The Necromancer

The Necromancer
Ch. 40,2:Belenggu dan Kebebasan (2)


__ADS_3

Kepakan sayap dihembuskan oleh pria yang berada di langit-langit terhadap gadis berambut pirang panjang yang menangkisnya dengan kedua pedangnya berwarna hijau disilangkan ke depan membentuk gelombang udara kuat yang menangkis hembusan dari kepakan sayapnya.


"Apakah kau berpikir dengan cara itu kau dapat selamat?"


Beberapa bulu yang ditembakkan langsung ke gadis berambut pirang panjang, Shilphonia mulai menancap di permukaan lalu meledak.


Shilphonia yang berhasil menghindar dengan melompat tinggi dari satu tempat ke tempat lain, dia dengan cepat mengeluarkan beberapa bilah pedang berwarna perak yang melayang di udara ke arahnya.


Pedang perak yang menerjang langsung ke pria tersebut membuat sepasang sayap menembakkan bulu-bulunya membuat pedang itu terpental.


"Itu benar-benar lemah."


Tersenyum puas atas keberhasilannya dalam membuat beberapa bilah pedang terpental, pria itu dengan percaya diri mulai mengeluarkan lingkaran sihir di pergelangan tangannya yang diarahkan pada Shilphonia.


"Apakah kamu benar-benar berpikir itu sudah tidak dapat bergerak?


"Apa maksudmu?"


Terkekeh dan tertawa pada pertanyaan pria yang ada di langit-langit, Shilphonia dengan cepat mengubah pedangnya menjadi berwarna merah maroon melambangkan warna darah.


"Kamu akan tahu sendiri."


Menebas udara kosong dihadapannya membuat gelombang kejut yang dihasilkan dari pedangnya mengeluarkan tebasan berwarna merah maroon dalam bentuk x.


Tebasan x yang memotong lingkaran sihir yang diarahkan pria tersebut pada Shilphonia, dia dengan cepat memasang perisai melalui sayapnya yang terbentuk [Dark Shield] buatannya.


"Sekarang!"


Ketika Shilphonia menduga itu yang akan terjadi, dia dengan cepat meneriakkan suaranya yang membuat beberapa bilah pedang yang sebelumnya berhasil dibuat terpental olehnya mampu menusuknya dari arah tak terduga.


"Ini..."


Dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Perlahan-lahan tubuhnya yang kedinginan mulai membeku membuatnya tidak dapat bergerak leluasa.


"Sip."


Menghilang dari tempatnya berada, Shilphonia menembakkan bulu-bulu berwarna putih ke pria yang tubuhnya sedang membeku.


Bulu-bulu mengenai tubuhnya yang memancarkan aura keemasan membuat pria itu mengerang kesakitan atas cahaya yang menyelimuti dirinya.


Cahaya itu sendiri bukanlah cahaya untuk menyerangnya maupun melenyapkannya, tapi cahaya biasa yang berasal dari sihir penyucian yang sengaja Shilphonia salurkan melalui bulu-bulu putih miliknya.


"Kau benar-benar menyebalkan sekali ya, Shilphonia."


"Berisik. Kamu juga sama merepotkan, Lucifer."


Selama cahaya menyilaukan bersinar terang, pria yang terlihat kesakitan, Lucifer tidak dapat melakukan apapun. Tubuhnya yang terasa disayat berkali-kali, rasa sakit yang menyebar, serta beberapa darah yang dimuntahkan melalui mulutnya membuatnya menjadi menderita.


"Matilah dihadapan aku sekarang juga!"


Awan gelap yang sebelumnya terlihat di malam hari berubah menjadi awan menyilaukan yang tampak seperti siang hari dengan cuacanya yang cerah. Tak lama beberapa menit kemudian, cahaya keemasan muncul dan sosok menyilaukan berwarna putih terang turun ke permukaan dari langit-langit.


"Jangan bilang... kau akan... mengakhiri aku?"


"Ya."


Tanpa mengatakan apapun lagi pada Lucifer, Shilphonia mengarahkan lengannya kepadanya membuat sosok tinggi yang terlihat seperti wanita dewasa yang cantik dengan tubuhnya yang ideal, serta kedua pasang sayap berwarna putih diikuti dengan penutup mata berwarna hitam dapat terlihat jelas melayang perlahan-lahan ke arahnya.


Sosok itu berhenti tepat di beberapa meter dari Lucifer untuk menjaga jaraknya.


Di belakang sosok itu terdapat beberapa pedang yang tampaknya melingkar membentuk sebuah lingkaran. Masing-masing pedang yang dapat dilihat memiliki warna keemasan yang terlihat menyilaukan yang tampak cantik dan indah untuk dilihat dari ukiran pedangnya.


"Istirahatlah dengan tenang, Temanku!"


Shilphonia memejamkan matanya dan berjalan menjauh dari tempatnya berada, sosok itu mengepalkan tangannya di dada membuat beberapa pedang yang mulai memancarkan cahaya kebiruan terang menusuk ke tubuhnya berkali-kali.


"Shilphonia... kau benar-benar..."


Diulurkan tangannya pada sosok yang dibencinya, ingatan lamanya berputar dalam kenangan yang tidak dapat dilupakan oleh Lucifer.


Seratus tahun yang lalu.


Terjadi keributan yang membuat seluruh penghuni langit kebingungan atas apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Selama mereka tidak tahu apapun, mereka hanya mendengar kabar bahwa salah satu malaikat telah membunuh dan menghabisi banyak malaikat-malaikat lainnya dengan keji. Malaikat itu sendiri tidak diberitahukan nama dan penampilannya, tapi hanya diberitahu oleh Para Tetua untuk berhati-hati jika bertemu dengan salah satu malaikat tersebut.


Mereka, para malaikat yang masih kebingungan mulai curiga dan waspada terhadap orang-orang terdekat mereka.


Bagi mereka, jika salah satu malaikat pengkhianat ada di sekitar mereka, cepat atau lambat mereka akan menjadi sasaran berikutnya, setidaknya semua malaikat berpikir seperti itu selama si pengkhianat diantara mereka belum ditemukan.


Di alun-alun kota yang ada di Istana Langit, salah seorang wanita berdiri diantara tumpukan mayat-mayat yang berasal dari orang-orang yang dikenalnya selama ini.


Pakaiannya yang bersimbah darah, kedua tangannya yang menggenggam pedang berwarna keemasan, sepasang sayap putih yang perlahan-lahan redup menjadi warna hitam, serta tubuhnya yang gemetar saat tahu bahwa kenyataannya berbeda membuat air mata membasahi pipinya.


"Maafkan aku, Teman-teman."


Dengan isak tangis yang pelan, wanita itu terus berbisik dalam hatinya bahwa dia sebenarnya tidak mau melakukannya. Tapi karena kenyataannya berbanding terbalik, dia terpaksa melakukannya untuk bisa membalaskan atas perbuatan salahnya selama ini.


"Shilphonia, kenapa kau tega melakukan ini?"


Salah seorang malaikat datang dari tempat yang berbeda ke alun-alun kota di Istana Langit.


Ketika orang itu tiba di alun-alun, dirinya dikejutkan dengan sosok yang dikenalnya yang telah menghabisi banyak malaikat yang selama ini menjadi temannya dalam waktu singkat.


"Aku melakukannya karena aku sudah muak atas kenyataan yang berbeda."


"Kenyataan yang berbeda?"


"Ya."


Membalikkan tubuhnya ke arah orang tersebut, Lucifer terkejut atas wajah Shilphonia yang terlihat sedih atas kematian rekan-rekan seperjuangannya selama perang dulu telah dibunuhnya.


"Mereka, Para Tetua berpikir bahwa kami adalah malaikat suci yang membantu manusia dalam peperangan melawan iblis."


"Tapi, apa yang kita dapatkan?"


Rasa sakit menyebar dalam hati Shilphonia.


Awalnya dia berpikir perjuangannya bisa dikatakan sebagai upaya terbaik dalam berperang melawan iblis, tapi semuanya tidak sesuai dengan perkiraannya. Dia yang telah mengetahui kenyataan yang berbeda dikejutkan bahwa iblis tidaklah bersalah melainkan manusia yang memulai pertarungan pada awalnya membuat iblis disalahkan.


Ketika Shilphonia tahu atas kenyataan mengerikan, tubuhnya tidak dapat melakukan apapun.


Satu-satunya yang dia pikirkan adalah perjuangannya selama ini telah sepenuhnya salah. Awalnya dia berpikir itu adalah perjuangan suci, tapi kenyataannya malah sebaliknya yaitu perjuangan yang membuat dia berada pada keputusan yang salah.


Itulah mengapa Shilphonia merasa kesal dan benci atas rahasia yang disimpan oleh Para Tetua untuk mengetahui kebenaran aslinya dari peperangan yang terjadi sekarang.


"Aku mengerti."


Tanpa takut maupun ragu, Lucifer yang memahami emosi bergejolak yang dirasakan Shilphonia mulai mendekatinya dan menepuk salah satu pundaknya.


"Kita berpikir semua perjuangan benar-benar membuahkan hasil yang baik, tapi nyatanya tidak seperti yang kita bayangkan."


"Ya."


Pandangan mata Lucifer yang melirik ke sisinya yang terdapat Shilphonia sedang menggantungkan kepalanya, bersedih atas perjuangan dan kematian yang dialaminya rekan-rekannya dulu di medan perang membuahkan hasil yang sia-sia dapat dirasakan oleh Lucifer.


Lucifer juga sama. Dia yang awalnya mengira bahwa mereka adalah makhluk suci dihadapkan oleh kenyataan pahit yang mengharuskan mereka menelan kenyataan yang ada untuk mengetahui kebenarannya.


Rasa kesal, benci, dan marah dapat dirasakan Lucifer namun sempat ditahannya.


Jika dia menuruti emosinya sesaat, dia akan sama seperti temannya, Shilphonia yang mampu menghabisi rekan-rekannya tanpa pandang bulu sedikitpun, setidaknya itulah yang terus-menerus menahan emosi bergejolak di dalam hati Lucifer.


"Sekarang kau tidak perlu menangis karena aku akan menanggung beban itu untukmu."


"Benarkah?"


"Ya."


Mundur beberapa langkah dan memperhatikan wajah Shilphonia yang terlihat membaik, tatapannya yang penuh harapan diarahkan ke dirinya membuat Lucifer tersenyum dan terdiam.


"Serahkan sisanya padaku! Biar aku yang menggantikan posisimu agar kau tidak dibuang sia-sia oleh Para Tetua."


"Baik."


Shilphonia yang mengikuti sarannya melepaskan genggamannya dari pedang miliknya yang membuat keduanya terjatuh ke permukaan. Berjalan menjauh dan membersihkan seluruh pakaiannya yang bersimbah darah sebelumnya menjadi bersih, Shilphonia menoleh sesaat ke arah Lucifer yang terlihat enggan untuk meninggalkannya.


Namun ketika dia mendapat anggukan dari Lucifer yang disertai dengan ekspresi percaya diri, Shilphonia meninggalkannya tanpa berbalik melihatnya seperti sebelumnya.

__ADS_1


Maafkan aku, Lucifer.


Kata-kata itu tidak dikeluarkan oleh Shilphonia melainkan dipendamnya yang membuat air mata mengalir deras membasahi pipinya yang tidak dapat menahan kesedihannya.


"Aku harap kau dapat menjalani hidupmu dengan tenang, Shilphonia."


Tersenyum atas dirinya yang sengaja melakukan ini, Lucifer berniat untuk membiarkan dia disalahkan oleh Para Tetua daripada Shilphonia.


Alasan dia sengaja membela Shilphonia, Lucifer yakin kalau kesalahan yang diperbuatnya mampu diperbaiki oleh Shilphonia asalkan dia mau mengakui kesalahannya di masa lalu.


Beberapa hari setelah insiden tersebut terjadi, Lucifer dihadapkan di depan Para Tetua yang sedang berkumpul dan memperhatikannya dengan tatapan tajam.


Ekspresi yang mereka arahkan padanya terlihat kesal dan benci atas tindakan tercela yang dilakukan Lucifer terhadap beberapa malaikat yang telah dibunuhnya dengan keji.


"Aku menyayangkan kalau kau melakukan tindakan keji seperti ini, Lucifer."


"Ya. Tidak hanya para korban, kau bahkan menyebabkan seluruh malaikat ketakutan atas pelaku yang masih belum diketahui."


"....."


Tidak dapat mengatakan apapun, Lucifer yakin dia akan dihukum berat atas kesalahan yang sama sekali bukan kesalahannya sendiri melainkan kesalahan orang lain.


"Huh..."


"Apakah kamu baik-baik saja?"


"Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya terkejut atas pola pikir dan tindakan yang dilakukan olehnya terhadap orang-orang tidak bersalah."


"Kamu benar."


Masih terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun pada mereka, mereka dengan wajah putus asa dan kecewa tidak dapat membiarkan teror ini tetap berlanjut di Istana Langit.


"Lucifer, mulai hari ini dan seterusnya, kau akan menjadi Fallen Angel karena telah menodai Istana Langit."


"Tu-tunggu! Bukankah itu terlalu berlebihan?"


"Berlebihan? Kurasa itu adalah pilihan yang bijak."


"....."


Tak dapat berkata apa-apa dalam membela Lucifer, salah seorang malaikat yang memiliki penampilan pria tua diam sambil menggantungkan kepalanya.


Baginya, kesalahan Lucifer masih dapat dimaafkan dengan menghukumnya di Penjara Langit agar dia tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti sebelumnya. Tapi karena keputusan sudah bulat dari Para Tetua lainnya, pria tua itu tidak dapat melakukan apapun.


"Sekarang kau akan pergi dari Istana Langit untuk selama-lamanya."


"....."


Terhempas ke belakang dengan dorongan yang kuat, pijakan yang dipijaknya menghilang membuatnya terjatuh dari langit-langit menuju ke permukaan tanah yang ada di bumi.


Apakah ini akibat aku membelanya? Haruskah aku senang dan bangga atas tindakanku?


Berkali-kali dia memikirkan tentang kesalahan yang sudah tidak dapat diperbaikinya, ekspresi sedih terlihat di wajahnya yang telah salah dalam mengambil keputusan.


Ketika beberapa puluhan kilometer dari jatuhnya ke permukaan tanah, Lucifer dengan cepat mengepakkan sayapnya yang sudah berubah menjadi hitam akibat kutukan yang diberikan oleh Para Tetua terhadapnya.


Kutukannya adalah dia sudah bukan malaikat melainkan Fallen Angel yang telah melakukan kesalahan yang sama sekali tidak pernah dia perbuat sebelumnya membuatnya harus menjalani hari-harinya yang sulit sekarang dan seterusnya di muka bumi.


•••••


"Aku harap kamu dapat tenang di alam sana, Teman."


Di kegelapan malam, sepasang mata berwarna merah muda diarahkan ke tubuh seseorang yang telah tiada di tempatnya berada sebelumnya yang berubah menjadi abu.


Ekspresi yang diperlihatkan gadis itu terlihat sedih atas perpisahan menyakitkan untuk kedua kalinya terhadap orang yang dikenalnya. Kesalahannya di masa lalu, kejahatan yang membuatnya memihak iblis, serta dendam yang selama ini dimilikinya benar-benar dapat dirasakannya selama pertarungan antara dirinya dan temannya lakukan sebelumnya.


"Aku minta maaf karena aku telah membuatmu menjadi bersalah, Lucifer."


Setelah mengatakan penyesalannya, gadis berambut pirang berdiri dengan tegak dan berjalan menjauh dari tempatnya berada untuk keluar dari pertarungan.


Air mata mengalir di wajahnya membuat hari-hari yang dihabiskan selama ini antara dirinya dan Lucifer teringat kembali dalam benaknya. Hari-hari dimana canda tawa, kebahagiaan, dan kesenangan dirasakan oleh mereka sebelum dirinya sadar atas kenyataan pahit yang harus dialaminya dan rekan-rekannya di masa lalu.


Aku benar-benar minta maaf, Lucifer.

__ADS_1


Semakin memikirkan masa lalu yang bahagia, penyesalannya terus-menerus berlanjut memenuhi hatinya.


__ADS_2