
Berlari ke arah Stahark, aku mengeluarkan kabut hitam yang membungkus tangan kananku, menciptakan pedang hitam yang telah digenggam, aku arahkan padanya.
Aku tahu bertindak ceroboh akan menghasilkan usaha yang sia-sia, tapi jangan khawatir karena aku memiliki rencana lain, mungkin aku bisa melakukannya usai membiarkan dia menang sedikit padaku.
"Benar-benar menyedihkan."
"....."
Sebelum dapat mendekati Stahark lebih dari ini, tubuhku yang terikat oleh rantai yang kukenal, aku tidak menyangka dia memilikinya sama seperti Shilph.
Mungkinkah dia memilikinya berkat kemampuan yang ada di Fallen Angel Lucifer maupun Haniel? Berdasarkan dari kedua Fallen Angel yang sudah tiada, besar kemungkinan mereka yang memiliki hubungan dengan Shilph memiliki kekuatan dan kemampuan yang serupa dengannya.
Tapi, aku tidak tahu apakah ini bagus atau tidak, aku hanya perlu melakukannya sebaik mungkin.
Menciptakan [Shadow Clone], bayanganku yang bergerak menggunakan [Acceleration] yang menyebar dari tiga arah; kiri-kanan, dan belakang, Stahark sudah berada di situasi terpojok yang takkan bisa dihindari.
"Ya ampun. Hanya mainan anak-anak ya."
"Itu..."
Tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya berada, gelombang kejut yang diciptakannya membuat beberapa bayangan yang bersembunyi secara baik menggunakan [Transparency] terpental dan menghilang saat mereka terluka parah.
Bagaimana bisa dia melakukannya? Bukankah itu adalah kemampuan yang kukenal sebelumnya?
"Ada apa? Apakah kamu terkejut dengan kemampuan baru yang kumiliki?"
Berjalan mendekati aku, dia yang tak kenal takut terus menampilkan senyuman di wajahnya.
Bisa dikatakan aku yang awalnya berpikir akan membuatnya terpojok, justru sebaliknya, aku yang dipojokkan oleh kekuatan dan kemampuan yang tidak diketahui berapa banyak miliknya, berpikir untuk mencari celah dari dirinya.
Tidak seperti mereka, orang-orang yang menentang aku sebelumnya; Shilph, Friya, Reita, Fuuya, dan Sasaki, Stahark yang memiliki semua yang tidak diketahui benar-benar membuatku harus waspada dan hati-hati dalam bertindak.
•••••
Di tangan kanan Stahark, kabut hitam yang membungkus tangannya perlahan-lahan sirna yang memperlihatkan pedang hitam legam yang dipegangnya sama persis seperti milik Regard, ia terkejut bukan main karena itu adalah keahliannya.
"Ada apa? Apakah kamu terkejut?"
Lenyap bagaikan kabut, Stahark yang menggunakan [Transparency] ia berlari mengendap-endap sembari menyembunyikan hawa keberadaannya menggunakan [Hide Presence] pada Regard, Stahark memunculkan beberapa bilah pedang yang diberikan [Transparency] yang diarahkan pada Regard.
"....."
Instingnya yang merasa ada yang terjadi tanpa sepengetahuannya, Regard dengan segera membalik tubuhnya ke belakang, menunduk dan memukul garnet merah dua kali dengan kedua lengannya, dinding berlapis-lapis terbuat yang kemudian diikuti dengan [Ultimate Barrier], Regard menghentakkan kaki kirinya, memberikan mana dalam jumlah cukup ke garnet merah yang menyebarkan percikan kilat, [Thunderbolt].
[Thunderbolt] yang bergerak menyebar ke arah Stahark, Stahark dengan cepat menggunakan [Shadow Clone] yang masih dalam mode [Transparency], ia berniat menjadikan cloning miliknya sebagai tumbal untuk dikorbankan.
"Cih..."
Saat kedua Stahark yang tergeletak di lantai lalu lenyap bagaikan kabut hitam, Regard mengklik lidahnya, kesal atas ketidakberhasilannya dalam memojokkan Stahark.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Stahark dengan cepat menghilang dari satu tempat ke tempat lain, ia berada di langit-langit ruangan menggunakan [Wind Walk], pandangannya yang dingin diarahkan pada Regard yang berada di bawahnya, salah satu lengannya digerakkan spiral padanya.
"....."
__ADS_1
Tepat saat gerakan tangan Stahark dilakukan, Regard yang tidak menyadari keberadaannya maupun serangannya terkejut atas apa yang menusuk punggungnya maupun perut bagian depan yang terdapat kristal es, kristal biasa, keduanya tertancap begitu dalam.
Dia...
Tidak dapat berkata apa-apa, darah menyembul keluar dari mulutnya, pandangannya yang samar-samar membuat Regard sulit untuk bisa memahami apa yang dimiliki oleh Stahark dan apa yang tidak, dia kesulitan untuk mengetahuinya.
Alih-alih dia mencari titik lengah Stahark, batinnya mengatakan kalau kesamaan antara dirinya dan Stahark sama persis satu sama lain, yang mampu memiliki kekuatan dan kemampuan yang telah diambil dari mereka untuk digunakan oleh kepentingan mereka sendiri.
Meskipun memiliki kesamaan, Regard berpikir penuh kalau ada perbedaan di dalamnya yaitu Regard yang mendapatkan kekuatan dan kemampuan orang lain berkat [Copied Skill] membuatnya mampu menggunakan kekuatan dan kemampuan yang berhasil disalin untuk digunakannya, sedangkan Stahark sendiri tidak tahu metode apa yang membuatnya mampu menggunakan kekuatan dan kemampuan yang sama seperti dirinya, Regard masih bingung atas hal tersebut.
Apakah aku akan tiada?
Dalam keputusasaan yang tidak dapat memahami kemampuan yang dimiliki oleh musuhnya, Stahark, senyum sempat terlihat di bibirnya yang membuat Regard sudah siap sepenuh untuk berakhir di alam sana, alam lain yang hanya ada dua pilihan di dalamnya; surga dan neraka, dia siap atas konsekuensi tersebut.
•••••
"....."
Di dalam tenda berukuran besar yang terdapat beberapa elf yang terdiri dari pria dan wanita, mereka menunggu apa yang sedang dilihat oleh sesepuh mereka, sesepuh elf yang sedang memperhatikan selembar kertas yang menggambarkan peta yang ada di dalamnya, Nek Ryadu memfokuskan pandangannya ke kertas tersebut, terkejut atas perubahan yang tidak disangka akan terjadi.
"Dia telah tiada."
"Dia?"
"Apakah Nona Friya tiada?"
"Jangan bilang kalau mereka semua..."
Sebelum dapat mengatakan lebih lanjut untuk menjelaskan maksud perkataannya tadi, Nek Ryadu yang hanya menggelengkan kepalanya, pusing atas perkataan mereka yang langsung menyela dirinya membuatnya tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya agar tidak ada kesalahpahaman yang ada diantara mereka.
Menoleh ke arah mereka yang berada di belakang, matanya yang sipit yang terlihat seperti terpejam, Nek Ryadu membukanya yang terlihat serius seolah-olah membuat mereka yakin dia tidak bercanda maupun bermain-main dengan kata-katanya tadi.
"Nak Necromancer, dia telah tiada."
Dengan keringat yang mengalir di wajahnya, Nek Ryadu berpikir kalau Nak Necromancer yang diyakininya mampu mengalahkan Stahark ternyata gagal untuk melakukannya.
Memang menurut Nek Ryadu, Stahark adalah lawan yang sulit untuk dihadapinya. Terlepas dari tempat yang sengaja disediakan khusus untuknya di masa lalu, Golden Castle, tempat yang dimana semua mana miliknya hidup di setiap lantai, dinding, dan langit-langit, tidak ada siapapun yang bisa mencegah terjadinya penyerapan; mana, kekuatan dan kemampuan yang dimiliki oleh mereka yang terjebak, itulah kelebihannya.
Kalaupun bicara soal kekurangannya, satu-satunya ialah seseorang harus membuat retakan yang dapat menghancurkan seluruh isi dari Golden Castle agar semua yang didapat oleh Stahark tidak dapat diperoleh lagi, tapi untuk dapat melakukannya, Nek Ryadu yakin itu membutuhkan usaha dan waktu yang lebih untuk dapat menghancurkan seluruh Golden Castle beserta dimensi yang dibuat berlapis-lapis.
Aku harap kamu baik-baik saja ya, Si Besar.
Sedikit putus asa saat tahu kalau Regard, Nak Necromancer telah tiada dengan mudah, hatinya yang mencemaskan tentang keberadaan Friya membuat penglihatan atas apa yang ada dihadapan Friya bukanlah musuh biasa melainkan musuh yang terlibat menyeramkan untuk dilawan.
Terlihat dari simbol merah berukuran besar yang berwarna gelap layaknya darah, Nek Ryadu berpikir itu bukanlah monster biasa maupun iblis melainkan sesuatu yang dapat menghentikan pergerakan Friya dengan mudah.
Di sisi lain di tempat yang berbeda, Friya dan Nek Ryadu yang saling beradu sihir membuat suasana di sekitar mereka terlihat menegangkan satu sama lain. Salah sedikit saja, nyawa akan tiada, sesuatu seperti itu menggambarkan pertarungan sihir yang ada pada kedua elf di dalam ruangan yang sama.
Friya yang terus-menerus menembakkan [Magma Ball], [Wind Cutter], dan [Fire Ball] yang melesat dengan kecepatan tinggi dikacaukan oleh rentetan tembakan sihir yang dilancarkan oleh Nek Ryadu. Nek Ryadu yang menggunakan sihir [Water Ball], [Tsunami Slash] dan [Earthquake], ketiga sihir itu dapat menangkal serangan sihir yang dilancarkan oleh Friya.
Mulai dari [Water Ball] yang ditembakkan ke [Fire Ball] membuat uap yang terlihat seperti kabut tebal tercipta, gundukan tanah yang disebabkan oleh [Earthquake] yang melindungi tubuh Nek Ryadu membuat [Wind Cutter] yang melesat cepat menebas beberapa gundukan tanah yang menjulang tinggi menyebabkan debu tercipta, serta [Tsunami Slash] yang dilancarkan oleh tongkat kayu yang berubah menjadi ombak air membuat beberapa [Flame Ball] yang diciptakan Friya meluap di dalam ombak air yang perlahan-lahan mengering lalu tiada.
"....."
__ADS_1
"....."
Terdiam beberapa saat sambil menatap satu sama lain, Friya dan Nek Ryadu yang tidak mengatakan apapun, mereka dengan segera melesat cepat menggunakan [Acceleration], mengaktifkan [Magic Blade] di kedua tongkat mereka, mereka saling beradu pedang sihir yang menyebabkan gelombang kuat tercipta di udara.
Tebasan dilakukan oleh Friya yang diarahkan ke pinggang Nek Ryadu, Nek Ryadu yang menggunakan sihir [Magic Barrier] menggunakan tangan kirinya, keduanya terus menebas satu sama lain yang menciptakan gelombang kuat di udara.
"Gawat!"
Tepat saat [Magic Blade] Friya berhasil ditangkis oleh [Magic Blade] Nek Ryadu, Nek Ryadu yang mengarahkan tangannya yang membentang ke arah Friya, menciptakan sihir [Magma Ball] yang meledak tepat di depan tubuhnya berkali-kali.
"Guh..."
Tersungkur ke lantai akibat rentetan ledakan tiada henti sebelumnya, pakaiannya yang compang-camping yang memperlihatkan tubuhnya, Friya tidak menyangka kalau dia benar-benar setara dengan Nek Ryadu yang dikenalnya.
•••••
Reita POV
Kenapa Kak Daffa bisa sekuat ini?
Seluruh tembakan yang dilakukan oleh jarum-jarum tulang yang diarahkan padaku, aku menahannya sekuat mungkin menggunakan [Golem Arm] namun sayangnya tangan itu tidak dapat menahannya lebih lama, membuatnya hancur dan mengenai tubuhku.
Menahan rasa sakit, aku mengarahkan lenganku ke atas, berniat untuk menggunakan kemampuan terkuat yang kumiliki, aku tidak akan menyerah pada kematian yang akan menanti diriku, sebaliknya, aku akan berjuang terlebih dahulu untuk mengetahui sejauh mana aku mampu mengalahkan Kak Daffa.
"[Evolution]."
Seluruh tubuhku diselimuti oleh berbagai macam jenis yang mengitari aku sebelumnya; bongkahan batu besar, butiran pasir, kristal berbagai macam warna, kristal es, badai api, badai es, serta berbagai macam elemental lainnya menyerap ke dalam tubuhku, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
"Inilah kekuatan dan kemampuan aku, Kak Daffa."
Kak Daffa tidak mengatakan apapun padaku melainkan tetap diam, dengan kedua matanya yang kosong dan ekspresinya yang datar, aku sudah menduga itu yang terjadi.
Melesat dengan cepat dengan berlari ke arahnya, Kak Daffa yang mengarahkan salah lengannya ke arahku menciptakan tulang-tulang bergerigi dalam jumlah banyak yang akan menghancurkan aku begitu aku terlihat lemah seperti sebelumnya.
Sayangnya aku tidak sama seperti diriku yang lama, aku hanya menggerakkan mataku ke arah tulang-tulang yang bergerigi tajam yang tinggi, pusaran angin besar yang menyebabkan itu terpental dari dalam lantai berhamburan dengan mudah.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, aku menggerakkan kedua lengan yang diputar ke kedua sisi mengakibatkan beberapa [Golem Arm] yang tercipta yang tiada hentinya dalam jumlah banyak mengarah pada Kak Daffa, memukul lantai yang dipijaknya, ia melayang di udara.
"Sekarang!"
Menghentikan pergerakan aku, lengan kananku yang diarahkan padanya membuat ledakan kilat tercipta yang menyambar langsung tubuhnya mengakibatkan kulitnya terbakar yang membuatnya berwarna hitam gosong, aku gunakan satu lenganku lagi untuk menciptakan sejumlah kristal dengan berbagai macam warna yang terlihat indah dan cantik yang berukuran besar, aku arahkan padanya.
"Selamat tinggal, Kak Daffa!"
Aku tidak peduli apakah kau Kak Daffa yang kukenal atau tidak, tapi aku tidak punya pilihan lain selain menghancurkan dan melenyapkan keberadaan kamu dari tempat ini, aku ingin kamu beristirahat dengan tenang di alam sana.
Hanya itu keinginan tulus yang kumiliki.
Meskipun perasaan ini berat untuk melepaskan kepergian yang kamu lakukan nanti, aku tetap berusaha tegar agar aku bisa bertemu dengan kakak baru, Kak Regard, aku ingin segera membantunya sebisa mungkin.
"....."
Ah... tubuhku tampaknya tidak terbiasa terhadap kekuatan dan kemampuan unik yang kumiliki, kemampuan yang disebut sebagai Special Skill, aku benar-benar telah berada di ambang batas tubuhku dari penggunaan kemampuan yang kulakukan terus-menerus sebelumnya.
__ADS_1
Aku ingin segera bertemu denganmu, Kak Regard.