The Necromancer

The Necromancer
Ch. 27,1:Dia Adalah Musuh


__ADS_3

Kami berhenti di Dataran Miju.


Dataran hijau yang luas dan berangin, tidak ada satupun monster dan iblis, serta pemandangan yang disajikan alam benar-benar luar biasa.


Hari sudah sore.


Dikarenakan kami tidak bisa melanjutkan perjalanan, aku menyuruh Friya untuk membuat beberapa tempat untuk kami tinggali sementara waktu.


"[Instructions]."


Tanah bergetar sangat hebat lalu pilar-pilar dari dalam tanah keluar, diikuti oleh bagian tanah yang perlahan-lahan membentuk bagian atap, ada juga bagian kamar yang dibentuk dengan sendirinya, halaman depan, dan kamar untuk pemandian, semua dibuatnya.


Aku tidak menyangka itu bisa berguna untuk sehari-hari.


Misalnya itu sangat menghemat waktu dan uang untuk kami gunakan. Tapi, ayolah. Aku tidak mau terus-menerus menghabiskan uang hanya demi penginapan dan makanan yang mereka sajikan selama kami menginap.


"Apakah ini sudah cukup?"


"Ya. Ini lebih dari cukup."


Kami bertiga memasuki tempat yang sekarang dapat kukatakan sebagai sebuah istana besar dan megah. Koridor-koridor yang tercipta di dalamnya benar-benar terlihat sangat sederhana namun indah.


Mulai dari furniture yang ditambahkan, permukaan tanah yang dilapisi oleh batu-batu, hiasan-hiasan yang dapat dilihat yang menggunakan kristal dan beberapa penerang lainnya layaknya lampu, serta beberapa sofa dan meja yang terletak di aula benar-benar bernuansa fantasi melebihi apapun.


Di sepanjang kami berjalan, kami berpisah di ujung lorong yang tidak jauh dari aula tadi.


Shilph yang masuk ke kamar pertama, Friya yang masuk ke kamar seberang Shilph, Reita yang masuk ke kamar kedua dari Shilph, aku dan Fenrir berada satu kamar di depan kamar Reita. Sedangkan Sasaki, dia berada di sebelah kamar Reita.


Entah kenapa dia benar-benar tidak dapat dipisahkan sejauh ini.


"Bolehkah aku tanya alasanmu ikut misi?"


"Sudah jelas. Aku ingin membalas perbuatan mereka atas tindakan buruk yang dilakukan terhadap Sasaki."


"Sasaki? Maksudmu Demi-human itu?"


"Ya."


Kembali memelukku, dia mengusap-usap kepalanya ke tubuhku.


Aku sama sekali tidak mengerti atas sikap manjanya padaku, tapi aku bisa yakin dia takut kalau aku akan meninggalkannya seperti yang pernah terjadi pada dirinya di masa lalu.


"Jangan khawatir, aku tidak akan meninggalkan dirimu, Fenrir. Aku akan tetap bersamamu dan yang lainnya, meskipun aku tahu kalau suatu saat nanti aku akan terpuruk seperti sebelumnya."


"Benarkah? Terimakasih."


Dia memelukku dan menjatuhkan tubuh ke kasur.


Dilihat dari penampilannya, aku bisa anggap kalau Fenrir adalah anak kecil yang butuh kasih sayang dan perhatian lebih dari seorang manusia yang dipercayainya.


Terlepas dari ibunya yang sudah tiada, dia dikhianati oleh manusia yang menyebabkan dia membenci sepenuhnya pada tindakan dan kesalahan yang mereka perbuat pada ras Fenrir.


Itu sebabnya dia selalu menempel padaku karena dia mungkin percaya bahwa aku adalah satu-satunya manusia yang mudah untuk dipercayai olehnya.


Oh, benar juga.


Kurasa lebih baik jika aku kirimkan ini pada mereka semua.


Semuanya, dengarkan aku baik-baik.


Ada apa?


Apakah kita akan melanjutkan perjalanan?


Mungkinkah kita mempersingkat waktu untuk tiba di Lost Town?


Adakah sesuatu yang terjadi, Regard?


Ada apa, Tuan?


Keempatnya terlihat cemas dan khawatir atas apa yang akan kukatakan, termasuk Fenrir yang ada di hadapanku.


Dia menatapku dengan pandangannya yang terkunci padaku, berekspresi sedih, dan kedua telinganya yang terkulai ke bawah, aku bisa pastikan dia khawatir atas kondisiku.


"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa kali ini."


"....."


Dia benar-benar anak yang baik ya.


Menyudahi pemikiran itu, aku mulai menjelaskan pada mereka apa yang akan kita lakukan mulai sekarang.

__ADS_1


Dikarenakan membutuhkan waktu banyak untuk tiba di Lost Town, kami sengaja menetap di Dataran Miju untuk menghemat pengeluaran kami. Jadi, aku ingin memberitahu mereka bahwa kita dapat bertahan hidup selain hanya dari istana yang dibuat oleh Friya.


Apakah kalian lapar? Aku bisa keluarkan semua bahan-bahan yang dibutuhkan jikalau kalian berniat.


Bahan-bahan?


Apakah yang kamu maksud adalah daging monster yang telah kamu simpan selama ini?


Ya, begitulah.


Itu....


Secara tidak sengaja, aku dapat mendengar perut mereka keroncongan di balik [Mind Reading] yang kulakukan terhadap mereka.


Baiklah.


Aku mau.


Aku juga.


Setuju.


Mendapatkan jawaban yang pasti, aku tersenyum dan keluar dari istana menuju ke halaman luar istana untuk membuat beberapa persiapan yang diperlukan.


Pertama-tama, aku membutuhkan kayu, bebatuan, batang kayu yang kuat, serta beberapa daging yang berhasil dikeluarkan, aku meletakkan mereka di atas permukaan.


Mungkin ini akan sedikit membutuhkan waktu, tapi sudahlah. Selama kami bisa bertahan hidup dengan cara kami sendiri maka kami siap atas apapun yang terjadi nantinya.


•••••


Sepanjang malam, bulan bersinar terang. Bintang-bintang yang menghiasi langit membuat keindahan yang cantik dapat dilihat di malam yang cerah.


"Apakah kamu tidak mau masuk, Regard?"


"Ya, aku akan masuk sebentar lagi."


Di pangkuan seorang pria, terlihat seorang gadis kecil berambut biru tua panjang yang sedang merebahkan tubuhnya di atas dataran hijau.


Tangannya yang mengelus-elus rambut gadis kecil itu mengingatkan dirinya di kehidupan sebelumnya. Kehidupan yang tenang dan damai bersama keluarga tercinta dan tersayang miliknya.


Namun, semua itu telah tiada.


Baik kehidupan di dunia sebelumnya maupun dunia sekarang, keduanya tidak ada lagi yang berharga yang dapat diinginkannya.


Semua itu adalah aktivitas yang diingatnya.


"Kenapa kamu tersenyum, Regard?"


"Tidak ada. Aku hanya teringat akan masa laluku sendiri."


Mendengar pria yang memangku kepalanya mengatakan dengan senyum di wajahnya, gadis kecil itu yakin pasti itu adalah saat-saat dimana dia mengalami kesulitan di masa lalu.


Sama seperti pria yang memangku dirinya, gadis kecil itu juga tahu bagaimana rasa sakit yang dialaminya dulu.


Kehidupan yang tenang dan damai sirna begitu para manusia datang ke Gunung Baurme. Mereka selalu berburu kawanan miliknya, membawa dan menyiksa ibunya, serta membunuhnya.


Itu adalah ingatan yang tidak bisa gadis kecil itu lupakan.


Setiap harinya dia berjuang sendirian setelah ditinggal oleh semua kawanan. Berburu, bertahan hidup, mencari kawanan baru dari manusia. Aktivitas itu terus terjadi berulang kali sebelum dia akhirnya bertemu dengan orang yang tepat.


Orang itu sendiri ialah Regard. Orang yang dirasanya cukup untuk mengetahui masa lalunya yang kelam yang tidak akan pernah diceritakan kepada orang lain, terkecuali untuknya sendiri.


"Hei Fenrir, apakah kau mau aku berikan nama baru?"


"Nama?"


"Ya."


Mendengar perkataan tak terduga, antusiasme terlihat jelas dari matanya yang bersinar terang.


"Mau."


"Baiklah. Mari aku pikirkan nama yang tepat."


Mendongak ke langit malam, Regard merenung sejenak atas nama yang cocok untuk Fenrir saat ini.


Alasan dia ingin memberikan nama baru untuknya agar menghindari kecurigaan yang ada pada Ksatria Kerajaan bahwa Fenrir ada di pihak mereka. Entah apa yang akan terjadi jika mereka secara tidak sengaja menyebutnya di depan publik, Regard yakin sesuatu yang buruk akan terjadi.


Sama seperti masa lalu yang dilihatnya melalui darah Fenrir, Regard berkeinginan untuk tidak terulang kembali atas masa-masa dimana Fenrir membenci manusia kembali.


"....."

__ADS_1


"Ada apa, Regard?"


"Ada yang datang."


"....."


Mendengar perkataan dari Regard, hidung Fenrir yang tajam mengendus bau yang aneh untuknya ketahui.


Baunya terasa seperti manusia namun ada beberapa campuran di dalamnya. Bingung dan heran, Fenrir hanya memiringkan kepalanya. Dia sama sekali belum tahu tentang bau ini sebelumnya jadi dia tidak menyadari bahwa seseorang akan mendekati mereka.


"Regard, tetaplah di belakang!"


"Baik."


Berada di posisi siap menyerang, bulu-bulu putih keperakan terlihat di tangan dan kaki Fenrir. Ekor dan telinga yang berdiri tegak menandakan bahwa dia waspada, serta taring yang diperlihatkan menandakan bahwa dia akan siap untuk menyerangnya.


Perlahan-lahan sosok bayangan yang mendekati mereka mendekat, dan mendekat hingga akhirnya dapat terlihat melalui perapian yang ada di dekat Regard dan Fenrir.


"....."


Regard dan Fenrir yang sama-sama tidak mengerti atas apa yang terjadi, bingung dengan kehadiran seorang gadis berambut pendek berwarna perak yang tiba-tiba terjatuh ke permukaan tanah, dan tak sadarkan diri.


Keesokan harinya, fajar telah tiba. Mentari yang masuk melalui jendela buatan dapat menyinari siapapun yang masih terlelap tidur.


Di kamar Regard, dirinya yang sudah terbangun sejak awal bersama Fenrir berlatih di luar di Dataran Miju.


Mereka berdua yang melesat cepat saling beradu pedang yang menghasilkan bunyi aduan besi yang memekik telinga.


Fenrir yang melesat dengan cepat, melayang di udara, melemparkan beberapa bulu dari ekornya yang berubah menjadi kristal es. Regard yang berada di permukaan tanah, menangkisnya dengan kecepatan tinggi berkali-kali lalu lenyap di tempatnya berada.


Trang!


Keduanya beradu di udara.


Hembusan angin kuat yang mengelilingi mereka benar-benar dapat dirasakan oleh rumput-rumput yang berada di permukaan yang terlihat tumbuh sedikit dapat melambai-lambai akibat hembusan angin.


Mereka berdua lenyap lalu muncul kembali di jarak yang jauh.


Di sekitar Fenrir, rentetan [Ice Lotus] berhasil dilemparnya ke Regard. Kristal es yang berbentuk seperti bunga yang mengenai permukaan tanah bermekaran lebih luas jangkauannya yang menyebabkan permukaan tanah dipenuhi oleh es yang dingin di pagi hari.


Regard yang berhasil menghindar dari serangan, dia memukul udara dengan pedangnya. Angin dari pukulan tersebut melesat dengan cepat ke arah Fenrir.


Namun sayangnya, tebasan berkali-kali yang dihasilkan dari angin di sekitar Regard dapat ditahan oleh gerakan Fenrir yang memutar di udara.


Fenrir yang tadi bergerak di udara saat menangkis tebasan angin, [Wind Slash] dari Regard berkali-kali mengumpulkan udara di sekelilingnya, memanfaatkan angin tersebut lalu meledakkannya layaknya bola angin yang melindungi tubuhnya.


"Kerja bagus."


"Ya. Kamu juga sama, Regard."


Keringat yang mengalir di kedua tubuh mereka dapat terlihat jelas.


Di dalam kamar di istana buatan, semua gadis yang terbangun dari tidurnya, memeluk tubuh mereka masing-masing, kedinginan atas udara pagi yang terasa tidak seperti biasanya.


Kenapa terasa dingin sekali?


Shilphonia yang terus-menerus gemetar karena kedinginan sebisa mungkin mempercepat langkah kakinya menuju ke pemandian umum yang hangat untuk tubuhnya.


Dingin...


Friya dan Reita yang keluar dari kamar penginapan yang bergegas ke pemandian umum hangat, mereka berdua memeluk tubuhnya sendiri, bergetar dan menggigil karena hawa tersebut.


"Ngomong-ngomong kita hancurkan ini terlebih dahulu, Fenrir."


"Ya."


Regard dan Fenrir yang telah membuat kekacauan di pagi hari dengan mengubah cuaca pagi biasa menjadi dingin mulai memecahkan bunga es berkeping-keping.


Selesai melakukannya, Regard menyuruh Fenrir untuk segera mandi terlebih dahulu.


"Apakah kau yakin tidak mau mandi duluan?"


"Ya, aku ingin mandi bersamamu."


"Baiklah."


Sebelum mereka mandi, Regard menggunakan [Instructions] sama seperti Friya untuk memanggil beberapa kayu yang diubahnya menggunakan [Change Material] dari milik Reita.


Beberapa kayu ditumpuk di permukaan, diikuti dengan bebatuan sebagai alat untuk duduk yang Regard gunakan sama seperti sebelumnya tampak indah dan cantik untuk dilihat.


"Baiklah. Mari kita pergi."

__ADS_1


"Ya."


Bergegas pergi ke pemandian umum, Regard dan Fenrir berjalan bersama-sama.


__ADS_2