
Matahari yang menyingsing miring ke barat menandakan hari sudah sore.
Setelah melakukan perburuan di hutan dengan menghabisi beberapa monster seperti babi hutan berwarna hijau dan kodok albino berwarna putih, Regard dan Sasaki berjalan di jalan setapak di tengah-tengah hutan dalam kondisi hening dan sunyi.
"Sasaki, bolehkah aku tanya sesuatu padamu?"
"Ya. Apa yang ingin kamu tanyakan padaku?"
Langkah Regard yang terhenti membuat Sasaki ikut terhenti di belakangnya. Membalikkan tubuhnya ke arah Sasaki, Regard penasaran atas apa yang sebenarnya terjadi pada Sasaki tentang dirinya sendiri.
Apakah dia menyadarinya atau tidak, Regard memberanikan diri untuk bertanya.
"Apakah kau benar-benar Demi-human yang tidak memiliki mana dalam tubuhmu?"
"Ya, aku yakin itu."
Dengan ekspresi seriusnya, Sasaki berkata dengan wajah senyum penuh dengan keramahan yang mempersilahkan Regard menanyakan apapun yang mengganjal di dirinya.
"Kau sebenarnya bukan Demi-human yang tidak memiliki mana, tapi kau adalah Demi-human yang memiliki mana."
"Eh... Tuan tidak bercanda bukan?"
"Tidak, aku sama sekali tidak bercanda."
Meskipun ekspresi Regard terlihat serius, kata-kata itu hanya sengaja diucapkannya karena Sasaki yakin itu untuk menghibur dirinya karena dia tidak memiliki mana.
Kalaupun dia memilikinya, dia sudah sejak lama membunuh tuannya di masa lalu yang selalu memperlakukannya dengan kasar dan buruk. Tuan-tuan yang telah mempermainkannya, melecehkannya, serta menyiksanya terus-menerus membuat Sasaki tak tahan untuk mengingatnya.
Setiap kali membayangkan masa lalunya yang kelam, Sasaki muak atas dirinya yang tidak dapat melakukan apapun. Tidak peduli seberapa kerasnya dia berusaha, dia tetap tidak memiliki mana sedikitpun, setidaknya itulah yang selama ini Sasaki simpulkan.
"Dengarkan aku, Sasaki, kau memiliki mana di dalam tubuhmu namun dengan cara yang sedikit aneh."
"Aneh?"
"Ya. Singkatnya sesuatu menahan mana di dalam tubuhmu yang menyebabkan itu tidak mengalir dan menyebar ke seluruh tubuhmu."
Berjalan mengitari Sasaki, Regard menjelaskan padanya itu tentang sesuatu yang menahannya. Sasaki yang mendengarnya, dia menundukkan kepalanya dan merenungkan sejenak pada perkataannya.
"Terserah apa kau mau percaya atau tidak, aku bisa langsung tahu saat aku berdekatan denganmu ketika kami mandi bersama."
Matanya yang terkejut mendengar mandi bersama membuat Sasaki teringat darimana tuannya bisa tahu bahwa dia memiliki mana di dalam tubuhnya, tapi tertahan oleh sesuatu yang Sasaki tidak tahu bagaimana bisa itu menahan aliran mananya.
Setahu Sasaki, mana adalah kekuatan dan kemampuan yang diperuntukkan oleh orang-orang tertentu. Alasan mengapa petualang dan penyihir begitu kuat ialah mereka orang terpilih karena telah memiliki mana di dalam tubuh mereka masing-masing membuat mereka kuat dan hebat.
Itulah apa yang Sasaki pelajari selama ini dalam buku-buku yang pernah diambilnya dan diceritakan oleh kedua orangtuanya sebelumnya ketika dia masih kecil.
"Apakah kau penasaran? Aku bisa melepaskannya jika kau mau, itupun kalau kau ingin aku melepaskannya."
Mendengar tawaran menarik dari tuannya, Sasaki berpikir untuk mengetahui apakah itu benar atau tidak.
Jika tuannya sengaja menghiburnya dengan kata-kata tadi, Sasaki memakluminya, begitu juga sebaliknya, jika itu gagal maka Sasaki sudah yakin bahwa dirinya sejak lahir tidak memiliki mana di dalam tubuhnya yang membuat dirinya berakhir sebagai budak yang dioper dari tangan ke tangan oleh beberapa tuannya yang tertarik pada tubuhnya yang seksi.
"Aku penasaran."
"Baguslah!"
Regard mendekati Sasaki membuatnya terkejut atas tuannya yang mengulurkan tangannya ke belakang punggung Sasaki untuk diraba-raba lalu terhenti.
Sudah kuduga.
Tepat seperti perkiraannya, aliran mana yang terlihat rumit saling melilit satu sama lain membuat mana di dalam tubuhnya Sasaki tidak dapat tersebar dengan mudah.
__ADS_1
Akibatnya Sasaki yang menjalani hidupnya sebagai budak mengalami hari-hari yang lebih sulit dari dirinya sendiri yang kehilangan tempat tinggal dan kedua orangtuanya yang dibunuh oleh Stahark.
"Tuan, apakah kamu bisa melakukannya?"
"Ya. Tahan sebentar!"
Walaupun aliran-aliran tersebut terlihat rumit di dalam tubuhnya Sasaki, Regard berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa dia dapat melakukannya.
Apalagi dia yang memiliki class Necromancer, tidak ada satupun kegagalan yang berhasil diraihnya selama beberapa minggu sebelumnya. Membunuh, mengambil jiwa-jiwa tak berdosa dan menyimpannya, serta membangkitkan jiwa melalui tubuh yang tiada, semua itu terus-menerus Regard lakukan setiap hari di malam hari sebelum bertemu dengan Sasaki.
"Tubuhku terasa aneh..."
"Bertahanlah, sedikit lagi!"
Sejumlah aliran mana berwarna ungu menyelimuti punggung Sasaki yang terasa hangat.
Sasaki yang merasakan ada sensasi bergejolak di dalam tubuhnya perlahan-lahan layaknya aliran air, dia terasa bingung dengan reaksi aneh pada tubuhnya sendiri.
Satu-persatu ikatan dari aliran mana yang saling melilit kembali ke jalurnya masing-masing membuat Sasaki menghela nafas lega karena dia tidak mengalami gejala apapun.
"Bagaimana?"
"Aku tidak merasakan apapun."
Dalam sekejap mata, cahaya berwarna perak menyilaukan terlihat membungkus tubuh Sasaki. Regard yang menghalanginya dengan kedua tangan menyilang, dia yakin pada keberhasilannya.
Satu-persatu ekor mulai muncul di belakang Sasaki. Ketika ekor tersebut menjadi delapan ekor, cahaya perak menyilaukan mulai redup memperlihatkan Sasaki dengan tampilan wanita dewasanya yang terlihat sedang terdiam sambil menutup mulutnya dengan salah satu tangannya.
"Berani-beraninya kamu membuatku kembali merasakan angin segar ya, Manusia."
"Siapa kamu?"
"Aku? Aku adalah Goddess of Wolf yang dibanggakan dan diagungkan oleh Kota Ilna, kota dimana seluruh penduduk memujaku dengan penuh hormat dan rasa bersyukur yang tinggi."
Kota Ilna adalah kota yang tidak diketahui oleh Regard. Dikarenakan dia selalu menghabiskan waktunya untuk berburu di area sekitar dan berpetualang di wilayah terdekat dari Kota Farihiora, dia tidak mendapatkan informasi apapun mengenai Kota Ilna.
"Kota Ilna?"
"Ya. Kota dimana para Demi-human tinggal sebelumnya. Kedamaian, ketenangan, kebahagiaan, canda tawa, kesedihan, semua terasa hidup di Kota Ilna."
Berjalan-jalan mengelilingi Regard, Sasaki yang awalnya menjelaskan dengan sukarela pada wajah ramahnya terhenti sejenak. Pandangannya yang berubah menjadi dingin dan tatapannya yang tajam mengarah ke Regard.
Regard yang mengetahuinya, dia hanya diam tanpa mengatakan apapun. Tatapannya yang tajam, ekspresinya yang dingin, keduanya bisa dipastikan kalau sesuatu terjadi pada Kota Ilna dan sosok yang ada di dekatnya sekarang.
"Para iblis telah menyerang Kota Ilna tanpa ampun. Segerombolan monster kuat yang menghabisi Demi-human yang lemah, memperkosa mereka, menjadikannya budak lalu menjualnya, aku tidak tahan atas kebiadaban mereka memperlakukan penduduk aku dengan cara keji."
"Biar aku tebak, kau membunuh mereka karena mereka telah memperlakukan penduduk di kota milikmu dengan kejam."
"Ya, tepat sekali."
Ketika langkahnya mendekati Regard yang hanya berjarak 3 meter dari tempatnya, wajahnya yang didekatkan pada wajah Regard membuat senyum menghiasi bibir Sasaki.
"Aku membunuh mereka dengan tubuh gadis ini."
"Kau benar-benar kejam sekali ya."
"Jangan khawatir, aku melakukannya demi menjaga kedamaian dan ketenangan di Kotaku sebelumnya."
Kata-kata terhenti sejenak sambil terdiam menghadap langit-langit yang dipenuhi dengan dedaunan dan ranting-ranting pohon, serta cahaya sore yang beberapa menit lagi akan turun di arah barat.
"Tapi, mereka yang selamat menganggap aku sebagai orang tak berguna. Hasilnya gadis ini dibuang, dihina, dilecehkan, dan diperlakukan kasar oleh para penduduk membuat kedua orangtuanya melepaskan kepergiannya dan menjadikan dirinya sebagai budak."
__ADS_1
Regard yakin kata-kata itu tidak terlihat bohong sama sekali.
Ekspresinya yang terlihat sedih saat menatap ke kejauhan yang tidak diketahuinya, pengalaman masa lalu yang lebih kelam dari dirinya, serta perlakuan buruk dan kasar yang orang-orang lakukan pada Goddess of Wolf, Regard berpikir masa-masa dia menyelamatkan sebagai seorang pahlawan dianggap sebagai roh jahat yang ditelan oleh kegelapan.
"Ngomong-ngomong Manusia, mengapa kamu memiliki sejumlah mana dalam jumlah banyak di dalam tubuhmu? Apakah kamu benar-benar manusia atau tidak?"
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu."
"Tidak tahu?"
Sorot matanya yang tajam dan ekspresi dingin yang diperlihatkan langsung oleh sosok yang menyerupai Sasaki yang tersenyum pada kata-kata acuh Regard, dia dengan cepat mengeluarkan pedang putih dari balik kimono putih yang dikenakannya ke leher Regard.
"Jawablah aku, Manusia! Apakah kamu seorang manusia atau bukan?"
"Haruskah aku menjawabnya?"
"Apa maksudmu?"
Menusuk leher Regard tanpa ampun, tubuhnya tersungkur ke tanah dengan darah yang mengalir di lehernya membuat dia kesulitan untuk bernafas dan berbicara.
Jika saja Regard tidak menahannya, dia akan mati. Itu sebabnya dia sengaja membiarkan Sasaki menusuk lehernya agar membuktikan bahwa dia tidak memperlakukan perlawanan, tapi sepertinya perkiraannya salah.
"Aku akui kamu masih bisa bertahan, tapi bagaimana dengan yang satu ini?"
Salah satu lengan kirinya yang membuka telapak tangan diangkat ke atas dari bawah membuat jeruji yang terbuat dari tulang-tulang menusuk daging di tubuhnya menyebabkan darah mengalir deras membasahi permukaan tanah dengan cepat.
"Menyedihkan sekali."
"Ya, kau benar. Aku menyedihkan karena aku belum melakukan persiapan."
Jauh dari tempatnya berada, sosok yang familiar dengan suara yang dikenalnya membuat Sasaki menoleh ke belakang dan menatapnya dengan tajam dan dingin atas kehadirannya.
Sosok yang muncul adalah sosok Regard yang mengenakan jubah hitam dan tudung yang menutupi rambutnya berkibar terkena angin yang berhembus kencang.
Regard yang berjalan pelan ke Sasaki membuat langkahnya diikuti oleh cahaya keunguan muda yang bersinar setiap kali sepatunya menyentuh permukaan tanah.
Memperlihatkan mana yang sengaja dialirkan jelas melalui telapak kakinya, Sasaki terkejut bahwa dia mampu mengendalikannya. Tapi sesuatu yang aneh dapat dirasakannya, kegelapan yang menyelimuti tubuh Regard dapat terpancar jelas melalui aura dibalik jubahnya.
"Kau telah memulainya terlebih dahulu jadi..."
Sepasang kabut menyelimuti kedua lengan Regard lalu berubah menjadi pedang hitam yang sudah digenggamnya.
"Kau akan tahu akibatnya, Nona."
Trang!
Sekali tebasan dapat ditangkis dengan mudah oleh Sasaki yang menggunakan pedangnya yang berasal dari tulang-tulang miliknya.
Menjaga jarak dengan mundur dan menjauh, Sasaki menembakkan rentetan bulu-bulu dari ekornya yang berubah jadi pisau belati membuat Regard kesulitan untuk mendekatinya.
Walaupun dia kesulitan untuk mendekatinya, Regard tetap berdiri seimbang sambil menangkis rentetan tembakan dari bulu-bulu ekor Sasaki yang berubah menjadi pisau belati dengan kedua pedang hitamnya.
"Rasakan ini, Manusia!"
Beberapa bola berwarna merah diarahkan pada Regard melalui ketiga ekor Sasaki. Bola berukuran sedang melesat dengan cepat ke arah Regard yang perlahan-lahan cahaya kemerahannya semakin terang dan berubah menjadi warna oranye menyilaukan pandangan Regard lalu meledak.
Asap hitam yang membumbung tinggi dapat dilihat oleh Sasaki yang kembali ke postur tubuhnya yang tegap membuatnya terlihat lebih berwibawa sambil memperhatikan sosok Regard di dalam asap hitam yang perlahan-lahan sirna oleh angin.
"Menarik. Apakah itu cara kau bertahan hidup dan menghabisi banyak iblis?"
Langkah kaki yang terdengar mendekati Sasaki, sosok yang terlihat sebagai Regard mengeluarkan cahaya kemerahan dari salah satu matanya yang mirip seperti kobaran api.
__ADS_1
Sasaki yang tidak mau dirinya didekati oleh pria tersebut, dia dengan cepat melemparkan beberapa bola berwarna biru langit yang berjumlah dua bola berukuran besar. Bola tersebut berubah menjadi terang lalu menyebarkan udara dingin yang membuat udara di sekitar menjadi beku dalam sekejap.
Regard yang terdiam membeku layaknya es membuat Sasaki yakin bahwa itu berhasil menghentikannya. Sebelum dia dapat memastikannya, dia dengan cepat mengakhiri pertarungan menggunakan kemampuan terkuatnya.