
"Apakah ini tempatnya?"
Dihadapan mereka di pagi hari, sebuah kota membentang luas di permukaan. Kota yang megah dan mewah dapat dilihat jelas oleh mereka.
Dibalik kota yang megah dan mewah, beberapa dari mereka merasakan ada yang tidak beres di kedalaman kota layaknya kegelapan yang berada cukup dalam di Lost Town.
[Dark Eye]
Mengamati situasi yang ada di dalamnya, jiwa-jiwa yang saling berterbangan dapat dilihat Regard.
Jiwa-jiwa itu berteriak meminta tolong disertai dengan tangisan dan keputusasaan.
Menyudahi [Dark Eye], perlahan-lahan Regard melangkah ke pintu masuk gerbang yang dilihatnya terdapat jiwa-jiwa yang diliputi oleh kebencian dan dendam membentuk sebuah gerbang ke dunia berbeda.
"Regard..."
"Kalian tetap diluar. Biarkan aku yang masuk."
"Baiklah."
"Berhati-hatilah, Regard!"
"Ya."
Membuka gerbang lalu memasukinya, pintu gerbang tertutup sendiri.
•••••
Regard POV
Berjalan beberapa langkah, aku tidak menemukan apapun yang menjadi tanda-tanda jiwa-jiwa ini bergentayangan.
Apakah perkiraan aku salah?
Hmmm...
Sedikit demi sedikit, ingatan mulai masuk ke dalam kepalaku.
Menahan rasa sakit yang kuat di kepala, aku sebisa mungkin untuk tidak tumbang karena akan merepotkan mereka, orang yang berada diluar jadi aku menguatkan diri.
Setelah beberapa saat, rasa sakit itu sirna.
Barusan itu...
Aku mulai sedikit paham.
Lost Town adalah kota yang tidak terlupakan melainkan kota bekas Hu-Machina melenyapkan gedung-gedung, jiwa-jiwa yang tak bersalah, dan menghabisi semuanya tanpa sisa yang menyebabkan jiwa ini diliputi oleh kebencian dan dendam.
Kegelapan yang dapat dilihat menggunakan [Dark Eye] merespon bahwa ini sepenuhnya berasal dari kegelapan sebelum mereka tiada.
Sekarang yang diperlukan ialah waktu yang tepat.
Dikarenakan ada penghalang besar yang mengharuskan mereka masuk ke Lost Town dalam waktu tertentu, aku penasaran akan seperti apa pemandangan yang ditampilkan nantinya.
Bergegas keluar, aku mendekati mereka.
"Bagaimana?"
"Apakah berbahaya?"
"Adakah dalang yang melakukannya?"
Menggelengkan kepala sebagai tanda tidak, mereka lega mendengarnya.
"Kita akan menunggu hingga malam hari."
"Malam?"
"Jika kita masuk ke Lost Town di malam hari maka..."
Menepuk pundak Sasaki yang terlihat tertekan atas suatu hal, aku meyakinkannya dengan tatapanku.
"Baik."
Dia dengan cepat setuju dan menyerah.
Berkat keputusan yang aku buat, kami terpaksa membangun istana kecil diluar sambil menunggu malam tiba.
Mengenai Sasaki...
Aku sedikit terkejut bahwa ketika dia tertidur, aku melihat masa lalu yang terjadi pada Hu-Machina yang berhasil aku bunuh sebelumnya.
Masa lalunya bisa dikatakan terkait dengan kehancuran Lost Town. Jadi, besar kemungkinan alasan perasaan ragu dan bimbang dirasakan oleh Sasaki ialah karena dia dulu menyerang kota ini.
Jujur saja, kota ini terlihat indah dan cantik untuk ditempati sebelumnya. Tapi karena mereka telah dihancurkan dan ditiadakan, aku ragu pada para penduduk maupun pedagang yang hendak singgah di Lost Town.
__ADS_1
Selama kami menunggu malam tiba, aku dan Fenrir seperti biasa berlatih.
Berbeda dengan aku, Sasaki dan Shilph yang berlatih pertarungan kemungkinan besar mereka ingin Sasaki dapat mengendalikan dirinya untuk bisa mengerahkan kekuatan dan kemampuannya sebagai Hu-Machina.
Reita dan Friya, mereka menyiapkan kebutuhan untuk makan siang dan sore jadi kami sedikit terbantu berkatnya.
Kami menunggu, dan menunggu.
Akhirnya telah tiba.
Senja mulai muncul dan menyisakan beberapa menit hingga akhirnya matahari terbenam.
"Lelah sekali."
Meskipun tubuhku dapat kembali pulih, aku malas menggunakannya yang menyebabkan beban berat dapat dirasakan langsung olehku.
Menjalani rutinitas harian dengan berlatih bersama Fenrir terasa melelahkan.
Apalagi jika niat kami berdua serius, tidak ada yang dapat mengalahkan kami selama bertarung maupun memisahkan pertarungan yang terjadi diantara kami berdua.
"Ini!"
"Terimakasih, Sasaki."
Oh...
Sepertinya dia masih belum menerima perlakuan khusus dari Sasaki ya.
Memperhatikan wajah kesal dan benci atas sikap penuh perhatian Sasaki padaku, Fenrir sedikit cemburu.
Itu wajar. Selama ini aku dan dia selalu dekat layaknya sebuah keluarga kecil, tapi kali ini Sasaki datang dan berniat merebutnya. Jelas kalau Fenrir marah atas kehadirannya yang mendadak.
Sudahlah.
Cepat atau lambat, mereka dapat memahami dan menerima satu sama lain.
"Apakah kalian siap?"
"Ya."
"Tentu."
"Apapun yang terjadi, kita akan bersama-sama."
Kedengarannya menarik.
Melangkahkan kakiku terlebih dahulu ke depan, mereka mengikuti aku dari belakang.
•••••
Seluruh langit dan bangunan kota yang diselimuti perlahan-lahan berubah menjadi kota yang hidup.
Para penduduk kota dan ksatria kerajaan yang ada di dalamnya, mereka saling lewat dalam menjalani aktivitas mereka sehari-hari di malam hari.
Diantara mereka ada para petualang yang sedang tawar-menawar, ada pedagang yang sedang berteriak, ada keluarga yang sedang menikmati waktu istirahat di malam hari, dan lain-lain sebagainya.
"Indah sekali ya."
"....."
Di setiap pandangan yang mereka perhatikan, Regard teringat bahwa keluarganya sudah tiada jadi dia sedikit merindukannya.
Namun kerinduannya terhadap mereka tidak akan Regard lakukan dengan mayat hidup atau cloning dari dirinya sendiri, sebaliknya, dia tetap akan mengingat kedua orangtuanya di dunia ini agar tahu bahwa perjuangannya sebagai manusia lemah menuju manusia terkuat membutuhkan usaha yang maksimal.
"Apakah kalian merasakan sesuatu?"
"Tidak."
"Kami tidak merasakan apapun."
"Kenapa kamu menanyakan itu pada kami?"
"Tidak ada."
Tersenyum, Regard menduga itulah yang terjadi.
Ruangan ini diselimuti oleh kegelapan di malam hari, merekayasa kejadian yang berulang kali sama di tiap malam terhadap orang-orang yang singgah di Lost Town agar mereka tahu bahwa kota ini dahulunya adalah kota hidup.
Namun Regard tidak memberitahukan pada mereka karena dia sadar kalau Lost Town tidaklah berbahaya, tapi hanya sebuah kota yang menunjukkan kenangan masa lalu kelam terhadap mereka, para pengunjung.
Semakin mereka melihat ke kedalaman kota, mereka menemukan berbagai macam toko-toko yang masih terbuka.
Mulai dari pedagang aksesoris, makanan, cemilan, perlengkapan, dan lain-lain dapat dilihat di setiap jalan yang mereka lewati.
"....."
__ADS_1
"Ada apa, Reita?"
Reita yang tiba-tiba menghentikan langkah kakinya di suatu gedung yang luas dan tinggi, tersenyum.
Shilphonia dan Friya yang menyadarinya menanyakan itu padanya, berpura-pura tidak tahu. Padahal mereka jelas tahu atas apa yang dipikirkan oleh Reita saat melihat bangunan tersebut ada di depannya.
"Apakah kamu mengingatnya, Regard?"
"Ya."
"Tempat ini adalah dimana Tuan memberikan aku kehidupan ya."
Tidak hanya Reita, Sasaki juga kembali teringat akan masa lalu saat dia diselamatkan oleh Regard yang dibeli olehnya di suatu restoran.
Kedatangan Reita dan Sasaki tidak akan Regard lupakan.
Mulai dari Sasaki, tempat perjalanan awalnya yang selalu bekerja keras di Guild Petualang dengan membantu mencarikan informasi penting dan khusus agar dia bisa menyelesaikan misi yang sedikit lebih berbahaya.
Reita yang dianggap sebagai adik barunya. Dia adalah petualang kedua yang mau masuk ke Guild Petualang bersamanya menjalankan misinya bersama Regard, meskipun misi yang mereka ambil hanya misi yang mudah untuk dikerjakan.
Dalam sekejap mata, seluruh suasana tiba-tiba berganti menjadi malam yang gelap gulita.
Seluruh penduduk kota baik itu petualang, pedagang, dan para pengunjung telah menghilang dari tempat mereka berada tergantikan oleh tiap-tiap bangunan rumah yang telah tertutup pintu dan jendela, serta lampu di dalam telah semuanya dimatikan.
"Lihatlah!"
Di atas langit-langit, sekelompok makhluk terbang menghiasi malam yang cerah yang dipenuhi dengan cahaya bulan yang menyinari kota.
"Mereka..."
"Ya. Tidak salah lagi, mereka adalah Hu-Machina."
Beberapa orang yang menyadari bahwa kelompok itu adalah Hu-Machina sama sekali tidak membuat Regard bergerak sedikitpun dari tempatnya berada.
Regard yang tetap tenang dan diam membuat mereka yang melihat ke arahnya, bertanya-tanya atas sikapnya.
Setahu mereka, Regard sangat membenci Hu-Machina melebihi apapun. Tapi kali ini, terlihat jelas kalau ketenangan dan kediamannya benar-benar diluar dugaan yang sama sekali tidak mereka mengerti.
"Jangan khawatir, ini hanya ilusi belaka."
Dengan kata-katanya yang terdengar pelan namun dapat terdengar, mereka terkejut atas fakta yang ada.
Baik itu Shilphonia, Friya, Reita, Fenrir, dan Sasaki telah diperdaya oleh keindahan dan kehidupan yang ada di kedalaman kota hingga akhirnya mereka hampir lupa bahwa Lost Town sepenuhnya telah tiada sejak lama.
"Lihat dan perhatikan baik-baik!"
Setelah selesai mengatakan itu pada mereka, Regard tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya ke arah lain melainkan tetap fokus pada sekelompok sosok yang disebut sebagai Hu-Machina.
•••••
Regard POV
Rentetan misil ditembakkan oleh Hu-Machina dalam jumlah banyak. Sebagian besar misil berukuran kecil mengenai rumah-rumah dan menghancurkan hampir dari seluruh bangunan kota yang ada.
Para penduduk kota yang berlari karena panik dan takut diikuti oleh para ksatria kerajaan yang mencoba melawan mereka namun gagal karena musuhnya terlalu kuat, mereka akhirnya dibunuh.
Orang tua, anak-anak, lansia, semuanya dibunuh oleh kekejaman yang diperlihatkan oleh Hu-Machina.
Setiap kali mereka melihat mereka berhamburan di luar rumah, sebagian dari kelompok Hu-Machina turun ke permukaan, menebas tubuh, lengan, dan kepala tanpa ada rasa simpati yang menyelimuti wajah dan hati mereka.
Sebaliknya, ekspresi yang mereka perlihatkan terlihat tanpa emosi yang menandakan bahwa mereka adalah mesin pembunuh berantai yang dikendalikan oleh seseorang.
Hanya itu tragedi yang dapat kami lihat.
Sisanya tidak ada lagi tragedi yang menakutkan dan menyeramkan untuk kami lihat saat fajar menyingsing dan menyinari kota ini.
"Benar-benar mengerikan."
"Mereka selalu bertindak kejam dan tiada ampun tanpa mempedulikan orang-orang sekitar."
"Itulah Hu-Machina."
Bahkan Shilph yang tahu bahwa dia pernah melihatnya, aku tidak menanyakan apapun tapi terkejut atas informasi yang dimilikinya sangatlah luas.
Biasanya aku akan takjub pada informasi yang didapat dari Sasaki sebelumnya di kehidupan lama aku, tapi sekarang berbeda.
Berkat Shilph, aku jadi sedikit tahu dunia luas yang menunggu kedatangan kami. Entah apapun masalahnya, selama dia memiliki informasi yang cukup akurat, dia adalah orang kedua yang tak tergantikan dari Sasaki.
•••••
"Hancurkan... bunuh... musnahkan..."
Di dalam ruang bawah tanah, seorang pria dengan mulutnya yang bergumam berjalan ke arah tangga.
Tubuhnya yang diselimuti oleh kegelapan, kulitnya yang kering yang dapat terlihat tulang dari tubuhnya dan mengendur, serta cara jalannya yang lambat dan terhuyung-huyung tampak tidak bersemangat melainkan lesu.
__ADS_1
"Hancurkan... bunuh... musnahkan..."
Dengan mata merahnya yang menyala dibalik kegelapan, sosok itu menghilang di udara hampa seolah-olah dirinya tidak ada di tempatnya berada.