The Necromancer

The Necromancer
Ch. 39,2:Serahkan Pada Kami! (2)


__ADS_3

Di kedalaman hutan, seluruh monster terlihat di setiap tempat.


"Sepertinya ini akan jadi masalah yang rumit."


Kabut hitam mulai menyelimuti lengan kanannya yang berubah menjadi pedang hitam mengkilap di malam hari.


"Kalian pergilah, biarkan aku yang melawan mereka!"


"Baik."


"Kami serahkan padamu, Regard!"


"Berhati-hatilah, Arthen!"


"Ya."


Mereka yang pergi meninggalkan pria berambut putih pendek membuatnya tersenyum atas kepergian mereka.


Senyum menghiasi wajahnya yang membuat dia puas atas kesendirian yang berhasil dimilikinya. Tak ada yang melihat maupun mengganggunya, itulah kesempatan yang dia miliki.


"Baiklah. Waktunya untuk serius."


Di sekitar tubuhnya terdapat aura hitam pekat yang keluar mengalir menyelimuti tubuhnya memancarkan tekanan tinggi ke setiap monster yang mengelilinginya.


"Ini adalah akhir untuk kalian!"


Dengan matanya yang berwarna merah terang menyala di kegelapan, keempat sosok muncul dari langit-langit yang mendarat dengan cepat.


Keempat sosok itu adalah gadis yang memiliki kemampuan dan kekuatan yang berada jauh di atas rata-rata. Mereka memiliki penampilan yang berbeda-beda. Ada wanita elf, wanita iblis, wanita vampir, dan wanita biasa, keempatnya berada di depan pria tersebut.


"Aku serahkan pada kalian!"


Di jari-jari tangannya yang terdapat benang tipis, pria itu menggerakkannya yang membuat mereka bergerak cepat ke arah monster yang ada di sekitarnya.


Mulai dari gadis elf, Friya yang menggunakan beberapa elemen api dan petir untuk menghabisi dan menghancurkan barisan monster yang ada di sisi utara dalan sekejap. Gadis biasa, Reita yang menggunakan [Arm Golem] yang menghantam seluruh pasukan monster yang ada di sisi selatan.


Sedangkan sisanya dari gadis iblis, Sakigawa menggunakan kemampuannya yang membuat bebatuan di sekitar melayang dan melesat dengan cepat menghabisi musuh-musuh yang menghalanginya dengan melubangi tubuhnya, menyambar beberapa tubuh mereka yang tidak terkena lemparan bebatuan darinya, serta menghanguskan seluruh area yang ada di sisi timur.


Gadis vampir yang menggunakan seluruh kawanan kelelawar yang mengerumuni monster sekitar, membunuh dan membelah beberapa dari mereka menggunakan penampilannya yang cantik dan memukau dibalik kegelapan malam berhasil mengatasi seluruh monster yang ada di sisi barat.


Sempurna.


Mengembalikan mereka ke dekatnya, pria itu melenyapkan sosok mereka dalam sekejap tanpa ada satupun yang tersisa.


Menurutnya, mereka jauh lebih efektif untuk digunakan daripada menggunakan seluruh anggota The Necromancer yang akan merepotkan jika dia mengerahkan seluruh mana untuk pertarungannya jadi dia sengaja memilih cara biasa daripada cara mencolok demi menghindari mana terkuras dalam jumlah banyak secara berlebihan.


Sekarang waktunya untuk pergi.


Tumpukan mayat-mayat monster yang beragam jenis telah tiada terlihat jelas di sepanjang jalan pria itu berjalan. Mulai dari tubuhnya terbelah dua di bagian tengah, kepalanya terpenggal, anggota tubuhnya yang terputus, serta organ dalamnya yang terkoyak-koyak dapat dilihat secara langsung yang membuat nuansa hutan terasa menakutkan dan menyeramkan untuk dilihat.


Masih ada tiga orang lagi ya.


Di kejauhan yang sedang dilihatnya menggunakan mata spesial, pria itu merasakan ada tiga sosok yang mendiami kedalaman gua yang memiliki mana dalam jumlah banyak yang tidak bisa diremehkan.


"Baiklah. Kurasa lebih baik jika aku bersenang-senang terlebih dahulu."


Di ujung mantel hitamnya, seekor hewan terbentuk dari kegelapan yang bergerak cepat dengan tubuh transparan memasuki ke kedalaman gua.


Berhenti melanjutkan perjalanan, pria itu duduk di salah satu pohon. Disandarkan punggungnya di batang pohon dan dihadapkan wajahnya mengarah ke langit-langit malam.


Aku harap mereka dapat melakukannya ya.


Walaupun pria itu ingin ikut campur dalam permasalahan mereka, dia tetap sadar bahwa dia hanya akan menghalangi keinginan mereka untuk menyelesaikan masalah yang belum bisa mereka selesaikan.


Beberapa saat yang lalu.


"Regard, bisakah aku berbicara denganmu?"


"Ya."


Di dalam kamar penginapan, seorang pria yang sedang menikmati minumannya yang berwarna merah darah meletakkan gelasnya di meja dan menunda waktu makannya pada daging yang dimasaknya sendiri untuk dialihkan ke arah gadis yang memasuki kamarnya.


"Ada apa, Shilph?"


"Ini mengenai masalah yang akan kita hadapi nanti."


"Jadi, apakah kau berencana untuk melakukan sesuatu?"


"Ya."


Shilph yang berdiri menghela dan menghembuskan nafas untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu agar tidak gelisah saat menjelaskannya pada pria yang sedang menatapnya, Regard.

__ADS_1


"Aku ingin kamu menyerahkannya kepada kami."


"Eh..."


"Menyerahkannya pada kalian?"


"Ya."


Tidak mengerti atas perkataan Shilphonia, Regard merenung sejenak untuk mengambil kesimpulan.


Sejauh yang dia ketahui, Shilphonia berasal dari Malaikat yang artinya dia sekarang memiliki status Fallen Angel, sama seperti musuhnya. Singkatnya Shilphonia akan melakukan sesuatu terhadap masalahnya sendiri tanpa perlu bantuan darinya agar bisa selesai dengan mudah dan cepat.


"Apakah kamu bisa membiarkan kami melakukannya sendiri?"


"Baiklah."


Dikarenakan Regard tidak tertarik untuk ikut campur dalam urusan mereka, dia menyetujuinya karena tahu itu adalah pilihan yang tepat untuk mempercayai mereka bahwa mereka dapat melakukannya.


"Dan juga..."


"Apakah ada lagi yang ingin kau bicarakan?"


"Ya. Mengenai Veru, pria yang menyelamatkan dirimu, aku sarankan dia untuk menyelesaikan masalahnya sendiri."


Dia benar.


Menurut Regard, permasalahan yang dihadapi Veru cukup rumit.


Mulai dari dirinya yang kehilangan kesadaran karena kegelapan, dibunuh oleh temannya dulu, dimanfaatkan oleh iblis untuk menyerang manusia, semua itu adalah dosa yang harus dia miliki selama ini.


"Kau benar."


"Baiklah. Aku serahkan urusan ini pada kalian dan Paman Veru."


"Ya. Serahkan semuanya pada kami, Regard!"


Tersenyum atas persetujuan dari Regard, Shilphonia meninggalkan kamar miliknya untuk memberitahukan ini pada seluruh anggota The Necromancer tentang apa yang akan mereka lakukan nantinya.


Hanya itu yang dapat Regard ingat dari beberapa saat yang lalu.


Secara keseluruhan, pembicaraan yang dilakukan diantara dia dan Shilphonia secara rahasia yang artinya tidak ada satupun dari mereka yang tahu bahwa musuh mereka adalah Fallen Angel, orang yang dikenal Shilphonia selama ini.


Alasan Regard belum memberitahunya adalah membiarkan Shilphonia, orang yang memiliki masalah untuk menjelaskannya secara keseluruhan pada mereka daripada dirinya sendiri yang menjelaskannya pada mereka dapat membuat Shilphonia marah dan benci terhadapnya.


Dengan senyum harapan yang diarahkan ke pintu masuk gua, hati Regard yakin mereka dapat melakukannya dengan baik tanpa perlu bantuannya sedikitpun.


Kalaupun ada masalah, cepat atau lambat dia akan menghadapi masalah lain yang menantinya jadi aman untuk mereka agar tidak memfokuskan diri pada pertarungan lain.


•••••


"Aku tidak menyangka kalau seluruh monster dilenyapkan dan dihabisi dalam sekejap."


"Ya."


"Cih. Mereka hanya monster lemah jadi wajar jika mereka kalah begitu mudah."


Di kedalaman gua, ketiga sosok sedang berbicara tentang segerombolan monster yang mereka yakini kuat dan hebat dengan mudahnya lenyap tak tersisa satupun dari mereka yang mampu bertahan hidup.


Alasan mengapa mereka bisa tahu ialah berkat kemampuan yang dimiliki oleh salah seorang diantara mereka, gadis berkacamata yang terlihat di kedalaman gua yang bersama dengan mereka yang memberitahu bahwa seluruh monster telah dilenyapkan dengan mudah oleh manusia.


"Apa yang harus kita lakukan?"


"Kita akan langsung menyambut mereka."


"Apakah kamu yakin?"


"Ya."


Tanpa berlama-lama lagi menetap di kedalaman gua, salah seorang pria berjalan terlebih dahulu ke depan sedangkan kedua orang lainnya terdiam sambil memandangi pria yang berjalan beberapa jarak dari mereka.


"Apakah ini adalah ide yang bagus?"


"Entahlah. Kita ikuti saja apa maunya."


"Baiklah."


Dikarenakan mereka berdua tidak ingin tertinggal, salah seorang wanita menyuruhnya ikut bersamanya meski mereka tidak tahu apakah menyambut mereka merupakan pilihan tepat atau tidak, mereka sama sekali tidak mempedulikannya.


Selama mereka bisa berada di sisinya, wanita itu akan merasa senang bisa melindungi dirinya.


"Mau kemana kalian pergi, Iblis?"

__ADS_1


"....."


Cahaya keunguan bersinar terang di dalam kegelapan.


Cahaya itu berasal dari hewan kecil yang berubah bentuk menjadi seorang manusia yang ditutupi oleh jubah hitam yang dikenakannya.


Rasakan ini!


Ledakan terdengar keras yang membuat seluruh area menggema keluar gua.


"Suara apa itu?"


"Apakah ada seseorang yang sedang bertarung?"


"Tidak, itu tidak mungkin."


"....."


Bau ini...


Berbeda dengan ketiga orang yang sedang menelusuri di awal pintu masuk gua, salah seorang gadis kecil mencium hawa keberadaan yang tidak asing yang baru saja dilewatinya beberapa saat yang lalu.


Keberadaan itu sendiri dilewatinya tanpa ada yang menyadarinya, termasuk dia sendiri.


"Dia sedang bertarung."


"Dia?"


"Jangan bilang..."


"Ya, Regard Arthen sedang bertarung."


Langkah kaki mereka terhenti sejenak saat tahu bahwa Regard memulai pertarungan terlebih dahulu tanpa sepengetahuan dari mereka.


Mereka berpikir dengan menyerahkan urusan ini pada mereka, Regard tidak akan ikut campur, tapi perkiraan mereka telah sepenuhnya salah. Regard yang terlebih dahulu memasuki gua tanpa disadari oleh mereka dan memulai pertarungan, semuanya adalah tindakan yang disengaja untuk dia melakukannya.


Padahal kalau dipikir-pikir kembali, Shilphonia merasa yakin sepenuhnya bahwa Regard tidak akan ikut campur. Itu sebabnya saat dia tahu Regard memulai pertarungan, hatinya menjadi kesal dan marah terhadap tindakannya yang memulai terlebih dahulu tanpa ada satupun dari mereka yang mulai pertarungan.


"Ada apa? Apakah kalian benar-benar lupa cara untuk bertarung?"


"....."


Lengkungan legam berwarna hitam yang diadu terus-menerus oleh bulu-bulu berwarna hitam yang berterbangan membuat bunga api di dalam kegelapan.


Di satu sisi, Regard yang mengerahkan seluruh pedangnya, [Imitation Sword] terhadap salah satu diantara mereka dengan mudah ditangkis oleh pria dengan sayap berwarna hitam yang menghempas bulu-bulunya ke udara untuk melindungi diri mereka.


"Terlambat!"


Tidak melewatkan kesempatan yang ada, dengan mudahnya dia menghilang dan muncul tepat di belakang salah seorang pria yang mengenakan zirah berwarna perak yang ada diantara mereka.


Di salah satu lengannya yang terdapat jarum berwarna merah gelap bagaikan darah diarahkan langsung ke permukaan tanah menyebabkan genangan darah muncul di permukaan lalu berubah menjadi tombak panjang bergerigi yang memenuhi area sekitar.


"Benar-benar tidak berguna."


"Ya."


Terkekeh atas kata-kata yang mereka berikan, Regard dengan cepat menggunakan [Acceleration] pada dirinya membuat dia lebih cepat ke arah mereka dan menendang salah satu dari mereka dengan kuat membuat pria dengan zirah berwarna perak terpental menghantam dinding gua.


"Bagaimana? Apakah rasanya enak atau..."


Tidak hanya mengeluarkan darah melalui mulutnya, pria dengan zirah berwarna perak juga dicekik oleh Regard dengan kuat hingga seluruh kesadarannya hampir hilang dari dirinya.


"Menyingkir darinya!"


Tepat saat kata-kata itu diteriakkan, jarum berwarna hitam panjang membuat tangan Regard yang mencengkram lehernya dilepaskan untuk menghindari serangan dari mereka.


"Kau tampaknya terlihat kesal ya."


"Kau sendiri juga tidak sadar diri ya."


"Benarkah?"


"Ya."


Mereka berdua saling memandang dalam jarak yang jauh dengan seksama yang diikuti oleh senyuman di bibir mereka.


"Enyahlah!"


"Matilah!"


Ketika keduanya saling berbenturan, gelombang kuat yang disebabkan oleh udara di sekitar mereka membuat gelombang kejut yang menyebabkan seluruh area meledak dalam jangkauan yang luas.

__ADS_1


Seorang wanita yang mendekati pria dengan zirah berwarna perak mengambilnya, membawanya menjauh agar menghindari ledakan kuat yang disebabkan oleh serangan mereka tadi.


__ADS_2