The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 98


__ADS_3

Budayakan like, koment, vote dan follow ya biar Chiplux makin semangat up nya.😊😊😊


Dhany kembali ke ruang istirahatnya untuk menengok keadaan sang istri. Saat dia masuk ke dalam dia melihat sang istri yang sudah terduduk tegap di atas ranjang king size itu.


Dhany panik dan berlari kearah Nandha, "Sayang kamu udah sadar? kok nggak panggil aku?" tanya Dhany.


"Kenapa aku disini? dan darah siapa ini?" tanya Nandha linglung.


Dhany mengerjap, "Kamu nggak ingat ini darah siapa?" tanyanya.


Nandha hanya menggeleng.


"Jangan bikin aku panik ya yang," kata Dhany. "Coba kamu inget-inget lagi apa yang udah terjadi," lanjutnya.


Nandha diam dan berusaha mengingat kembali apa yang telah di lakukannya sampai-sampai pakaiannya penuh dengan darah. Mendadak Nandha menjerit mengeluhkan kepalanya sakit dan kembali tak sadarkan diri.


Dhany lantas menelfon William agar dia menyiapkan mobil untuknya supaya bisa segera membawa Nandha ke rumah sakit milik keluarganya. Tak menunggu lama Dhany mendapatkan telfon dari William yang mengatakan bahwa mobilnya telah siap di pintu belakang.


"Kamu harus baik-baik saja," kata Dhany sambil terus mengusap tangan Nandha.


Selama perjalanan itu Dhany duduk di kursi penumpang bersama Nandha dan mobilnya di setir oleh Leon.


"Sebenarnya apa yang terjadi tuan?" tanya Leon pada Dhany yang terlihat sangat panik.


Dhany menggeleng, "Sebenarnya gue sendiri nggak tau apa yang terjadi. Tadi dia mendadak menjadi brutal dan ngehajar mantan pacarnya dengan sangat agresif. Karena gue nggak mau dia menjadi pembunuh jadi gue stop, waktu dia lihat tangannya yang berlumuran darah dia langsung pingsan. Udah sempet sadar sih tapi dia jadi kayak orang linglung," tutur Dhany pada Leon.


Dhany merogoh sakunya untuk menghubungi Bryan.


"Halo Bryan, gue lagi perjalanan ke rumah sakit, tadi Nandha pingsan," kata Dhany saat telfonnya tersambung.


"Apa?! kenapa dia bisa pingsan?" tanya Bryan dari seberang sana dengan suara panik yang sangat jelas.


"Tadi dia habis mukulin Jafar sampai hampir mati, gue juga ngerasain hawa membunuh yang amat kuat dari dirinya," ucap Dhany.


"Bawa dia kembali ke rumah saja. Nanti bakal gue jelasin disini," perintah Bryan dan langsung menutup telfonnya.


"Leon arahkan mobilnya ke rumah keluarga Agatha," perintah Dhany.


"Baik tuan."

__ADS_1


Leon memutar arahnya dan kembali menginjak pedal gasnya. Di pacunya kuda besi itu dengan kecepatan penuh agar lekas sampai di tujuan.


Dalam perjalanan mereka menemukan kesulitan, karena hari ini adalah akhir pekan membuat keadaan jalan raya menjadi macet. Banyak orang berbondong-bondong pergi ke puncak bersama keluarganya untuk merayakan akhir pekan.


"Kenapa bisa semacet ini padahal kurang sedikit lagi kita sampai di rumah," keluh Dhany.


"Sabar tuan sebentar lagi kita bisa jalan lagi kok," kata Leon menenangkan Dhany,.


Tiba-tiba dar arah belakang terdengar bunyi sirine polisi yang membuka jalan. Mobil polisi itu berhenti di depan mobil Dhany. Muncul seorang Jendral polisi yang terlihat dari pangkat di seragamnya dari dalamnya menuju mobil Dhany.


Di ketuknya pintu penumpang sebanyak 3x. Leon menurunkan kaca mobilnya karena melihat polisi tersebut ingin mengatakan sesuatu.


"Apa anda tuan Dhany?" tanya jendral tersebut.


"Ya!! saya sendiri, ada apa?" tanya Dhany dingin.


"Kami mendapat tugas membukakan jalan untuk anda agar bisa sampai kediaman keluarga Agatha secepatnya." kata Jendral yang bernama jendral Wijayanto pada name tag nya.


"Atas perintah siapa?" tanya Dhany waspada.


"Kami berada di bawah komando tuan Bryan Agatha."


"Bryan? baik kalau begitu cepat bukakan jalan, saya harus tiba secepat mungkin," pinta Dhany.


"Baik tuan."


Saat sampai Dhany sudah di sambut oleh jajaran petugas medis yang tak pernah ia lihat bekerja pada keluarganya.


"Siapa mereka?" batin Dhany.


Dhany membuka pintu mobilnya.


"Silakan letakkan nona muda disini tuan," kata seorang dokter.


Tanpa banyak omong Dhany menuruti perkataan dokter tersebut. Dibawanya tubuh lemas Nandha kedalam sebuah ruangan yang sangat tertutup.


Dhany nampak mondar-mandir di depan ruangan itu di temani oleh Leon. Bryan pun menyusul Dhany setelah berbincang atau sekedar memberi ucapan terima kasih pada Jendral Wijayanto yang sudah turun tangan sendiri untuk membukakan jalan agar adiknya lekas sampai rumah.


"Nggak usah panik, gue udah mikir kalau hal ini bakal terjadi. Cuma gue nggak pernah mikir kalau bakal secepet ini," kata Bryan.

__ADS_1


"Apa maksud elo dengan hal ini bakal terjadi?" tanya Dhany.


Bryan menatap Dhany, "Sama kek elo yang nutupin fakta soal elo yang seorang mafia. Keluarga kita juga nyembunyiin suatu fakta dari elo." jawab Bryan.


Dhany memiringkan kepalanya, "Apa maksud lo?" tanyanya.


Bryan menghela nafas sebelum memulai ceritanya, "Lo pasti tau sebelum organisasi Ghost Crime elo berjaya nguasai dunia ada 1 organisasi yang sudah menguasai dunia bawah lebih dulu," kata Bryan berputar-putar.


"Bryan stop muter-muter deh, kalau masalah organisasi itu sih gue udah tau," jawabnya jengkel.


"Sabar dulu lah nyet, organisasi itu namanya Devils Demons. Organisasi itu sebenarnya punya gue sama Nandha. Dulu kita bersusah payah ada di posisi itu."


Dhany memotong cerita Bryan, "Tunggu dulu, jadi maksud lo ... si Nandha itu mantan orang bawah?" tanya Dhany.


"Iya, dia dulu tangan kanan gue pas umur 12 tahun. Tugas dia sebagai pencabut nyawa. Dia pembunuh berdarah dingin yang sangat gue banggakan. Pertama kali dia bunuh orang di usia dia yang ke 14 tahun. Tapi saat kerusuhan kita di Singapura beberapa tahun lalu, tiba-tiba dia pulang dan nangis histeris minta buat ilangin ingatannya. Kita semua nggak ada yang tau apa motif dia sampai mau hapus memori masalalunya itu, dan kita juga nggak ada yang mau nanya lagi, karena setiap kali kita nanya dia bakal nangis sampai kejang dan akhirnya pingsan," jelas Bryan.


Dhany dan Leon yang mendengar cerita itu diam membatu.


*****


Di markas Ghost Crime WIlliam berhasil di buat jengkel oleh para junior yang mendaftar untuk menjadi anggota Ghost Crime. Dia merasa bahwa peserta kali ini sama sekali tidak berkualitas.


DOOOOR .... DOOORR ...


William melepaskan 2 tembakan sebagai peringatan agar para krumunan junior itu bisa lebih tenang.


"Kalian sekelompok ikan sarden bisa nggak sih lebih tenang sedikit, gue nggak mau pintol gue ini melesatkan peluru tepat di tengah kepala kalian," katanya sarkas.


"Jika kalian sudah memilih devisi yang kalian mau, maka cepatlah pergi ke arena yang kalian pilih. Jangan berputar-putar disini seperti seorang idiot."lanjut William.


Melihat amarah William yang meluap membuat krumunan itu bubar tak tentu arah. Tak sedikit dari mereka yang bergosip tentang William.


"Dia bukan Dewa Kematian kan? kenapa galak banget sih, lagian Dewa Kematian kemana sih kok nggak muncul lagi?"


"*Gue bingung soalnya semua pada pakek topeng?"


"Kalau gue lebih bingung ke siapa cewek yang dari tadi ada di belakang Dewa Kematian. Soalnya gue nggak pernah denger ada anak cewek di organisai ini."


"Lah iya gue baru sadar*."

__ADS_1


Mendengar dirinya dan tuannya di gosipkan membuat William kembali naik pitam, "KALAU UDAH NGGAK MAU ADA DISINI SILAKAN PERGI, TAPI TINGGALKAN KEDUA TANGAN DAN KAKI KALIAN!!!"ancam William dari belakang dan tepat di telinga para penggosip itu.


*****


__ADS_2