The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 113


__ADS_3

Budayakan like, koment, vote dan follow ya biar Chiplux makin semangat up nya. Happy reading.😊😊😊


“Si Tuan sekate-kate, gini-gini gue pakar perplayboyan, rajanya gombalan,” sanjung Bennedict pada dirinya sendiri.


“Oke gue paham kalau lo buaya,” sahut Dhany seenaknya.


“Si Boss lagu-laguan mau ngenain gue, inget Boss ... Boss belum ngerasain malam pertama kan,” ucap Bennedict di ikuti semirknya.


Nandha terhenyak mendengar apa yang di ucapkan oleh Ben, tapi keterkejutannya tidak sampai disana saja. Balasan Dhany lah yang membuatnya lebih terkejut luar biasa.


“Kata siapa? Gue udah pernah tuh,” jawab Dhany blak-blakan.


BRUUUSSHH


Sontak Nandha memuncratkan tehnya tepat di wajah Dhany. Wajahnya memerah, jantungnya terpompa dengan sangat cepat. Ada rasa kesal ataupun malu pada diri Nandha saat ini.


“Yang apa-apaan sih?” protes Dhany sambil mengusap wajahnya.


Di saat Dhany tengah sibuk protes pada sang istri yang lain malah asik menertawakan keadaannya. Bagaimana tidak? Sosok yang mereka kenal sebagai Dewa Kematian, sosok yang mampu membunuh puluhan musuhnya dalam hitungan menit itu kini tengah di sembur oleh sang istri. Lucunya adalah sosok itu tak mampu berkutik dan hanya bergumam sendirian.


“Em ... Mah, Pah dan yang lainnya ... kita pamit dulu ya, mau mandiin Dhany,” kata Nandha kikuk.


“Mandiin?” ucap semua orang bersamaan.


Nandha terhenyak dan menyadari kesalahan ucapannya, “Anu maksud aku bersihiin muka,” ralatnya.


Semua orang tertawa melihat tingkah dan ekspresi istri, menantu dan majikan mereka itu. Tak tau kenapa mereka begitu gemas saat melihat gadis itu gelagapan dan salah tingkah sendiri.


“Oke-oke kita paham, dah sana mandiin suami kamu, yang bersih ya,” goda Katrine.


“Mamah ....” cicit Nandha.


“Apa?! Boss udah skidipapap?” tanya Bennedict dan Leon secara bersamaan.

__ADS_1


“Kalian berisik deh.” Dhany mengacungkan jari tengahnya dan menarik istrinya naik ke atas kamarnya.


“Mah ... Pah ... kita mau mandi bareng dulu yak, tolong curut-curut itu di kasih makan, bye!” teriaknya sambil terus berlari.


Di dalam kamar Dhany langsung membawa Nandha ke dalam kamar mandi mewahnya. Di sana terdiri dari beberapa bilik. Ada bilik pakaian yang tentu saja isinya pakaian-pakaian bermerk ternama milik Dhany. Dhany terus menarik Nandha sampai ke bilik mandi dan mendorongnya sampai membentur dinding.


Tak hanya itu saja, Dhany juga menyalakan shower yang tentu saja membuat tubuh mereka terguru dan basah. Nandha beberapa kali menerjap bingung, ia tak tau apa yang terjadi sampai suara serak Dhany sampai di telinanya.


“Ayo mandiin aku Sayang ....” bisiknya tepat di telinga Nandha.


Nandha mendorong tubuh Dhany, ia berharap dapat keluar dari kungkungan sang suami. Akan tetapi kekuatannya kalah jauh dari kekuatan Dhany.


“Udah sana mandi aku mau ke sebelah dulu,” kata Dhany. Di sentilnya kening sang istri sampai sng empunya mengaduh.


“Aduh ....” keluh Nandha mengusap jidatnya.


“Jangan mikir yang enggak-enggak udah sana mandi.” Dhany pergi meninggalkan Nandha yang tengah termenung dengan lamunannya.


“Tahan-tahan ... bisa mati aku kalau sampai Nandha ngamuk,” ucapnya lirih di balik biliknya.


“Makan ... makan,” ucap Dhany saat menuruni tangga.


Saat menatap makanan yang ada di meja Nandha teringat suatu hal, “Loh Yang, kita tadi kan beli makanan. Sekarang makanannya mana?” tanya Nandha saat menyadari bahwa ia melupakan jajannya.


Dhany pun mengutus beberapa pelayan untuk mengambilkan belanjaan sang istri tadi. Dan mereka pun kembali makan.


“Jadi ... kamu apakan 2 bersaudara itu?” tanya Nandha Leon.


Dengan cepat dan penuh semangat Leon menjawab, “Tidak ada yang spesial. Aku hanya memasukkan mereka ke dalam salah satu kawah gunung berapi,” jawab Leon sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


DEG


UHUK ... UHUK ... UHUK ....

__ADS_1


Nandha tersedak makanan yang tengah di kunyahnya dalam mulut. Ia tak percaya akan apa yang di dengarnya barusan.


“Apa kamu bilang?! Kamu memasukkan mereka ke dalam kawah berapi?” tanya Nandha tak percaya.


“Iya, kenapa Nyonya?” tanya Leon, “Apakah kurang sadis? atau perlukah saya mengulitinya terlebih dahulu?” sambungnya.


“Ah ... ti-tidak ini sudah lebih dari cukup,” jawab Nandha canggung.


Nandha menjadi canggung setelah mendengar dan mengetahui sikap Leon. Laki-laki yang sangat periang dan penuh tawa. Sosok yang selalu membawa keceriaan pada yang lainnya itu ternyata memiliki sisi kejam yang bahkan setaraf dengan psychopat.


“Jangan kanget gitu, sebenarnya William dan Leon memiliki sifat yang sama. Mereka sama-sama memiliki sisi Psyo yang berada dalam taraf masing-masing. Kalau William itu tipe orang yang akan menyiksa si korban. Nah, disinilah letak perbedaan itu,” ujar Tengku menjelaskan pada menantu tersayangnya itu.


“Jadi ... Leon ini tipe orang yang akan langsung membunuh tanpa babibu?” tanya Nandha.


“Yups, itulah saya,” sahut Leon sambil cengengesan.


Nandha menatap Leon dengan sejuta arti, ia bingung bagaimana dia bisa terjebak dengan orang-orang yang cukup berbahaya, tapi anehnya dia sama sekali tidak merasa takut atau apapun itu. Ia malah merasa akan lebih aman jika bersama dengan mereka.


"Kenapa Nyonya menatapku seperti itu?" tanya Leon yang merasa aneh di pandangi oleh Nandha begitu.


Nandha menggeleng, "Nggak ada yang gue takutin dari elo. Gue cuma kaget aja, kalau lo yang biasanya ceria dan pencilakan bisa seberbahaya ini," jawab Nandha santai.


Kini semua orang yang ada disana kecuali Dhany dan William merasa terkejut akan reaksi yang di tunjukan oleh Nandha.


"Lagian lo kan nggak bakal bunuh gue. Daripada takut sama elo, gue lebih takut sama Dhany, dia kan bisanyiksa gue sampek nggak bisa jalan 3 hari," jawab Nandha sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Semua orang di buat tercengang akan jawaban yang keluar dari mulut Nandha. Bahkan Dhany yang dari tadi cuek-cuek saja langsung menolehkan ke arah sang istri yang tengah asik menikmati santapannya.


Nandha yang merasa menjadi pusat perhatian itu menjadi bingung, ia menatap satu persatu orang-orang yang ada disana. Nandha menatap ke arah sang suami yang tengah menatapnya tanpa berkedip.


"Apa? kan emang bener gara-gara kamu aku harus bolos sekolah, gara-gara kamu kan aku jadi eem ... em ...." Dhany membekap mulut Nandha agar ucapannya itu.


Tawa semua orang pun pecah menggema seantero rumah. Bahkan beberapa pelayan yang ada di ruang belakang harus terkejut saat mendengar tawa orang-orang yang ada di meja makan.

__ADS_1


"Bajin*an busuk ini, apa kau tak bisa lebih pelan saat melakukannya," tegur Teguh menggoda anak laki-lakunya itu.


__ADS_2