The Necromancer

The Necromancer
Ch. 13,2:Ketetapan Hati Reita Hiena


__ADS_3

"Hei, apakah kau tidak bisa mendapatkan uang lebih dari hasil kerja keras yang kau lakukan selama ini?"


"Maafkan atas ketidakberdayaan yang kumiliki."


"Dengarkan aku, Nak, aku tahu kau lemah, tapi setidaknya berusahalah sedikit pada pekerjaan yang kau miliki. Apakah kau paham?"


"Ya."


Bahkan ketika aku hanya memiliki seorang kakak, Kak Daffa selalu dimarahi oleh orang-orang di Kota Asfa atas dirinya yang tidak berguna dalam pekerjaannya.


Mereka benar-benar menyebalkan sekali.


Meskipun aku mengatakan mereka menyebalkan, aku tidak bisa melawannya karena Kak Daffa selalu menyuruhku untuk tidak mencari perkara terhadap mereka.


"Aku harap mereka tiada ya."


"Jangan berharap seperti itu, Reita. Mereka melakukannya karena mereka butuh uang jadi wajar jika mereka memarahi aku."


"Tapi, bukankah mereka terlalu berlebihan? Kak Daffa melakukan yang terbaik demi pekerjaan namun mereka malah menganggap kita tidak berguna."


Ketika aku marah atas kebencian dan kekesalan yang mereka arahkan pada Kak Daffa, dia mengusap rambutku dengan pelan lalu memelukku dengan erat.


"Aku paham atas perasaan yang kau miliki, tapi aku ingin kau tumbuh tanpa ada emosi di dalam dirimu."


Mendengar kata-katanya, aku tidak bisa melakukan apapun.


Yang selama ini kulakukan hanya marah dan benci atas tindakan mereka. Namun saat aku mendengar kata-kata Kak Daffa, aku tersadar bahwa dia lebih mengerti kondisi di sekitar.


Aku benar-benar adik yang payah.


Hanya itu yang selama ini aku pikirkan.


"Ini dia lembaran untuk kau isi, Reita!"


"Baik."


Di dekatku, aku melihat sosok yang mirip dengan Kak Daffa.


Sosok yang terlihat baik, ramah, dan rendah hati terhadap siapapun benar-benar membuatku takjub pada sikapnya selama ini di kehidupannya.


Dia adalah Regard Arthen, seorang Necromancer yang menurut cerita dibenci oleh umat manusia. Meskipun orang-orang membencinya, aku berpikir bahwa dia sedikit berbeda dari orang yang ada di dalam sejarah Necromancer di buku-buku yang pernah dibacakan oleh kedua orangtuaku. Sikapnya yang baik, ramah, peduli, penolong, mudah bersosialisasi, serta sopan benar-benar membuatnya terlihat hebat daripada orang lain yang ada di Aula Guild Petualang.


Aku mengagumi dirinya karena dia mirip seperti Kak Daffa.


Itulah mengapa aku ingin menjadi petualang sama seperti Regard.


"Ini dia!"


"Biar aku periksa terlebih dahulu."


Mengambil kertas formulir yang aku berikan, dia membacanya dengan serius. Selesai membacanya, dia tersenyum padaku.


"Kerja bagus. Baiklah. Mari kita berikan padanya."


"Ya."


Kami berdua mendekati meja resepsionis lalu memberikan formulir padanya.


"Baik. Berikutnya adalah biaya dari pendaftaran petualang."


"Ya. Ini dia!"


"Baiklah. Selanjutnya aku ingin dia memeriksa kemampuan dan kekuatannya di sini."


Di depan kami, sebuah batu kristal berukuran sebesar telapak tangan membuat aku menyentuhnya.


Sebelum aku menyentuhnya, tangan Regard menggenggam tanganku membuat aku terkejut atas sikapnya yang berubah mendadak.


"Mari lakukan, Reita!"


"Baik."


Meletakkan telapak tanganku, sebuah kristal memancarkan cahaya berwarna hitam.


"Begitu rupanya. Kamu sama seperti Tuan Regard ya, Nona."


"Sama?"


"Ya. Tuan Regard berada di posisi terendah di Black Adventure jadi kekuatan dan kemampuannya sama seperti dirimu."


"....."


"Ada apa?"


"Tidak ada."


Aku mulai mengerti sekarang.


Regard yang menggenggam tanganku, dia sengaja menekan kekuatan yang kumiliki agar tidak terdeteksi oleh batu kristal tersebut.


Jika aku tidak digenggam olehnya, mungkin aku akan berada di tingkat yang berbeda dari tingkat petualang yang dimilikinya.


"Baiklah. Saya akan jelaskan semuanya dari awal padamu, Nona Reita."

__ADS_1


Penjelasan diberikan langsung dari resepsionis.


Menurut Resepsionis Guild, ada tiga tingkatan yang dimiliki oleh setiap petualang. Mulai dari Black Adventure hingga White Adventure berada di tingkat yang berbeda-beda.


Black Adventure berada di tingkat terendah yang setiap misi yang diambil akan mendapatkan hasil yang terbilang sedikit namun mudah untuk diselesaikan. Berbeda dengan Black Adventure, Colorful Adventure memiliki penghasilan yang membaik.


Tak hanya penghasilan, Colorful Adventure juga memiliki misi yang terbilang sedikit sulit hingga sulit yang ada dalam tiap misi yang dipajang di papan di lantai kedua.


Dan yang terakhir ialah White Adventure, yang memiliki penghasilan tinggi dan tingkat kesulitannya dalam menyelesaikan misi bisa dikatakan berbahaya jadi mereka dapat kehilangan nyawa karena misi yang mereka ambil sebelumnya.


"Apakah kamu sudah paham, Nona?"


"Ya."


"Baguslah."


"Ini dia tanda pengenal dan buktinya."


Mengambil kain hitam dan papan bertuliskan namaku, aku meletakkan kain hitam di lengan baju kiri agar terlihat seperti petualang tingkat rendah.


"Mohon untuk mengambil misi jika kamu memerlukannya di papan misi."


"Baik. Terimakasih atas informasinya, Nona."


"Tidak apa-apa. Kami selalu senang melayani orang baru untuk mendaftar sebagai seorang petualang."


Selesai mengatakan itu, aku dan Regard, kami berdua pergi keluar dari Aula Guild Petualang.


Sebelum kami keluar, salah seorang mencegah kami.


•••••


Regard POV


"Bisakah kau membiarkan kami lewat?"


"Lewat? Tentu. Tapi sebagai gantinya aku ingin kau menyerahkannya, apakah kau mau melakukannya?"


Menyerahkannya?


Ah, begitu ya.


Aku paham atas situasi saat ini.


Orang ini... dia ingin mengambil Reita dariku.


Sejujurnya aku bisa saja memberikannya, tapi aku tidak tahu perasaan Reita yang akan ikut dengannya atau denganku, keputusan ada di tangannya.


Aku yakin dia pasti akan menolaknya.


Sudah kuduga kalau ini yang akan terjadi.


Kerah bajuku yang ditarik lalu diangkat olehnya membuatku sulit untuk melakukan apapun, bahkan aku tidak dapat menapakkan kaki di tanah.


Hentikan, Reita!


Sebelum dia melakukan sesuatu padanya, dia sadar bahwa aku memberikan [Mind Reading] padanya agar dia tidak bertindak gegabah jadi dia hanya diam tanpa melakukan apapun.


Yah, itu bagus. Kalau tidak, aku akan kerepotan dalam mengatasi urusan terhadap para Ksatria Kerajaan yang sulit untuk bebas dengan mudah, meskipun menggunakan orang dalam seperti Paman Veru.


"Jawablah aku, Petualang Lemah!"


"Aku tidak bisa memberikannya karena aku takut kalau dia tidak mau bersamamu."


Selesai mengatakan itu padanya, dia melempar aku ke kanan membuat tubuhku terjatuh.


Sial. Sakit sekali.


Untungnya sebelum mendarat, aku menggunakan [Heal Recovery] jadi luka ringan tadi sempat pulih.


Pria yang mengenakan zirah emas di tubuhnya mendekati Reita dan memegang pipinya.


Kalau saja aku bisa melakukan sesuatu padanya, aku mungkin sudah berhasil mempermalukannya. Namun aku tidak yakin apakah tindakan ini benar-benar tepat atau tidak, aku hanya bisa tahu kalau dia akan balas dendam jika aku mempermalukannya.


Yah, tidak ada yang bisa kulakukan jadi pasrah merupakan hal yang benar.


"Maukah kau bersamaku, Nona?"


"Tidak mau."


"Apakah kau yakin?"


"Ya."


Menatap tajam ke arah pria tersebut, aku yakin Reita menahan emosi di dirinya untuk tidak bertindak gegabah.


Bisa dikatakan bahwa Reita memiliki kemampuan dan kekuatan yang cukup hebat, tapi semua itu belum dapat dikendalikannya. Itu sebabnya saat dia melakukan pemeriksaan kemampuannya sebagai tolak ukur petualang, aku memegang tangannya agar menekan sejumlah mana dalam tubuhnya untuk tidak dapat terdeteksi oleh batu tersebut.


Hasilnya seperti yang aku duga.


Batu kristal yang seharusnya dapat membaca kemampuan tiap orang yang mendaftar sebagai petualang, tidak mampu membaca apapun melainkan menganggap Reita sama seperti diriku yang merupakan seorang petualang pemula.


"Baiklah."

__ADS_1


Mendekati aku, dia menendang tubuhku berkali-kali membuat aku untuk menyerahkan Reita secara paksa menggunakan kekerasan.


Aku paham atas metode tersebut. Terlepas dari kekerasan yang dilakukan, orang yang menjadi korban akan takut terhadap rasa sakit yang dirasakan membuat mereka menyerah dan mengikuti perkataannya.


Namun, aku berbeda.


Tidak peduli seberapa sakit luka di tubuhku, selama aku menggunakan [Heal Recovery], luka tersebut sembuh dengan mudah namun dengan cara yang lambat agar dia tidak curiga terhadapku.


Setiap kali dia menendang tubuhku, aku dapat merasakan aura kemarahan dan emosi yang meluap-luap dari Reita. Sebelum dia meluapkan semuanya, aku selalu memperingatkan dirinya untuk tidak bertindak gegabah.


Dia menurutinya. Dia yang awalnya marah telah kembali reda yang artinya usahaku berjalan lancar.


"Cih. Tidak berguna ya."


Dikarenakan pria itu bosan tidak mendapatkan hasilnya, dia pergi dari tempatku dan kembali ke meja dimana terdapat kelompoknya yang menatap ke arah kami.


"Apakah kamu baik-baik saja, Regard?"


"Ya, aku baik-baik saja."


Mengelap darah dari mulutku, aku bangkit yang dibantu oleh Reita.


"Mari kita pergi!"


"Ya."


Berpura-pura pincang, aku memutuskan untuk meninggalkan kesan bahwa aku terluka parah olehnya.


Sebagian besar para petualang iri atas kedekatan kami, tapi sebagian lagi ada yang mendukung aku dan menyalahkan atas tindakan yang dilakukan pria tadi terhadapku.


Sungguh ironis sekali ya.


Aku melakukan hal demi melindungi kota di malam hari, tapi kalian yang tidak menyukai aku malah memukul dan membuatku babak belur.


Yah, ini adalah takdirku sebagai orang lemah jadi aku harus menerimanya.


Ketika kami berhasil menjauh, Reita melepaskan tanganku yang menggandengnya dan menatapku dengan ekspresi kesal dan benci.


"Kenapa kamu tidak membalasnya? Bukankah tindakan mereka sudah keterlaluan?"


"Tidak perlu. Mereka melakukan itu karena mereka iri terhadap kita."


"Iri?"


"Ya. Beberapa hari lalu, aku membawa Shilph dan Furuhiora ke Guild Petualang. Itu sebabnya mengapa mereka iri atas kedekatan aku terhadap gadis-gadis lain. Apalagi dengan kedatangan dirimu, mereka menjadi semakin benci atas kedatangan aku."


"I-itu...."


"Tidak perlu meminta maaf. Semuanya benar-benar sudah biasa untuk aku jalani."


Menepuk dan mengelus-elus kepalanya, aku baru sadar bahwa apa yang kulakukan telah salah.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk..."


"Tidak apa-apa.  Aku ingin kamu melakukannya sekali lagi."


"Eh?"


Memegang tanganku, dia menggerakkannya ke rambutnya lalu mengelus-elus tanganku dengan pelan di rambutnya sendiri.


Aku tahu atas kesalahan yang aku perbuat, tapi setidaknya aku ingin menghindari hal ini agar mereka tidak salah paham atas kedekatan yang terjadi pada kami saat ini.


Sebisa mungkin aku tidak ingin membuat mereka marah.


"Terimakasih, Regard. Berkatmu, aku putuskan untuk ikut bersama dirimu dalam perjalanan dan petualangan yang kamu jalani nanti."


"Apakah kau yakin?"


"Ya. Kebaikan dan kerendahan hati yang kamu miliki sama persis seperti yang Kak Daffa milik."


Memegang dadaku, tidak, lebih tepatnya hatiku, dia tersenyum tulus.


Aku bisa pastikan itu adalah senyum yang benar-benar asli tanpa dibuat-buat olehnya untuk menghiburku. Selain itu, aku telah tahu dengan jelas bahwa kakaknya, Daffa memiliki masa lalu yang hampir sama dengan sikapku di Guild Petualang.


"Apakah kamu mau menerima aku?"


"Menerima?"


"Ya. Sebagai adik tiri sementara, aku ingin memanggilmu dengan sebutan Kak Regard."


"....."


Bukankah ini terlalu berbahaya?


Seandainya mereka tahu bahwa aku telah melakukan sesuatu padanya, aku tidak tahu apakah nanti aku bisa bertahan hidup tanpa luka atau aku akan mati berkali-kali oleh kekejaman mereka.


Aku harap mereka dapat mengerti nantinya.


"Baiklah. Tapi, aku tidak ingin kau memanggilku dengan sebutan Kak Regard di depan mereka berdua. Apakah kau paham?"


"Ya."


Tersenyum sekali lagi, aku mengelus dan mengusap rambut miliknya dengan pelan.

__ADS_1


Rambutnya yang halus benar-benar membuatku menikmati sensasi mengelus di kepalanya melebihi adik maupun anakku sendiri di kehidupan lama.


__ADS_2