The Necromancer

The Necromancer
Ch. 45,5:Menerobos Masuk (5)


__ADS_3

Friya POV


"Bisakah kalian tunggu diluar untuk sementara waktu? Aku ingin menyerahkan barang-barang ini pada Nek Ryadu untuk mengetahui apa yang ingin ia gunakan bahan-bahan ini."


"Ya, aku mengandalkan dirimu, Friya."


"Aku juga."


"Aku harap dia mau melakukannya demi melakukan apapun agar kita bisa masuk ke tempat dimana Regard berada."


"Ya, kamu benar, Sasaki. Tapi jangan khawatir, aku yakin dia baik-baik saja di tempat itu."


"Kamu benar."


Terimakasih, Teman-teman.


Aku memberikan senyuman pada mereka, mereka ikut tersenyum padaku sebagai balasan atas senyum yang kuberikan pada mereka.


Aku bersyukur memiliki teman-teman seperti mereka, teman yang mampu memahami apa yang kumiliki, kuinginkan, dan tekad yang aku impikan sejak lama, aku bahagia atas kehidupan ini.


"Nek Ryadu, aku membawakan ini untuk..."


Kata-kataku sempat terhenti saat Nek Ryadu, sesepuh elf yang kamu hormati berdiri di dekat sofa dan berjalan mendekati aku, memegang dan menarik pakaian aku, dia menampilkan senyuman yang memiliki makna di dalamnya.


"Selamat datang, Si Besar! Kemari, ada hal yang ingin aku diskusikan denganmu."


"Baik."


Diarahkan ke sofa untuk kami duduk dan berbincang-bincang terlebih dahulu, Nek Ryadu yang duduk lalu aku mengikutinya, beliau memukul tongkatnya ke lantai dua kali.


Aku tahu atas apa yang dilakukan oleh Nek Ryadu, beliau tidak lain sedang melakukan jamuan khusus untukku yang ingin berbicara panjang lebar tentang apa yang kami alami selama ini.


Yah, aku paham atas kekhawatiran dan kegelisahan yang dimilikinya, karena bagaimanapun juga dia adalah sesepuh elf yang mahir dalam segala bidang; Sihir, Alchemy, Penerawangan, serta hal-hal lain yang tidak bisa dilakukan oleh elf lain dapat dilakukan oleh beliau.


Itulah kehebatan dan kelebihannya.


Sejak itulah aku menjadi elf yang diurus dan dirawat olehnya sejak kecil, dilatih menggunakan mana saat berumur 20 Tahun, aku juga diharuskan untuk berlatih tanding sihir terhadapnya di usia 80 Tahun, saat aku dimana sudah terlihat dewasa.


Kalau dipikir-pikir, mungkin usiaku di 80 Tahun tampak seperti gadis di akademi sihir yang menginjak usia di 18 Tahun, kurasa itulah perbedaan antara kami, para elf dan manusia.


"Apakah dia benar-benar membantunya?"


"Ya, dia membantunya."


Saat pandangan aku teralihkan oleh kedua pasukan elf yang ditugaskan untuk merawat kondisi Nek Ryadu yang membawa dua cangkir teh di meja, mereka pergi tanpa mengatakan apapun.


Aku yakin mereka juga tidak lupa mengganggu pembicaraan ini dari kami karena mereka memahami betapa keras dan tegasnya beliau dalam melatih pasukan kami, para elf sebelumnya.


"Bagaimana kondisinya?"


"Aku tidak tahu secara pasti, tapi aku berpikir itu semua bukanlah kebetulan belaka."


"Ya, kamu benar."


Nek Ryadu yang turun dari sofa, beliau mendekati cangkir teh yang menguap, meniupnya beberapa kali lalu menyeruputnya, aku mengikuti apa yang dilakukannya agar terlihat sopan dan menghargai kerja keras mereka.


"Pria itu... Nak Necromancer, dia tidak akan tinggal diam jika teman-temannya terbunuh oleh monster maupun iblis lain."


Kalau Nek Ryadu tahu tentang ini, aku ingin tahu secara jauh tentang apa yang terjadi antara Fuuya dan Regard yang bertemu secara mendadak.

__ADS_1


Akankah itu sepenting untuk merahasiakannya dari kami atau tidak, aku penasaran atas kedatangannya di dalam pembicaraan yang Fuuya katakan sebelumnya.


"Ngomong-ngomong Nek Ryadu, apakah kamu tahu tentang–"


"[Soul Contract], itulah kekuatan yang mampu membuat wujud yang mengekang jiwa seseorang di dalamnya menjadi wujud dari si pemilik kemampuannya."


"....."


Soul Contract? Apa itu? Aku sama sekali tidak tahu tentang itu.


"Dia yang menghidupkan kembali jiwa-jiwa yang telah tiada, mengikat jiwanya menggunakan kontrak, serta sesuka hati memperlakukan mereka sebagai boneka yang ada di genggaman tangannya, itulah sisi gelap dari class Necromancer."


"Mustahil..."


Aku... apakah aku benar-benar berada di jalan yang benar?


Mengikuti Regard, membantunya menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan kami, apakah tindakan kami benar-benar terpuji sesuai keinginanku?


Mungkinkah aku dimanfaatkan, dibohongi, dan semuanya palsu? Tidak, itu tidak mungkin bukan!?


Aku...


"Tenangkan dirimu, Si Besar!"


"....."


Dihadapan aku, Nek Ryadu yang melihatku dengan wajah penuh percaya diri dan serius, menenangkan aku dari keputusasaan yang kurasakan sebelumnya.


Kebimbangan, aku rasa itulah yang sedang menyelimuti hatiku.


"Memang, Necromancer adalah class terkutuk yang dapat menyebabkan si pengguna kemampuan berubah menjadi monster maupun iblis, tapi di sisi lain, itu dapat dijadikan sebagai cahaya harapan bagi siapapun yang dapat mengendalikannya."


Harapan dan kehampaan? Keduanya ada di class Necromancer.


Aku paham. Dengan kata lain, Regard yang memiliki dua sisi yang tidak kami miliki, aku berpendapat kalau ia telah sepenuhnya merasakan kegelapan dari dalam tubuhnya yang membuatnya dapat melihat cahaya harapan dari class miliknya sendiri.


Jika Regard benar-benar sepenuhnya tertelan ke dalam kegelapan, mungkin dia sudah sejak lama membunuh kami, tidak, lebih tepatnya ia akan dikuasai oleh kegelapan yang membuatnya berubah menjadi iblis ataupun monster, atau bahkan hancur lembur seperti yang Nek Ryadu ceritakan padaku sejak aku masih kecil.


Sejak aku masih kecil, beliau menceritakan tentang kisah dimana ada beberapa elf yang diberkati dengan class Necromancer, beberapa elf itu mengalami hal-hal tak terduga saat menerima class tersebut.


Meledakan tubuhnya menjadi tak tersisa, menjadi iblis, berubah menjadi monster, itu adalah cerita yang menakutkan yang sering kudengar dari cerita Nek Ryadu.


Pernah sesekali aku menanyakannya pada beliau, ia menjawabnya dengan terus terang seperti ini padaku.


"Itu bukanlah dongeng maupun cerita belaka, itu adalah kenyataan dari class Necromancer, class terkutuk yang tidak pernah dimiliki oleh satupun ras, terkecuali iblis tingkat tinggi."


Hanya itu yang dikatakannya padaku saat aku sudah berusia 100 Tahun, yang bisa dianggap kalau aku sudah dewasa seperti wanita pada umumnya di ras manusia.


"Tapi, Nak Necromancer yang kamu kenal memiliki perbedaan yang jauh dari sejarah yang tertulis selama ini. Keberadaannya dalam menolong orang, membantu siapapun yang membutuhkan pertolongan, kerendahan hatinya, kebaikannya, kepeduliannya terhadap sekitar, aku yakin dia akan tumbuh menjadi pria yang dapat diandalkan yang mampu membawa sejarah kelam di class Necromancer menjadi baru."


"Apakah itu benar-benar yakin?"


"Ya. Bukankah kamu mengenalnya sejak lama, Si Besar? Kamu yang selalu berkelana bersamanya selama ini, aku yakin kamu memahami sifatnya yang membuatmu memutuskan untuk meninggalkan ras elf untuk mendapatkan hidup baru yang kamu ingin."


"Itu..."


Aku tidak bisa mengelak perkataannya karena itu semua benar.


Alasanku meninggalkan ras elf, ras aku sendiri, aku berencana untuk memulai hidup baru sebagai Friya Furuhiora yang telah melepaskan statusku sebagai elf untuk bisa mengembara ke setiap tempat di seluruh dunia, aku hanya ingin melakukan itu.

__ADS_1


Alasan lainnya mengapa aku ingin pergi ialah aku menyesal karena telah menuduh pria yang kupikir adalah ancaman untuk Desa Elf, ternyata dia adalah pria yang menyelamatkan hidupku dan hidup elf lainnya di Desa Elf dengan segenap kekuatannya.


Itulah yang membuatku terus mengikutinya.


Tapi sejak aku mulai memahami dan mengenalnya, dia benar-benar berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Biasanya kebanyakan dari mereka yang peduli terhadap kekuatan dan kelebihannya menindas yang lemah tak berdaya sesuka hati mereka, itulah apa yang kulihat di Kota Farihiora sebelumnya, sedangkan dia tidak melakukan apapun untuk mencapai kekuatan dan kemampuannya sendiri.


Bahkan saat Reita yang menjelaskan ini padaku, dia mengatakan kalau ada salah satu petualang yang berniat untuk mencari masalah terhadapnya, pria itu, Regard tidak membalasnya atas diperlakukan buruk di depan umum yang membuatnya dipermalukan oleh para petualang lainnya.


Jika itu aku, aku mungkin sudah menebasnya maupun melenyapkannya dengan mudah, tanpa ampun sedikitpun.


Tapi apa yang kudengar dari Reita ialah Regard hanya tersenyum biasa, bersikap normal tanpa ada amarah yang meluap-luap di dirinya, bahkan saat Reita hendak memberinya peringatan dan pelajaran padanya, Regard mencegahnya karena dia tidak mau mencari masalah terhadap siapapun.


Benar-benar deh. Dia adalah pria yang menarik untuk diikuti olehku.


"Ya kan? Kamu memahaminya lebih dari diriku."


"Ya, kamu benar. Aku benar-benar menyesal dan meminta maaf padanya nanti karena telah meragukan apa yang telah aku putuskan sejak awal."


"Ya, aku harap kamu dapat berterus terang padanya dan lepaskan semua harga diri yang kamu miliki mulai sekarang. Apakah kamu paham, Si Besar?"


"Ya, aku paham. Terimakasih atas masukannya padaku, Nek Ryadu!"


"Tidak apa-apa. Anggap saja sebagai saran dari elf tua sepertiku."


Andai saja aku tidak memiliki beliau, akan seperti apa nasibku nantinya, aku tidak tahu.


Dirawat dan diurus oleh beliau, dilatih terus-menerus dari muda dalam menggunakan sihir, mengendalikan mana di dalam tubuh, beliau melakukannya untukku, serta tekad yang kumiliki untuk mengikuti pria yang benar-benar berbeda dari sejarah, semua itu secara perlahan-lahan memenuhi benakku yang terus diputar ulang.


Kalau aku berpikir sejak awal aku tidak diurus oleh Nek Ryadu, akan seperti apa nasibku ke depannya seperti sekarang ini.


Akankah aku bisa menjalani hidup seperti diriku di masa sekarang atau tidak, aku meragukannya. Karena secara keseluruhan, ras elf adalah ras yang diincar oleh manusia untuk dijadikan budak, aku mungkin akan berakhir sebagai budak jika tidak mengalami nasib bertemu dengan Nek Ryadu.


"Ngomong-ngomong Nek Ryadu, apa yang akan kamu gunakan pada bahan-bahan itu?"


"Ini? Aku akan gunakan untuk keperluan sehari-hari aku."


"Keperluan sehari-hari? Mungkinkah kamu..."


"Ya, aku ingin ini untuk memudahkan aku dalam melakukan aktivitas sehari-hari di rumah ini."


Sudah kuduga, dia tidak mungkin menggunakan bahan-bahan yang kami dapatkan susah payah hanya untuk membuat kami bisa dipindahkan ke tempat Regard.


Haha... sepertinya aku terlalu berharap lebih padanya jadi aku tahu kalau dia akan menganggap bahan-bahan penting yang langka yang sulit untuk didapat hanya untuk kepentingan pribadinya.


Padahal selama ini aku tahu atas sifatnya seperti ini, tapi aku tidak menyangka bahwa dia benar-benar mengerjai kami semua.


"Yah, aku tahu kamu mungkin kesal terhadapku. Tapi ketahuilah sesuatu, Si Besar, aku ingin kamu dan teman-temanmu di keesokan paginya bisa berkumpul agar aku bukakan portal menuju tempatnya berada."


"Benarkah?"


"Ya. Sebagai ganti atas permintaan maaf aku pada teman-temanmu, aku ingin mengundang kalian menginap di Kamp Kumuh untuk semalaman agar kami bisa menyediakan pesta meriah untuk menyambut tamu baru di tempat kami."


"Apakah tidak apa-apa?"


"Ya, aku harap kalian dapat menikmati sambutan kami dengan meriah nanti."


"Nek Ryadu..."


Meskipun beliau memiliki sifat yang menyebalkan terhadap kami, para elf sebelumnya, aku benar-benar menghargai keputusannya dalam bertindak di masa depan untuk bisa menjaga perasaan mereka.

__ADS_1


Yah, aku tidak mungkin memberitahu mereka tentang ini karena mereka akan tersakiti oleh sikap beliau, aku akan merahasiakannya demi diriku dan Nek Ryadu, serta Kamp Kumuh yang terdapat para elf, aku ingin menghindari kekacauan dengan merahasiakan semuanya dari mereka.


__ADS_2