The Necromancer

The Necromancer
Ch. 50:Serangan Balik


__ADS_3

"Sekarang bukalah matamu!"


Mengikuti arahannya, aku membuka mata yang membuatku terkejut atas apa yang kulihat saat ini.


Seluruh ruangan bawah tanah yang terdapat jeruji besi, kasur dan ventilasi udara yang terhalang oleh jeruji besi yang keduanya ada di dalam, serta salah seorang gadis yang berdiri di depanku, ia menyunggingkan senyuman manis padaku.


"Bagaimana? Apakah kamu puas dengan penampilan aku?"


Puas? Kurasa itu bukan kata yang tepat. Tapi jika aku mengatakan tidak puas, aku ragu dia akan memaafkan dan membiarkan aku pergi tanpa kesal dan jengkel atas kata-kataku nantinya, aku hanya mengangguk ringan sebagai jawaban setuju.


"Ikuti aku!"


Dia yang berjalan memunggungi aku, menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku sejenak lalu melanjutkan kembali langkah kakinya. Aku mengikuti dari belakang yang kira-kira memiliki jarak sekitar 3 meter diantara kami, dia yang memimpin tidak berkata apapun padaku.


"Dahulu kala, Stahark bukanlah iblis sama sepertiku. Dia adalah gadis bangsawan yang cinta akan kekuasaan, martabat, dan harga dirinya yang lebih tinggi daripada bangsawan manapun membuatnya dibenci oleh banyak orang-orang di kalangan bangsawan, termasuk keluarganya sendiri."


Keluarga bangsawan?


Jika dilihat dari penampilannya, mungkin aku beranggapan kalau dia adalah seorang gadis yang nakal yang menggoda siapapun yang ditemuinya, tapi sepertinya tidak seperti perkiraan yang kuduga darinya.


"Ini...."


Entah bagaimana aku melihatnya, dia mampu menampilkan layar proyektor yang berputar disaat bersamaan dengan jentik jarinya tad yang membuat beberapa layar proyektor yang terlihat dibalik jeruji besi dapat kulihat secara keseluruhan.


"Biar aku jelaskan dari awal, Stahark adalah seorang manusia, sama seperti dirimu, dia juga memiliki ambisinya sendiri saat keputusasaan datang pada dirinya."


Layar proyektor itu menampilkan sebuah gadis kecil yang mengenakan gaun mewah yang dihiasi dengan mawar merah yang menghiasi rok kembangnya, bandana yang diiringi dengan warna violet dengan warna merah hitam sama seperti gaun miliknya terlihat olehku.


"Dahulu kala, dia disegani oleh banyak orang. Kebanyakan dari mereka tunduk terhadapnya tanpa terkecuali, termasuk pada kata-katanya yang mutlak, ia mampu membuat siapapun bertekuk lutut dihadapannya."


Mengalihkan pandangan aku dari gadis berambut putih panjang yang berdiri di dekatku, aku melihat layar proyektor yang menampilkan tentang sikap dan tindakan yang dilakukan oleh gadis kecil berambut merah muda panjang, Stahark kecil, ia dengan tegas dan berani memarahi siapapun orang yang menentangnya; pria maupun wanita, tua maupun muda, ia tidak pandang bulu dalam memarahi dan membentak mereka secara terang-terangan.


"Sejak semua orang tunduk terhadapnya, ia bertindak semena-mena terhadap kalangan rendah yang berada di bawahnya dengan seenaknya membuat keluarga dari kerajaan lain yang datang mencoba mencegahnya."


"....."


Tiba-tiba layar berganti sesuai dengan yang dikatakannya. Layar yang kali ini memperlihatkan rakyat rendahan yang berada di bawahnya dibiarkan mati kelaparan dalam kemiskinan, tidak mendapat belas kasihan darinya yang dapat membuat mereka menjalani hukuman mati, serta anak-anak mereka yang diambil, diperjual-belikan sebagai budak membuat gadis kecil bangsawan itu menikmati hidupnya di atas penderitaan orang lain.


Benar-benar memuakkan untukku melihatnya karena aku dulu pernah hidup sebagai orang yang berada di tingkat kemiskinan yang tinggi jadi aku memahami rasa sakit, keputusasaan, dan kebencian yang mereka alami padanya.


"Percuma saja kalau kamu membencinya karena semua itu tidak akan dapat dilakukan olehmu pada layar ini."


"Ya, aku tahu itu."


Melampiaskan kekesalan dan kebencian pada layar sama halnya dengan usaha sia-sia yang mengeluarkan banyak tenaga yang tidak akan ada habisnya terhadap orang yang kita marahi itu tidak nyata adalah hal memalukan.


Sama halnya seperti itu, bisa dikatakan mengidolakan artis maupun pasangan yang hanya ada di khayalan hanya akan membuat diri kita terlihat stress, semua itu tidak berarti apa-apa dibanding usaha sendiri yang mampu menghasilkan sesuatu berdasarkan kerja keras yang kita lakukan selama ini.


Itulah yang kudapat dari pengalaman hidupku sebelumnya. Pengalaman yang ada di masa remaja, masa dimana imajinasi aku mulai aktif hingga mendekati dewasa, semua itu sirna ketika aku sudah bekerja keras di bidang bangunan dan mendapatkan rumah tanggaku sendiri, termasuk anak-anak yang kumiliki.


"Nama gadis bangsawan yang diperlihatkan adalah Veliona Bergan De Voire, bangsawan yang ada di Kota Fiasfa."


Kota Fiasfa? Kota itu adalah kota yang sama seperti nama desa aku.


"Mengejutkan bukan? Itu adalah hal yang wajar jika kamu terlihat terkejut."


Dia yang terlihat puas saat mengetahui ekspresi wajahku, kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil melanjutkan jalannya. Aku pun mengikutinya dari belakang.


"Sejak Veliona diketahui seringkali menindas rakyat jelata sesuka hatinya, bangsawan lain dari kota-kota besar datang untuk segera melakukan penangkapan padanya untuk dieksekusi mati."


Dieksekusi mati.


Dengan kata lain, Stahark yang sebelumnya adalah seorang manusia dari kalangan bangsawan, gadis dengan martabat dan wibawanya yang tinggi, Veliona, itulah namanya, yang tiada lalu berubah menjadi Stahark?

__ADS_1


Ada kemungkinan hal seperti itu terjadi.


"Sayangnya apa yang kamu pikirkan tidak masuk akal untuk diterima, Manusia."


"Apa maksudmu?"


"Maksudku ialah Veliona tidak mati karena eksekusi mati yang dilakukan oleh bangsawan lain yang datang dari kota besar melainkan karena suatu tragedi yang menakutkan dan mengerikan untuk dilihat."


"Ini..."


Saat dia menjentikkan jarinya sekali lagi, layar proyektor berubah menampilkan kekacauan yang terjadi di seluruh area jalan.


Manusia yang saling berhamburan, desak-desak dan saling mendorong satu sama lain, ada beberapa diantara mereka yang terinjak hingga tiada, mereka tidak mempedulikannya. Bangunan-bangunan yang terlihat di setiap tempat yang telah hancur dan terbakar, itu adalah pemandangan yang benar-benar mengerikan untuk dilihat.


"Saat Veliona hendak dieksekusi mati, dicemooh oleh bangsawan lain, entah bagaimana Kota Fiasfa hancur dalam sekejap. Iblis yang melawan manusia, malaikat yang membantu iblis, itu bisa dikatakan sebagai keberuntungannya."


Keberuntungan ya.


Memang aku tidak terlalu mempercayai keberuntungan atau tidak, tapi karena aku benar-benar mengalaminya sejak kematian pertamaku di dunia ini, ada kemungkinan Veliona juga mengalami hal serupa sepertiku.


"Bahamut mengamuk di seluruh kota, membakar bangunan, menginjak-injak umat manusia, melenyapkan sebagian kota, Veliona yang melihatnya tidak terlihat takut maupun membenci tragedi tersebut."


"Di-dia..."


Senyum itu... senyum yang benar-benar memperlihatkan kepuasan tersendiri.


Aku pernah merasakannya saat aku mengambil kemampuan yang dimiliki oleh orang lain menggunakan [Copied Skill], disitu aku merasa puas atas apa yang kumiliki sekarang. Jika tidak, mana mungkin aku dapat merasakan hal serupa sepertinya.


"Sepertinya kamu memahaminya ya."


"Ya, begitulah."


Dialihkan pandangannya dariku, kami berjalan kembali ke depan.


Bisa dikatakan aku tidak tahu seberapa luasnya ruang bawah tanah yang berisikan jeruji besi di kedua sisi, aku hanya tahu ini tiada hentinya yang membuatku kagum atas pemandangan yang benar-benar berbeda dari yang kuduga.


Sejujurnya aku baru tahu atas masa lalu Stahark.


Dirinya yang sebelumnya adalah seorang bangsawan yang memiliki ego tinggi; memperlakukan siapapun sebagai orang rendahan, memperlakukan rakyat jelata seenaknya, serta bersenang-senang di atas penderitaan orang lain, aku benar-benar membenci orang seperti itu.


"Ada satu hal lagi yang ingin kukatakan. Stahark saat ini bisa dikatakan lebih kuat dan hebat dari sebelumnya berkat kemampuan yang diambil dari dirimu, ia tidak terkalahkan oleh makhluk apapun."


Begitu ya.


"Sepertinya ini adalah akhir bagi mereka, teman-temanku."


"Tidak!"


Mendekati aku dan memegang bahu kanan, ia menoleh ke arahku dengan senyum percaya diri di wajahnya yang diarahkan padaku, aku terkejut kalau gadis berambut putih panjang yang terlihat serius bisa memancarkan aura kebahagiaan padaku.


"Kita bisa melakukannya. Itu semua berasal dari keinginanmu sendiri."


Dia berjalan menjauh dariku, memutar ke tempatnya berada semula, dia membalikkan wajahnya menghadap aku, meminta jawaban langsung dariku.


Keinginan aku?


Apa yang kuinginkan? Apakah balas dendam atas kematian mereka, orang-orang tsk berdosa adalah hal yang wajar? Apakah membiarkan Stahark keluar dan membunuh seluruh makhluk tak berdosa adalah hal yang kuinginkan?


Tidak, jawabannya adalah tidak.


Tidak peduli bagaimana aku melihatnya, ia yang sejak dulu dan sekarang adalah makhluk keji, dia harus dilenyapkan dengan segera agar tidak membuat siapapun menjadi korban, termasuk teman-temanku.


"Pemikiran yang bagus. Aku suka itu."

__ADS_1


Dia berjalan mendekatiku. Bisa dikatakan jarak yang ada diantara kita sebelumnya berada di 5 meter, sekarang berada di 2 meter.


"Terimalah ini!"


"Apa ini?"


Api merah yang berkobar di tangannya, menari-nari di atas telapak tangannya, aku tidak tahu api apa itu, tapi firasat aku mengatakan familiar terhadapnya.


"Ini adalah api yang sama sepertimu namun berbeda penampilan dan bentuknya."


"Sama sepertiku? Mungkinkah kau..."


"Ya, tepat sekali."


Aku mengerti sekarang.


Dia dan aku, kami berdua memiliki kekuatan dan kemampuan yang sama satu sama lain. Necromancer, itulah yang dapat aku simpulkan dari api yang kulihat sekarang.


Pantas saja aku merasa familiar dalam diriku, itu adalah api yang mirip seperti punyaku yang memiliki warna berbeda darinya, warna ungu gelap yang berkobar, dia justru memiliki warna merah menyala layaknya api pada umumnya.


"Jika kamu terima ini maka kamu bisa menghentikannya. Apakah kamu mau melakukannya?"


"Tunggu sebentar!"


"Ada apa?"


Ini aneh. Jika dia adalah iblis yang terlihat jelas dari penampilannya, sepasang tanduk hitam yang melengkung di kepalanya, aku meragukan kalau dia membantuku tanpa alasan yang jelas.


Besar kemungkinan kalau dia ingin memanfaatkan aku, aku harus berhati-hati dalam menerima tawarannya.


"Kenapa kau membantuku? Bukankah kau adalah iblis sama sepertinya? Mengapa kau membantuku? Apakah ada alasan dibalik semua ini?"


"Kamu benar. Aku lupa memberitahumu tentang alasanku membantu dirimu."


Tangannya yang terulur dengan api yang berkobar menari-nari di telapak tangannya yang lenyap, dia berjalan memutar di depanku, bolak-balik dari depan ke belakang dan seterusnya.


"Alasanku membantumu adalah dia akan menghancurkan diriku saat dia kembali ke Dark Castle."


"Dark Castle?"


"Apakah kamu tidak mengetahuinya? Itu adalah kastil dimana Raja Iblis berada."


Raja Iblis? Mungkinkah itu adalah tempat dari Paman Bayangan yang kulihat dan temui waktu itu?


Kenapa dia tidak memberitahuku? Bukankah lebih baik aku mengetahui darimana dia berasal dab tinggal, dia justru menutupinya dariku.


"Lalu kau ini siapa?"


"Aku? Aku hanya iblis yang tidak penting yang tidak perlu kamu ketahui siapa aku. Tapi jika kamu memaksa, mungkin aku akan memberitahukannya padamu."


Ugh... mendengar kata-katanya tadi, entah mengapa aku teringat akan salah satu temanku yang memiliki sifat serupa seperti gadis iblis di hadapanku.


"Aku adalah Shigase Kuma, Raja Iblis ke-dua yang mengendalikan Dark Castle saat ini."


Raja Iblis? Tu-tunggu! Jika dia Raja Iblis maka itu artinya....


"Ya, tepat sekali. Alasanku meminta bantuan darimu adalah aku ingin kamu menyingkirkan hama pengganggu yang akan membuatku kewalahan dalam menghadapinya nanti."


Dia yang awalnya berdiri sambil melambaikan salah satu lengannya dengan ekspresi lelah, duduk di kursi yang mirip seperti tahta kerajaan yang tiba-tiba muncul entah darimana, ia menatapku dengan senyum yang sama di bibirnya.


"Kenapa kau harus meminta bantuan dariku? Bukankah kau sendiri bisa melakukannya?"


"Mustahil."

__ADS_1


Dengan cepat, dia bangun dari duduknya, mendekati wajahnya dengan tubuhnya yang membungkuk ke arahku, jari telunjuknya mengarah ke dahi aku, mendorong dengan sedikit dorongan, aku tahu pose itu adalah pose dimana seseorang menggoda lawan jenisnya.


Yah, aku tahu karena aku pernah menonton anime jadi hal wajar jika aku bisa mengerti pose tersebut.


__ADS_2