
Maaf ya lama up nya, soalnya masih sibuk dengan suatu urusan yang nggak bisa di tinggal.
Happy reading.
"Rika!!"
Ujar keduanya saat melihat siapa sosok yang memanggil mereka berdua.
"Ya ampun udah lama ya kita nggak ketemu. Ku pikir tadi aku salah liat," ujar seorang wanita. Sosok itu berjalan mendekat ke arah mereka dan langsung duduk di sebelah mereka.
Monica memberi tatapan tidak suka pada Rika yang langsung duduk di depan mereka tanpa meminta ijin. Rika adalah teman semasa Monica dan Katrine duduk di bangku SMA sampai di bangku perkuliahan. Dari dulu Monica memang tidak suka pada Rika karena banyak hal.
Ctak!
Rika menjetikan jarinya guna memanggil pelayan, saat sang pelayan itu tiba dia langsung memesan berbagai hidangan yang pastinya termahal di kafe tersebut. Setelah pelayan itu mengulang menu yang di pesan lantas Rika berkata bahwa makanannya akan di bayar oleh Katrine.
"Heh bajing!! Lu beneran gada urat malunya ya?" tanya Monica sarkas.
Rika berdecak pelan, "Ckck, kamu itu ada masalah apa sih sama aku? Aku loh nggak pernah ganggu kamu, apa kamu mau aku rebut pasangan kamu? Biar sama kayak Katrine dulu, upss." Rika menutup mulutnya sambil melirik ke arah Katrine yang sudah merah meradang.
Monica meraih ponselnya dan mengetikan sesuatu di ponselnya. Ia tidak menanggapi ucapan sosok di depannya itu dan malah asik dengan ponselnya. Katrine memandangi wajah sahabatnya dengan tatapan bingung. Tidak seperti biasanya sahabatnya itu bisa sesabar saat ini.
Drrrrttt .... Drrrrttt ....
Ponsel Katrine tiba-tiba bergetar. Ia sempat memandang Monica sekilah yang sudah meletakkan ponselnya kembali. Katrine membuka tas kecilnya dan mengeluarkan ponselnya, ponsel keluaran terbaru itu menampilkan chat Whatsapp dari "Si garang" yang merupakan nama kontak sahabat di sampingnya itu.
Isi pesannya adalah Monica meminta agar Monica melawan perkataan Rika. Disaat Monica dan Katrine sibuk dengan ponsel masing-masing membuat Rika naik pitam karena merasa di abaikan.
"Hey kalian!!"
Teguran itu berhasil membuat Katrine terhenyak sesaat. Berbeda dengan Katrine yang sedikit terkejut, Monica malah tampak santai sambil menyenderkan punggungnya.
"Berisik banget sih, dasar kutil lampir." Monica mencebik.
"Apa!!" Rika nampak murka mendengar ucapan yang keluar dari mulut Monica. Ia menatap nanar sosok di depannya saat ini.
"Lo gada kerjaan ya Rik? Emang lo udah gada target buat lo godain lagi? Atau udah gada stok suami orang lain buat lo rebut?" Tanya Katrine dengan santainya.
Rika kembali terkejut saat mendengar sahutan dari mantan temannya semasa SMA itu. Teman yang kekasihnya pernah ia rebut dulu. Teman yang pernah dibuat kalang kabut karena ulahnya.
"Hoo ... Awalnya aku memang nggak ada rencana mau rebut suami orang, tapi setelah bertemu dengan kalian akhirnya aku memutuskan untuk merebut suami kalian saja," jawab Rika enteng.
Monica memajukan wajahnya mendekat ke arah Rika, "Lo mau rebut suami kita? Lo pikir ini jaman SMA dimana kita-kita yang masih dungu? Dengerin ya cabe pasar loak, gue sama Katrine nggak bakal biarin hal itu terjadi. Satu lagi, kalau sampai suami gue kegoda sama papan gilesan cuci baju kayak lo, mending gue bunuh suami gue, ngerti?!" Ucap Monica.
Katrine dan Rika tertegun mendengan penjabaran dari Monica. Setelah mengungkapkan semua keluahannya Monica nampak meraih ponselnya yang sedari tadi bergetar. Nampak nama suaminya di layar display, tanpa basa-basi ia langsung mengangkatnya di hadapan mereka berdua.
__ADS_1
"Halo sayang, ada apa?" Tanya Monica saat mengangkat sambungan telfon.
"Kamu dimana Mom?"
"Eh, ada apa Daddy? Kamu kangen, heemm?"
"Mom, perasaan Daddy nggak enak. Kayak ada sesuatu yang nggak beres."
Monica menatap intens ke arah Rika, ia menjauhkan ponselnya dari telinga dan mengaktifkan fitur pengeras suara sebelum ia berkata, "Oh perasaan Daddy nggak enak ya? Kok bisa ikatan batin kita sekuat ini ya Dad?"
"Gimana Mom?" Terdengar suara serak tapi mampu memberikan kesan maskulin dan tegas di seberang sana.
"Daddy, sekarang Mommy sedang bertemu dengan seorang p*lac*r yang mengatakan kalau dia mau rebut Daddy dari Mommy, hiks." Ucap Monica mendramatisir keadaan.
"Apa?! Wanita jal*ng mana yang berani merebut Daddy dari Mommy?! Mommy dengerin Daddy. Mommy boleh bunuh Daddy kalau seandainya Daddy mulai keliatan aneh dan nunjukin gelagat yang mencurigakan," kata sang suami di seberang sana dengan tegas.
Monica menatap nyalang ke arah Rika hanya sekedar menunjukan bahwa ia telah kalah sebelum berperang. Sedikit berbasa-basi dengan sang suami melalui telfon, Monica lantas mematikan sambungan telfon tersebut setelah mengatakan bahwa ia akan menyusul sang suami ke kantornya.
"Lo denger? Lo bahkan kalah sebelum mulai, jadi gue saranin lo jangan ganggu kehidupan kita-kita lagi, okey?" Ucap Monica angkuh.
Rika mendengus kesal, "Huh, suami kamu bilang begitukan karena ngomong sama kamu, coba sama yang lain? Udah pasti beda lagi ceritanya," sanggah Rika.
"Loh Mamah? Mommy?" Terdengar teguran dari arah belakang. Nampak sosok pemuda gagah nan tampan yang berbalut seragam putih abu-abu khas pelajar SMA.
"Nah, karena kamu sudah disini, Mommy mau pulang dulu. Daddy di kantor lagi nungguin Mommy dari tadi kirim chat terus ganggu banget." Monica beranjak dari tempat duduk
"Kat gue duluan ya, lo mending buru-buru balik udara disini udah tercemar. Nanti gue bilangin ke anak gue buat nyemprotin desinfektan di kafe ini." Ujar Monica seraya menepuk pundak Katrine.
"Jagain Mamah kamu ya." Dhany mengangguk saat mendapat tepukan dan wejangan dari sang Mommy mertua.
Apa Dhany bingung? Tentu. Dia sangat bingung akan suasana dan perkataan yang keluar dari mulut sang mertua. Tapi, dia tak mau repot untuk nebak apa yang terjadi disini. Walaupun jiwa kepo-nya sedang menggelora.
Sepeninggalnya Monica dari kafe tersebut keadaan menjadi hening. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Dhany? Dia bahkan masih tak menyadari keberadaan Rika sampai wanita itu membuka suaranya.
"Jadi? Apa anak tampan ini putramu, Katrine?"
Dhany sontak memalingkan wajahnya saat mendengar suara asing itu. "Huh ... siapa wanita ini? Kok gue kayak pernah liat muka dia ya? Dan kenapa muncul perasaan benci yang menggebu-gebu?" Batin Dhany bingung.
"Ya dia putraku. Mau apa lo? Jangan berani-berani menyentuhnya atau hal buruk akan menimpa keluarga lo," ancam Katrine dengan mata elangnya.
"Oh ... Apa ini? Apa kamu baru saja mengancamku? Ini tak seperti dirimu wahai kawanku." Rika menoel genit dagu Katrine. Namun hal itu harus tertunda karena Dhany menggenggam tangannya tepat sebelum menyentuh dagu sang Mamah.
"Tolong jaga batasan anda!!" Geram Dhany dengan wajah yang sudah tak bersahabat.
"Calm down boy, aku tak akan melakukan apapun pada ibumu ini. Hey apa ini? Jangan tatapan aku dengan tatapan elangmu sayang, aku ini teman ibumu semasa SMA. Kalau kau tak percaya tanya saja ibumu," kekeh Rika saat mendapatkan tatapan tajam dari Dhany.
__ADS_1
"Mah ... Sesuai kata Mommy mending kita per—,"
"Bunda!!"
Ucapan Dhany terpotong karena kedatangan seorang gadis yang berseru sembari berjalan mendekat. Matanya memicing saat tau siapa sosok yang tengah mendekat itu.
"Ah ... Perasaanku tak enak," batin Dhany.
Dan benar saja setelah sosok itu tiba di hadapannya. Sosok wanita centil yang berbalut seragam PNS. Ya benar, dia adalah Siska. Guru cantik yang tengah menjadi momok menjengkelkan dalam rumah tangganya.
"Loh ... Dhany? Sedang apa kamu disini?" tanya Siska saat melihat Dhany di depannya.
"Sayang kamu kenal anak muda tampan ini?" Rika muncul dari balik tubuh Dhany untuk menghampiri Siska.
"Bunda, dia ini murid Siska di sekolah sekaligus cowok yang Siska suka," jawab Siska dengan mata berbinar-binar.
"What?!"
Dhany memelototi Siska atas ucapannya yang begitu frontal. Bagaimana bisa dia dengan mudahnya mengatakan bahwa dia menyukai dirinya. Apa yang dipikirkan oleh wanita sinting ini, begitulah pikiran Dhany saat ini.
"Wah ... Wah ... Anak Bunda memang yang terbaik. Sudah terbukti jelas bahwa kamu anak Bunda," puji Rika. Tak hanya melontarkan pujian pada anaknya. Rika juga bertepuk tangan sampai membuat beberapa pelanggan menoleh kearah mereka berempat.
"Bunda Siska mau Dhany. Siska mau Dhany jadi milik Siska," ucap Siska lagi. Dhany kembali tertegun mendengar setiap ucapan dari mulut gurunya itu.
"Apa-apaan?! Nggak ya, gue ngga—" Dhany urung melanjutkan ucapannya karena tangannya di tarik paksa oleh ibu-ibu yang di ketahui adalah ibunya Siska.
"Ayo duduk dulu nak Dhany, ada yang ingin Bunda omongin sama kamu." Rika menarik tubuh Dhany dan membuatnya terduduk manis di sebelahnya. Apa kabar dengan Katrine? Tentu saja ia tengah terkejut dan membatu. Dia tak mengira dia akan kembali terlibat dengan teman sial*nnya ini.
"Jadi, nak Dhany kelas berapa? Tinggal dimana? Aahh ... Siapa nama ayah kamu? Seberapa kaya keluarga kalian? Nah Katrine temanku, bagaimana kalau kita nikahkan saja anak kita? Sebaiknya kapan kita adakan?" Cerocos Rika tanpa memberi jeda pada setiap pertanyaannya.
"Bagaimana kalau minggu depan Bun? Siska mau nikah dengan nuansa Disney land yang banyak princess-nya. Harus mewah dan dihadiri banyak tamu undangan. Seluruh rekan kerja Siska dan murid-murid Siska juga harus ada disana. Uuhhh ... Siska nggak sab—,"
"CUKUP!!" APA-APAAN KALIAN?! SIAPA YANG MAU MENIKAH DENGAN WANITA GILA SEPERTIMU? DAN KAU IBU-IBU YANG TIDAK JELAS. STOP!! PLEASE NGGAK USAH BANYAK NGOMONG, OMONGAN ANDA ITU HANYA SEBATAS OMONG KOSONG!!"
Setelah mengucapkan kata-kata pedasnya Dhany lantas menarik tangan sang Mamah untuk meninggalkan teman jahanam itu. Dia risih dengan pembicaraan yang tidak jelas dari 2 makluk yang tak ingin di lihatnya.
Katrine yang di tarik oleh putranya merasa lega. Sesaat dia merasa tercekat dengan ucapan-ucapan antara ibu dan anak di depannya. Syukurlah putranya bergerak cepat dengan menariknya keluar dari lingkaran setan tersebut. Sungguh ia merapalkan kata syukur berulang kali dalam batinnya.
Disisi lain ada Rika dan Siska yang saling memandang. Mereka menatap nyalang kearah punggung Dhany dan Katrine yang berjalan keluar dari Kafe.
"Aku nggak mau tau Dhany harus jadi milikku."
"Of course baby."
*****
__ADS_1