The Necromancer

The Necromancer
Ch. 4:Latihan Seorang Necromancer


__ADS_3

"Apakah aku bisa memintamu untuk berteman dengan Stephani?"


"Berteman ya. Maaf, aku tidak bisa melakukannya."


"Eh?"


"Huh?"


Terkejut atas jawaban Regard, Stephani dan gadis berambut pirang bingung mengapa dia menolak permintaan tulus darinya.


"Sejujurnya aku tidak mau tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada kalian, baik itu kalian memiliki kepribadian ganda atau tidak, tujuanku hanya satu yaitu menjelajahi Reruntuhan Sylvia."


"Apakah hanya itu?"


"Ya, hanya itu."


Mendengar perkataan Regard, Stephani yang menahan amarahnya merasa kesal pada kata-katanya.


Memang benar bahwa Regard datang hanya untuk menelusuri reruntuhan yang ada untuk memudahkan petualang lain dalam menjelajahi Reruntuhan Sylvia, tapi Stephani merasa penolakannya terlalu aneh untuk diterima karena permintaan itu datang bukan dari dirinya melainkan dirinya yang satunya lagi yang kepribadiannya berbeda dari dirinya.


Apalagi dirinya yang lain memiliki kepribadian yang baik, ramah, perhatian, dan peduli jadi Stephani merasa kesal atas kata-kata Regard.


"Berisik! Aku sudah kehabisan akal sekarang. Bolehkah aku memukulmu?"


"Tentu. Silahkan saja kalau kau mau!"


"Benarkah? Terimakasih atas kebaikanmu."


Mengepalkan kedua tangannya, Stephani berniat mengumpulkan mana dalam jumlah banyak di salah satu pukulannya untuk membuat Regard babak belur.


"Matilah, Dasar Manusia Bodoh!"


"....."


Tepat di depan wajah Regard, Stephani dan gadis berambut pirang dikejutkan dengan sesuatu yang tidak biasa, terutama Stephani, dia yang awalnya telah meletakkan mana dalam jumlah banyak di pukulannya tiba-tiba gerakannya terhenti dan mana yang terkumpul di tinjunya lenyap begitu saja.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Bertanya-tanya pada dirinya, Stephani sama sekali tidak mengerti atas kejadian yang tak masuk akal.


Melihat kedua gadis kebingungan atas apa yang terjadi, Regard dengan lantangnya tertawa terbahak-bahak. Dia sendiri tidak menyangka bahwa kedua gadis yang diduga hebat dan kuat bingung atas apa yang terjadi pada tubuh mereka. Tak hanya itu, Regard juga sudah mengira bahwa itu akan terjadi jadi dia sengaja membiarkan Stephani meletakkan mana di tinjunya dalam jumlah yang banyak untuk menghajar wajahnya.


Namun, semua usaha Stephani berakhir gagal.


"Bagaimana? Apakah kalian terkejut?"


"Ya."


"Bagaimana bisa kamu menahan serangan dari Stephani?"


"Sederhana. Ketika aku membangkitkan jiwa kalian, aku menggunakan skill milikku, Soul Return agar kalian bisa hidup kembali."


"Namun sebagai ganti dari kehidupan kalian yang kedua kalinya, aku meletakkan Soul Contract yang mengkhususkan aku untuk memiliki sebagian jiwa dari jiwa kalian berdua."


Memperlihatkan jiwa yang Regard pegang, Stephani dan gadis berambut pirang terkejut bahwa Regard mengantisipasi segalanya dengan mudah tanpa mereka pikirkan sebelumnya.


Di tangan Regard, terlihat jiwa yang berwarna gelap dan putih yang saling berdampingan yang melayang menandakan bahwa ini adalah sebagian jiwa dari kedua gadis yang ada di dekatnya.


"Jika kalian benar-benar ingin membunuhku maka lakukanlah, tapi sebagai gantinya aku akan menggerakkan tubuh kalian layaknya sebuah boneka."


Melenyapkan jiwa yang diperlihatkan pada mereka, Regard dengan tegas memperlihatkannya melalui tatapannya yang tajam dan ekspresinya yang serius.


Stephani dan gadis berambut pirang saling bertatapan. Keringat sempat mengalir di tubuh mereka yang tahu atas maksud dari perkataan Regard tadi.


Maksud dari perkataan Regard ialah mereka bisa saja membunuhnya kapanpun mereka inginkan, tapi sebagai gantinya mereka akan dikendalikan sepenuhnya layaknya boneka, baik itu; melakukan hubungan intim maupun melenyapkan seluruh manusia yang ada, Stephani dan gadis berambut pirang yakin itu akan membuat diri mereka tidak tenang di alam sana.


"Jika kalian sudah paham maka baguslah."


Bangun dari duduknya, Regard berinisiatif untuk meninggalkan mereka berdua di reruntuhan sendirian.


"Tunggu sebentar, Manusia!"


"Ada apa? Bukankah kalian seharusnya bersyukur kalau kalian masih tetap hidup?"


"Itu..."


"Sebenarnya kami ingin membicarakan tentang kelebihan dari dirimu."


"Kelebihan? Apa maksudmu?"


Diam tak mengatakan apapun, Stephani dan gadis berambut pirang saling bertatapan dan mengangguk sekali.


Mereka mengalihkan pandangan ke arah Regard, mereka sengaja membicarakan ini untuk tahu sejauh mana kemampuan dan kekuatan yang Regard miliki selama ini.


"Bolehkah aku tahu dimana kamu mempelajari teknik Necromancer?"

__ADS_1


"Aku belajar secara manual. Seseorang mengajarkan aku jadi aku bisa melakukannya."


Mengepalkan tangannya dan tersenyum penuh percaya diri, Regard dengan bangga mengatakannya.


"Belajar manual?"


"Seseorang mengajarkan dirimu? Itu bohong bukan? Bukankah manusia akan kehilangan kendali jika mereka memiliki class Necromancer?"


"Tidak, orang itu bukanlah manusia melainkan Raja Iblis."


"Raja Iblis!?"


Terkejut atas kata-kata Regard, kedua gadis itu tidak percaya pada apa yang dikatakannya.


Setahu Stephani dan gadis berambut pirang, Raja Iblis telah tiada sejak lama usai pertempuran panjang yang terjadi di masa lalu jadi mustahil bagi mereka yakin kalau dia masih tetap hidup.


"Awalnya aku cukup sulit diajarkan olehnya yang menyebabkan aku kehilangan kendali pada tubuhku sendiri, tapi setidaknya usaha dan waktu yang aku habiskan bersamanya tidak sia-sia sekarang."


Menatap kedua lengannya, ekspresi sedih dapat mereka lihat di wajah Regard.


Bagi Stephani dan gadis berambut pirang panjang, kesedihan yang dipancarkan oleh Regard bukanlah kesedihan biasa melainkan kesedihan mendalam terhadap sesuatu. Entah apakah itu; kehilangan kendali pada tubuhnya atau kehilangan orang-orang terdekatnya, mereka berdua tidak tahu apapun tentang latar belakang Regard.


"Akan aku ceritakan tentang latihan yang kujalani selama ini."


•••••


Kenapa seluruh desa aku hancur? Dimana semua orang berada?


Regard yang kembali ke desa usai dihidupkan kembali untuk kedua kalinya di bumi dikejutkan oleh pemandangan mengerikan yang dapat dilihatnya.


Di sisi Regard, Veru hanya bisa memperhatikannya dari dekat betapa menyeramkan pemandangan yang dilihatnya sekarang. Apalagi pemandangan itu sendiri tidak menyisakan apapun dari bangunan yang ada, sebaliknya, semua bangunan yang awalnya ada pemukiman penduduk telah sepenuhnya lenyap dari tempatnya berada.


Tak hanya lenyapnya pemukiman penduduk, darah yang berada di permukaan tanah yang telah mengering membuat Veru yakin bahwa orang-orang di desa telah dibunuh secara keji oleh pasukan iblis.


"Nak, tenangkan dirimu!"


"Mana mungkin aku bisa tenang, Paman!"


"....."


"Setelah berhasil dihidupkan kembali, aku berpikir aku dapat kembali ke desa bersama semua orang. Tapi, semuanya sia-sia."


Mendongak ke langit-langit, pandangan Regard terasa putus asa dan menyerah.


"Apakah lebih baik aku tiada?"


Sembari menanyakan itu pada dirinya sendiri, Regard tertawa pelan.


Mendengar kata-katanya yang frustasi, Veru dengan segera mendekat kepadanya dan memegang kedua pundaknya dari depan.


"Dengarkan ini, Nak, tidak peduli apakah kau akan hidup lagi atau tidak, kau ikut denganku! Kita akan bersama-sama hidup di Kota Farihiora."


"Hidup di kota ya."


Dalam sekejap kabut hitam muncul di sekitar Regard.


Mendadak terkejut pada apa yang dilihatnya, Veru dengan segera mundur dari Regard.


Dia sendiri tidak tahu kenapa dia mundur, tapi instingnya berkata ada sesuatu yang aneh terjadi pada Regard, anak yang sedang ia semangati sebelumnya.


"Aku sudah tidak tahan dengan dunia ini. Setiap kali aku hidup, ada orang yang selalu mati untukku."


Perlahan-lahan kabut hitam semakin membesar dan meluas di sekitar Regard membuat Veru terkejut dalam pergerakan mundur dan menjauh dari dirinya.


"Lebih baik jika aku segera musnahkan dunia ini."


Musnahkan?


Angin berhembus kencang yang membuat pandangan Veru tidak dapat melihatnya.


Di kejauhan, kegelapan mulai menyelimuti hati dan pikiran Regard yang membuat pandangannya semakin gelap. Kebencian, keputusasaan, amarah, dendam, kekecewaan, dan murka sempat dirasakannya.


"Enyahlah dari hadapanku, Manusia!"


Ini bohong bukan?


Sebelum dapat bergerak menghindari serangannya, Veru berpikir bahwa dia akan mati untuk kedua kalinya.


Ingatannya akan masa lalu terbesit dalam pikirannya baik ketika dia muda hingga dia menjadi seorang Ksatria Kerajaan, semuanya terlintas di benaknya.


Pada akhirnya, satu-satunya penyesalan yang Veru rasakan bukanlah rasa sakit dan takut atas kematiannya melainkan penyesalannya karena tidak bisa menyadarkan Regard bahwa hidup lebih berharga daripada apapun yang ada di sekitarnya.


Namun, semua itu terlambat.


Regard yang kehilangan kendali bersiap untuk membunuh Veru jadi dia hanya bisa pasrah atas kematian yang akan menjemput nyawanya.

__ADS_1


Selamat tinggal, Nak!


Dengan ekspresi penuh penyesalan, Veru memejamkan matanya dan berharap bahwa setelah membunuh dirinya, Regard dapat kembali sadar ke dirinya sendiri.


Sebelum tubuh Veru terkena pukulan dari tinju Regard, tubuhnya terdorong jauh ke permukaan tanah yang membuatnya terkejut atas apa yang terjadi.


"....."


Bangun dari terbaring di permukaan tanah, Veru dikejutkan oleh sosok bayangan hitam yang tidak dikenalnya yang menyelamatkan dirinya dari amukan Regard.


"Apakah kau baik-baik saja, Manusia?"


"Ya."


Melihat tudung jubah yang ditutupi oleh kabut hitam bergerak, Veru yakin dia mengalihkan pandangannya ke arah Regard.


Secara keseluruhan, Veru sama sekali tidak tahu tentang makhluk apa yang menyelamatkannya. Tapi, satu hal yang diketahuinya ialah makhluk itu bukanlah makhluk rendahan melainkan makhluk kuat yang lebih tinggi keberadaannya dari dirinya sendiri.


Kalau tidak kuat mustahil baginya untuk menahan serangan dari Regard hanya dengan satu lengannya tanpa kesulitan sedikitpun.


Raja Iblis ya.


Menurut dongeng yang pernah didengarnya, Veru tahu bahwa Raja Iblis memiliki penampilan yang terlihat seperti manusia namun tertutup oleh kabut hitam di seluruh penampilannya. Yang dapat dilihat hanyalah pakaiannya yaitu jubah hitam, tudung jubah, dan jubah yang menutupi celananya dapat diketahuinya sedangkan sisanya sulit untuk diketahui.


Kenapa Raja Iblis bisa ada di tempat ini?


Jangan bilang kalau dia akan...


Memasang ekspresi waspada atas kehadiran tak terduga seperti Raja Iblis, kedua lengan Veru memegang pedang dan sarungnya yang berinisiatif untuk melindungi dirinya jika sesuatu terjadi padanya dan Regard.


"Sayang sekali aku tidak berniat untuk membunuh maupun menjadikan dirimu sebagai anak buah, sebaliknya, aku hanya tertarik pada anak ini."


"Anak itu? Maksudmu Regard Arthen?"


"Ya."


Memiringkan wajahnya dan merenungkan sejenak, Veru sama sekali tidak mengerti maksud perkataannya.


Setiap kali dia memikirkan kata-kata Raja Iblis, pikirannya sama sekali tidak dapat menemukan jawabannya. Yang artinya dia sendiri tidak tahu atas tujuan apa Raja Iblis datang kemari.


Apakah dia ingin merekrut Regard menjadi anak buahnya atau memaksanya bergabung ke pasukan iblis? Veru sama sekali tidak mengerti atas maksudnya.


"Kau benar-benar bodoh ya, Manusia."


"....."


Kesal atas perkataannya tadi, Veru yang tidak terima memandang tajam pada keberadaan Raja Iblis yang masih menahan serangan Regard dengan satu tangannya.


"Sejujurnya aku tertarik pada anak ini bukan karena keberadaannya, tapi karena kekuatan dan kemampuannya yang dia terima usai kehidupan keduanya."


"Kekuatan dan kemampuannya?"


"Ya, dia telah menerima class Necromancer."


"Necromancer?"


Itu bohong bukan?


Menurut Veru, Necromancer adalah class terlarang bagi manusia, baik itu untuk kebaikan maupun kejahatan, kemampuan yang dimiliki class Necromancer mengharuskan manusia berakhir sebagai monster, iblis atau bahkan mampu melenyapkan diri mereka sendiri dengan meledak secara mendadak.


Itulah mengapa Veru terkejut usai mendengar kenyataan yang ada.


Kenyataan yang dimana Regard telah memiliki class Necromancer, class terlarang bagi manusia yang mendengarnya.


"Jangan khawatir, Manusia. Anak ini tidak berada dalam batas wajar, dia hanya kehilangan kendali atas emosi negatifnya yang menumpuk dan bergejolak di dalam hatinya."


"Apakah kau yakin?"


"Ya, kau bisa percaya pada kata-kataku."


Meskipun Raja Iblis menyuruhnya percaya, Veru tetap meragukannya.


Bisa saja Raja Iblis membohonginya yang membuat Veru percaya jadi dia sengaja meragukannya karena kata-katanya terdengar kurang meyakinkan.


"Tidak dapat dipercaya ya."


Dengan memanfaatkan kesempatan yang ada, tubuh Regard tiba-tiba terasa berat yang mengakibatkan dirinya jatuh ke permukaan tanah dengan wajahnya yang kesakitan.


"Mungkin kau meragukan aku karena aku adalah sosok yang kalian takuti, tapi disini aku berperan sebagai seorang sahabat jadi setidaknya kau bisa anggap bahwa aku benar-benar jujur dan berterus terang padamu."


Sekuat tenaga Raja Iblis menendang tubuh Regard yang membuatnya terpental jauh dan tersungkur di tanah dengan banyak luka memar akibat benturan keras di permukaan.


Meskipun luka memar itu sendiri perlahan-lahan sirna, Regard mampu bangkit dan menatap penuh kebencian pada Raja Iblis.


Majulah, Nak!

__ADS_1


__ADS_2