
Regard POV
Memperhatikan pemandangan mengerikan, aku yakin dia adalah lawan yang kuat.
Mengubah manusia menjadi kawanan Fenrir, menghancurkan prinsip yang tidak masuk akal layaknya Fuzikumibaru, serta hidup di kawasan pegunungan, aku yakin bahwa Fenrir lebih kuat dari makhluk apapun.
"Apakah ini tempatnya?"
"Ya."
Sebelum kami dapat memasuki gua, kawanan Fenrir menyadari keberadaan kami.
Mereka yang terlihat kesal, menggonggong lalu mengejar kami.
Ya, ini waktunya menguji kemampuan baru dari senjata yang aku buat sebelumnya terhadap mereka jadi aku yakin ini sepenuhnya bekerja.
"Kalian mundur!"
"Baik."
Mengikuti arahan aku, mereka mundur.
Ekspresi yang terlihat di wajah mereka benar-benar membuatku yakin dia mencemaskan dan mengkhawatirkan atas kondisiku sendiri.
"Lihatlah ini, Anjing Bodoh!"
Melemparkan beberapa bola yang dilapisi oleh besi keras dan kuat, bola tersebut menyala saat berada di dekat kawanan Fenrir.
Tak melewatkan kesempatan, aku mengambil kedua pistol lalu menembakkannya ke arah mereka. Tembakan demi tembakan mampu menembus kulit dan tubuh mereka menyebabkan peluru yang telah dipasang yang dilapisi oleh elemen api mampu membuat tembus ke kulit mereka.
Sekarang mari coba yang satu ini.
Mengganti peluru dengan cepat, aku mengeluarkan rentetan peluru yang tak terpakai ke permukaan salju untuk diisi ulang oleh peluru dengan elemen listrik.
Bang!
Ketika tembakan mengenai tubuhnya, aliran listrik bertegangan tinggi mampu membuatnya lumpuh beberapa saat yang menyebabkan sebagian dari kawanan Fenrir jatuh dak berdaya tanpa dapat melakukan perlawanan.
Sekarang waktunya untuk ujicoba berikutnya.
Mengeluarkan keempat bola kecil di sela-sela jari, aku melemparkan ke kedua sisi. Bola tersebut perlahan bersinar terang berwarna merah layaknya lahar lalu meledak dengan ledakan besar yang cukup kuat dapat dirasakan oleh kami.
"Mari kita pergi!"
"Baik."
Menjauh adalah hal yang tepat.
Selain itu, kita tidak bisa mendekati pintu masuk gua bukan karena Fenrir berada di dalamnya melainkan suara ledakan tadi mampu menyebabkan bola salju mengarah ke kita.
"Reita!"
"Ya."
Membalikkan tubuhnya, Reita menggerakkan tangannya ke depan.
Dum.
Dalam sekejap beberapa bola salju berukuran besar mampu lenyap olehnya.
"....."
Disaat kami yakin telah berhasil melewati ketegangan, salah satu sosok melompat di tengah badai salju bersama kawanan Fenrir lainnya.
Dia datang!
Bersiap-siap atas kemungkinan yang terjadi, kami menunggu mereka mendekat ke arah kami.
•••••
Di permukaan salju yang dingin, Kanae dan Veru memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Selama perjalanan, mereka dikepung oleh kawanan serigala yang menyebabkan sebagian dari pasukan yang dibawa oleh mereka dapat dengan mudah dikalahkan.
Tak hanya kawanan serigala yang menurut mereka berbahaya, strategi dan insting dalam berburu terhadap manusia benar-benar bisa dikatakan cukup hebat melebihi perkiraan mereka berdua.
"Kenapa mereka berubah menjadi kawanan serigala?"
"Entahlah. Ada kemungkinan penyebab utama mengapa para petualang menghilang ialah ulah mereka."
"Dengan kata lain, Fenrir yang menjadi dalang dibalik semua ini."
"Ya, begitulah.
Bangun dari duduknya, kawanan serigala yang mengejar mereka membuat Veru tersenyum.
"Kanae, traktir minuman jika aku kembali ke kota."
__ADS_1
"Baik. Tapi, apakah kau mampu melakukannya sendirian?"
"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu atas apa yang akan kulakukan."
Meskipun kata-katanya terdengar tidak meyakinkan, Kanae paham bahwa tugasnya sekarang adalah menemukan Fenrir secepat mungkin.
"Tolong bawa pasukan aku bersamamu!"
"Ya."
Mereka berlari menjauh meninggalkan Veru sendirian.
Tersenyum atas keberadaan mereka yang telah dirasa cukup jauh, Veru akhirnya mengeluarkan kemampuannya sebaik mungkin.
Di pedang yang dipegangnya, [Light of Wing] dapat bersinar terang yang bersiap menghabiskan mereka dalam sekejap mata tanpa perlu khawatir atas kondisinya dihadapan Kanae, rekannya sendiri.
Di lain tempat, getaran tanah terjadi begitu kuat menghasilkan salju di permukaan tanah berhembus di sekitar mereka membuatnya terlihat seperti badai salju.
"Takkan kubiarkan kau berbuat seenaknya, Manusia."
"Ya, aku tidak akan berbuat apapun."
Menangkis kedua cakar Fenrir yang bergerak dengan kecepatan tinggi, Regard yang menahan [Black Sword] sebisa mungkin mengetahui sejauh mana Fenrir memiliki kemampuan dan kekuatannya.
Fenrir dengan cepat mendorong [Black Sword] menyebabkan tubuh Regard sedikit mundur. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Fenrir dengan cepat menggunakan [Ice Crystal] dan [Ice Lance] dalam jumlah banyak di udara di sekitarnya membuat Regard dengan mudah menggunakan [Magic Wall] di depannya.
"Apakah hanya itu?"
"Cih."
Menghilang dari tempatnya berada, tebasan demi tebasan dilakukan oleh Fenrir dalam kecepatannya yang lincah. Regard yang memperkirakan dia dapat melesat dengan cepat, menangkisnya berkali-kali memastikan kemana pijakan berikutnya.
Sekarang!
Mengaktifkan [Death Trap], insting Fenrir yang merasa ada bahaya dengan cepat memutar tubuhnya, menghindari jebakan yang dikhususkan untuk dirinya dan melesat dengan cepat menggunakan dua cakar di kedua lengannya untuk mencabik-cabik tubuh Regard.
Di tempat yang tidak jauh, Shilphonia yang membidik anak panah ke arah kawanan serigala membuat anak panah yang dilemparkan membelah menjadi anak panah dalam jumlah banyak yang kemudian mengenai tubuh mereka.
Friya yang menggunakan sihirnya mengeluarkan [Magic Poison] menyebabkan kawanan serigala yang mendekatinya langsung tiada karena gas beracun yang menyebar di sekitarnya.
Reita yang dengan mudah menggunakan tumpukan salju sebagai kekuatannya, mengubahnya menjadi pedang dan tombak lalu diarahkan ke beberapa kawanan serigala yang menyebabkan mereka terkena tusukan di tubuh dan genangan darah yang terlihat di atas permukaan salju.
"Kita harus membantu Regard."
"Ya."
Sebelum mereka dapat melanjutkan perjalanan ke Regard, kawanan serigala yang lain datang seolah-olah sengaja membiarkan mereka disibukkan oleh banyaknya pasukan yang diutus Fenrir untuk mengatasi mereka.
•••••
Regard POV
Dentuman tanah terdengar keras di antara kami.
Fenrir yang tiada henti melancarkan serangan padaku, aku mencoba sebisa mungkin menahannya. Kami berdua saling bertarung satu sama lain tanpa membiarkan salah satu diantara kita lepas dari pandangan.
"Kau benar-benar hebat ya."
"Kamu juga sama. Apakah kamu bukan petualang yang sama seperti mereka?"
"Mereka?"
Menendang tubuhnya, aku melompat menjauh darinya. Dia juga sama. Dia dengan cepat menahannya menggunakan kakinya dan menatapku penuh senyum percaya diri.
Apa-apaan senyum itu? Mungkinkah dia berpikir dia telah menang?
"Ya. Mereka adalah manusia yang payah yang tidak dapat menahan dan menyerang aku tidak seperti dirimu."
"Selain itu..."
Ini...
Di hadapanku, seluruh tubuh Fenrir diliputi oleh aura perak yang tampak seperti salju. Tak hanya itu, dia juga sempat mengeluarkan kawanan Fenrir yang ada di sisinya.
Mereka berbeda dari kawanan Fenrir yang kami temui. Mereka memiliki tampilan yang sama namun berbeda warna. Dilihat sekilas mereka tampak transparan namun memiliki warna putih perak layak salju.
Cih. Ini tidak bisa dibiarkan.
Mengaktifkan beberapa pertahanan yang dibutuhkan, [Absolute Defense] dan [Ultimate Barrier] dapat melindungi aku dari serangan yang akan dilakukannya.
"Percuma. Kamu tidak akan dapat menahannya."
Getaran tanah semakin kuat.
Rasanya seperti aku sedang diintimidasi oleh kekuatan dan kemampuan yang jauh diluar nalar darinya untuk mengakui bahwa dia lebih hebat.
Baiklah. Mari kita lihat terlebih dahulu kemampuan dan kekuatan yang kau miliki saat ini, Fenrir.
__ADS_1
Sebisa mungkin aku menggunakan [Shadow Clone] dan [Transparency] untuk membiarkan diriku yang lain tetap hidup. Tentunya aku tidak langsung membiarkan dia berlari karena sangat berbahaya.
Biasanya Fenrir memiliki hidung dan telinga yang tajam jadi membiarkan lari tanpa berpikir panjang hanya akan membuat diriku yang lain akan dihabisi dengan mudah olehnya.
Itu sebabnya setelah berhasil membuat [Shadow Clone] dan menggunakan mereka dengan [Transparency], aku juga membiarkan mereka masuk ke [Dark Dimension] yang dalam sekejap jatuh ke permukaan salju yang diliputi oleh garis hitam yang perlahan-lahan membesar.
Tentunya itu mungkin disadari oleh Fenrir jadi aku tidak akan terkejut jika dia tahu bahwa aku telah menyiapkan skenario terburuk nantinya.
"....."
Takkan kubiarkan!
"....."
Sebelum sempat mengenai tubuhnya menggunakan [Black Sword], aku tidak dapat menyentuhnya sama sekali.
"Lemah sekali."
Tendangan dilakukan berkali-kali ke tiap sisi yang berbeda.
Sial. Kecepatannya berbeda dari biasanya.
Mungkinkah dia menggunakan kemampuan lainnya saat tubuhnya diliputi oleh aura keperakan sebelumnya?
Jika memang benar, ini akan menjadi akhir untukku. Aku harus melakukan sesuatu sebelum dia melancarkan serangan terakhir.
"Terlambat!"
Mustahil.
Kawanan Fenrir yang menyadari akan pergerakan aku, menggigit pergelangan tangan lalu mencabik-cabik tubuhku dengan cakar mereka berkali-kali.
Untungnya aku masih berada di status pertahanan yang kuat. Mulai dari [Absolute Defense] yang membuat tubuhku kebal terhadap serangan fisik seperti yang dilakukan Fenrir tadi, [Ultimate Barrier] yang berlapis-lapis digunakan untuk membuat diriku terlindungi sepenuhnya dapat menahan segala macam serangan dari cakar dan gigitannya.
Meskipun ada rasa sakit yang menjalar akibat gigitan dan cakar mereka, sebisa mungkin aku menggunakan [Booster Heal] untuk memulihkan semuanya ke kondisi semula.
Situasi ini benar-benar menguntungkan untukku.
Selain aku mulai memahami pergerakannya, aku juga dapat tahu bahwa dia tidak bisa dianggap enteng olehku. Terlepas dari kemampuan dan kekuatannya yang hebat, dia adalah lawan yang mengharuskan aku menggunakan setiap kemampuan dan kekuatan yang kumiliki.
Baiklah. Aku mengandalkan kalian.
Di sekitar Fenrir, dia menyadari bahwa ada yang tidak beres jadi dia mengeluarkan bunga es yang mengambang di udara lalu diarahkan di kedua sisinya.
Bunga tersebut dapat membuat kristal es dalam jangkauan yang luas menyebabkan cloning dari diriku tidak dapat mengenainya akibat penghalang yang dibuatnya.
"Kamu benar-benar meremehkan aku ya, Manusia."
"....."
Tidak membiarkan diriku yang lain pergi, dia dengan mudahnya melenyapkan satu-persatu dari mereka seakan-akan dia berpikir bahwa aku telah salah memperkirakannya.
Padahal aku sendiri sudah menduga itu yang terjadi.
Tapi, aku tidak bisa melakukan apapun sekarang karena belum waktunya bagiku untuk mengerahkan segenap kekuatan yang kumiliki dalam pertarungan sebelum dia mengeluarkan seluruh kekuatannya.
"Kamu benar-benar kuat ya, Manusia."
"Ya, begitulah."
Entah kenapa suasananya berubah menjadi pembicaraan.
Mungkinkah dia merencanakan sesuatu dariku atau dia benar-benar mengakui kehebatan aku sebagai seorang manusia?
"Bolehkah aku tahu namamu?"
"Kenapa kau harus tahu namaku?"
"Bagaimana kalau aku mengatakan bahwa aku menghormati dirimu sebagai seorang manusia?"
Menghormati aku ya.
Sejauh dari pertarungan kami sebelumnya, aku tidak melihat tanda-tanda bahwa dia terlihat ramah dan mudah berbicara terhadap manusia lain.
Setiap kali kami bertempur, dia tampak kesal dan jengkel karena selalu sulit untuk membuatku terluka. Tak hanya itu, dia bahkan berniat untuk membunuhku namun gagal untuk dilakukan.
Semua itu masih membekas dalam ingatan aku jadi kata-katanya tadi kemungkinan besar adalah kebohongan belaka.
"Kamu meragukan aku ya. Jangan khawatir, cepat atau lambat aku akan mengetahui namamu."
Sekali lagi, dia mengeluarkan sesuatu yang tidak aku ketahui.
Di sekitar tubuhnya terdapat aura biru yang kuat yang menyebar membungkus dirinya di dalam kobaran api biru. Selain terbungkus oleh kobaran api biru, bentuknya perlahan-lahan berubah menjadi sosok Fenrir yang besar yang siap untuk menerjang aku dalam sekali serang.
Ini tidak bisa dibiarkan.
Jika aku terus-menerus berada di posisi bertahan, aku akan mati oleh serangannya yang kuat ini.
__ADS_1
Aku dapat merasakannya berkat [Mana Mastery] yang dapat kumiliki dari kemampuan Friya, dan [Elemental Mastery] yang didapat dari Reita benar-benar membuatku tahu atas bahaya yang datang atau tidak, tergantung dari lawan aku sendiri.