
Matahari yang terlihat tinggi dengan terik yang menyengat siapapun yang beraktivitas di siang hari membuat siapapun yang sedang menjalani rutinitas harian di tengah kota tidak sedikitpun terganggu atas panas yang menyengat tubuh mereka.
Sebaliknya, mereka justru merasa terbiasa atas terik matahari yang dirasakannya yang membuat mereka tidak masalah sama sekali atas panasnya matahari.
"Hei, apakah menurutmu mereka terbilang kuat?"
"Mereka?"
"Ya. Teh Necromancer, dia adalah penjahat yang berhasil meringkus berbagai macam kejahatan di malam hari."
Menyeruput teh di dalam Guild Petualang, Regard yang memasang telinga untuk mendengar pembicaraan, tersenyum pada keramaian yang dirumorkan.
Sejak Ksatria Kerajaan yang diutus dari Kerajaan Minra, The Necromancer sedikit kesulitan untuk merahasiakan identitas dirinya sendiri di depan mereka yang sedang berpatroli malam.
Menurut Regard, nama yang dia berikan sebelumnya pada teman-temannya terbilang cukup unik. Mulai dari Shilphonia yang diberikan nama Step, Friya yang diberikan nama Frey, Reita yang diberikan nama Rita, Fuuya yang diberikan nama Fu, dan Sasaki yang diberikan nama Saki, semuanya tidak diketahui identitas asli mereka oleh kalangan Ksatria Kerajaan.
Asalkan mereka menutup mata atas kehadiran The Necromancer, Regard tidak akan melakukan apapun terhadap mereka.
Lagipula selama perburuan malam hari yang dilakukan The Necromancer, Regard yakin kalau mereka melakukan tugas bukan untuk mendapatkan kepercayaan dan prioritas dari penduduk kota melainkan karena dia ingin membalas perbuatan atas kebaikan Veru yang berhasil membawa dia ke sisi kemanusiaan kembali.
Meskipun awalnya Regard menjalaninya sulit, dia tetap dapat melakukannya hingga sekarang.
"Apakah mereka akan menyadari keberadaan kita?"
"Kurasa tidak mungkin. Selama kita merasakan identitas kami, mereka tidak akan tahu bahwa itu adalah kita yang bergerak untuk berburu para penjahat."
Di sisi Regard, kedua gadis yang sedang berbicara satu sama lain merasa tindakan mereka mulai dibatasi sejak kedatangan Ksatria Kerajaan yang dipimpin pasukannya oleh Liliana, orang yang menurut Regard adalah murid dari Veru.
Ini benar-benar gawat.
Di satu sisi, Regard ingin mengabaikannya dan menjalankan tugasnya seperti biasa. Tapi dia sendiri menyadari bahwa jika dia mengabaikannya, cepat atau lambat, dirinya dan orang-orang di The Necromancer akan ketahuan oleh mereka.
Tentunya hal itu ingin Regard hindari sebisa mungkin.
"Kau... kenapa kau mau kemari?"
"Itu benar. Apakah kamu masih belum puas terhadap orang yang telah kamu celaka sebelumnya?"
"Enyah dan menyingkir dari hadapan kami!"
Kenapa diluar ribut sekali?
Terkejut sesaat atas keberadaan yang familiar, Regard yang telah kembali je ketenangannya meletakkan cangkir teh di meja dan menghela nafasnya.
Sulit untuk dipercaya bahwa dia datang adalah apa yang Regard pikirkan.
Orang yang seharusnya ingin dihindari justru datang menghampirinya. Orang itu adalah Liliana, Pemimpin dari Ksatria Kerajaan dari Kerajaan Minra.
Kenapa ini harus terjadi?
Perlahan-lahan langkah kaki terdengar masuk ke dalam.
Setiap kali Liliana melangkah kakinya ke dalam, beberapa petualang yang mencegahnya, menghina dan mencemooh atas sikap dan tindakannya yang tidak sopan santun terhadap mereka.
Fakta mereka terlihat kesal dan benci atas kehadiran Liliana bukan karena dia dari Ksatria Kerajaan melainkan tindakannya terhadap Regard, yang dengan sengaja berniat untuk menghabisi nyawanya di pertandingan.
Itulah mengapa semua orang bersimpati atas kondisi fisik Regard yang lemah.
Ya ampun. Dia benar-benar keras kepala sekali ya.
"Tuan..."
"Bagaimana ini, Regard?"
Tidak ada pilihan lain.
Menunggu kehadirannya tiba di tempat duduknya, Regard dengan ekspresi keberatan kembali mengangkat cangkir, dan menyeruput teh hangat miliknya guna menenangkan pikirannya.
Nikmatnya.
Setelah beberapa kali seruput, dia akhirnya tenang dalam mengamati situasi yang ada.
"Permisi, bolehkah aku meminta waktumu?"
"Ya."
Meletakkan cangkir di meja, Regard sama sekali tidak menoleh ke Liliana. Dia yang melihat lurus ke depan benar-benar membuat Liliana berpikir bahwa dia marah atas tindakannya yang mencoba untuk membunuhnya.
"Maaf atas apa yang aku perbuat sebelumnya."
__ADS_1
Duduk di depannya, dia secara kebetulan bertemu dengan tatapan mata Liliana.
Ekspresinya yang terlihat serius benar-benar membuat Regard berpikir itu adalah sifatnya. Dikarenakan dia dan Liliana pernah bertemu sebelumnya di pemandian umum menggunakan penampilan wanitanya, Regard tidak akan terkejut jika dia sudah tahu seperti apa sifatnya.
"Apakah kamu kemari untuk membicarakan sesuatu pada Tuan?"
"Ya. Mengenai pertandingan sebelumnya, aku hanya ingin tahu."
Menatap lurus dan tajam ke arah Regard, Liliana yakin ini semua pasti ada campur tangannya yang membuat dia tidak sadar atas apa yang dilakukan Regard terhadapnya.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi?"
Berbeda dengan perkiraan Liliana, Regard yang dengan tenang mengambil cangkir dan menyeruput teh miliknya kembali jauh diluar dugaan Liliana.
Awalnya dia berpikir dengan mengarahkan pandangannya ke Regard, dia akan memberitahu tentang apa yang dilakukannya terhadapnya selama pertandingan sebelumnya berlangsung. Tapi kali ini, dia tampak tidak akan memberitahu apapun padanya.
"Mengenai luka yang terjadi padaku... aku yakin kamu yang melakukannya bukan?"
"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu karena aku sudah hampir tewas olehmu bukan?"
"Itu benar."
"Kau yang tidak berperasaan sengaja melakukannya."
"Benar-benar menyeramkan."
Sebagian petualang yang mendengarkan pembicaraan mereka, mencemooh atas sikap Liliana yang terlihat berniat untuk membunuh Regard di pertandingan.
Tapi, mereka semua sama sekali tidak tahu fakta sebenarnya.
Fakta Regard yang memiliki class Necromancer, dia adalah orang yang tidak akan bisa terbunuh maupun mati karena dia memiliki keabadian di dalam kegelapan yang ada di tubuhnya.
Itulah sisi yang menakutkan dari class Necromancer yang tidak mereka ketahui di diri Regard.
"Mengenai itu... aku hanya ingin tahu sejauh mana kehebatan yang kamu miliki."
Meskipun kau ingin tahu kemampuan aku, setidaknya kau biarkan aku untuk tetap hidup sebelumnya.
Menahan emosinya meluap untuk tidak mengatakannya, Regard hanya diam sambil mengepalkan tangannya karena kesal atas kata-katanya tadi.
Memang benar bahwa Regard hampir mati sebelumnya. Liliana yang dengan kekuatan dan kemampuan penuh tidak dapat ditahannya membuat Regard terpaksa untuk melakukan apapun agar dia tidak mati.
"Hanya itu yang ingin aku bicarakan."
Setelah dia memperhatikan lebih lama suasana di sekitar, Liliana paham bahwa kehadirannya di Guild Petualang membuat semua orang ricuh pada sikap dan tindakannya yang berubah drastis menjadi lembut dan ramah.
Keluar dari Guild Petualang, tatapan Liliana dikejutkan oleh beberapa pasukan yang datang menghampirinya.
"Apakah kau baik-baik saja, Ketua?"
"Ya. Mereka hanya tidak percaya pada apa yang kulakukan sebelumnya terhadap Regard."
"Mungkin mereka marah karena kau berlebihan."
"Kamu benar."
Sekali sebelum pergi, Liliana menoleh ke belakang untuk melihat Guild Petualang. Harapannya ialah Regard datang dan mendekati dirinya untuk menerima permintaan maafnya yang tulus, tapi sepertinya dia tidak hadir.
"Mari kita pergi!"
"Ya."
Mereka berdua menunggu Guild Petualang dan mulai menjauh bersama pasukan yang sedang menunggu di kejauhan untuk segera melakukan tugas khusus yang diberikan pada mereka.
•••••
Regard POV
"Ada apa, Regard?"
"Apakah kamu memikirkan perkataan darinya yang meminta maaf padamu?"
"Tidak, ada hal lain yang aku pikirkan sekarang."
Satu-satunya yang tidak dapat aku ketahui selama mereka ada di Kota Resihei adalah tugas yang mereka jalani.
Berbeda dengan mereka, kebanyakan pasukan khusus Ksatria Kerajaan yang dibawa oleh pimpinan mereka memiliki tugas khusus yang akan membawa mereka ke suatu tempat. Tapi, aku tidak mendapatkan informasi apapun melalui cloning yang aku tempatkan di dalam Kota Resihei.
Informasi yang minim, itulah apa yang aku dapatkan dari mereka.
__ADS_1
Selain itu...
Alasan kenapa dia mengajak aku bertanding pedang, aku merasa bukan untuk membunuhku.
Jika dia benar-benar mau membunuhku, seharusnya dia tidak datang kemari untuk meminta maaf atas tindakannya sebelumnya di pertandingan.
Apakah ada sesuatu yang terjadi tanpa aku ketahui? Kenapa mereka datang dalam jumlah banyak? Mungkinkah mereka sedang menjalankan misi di suatu tempat?
Sial. Banyak sekali pertanyaan yang tidak bisa dijawab sekarang.
"Kamu baik-baik saja, Regard?"
"Ya, aku baik-baik saja."
Lebih baik jika aku tidak terlihat kesal dan benci sekarang agar mereka berdua tidak mengkhawatirkan kondisiku.
Satu-satunya harapan ialah mengandalkan cloning yang aku sengaja biarkan dia ikut bersama mereka secara diam-diam.
Aku mengandalkan dirimu, Sobat.
•••••
Sepanjang perjalanan, puluhan ekor kuda yang dikendarai oleh para Ksatria Kerajaan berlari secepat mungkin untuk segera tiba di kota berikutnya yang sedang membutuhkan bantuan mereka.
"Apakah kau yakin kita tidak membutuhkan para petualang?"
"Ya. Kita tidak punya banyak waktu sekarang. Pergi atau tidak, kehidupan mereka sedang terancam sekarang."
Dengan ekspresi serius, Liliana yang menatap ke depan dengan pandangannya yang jauh membayangkan akan seperti apa jadinya jika mereka terlambat.
Para penduduk kota yang akan diserang oleh kekejian para monster, para Wyvern yang benar-benar mengerikan dan menakutkan sehingga sulit untuk dibunuh, serta beberapa hal yang tidak diketahui olehnya membuatnya penasaran atas apa yang sebenarnya terjadi pada Kerajaan Finra.
Aku harap kami dapat tiba tepat waktu.
Harapan Liliana adalah mereka dapat tiba di keesokan harinya di sore hari sebelum matahari terbenam.
Setahu Liliana, matahari terbenam adalah tempat berbahaya dimana gerombolan monster yang menyerang Kerajaan Finra tidak bisa diatasi oleh mereka saat mereka tiba di malam hari.
Itulah mengapa pentingnya dia untuk menjaga kondisi tubuh yang dimilikinya maupun para ksatria yang ikut bersamanya demi kebaikan bersama.
Aku mengerti sekarang.
Di salah satu kuda yang ditumpangi oleh seorang pria berambut putih pendek, dia yang mampu mendengar pembicaraan mereka mengangguk dan merenung sejenak.
Menurutnya, ini adalah situasi yang cukup berbahaya untuk diatasi.
Selain dari gerombolan monster yang berhasil menerobos benteng pertahanan Kerajaan Finra, para Wyvern juga ikut menghancurkan dan melenyapkan sebagian kota di Kota Fiasfa.
Aku harus segera menghubunginya.
Dalam dirinya yang sedang menggunakan [Transparency], Regard yang memfokuskan diri untuk menghubungi dirinya yang asli memejamkan matanya sejenak.
Ini gawat.
Gawat?
Ya. Kerajaan Finra sedang diserang oleh pasukan monster dalam jumlah banyak dan Wyvern.
Regard yang asli sedang makan di Aula Umum Guild Petualang tersedak sesaat lalu terhenti dalam melanjutkan santapan makanannya.
Apakah kau baik-baik saja?
Ya. Aku hanya sedikit terkejut tadi.
Mengelap mulutnya yang keluar liur dan sisa makanan, Regard dengan percaya diri berpikir akan ada sesuatu yang berbahaya bagi mereka selain dari kedua laporan tadi.
Menurut dirinya, apapun yang terjadi saat tahu segerombolan monster menyerang ke Kota Fiasfa, ada kemungkinan iblis ikut ke dalam pertempuran tanpa mereka sadari. Itulah pengalaman yang pernah dialaminya dahulu sebelum dirinya mendapatkan class Necromancer seperti sekarang.
Apa yang akan kau lakukan?
Aku hanya bisa mengandalkan dirimu untuk sementara waktu.
Apa kau yakin?
Ya. Berjuanglah dan berusaha untuk tidak diketahui oleh publik tentang kekuatan kita sebagai Necromancer.
Baiklah.
Panggilan melalui [Mind Reading] diputus oleh Regard yang ada di kuda salah seorang ksatria yang ditumpanginya.
__ADS_1