkan suami dan anak saya sedang kesakitan. Hati kalian dimana hah?!!" protes Wanda menggebu - gebu.
Dhany dengan santainya menanggapi protes dari Wanda. "Semua ini salah kalian. Kalian sudah berani berbuat makan ini adalah akibat dari perbuatan kalian.
"Atas dasar apa kau seorang anak kecil berani berkata seperti itu!!" kata Wanda.
"Kau yang harusnya menutup mulutmu itu!! DASAR ANAK DURHAKA!!!"
Seorang wanita tua tiba - tiba masuk ke ruangan tersebut. Wanita yang sangat jelas di ingatan Wanda.
"Dasar anak tak tau di untung !!!"
PLAK
__ADS_1
Wanita tua tersebut menampar Wanda dengan sangat keras. Nandha yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya kini sudah melongokkan kepalanya. Dia bingung melihat apa yang terjadi. Siapa wanita tua ini??
"Psshh ... psshh," bisik Nandha di telinga Dhany.
Dhany melirik kearah sang istri, "Hmm ... Ada apa?" tanyanya.
"Itu siapa?" tanya Nandha berbisik.
Dhany tersenyum lembut, "Nanti kamu juga bakal tau," jawabnya.
Wanda tercengang melihat sosok wanita tua yang ada di hadapannya ini.
"I-ibu?!!" hanya itu yang terucap dari mulut Wanda.
"JANGAN PANGGIL AKU IBUMU!!" bantah wanita tua itu.
Nandha, Bryan, Jafar dan Lional terkejut saat mendengar Wanda menyebut wanita tua itu dengan kata 'Ibu'.
"Tunggu ... Bukannya nyonya Susanto sudah meninggal 1 sebulan setelah kematian tuan Susanto??' tanya Bryan bingung.
Dhany mengangguk, "Secara publik memang beliau sudah meninggal. Tapi dari sisi keaslian tentu saja beliau masih hidup. Benarkan nyonya Lilis Abdijaya?"
"Benar nak Dhany," wanita tua yang ternyata adalah nyonya Lilis Abdijaya. Istri sah dari tuan Susanto Abdijaya sekaligus ibu dari nyonya Wanda.
Nyonya tua nampak sangat marah saat melihat kearah keluarga putrinya.
"Kamu!! Dasar tak tau malu!! Kau bunuh suamiku dan memasukkan ku ke rumah sakit jiwa." makinya menggebu - gebu.
Wanda terbelalak saat melihat ibunya menuding sang suami dengan kata - kata pedasnya.
"A-apa maksud ibu?!!"
"Kemana otakmu hah ... Kau dulu sangatlah pintar kenapa kamu sekarang bodoh hah ... Apa kau tak tau bahwa AYAHMU MATI KARENA DI BUNUH OLEH SUAMIMU INI!!"
Bagai tersambar petir di siang bolong. Wanda tiba - tiba melemas dan jatuh terduduk di kaki sang ibu.
"Tidak!! Ini tidak mungkin!!" kata Wanda menolak kebenaran yang di ucapkan oleh ibunya.
"Untung salah seorang kenalanku tau kalau aku di kurung oleh laki - laki brengs*k ini. Dia memberi tauku untuk menyewa sebuah organisasi mafia untuk mencari tau tentang semua ini," ujar Ny. Lilis.
"Karena nak Dewa Kematianlah aku tau bahwa seseorang sengaja merusak rem mobil suamiku,"lanjut Ny. Lilis.
Ny. Lilis menatap ke arah Dhany dan tersenyum sembari menganggukan kepalanya. Dhany hanya membalas anggukan kepala.
"Ibu pasti bohong ... Tidak mungkin mas Sandi yang melakukannya. Iya kan mas??" tanya Wanda pada Sandi.
Sandi yang saat ini di ambang kematian karena kehabisan darah hanya bisa terdiam dengan nafas tersengal - sengal.
"Nak bisa tolong putarkan video yang waktu itu?" tanya Ny.Lilis sambil menatap ke arah Dhany.
Dhany tersenyum lebar, "Tentu saja Nyonya."
Dhany menatap Bennedict sekilas. Bennedict yang tau maksudnya tuannya itu lantas menganggukan kepala. Bennedict mengotak - atik laptop yang tadi di pakainya.
Kini terpampanglah sebuah video di layar proyeksi. Disana terpampang nyata Sandi Carenn yang tengah berdiri di depan mobil tuan Susanto yang merupakan mertuanya. Di dalam video itu Sandi tidaklah sendirian.
Ada seorang laki - laki berambut godrong dengan wajah yang tidak begitu terlihat. Mereka terekam kamera CCTV yang ada dalam mobil sekaligus kamera yang di sembunyikan oleh tuan Susanto. Kamera itu menangkap aksi mereka saat merusak salah satu komponen mobil yang mengakibatkan rem mobil itu blong dan lepas kendali.
"Apa sudah selesai??" tanya Sandi dalam video tersebut.
"*Sudah tuan."
"Apa sudah kamu pastikan bahwa orang tua bangka itu tidak akan selamat??"
__ADS_1
"Tentu saja tuan. Ini akan semakin menyakinkan kalau seandainya ada kendaraan yang menabraknya sampai hancur."
"Baiklah, jika si tua bangka itu meninggal maka istriku yang akan mendapatkan semua hartanya."
"Jangan lupa sisa uang saya ya."
"Beres sekarang buruan pergi. jangan sapai terlacak oleh orang lain. Ingat itu*!!"
Obrolan itu pun berakhir bersamaan dengan berakhirnya video tersebut. Semua orang yang baru pertama kalinya melihat video tersebut berhasil di buat tercengang. Terutama Wanda, suami yang selama ini di percayainya ternyata adalah seorang pembunuh. Mungkin dia masih bisa memaafkan jika korbannya itu orang lain. Tapi korbannya adalah sang ayah.
"Kamu tega banget mas!!" Wanda kembali menggila.
Kali ini orang yang di serang oleh Wanda adalah sang suami. Di pukulnya Sandi secara bertubi - tubi.
"Bun udah Bun ... " pinta Lional sambil memegangi tangan sang ibu.
Ny.Lilis menghampiri Dhany dan Nandha.
"Nak Dewa Kematian apa saya boleh meminta tolong lagi?" tanya Ny.Lilis sopan.
"Silakan Nyonya."
"Saya ingin laki - laki sial*n ini di lenyapkan saja. Dan buat anak saya ini menjadi gila permanen, untuk cucu ku ini ... Hilangkan saja mereka." pinta wanita itu.
Dhany menatap kearah Nandha dan ketiga anak buahnya. Ke 3 anak buahnya mengangguk, sedangkan Nandha terus memadang ke arah Ny.Lilis.
"Kalau memang keinginan Nyonya seperti itu maka lakukanlah. Kalian pasti bisa kan?" Nandha melirik kearah Dhany.
Dhany bersemirk, "Kalian sudah dengarkan, eksekusi sekarang !!" perintah Dhany.
William, Leon, dan juga Bennedict menyeret tubuh ke 4 orang tersebut. Mereka membawa menggunakan jalur rahasia agar tidak ada kariawan yang tau.
"Nak Dewa Kematian saya ucapkan terima kasih," kata nyonya Lilis.
Nyonya Lilis terus saja menatap Nandha yang masih setia bertengger di pangkuan Dhany. Menyadari dirinya sedang di tatap seperti itu membuat Nandha menjadi kikuk. Dia memutuskan untuk turun dari pangkuan dhany dan pergi mencuci wajahnya. Di tinggalnya Dhany bersama Nyonya itu sendirian.
Saat Nandha tengah mengambil minum, "Lo ngapain disini?" tanya Bryan dari belakang.
"Gue ngap bang, disana gue cuma bisa nyium bau darah." aku Nandha sambil mengibaskan tangannya di sekitar hidung.
"Ya mau gimana lagi, padalah rencana awal kita nggak gini. Gue aja kaget liat laki lu yang bisa seganas ini," ungkap Bryan.
"Ini pertama kalinya aku liat dia seserius ini. Dia bahkan nggak ragu buat nembak orang - orang itu," kata Nandha.
"Sama kayak elu dulu," batin Bryan.
Setelah mengambil beberapa gelas minuman untuk tamu suaminya, gadis itu kembali ke ruangan dimana disanalah ia meninggalkan suami tercinta.
Terkejutlah ia saat melihat ruangan yang tadinya penuh darah kini suda bersih dan wangi. Tak ada lagi bau anyir darah dan ceceran cairan kental yang memuakan itu.
"Silakan di minum Nyonya," tawar Nandha sambil menyodorkan secangkir teh hangat.
"Nak Dhany, apa ini pacarnya??" tanya nyonya Lilis.
Dhany tertawa rencah, "Bukan Nyonya, dia istri saya," jawabnya tegas.
"Waah cantik sekali istrinya," puji nyonya Lilis tulus.
"Makasih Nyonya, tapi saya ingin bertanya. Anda tanpa ragu meminta Dhany melenyapkan menantu dan membuat putri anda gila. Ditambah anda mau menghilangkan cucu - cucu anda. Apakah ada kandidat lain sebagai ahli waris? Karena dari yang saya lihat dari video tadi sepertinya bu Wanda itu anak anda satu - satunya." kata Nandha menumpahkan rasa penasarannya.
"Nona memang benar. Wanda adalah anak tunggal saya, tapi tak apa. Daripada saya nanti tidak tenang mending saya bereskan dari sekarang. Dan untuk masalah harta, saya akan ambil alih semua harta Sandi dan menyerahkannya kepada kalian," jawab nyonya Lilis sambil tersenyum.
Nandha dan Dhany saling menatap mendengar ucapan dari kliennya ini. Apakah mereka akan menerima tawaran tersebut?? Silakan tulis tebakan kalian di kolom komentar ya .. See you next chapterπππ.
__ADS_1