
Pagi cerah membentang luas di langit-langit. Udara yang dingin diikuti oleh cahaya mentari yang hangat membuat nuansa pagi terasa nyaman untuk dikerjakan.
Di alun-alun kota, seluruh penduduk kota berkumpul. Tak hanya penduduk kota di Kota Resihei, ada juga beberapa petualang, pedagang, dan bangsawan yang memperhatikan kedua orang yang saling berhadapan menjaga jarak yang cukup jauh satu sama lain dengan pedang yang ada di keduanya.
"Apakah kamu siap?"
"Ya."
Gadis berambut putih yang memegang pedang di pinggangnya menarik dari sarung pedangnya.
Tatapannya yang tajam, ekspresi yang serius diarahkan pada pria yang ada di kejauhan. Pria itu tentu sadar atas tatapannya yang seakan-akan membenci dirinya yang pria itu tidak tahu atas apa yang pernah dia perbuat padanya.
Setahu pria yang ada di depannya, Regard, dia tidak melakukan apapun di hadapan umum baik itu dirinya sebagai petualang biasa dan pemula maupun pemimpin dari The Necromancer, keduanya tidak diakui dan diketahui oleh publik.
"Hiyaaaa!"
Menerjang langsung ke arah Regard, gadis berambut putih panjang dengan pedang metal di tangannya mulai menebas ke arah perutnya.
Gawat!
Bunyi benturan terdengar nyaring di sekitar.
Ini...
Terkejut atas pedangnya yang mampu bergerak dalam posisi bertahan, gadis berambut putih panjang, Liliana mundur dan menjauh.
Bisa dikatakan Regard cukup kuat untuk Liliana perhatikan.
Mulai dari gerakannya yang seharusnya bisa mengenai bagi perut kirinya dapat ditahan dengan mudah, yang Liliana perhatikan sebelumnya bahwa Regard tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri.
"Ada apa?"
"Tidak ada."
Memfokuskan diri pada apa yang akan dilakukannya, Liliana kembali menerjang langsung ke Regard dengan kecepatan tinggi.
Menebas udara kosong yang ada di depan, Liliana menghunuskan pedangnya untuk mengincar tubuh Regard. Regard yang tahu itu akan menargetkan tubuh di sisi kiri, menggerakkan langkahnya untuk menghindari serangannya.
Jarak antara tubuh dan pedangnya terbilang tipis beberapa inci yang mampu dilihat oleh mereka berdua.
Memperlebar jarak diantara mereka, Liliana terkejut atas kemampuannya dalam menghindari serangannya. Dia yang awalnya berpikir dapat melukai dan menggoresnya sedikit saja, dia akan keluar sebagai pemenang.
Tapi, Regard terlihat lebih kuat dari perkiraannya.
Aku tidak boleh menyerah.
Sekali lagi, Liliana yang dengan cepat berlari mengitari Regard membuat angin di sekelilingnya berhembus kencang oleh kelincahannya dalam bergerak.
Regard yang masih terdiam di tempatnya sudah menduga bahwa dia akan mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatannya untuk dapat keluar sebagai pemenang.
Dalam kamus kehidupan Regard, dia mampu menghabiskan dan melenyapkan musuhnya dalam sekejap, asalkan musuhnya adalah orang jahat atau iblis yang selalu berbuat kejam dan mengerikan pada orang-orang.
Tapi, dia tidak dapat merasakan apapun saat berhadapan dengan Liliana yang artinya dia tidak akan mengerahkan apapun di pertandingan kali ini.
Setiap kali Liliana bergerak dari segala sisi, Regard dengan ringan menangkis rentetan tebasan yang dilakukan berkali-kali yang menghunus ke kepala, tubuh, dan bahkan kakinya.
Kenapa dia tidak bisa dilukai?
Tidak mengerti atas apa yang terjadi, Liliana tetap melancarkan serangannya pada Regard tanpa ampun.
Sedikit demi sedikit, goresan dapat dilihat di wajah, kulit lengan dan kakinya, serta tubuhnya yang terdapat goresan melalui lubang di pakaiannya menandakan bahwa Liliana berhasil melakukannya.
Hanya sedikit gerakan lagi, dia akan berhasil menang dengan mudah.
Menjauh dari Regard, Liliana mengangkat pedang yang digenggam kedua lengannya ke langit. Udara terasa berhembus kencang diikuti oleh aura keperakan yang menyelimuti tubuhnya, serta spiral yang dapat terlihat berwarna perak yang ada di sekitar ujung pedang.
Dia benar-benar akan melakukannya ya.
Secara diam-diam, Regard juga tahu ini akan terjadi jadi dia hanya bisa pasrah dan memilih untuk mengetahui sejauh mana musuhnya memiliki kekuatan dan kemampuan melebihi dirinya atau tidak, dia hanya perlu memeriksanya.
Selesai mengumpulkan udara di sekitar, Liliana dengan cepat bergerak ke Regard untuk memperpendek jarak diantara mereka.
Ini...
Sulit dipercaya oleh Liliana, Regard dengan cepat maju ke arahnya, melepaskan pedang di tangannya dan tersenyum percaya diri padanya.
Di kedua arah yang berbeda, spiral yang terbentuk dari angin bergerak cepat sesuai gerakan Liliana.
__ADS_1
Liliana yang tahu ini tidak akan membiarkan kesempatan itu hilang. Dia dengan udara yang mengitari ujung pedangnya menusuk perut Regard. Diikuti oleh kedua spiral angin dari kedua sisi, mereka dengan cepat mencabik-cabik tubuh Regard menyebabkan lukanya semakin fatal.
Memperhatikan kondisi Regard, Liliana berpikir bahwa tindakannya terlalu ceroboh.
Membuang pedang dalam pertandingan sama seperti bunuh diri.
Tak peduli apakah musuh lebih kuat dari dirinya atau tidak, selama Liliana yakin dia masih memegang pedangnya, dia sanggup melawan apapun yang mengancamnya.
Tapi, Regard sama sekali tidak melakukan apapun.
"Apakah dia mati?"
"Kenapa dia begitu kejam?"
"Bukankah seharusnya dia membiarkan dia untuk tetap hidup?"
Dibalik kemenangan mutlak dari Liliana, para penduduk kota yang memperhatikan situasi di pertandingan merasa kasihan atas kondisi Regard.
Selama bertarung, mereka tidak tahu atas apa yang mereka lihat sebelumnya. Tapi kali ini, di depan mereka, terlihat seorang pria dengan tubuhnya yang terluka parah dan genangan darah yang keluar dari goresan dalam di tubuhnya membuat mereka tidak tega untuk memperhatikannya.
"Aku harap kamu dapat tenang di alam sana."
Meletakkan pedangnya ke sarung pedang, Liliana berjalan menjauh darinya.
Seperti yang diduga Liliana, Regard lemah dan tidak mampu menandinginya. Asalkan dia memiliki latihan yang cukup banyak, dia tidak akan terkalahkan. Itulah sebabnya Liliana penuh percaya diri mampu melenyapkan keberadaan yang disanjung tinggi oleh gurunya sebelumnya.
Kau benar-benar hebat ya.
Tapi...
"....."
Tepat ketika beberapa langkah dibuat Liliana, tubuhnya terluka parah. Darah keluar daru luka-lukanya membuat genangan darah menyebabkan kesadarannya perlahan-lahan samar dan memejamkan matanya.
Berhasil.
Berpura-pura untuk tiada, Regard sengaja pingsan agar mendapatkan simpati lebih dari para penduduk kota.
Dia yang tahu atas setiap gerakan yang dilakukan Liliana telah menentukan hasil yang pantas untuk dinyatakan sebagai pemenang. Meskipun Liliana tidak menyadari gerakannya yang lebih cepat dari dirinya, Regard telah sebisa mungkin menyiapkan beberapa tebasan tak terlihat yang tidak langsung dirasakan oleh Liliana.
Itulah mengapa Regard yang berpura-pura tiada membiarkan Liliana menang untuk membanggakan dirinya lalu menghancurkannya begitu saja di depan mereka.
•••••
Trik dan tipuan berjalan lancar.
Setelah mendapatkan perawatan selama tiga hari, tubuhku dipenuhi perban di setiap sisi membuatku merasa tidak nyaman terus-menerus mengenakan ini di setiap harinya.
Padahal kalau aku katakan dengan terus terang, aku sudah sepenuhnya pulih. Tapi karena aku tidak bisa membiarkan orang-orang tahu bahwa aku sudah pulih, aku terpaksa harus menggunakan perban ini setiap harinya.
Benar-benar menyedihkan ya.
Kembali mengingat atas apa yang aku lakukan, aku puas terhadap hasilnya.
Selama beberapa kali, aku bergegas cepat menggunakan [High Acceleration] untuk bisa leluasa bergerak tanpa diketahui oleh musuh. Setelah berhasil, aku menggunakan [Unlimited Slash] berkali-kali pada tubuh Liliana.
Sebelum aku menggunakan [Unlimited Slash], aku menggunakan [Transparency] agar bisa menutup kesadaran darinya bahwa aku belum melukainya.
Tepat ketika dia sadar bahwa dia memenangkan pertandingan, aku menarik jari telunjuk untuk membiarkan [Transparency] tidak aktif agar memperlihatkan luka parah yang berhasil aku perbuat padanya selama pertandingan tanpa disadarinya.
Memang terdengar licik dan kejam.
Terlepas dari perkataan Paman Veru, dia memberitahu padaku bahwa pertandingan harus diadakan tanpa perlu menggunakan kemampuan dan kekuatan khusus dari masing-masing pihak.
Aku malah menggunakannya dan mengotori acara pertandingan pedang dengan tanganku.
Yah, aku yakin dia pasti tidak akan tahu jadi tidak apa-apa untuk melakukannya bukan. Jika aku tidak melakukannya, aku akan tiada oleh kehebatan dari kemampuan pedang milik Liliana.
Lupakanlah.
Selama aku tidak terkalahkan, aku yakin cepat atau lambat dia membiarkan aku pergi agar dapat menikmati aktivitas harian tanpa ada yang mengganggu kesibukan aku selama ini.
•••••
"Apakah kau baik-baik saja, Ketua Liliana?"
"....."
__ADS_1
Bangun dari tidurnya, Liliana merenung sejenak atas apa yang terjadi sebelumnya.
Sepengetahuannya, dia berhasil memenangkan pertandingan di alun-alun kota di Kota Resihei. Tapi, dia tidak tahu atas apa yang terjadi yang membuat dia bingung terhadap luka yang dialaminya.
Lukanya bisa dikatakan tidak ringan melainkan fatal yang membutuhkan waktu lama bagi Liliana untuk sadarkan diri selama beberapa hari.
"Ketua Liliana?"
"Aku baik-baik saja. Terimakasih telah mengkhawatirkan aku."
Meskipun kepalanya masih dipenuhi dengan pertanyaan, Liliana bangkit dan bergegas untuk menemui Regard kembali.
Dirinya yang masih sulit mengerti atas apa yang terjadi sebelumnya ingin meminta penjelasan dari Regard terhadap apa dia bisa dengan mudah melancarkan serangannya pada dirinya yang seharusnya sudah berhasil menang.
Apakah dia memiliki kekuatan dan kemampuan tersembunyi?
Menurut Liliana, itu mungkin saja benar.
Regard yang menurutnya aneh, dia dengan mudah membuang pedang yang satu-satunya senjata yang digunakan untuk pertandingan melawannya.
Apalagi Liliana ingat atas senyumannya yang aneh. Percaya diri dan yakin, itulah apa yang dapat didefinisikan oleh Liliana saat melihat senyum dan ekspresi dari Regard.
Di dalam penginapan, Regard baru saja bangun dari tidurnya.
Tidak seperti hari-hari sebelumnya sejak Sasaki tidak ada di sekitar mereka, kali ini dia tidur bersama dua orang di dekatnya, Yuuya dan Sasaki. Keduanya masih tertidur dan memeluk tubuh Regard dengan erat.
Benar-benar deh.
Melepaskan pelukan mereka, Regard dengan cepat melangkah ke jendela. Udara yang sejuk dibuka dari jendela membuat cuaca di dalam terasa nyaman di pagi hari.
"....."
"Kalian sudah bangun ya."
"Ya."
Fuuya yang bangun terlebih dahulu mengusap matanya dari kantuk yang menyerangnya. Kemudian Sasaki yang bangun beberapa detik lebih lama, dia dengan ekspresi diam menatap sekitarnya.
Seringai senyuman terlihat jelas di bibir Fuuya.
Tidak melewatkan kesempatan yang ada, dia dengan cepat berjalan ke Regard dengan ekspresi kantuk di wajahnya dan memeluknya dengan erat.
"Ada apa, Fuuya?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin memelukmu di pagi hari."
Tersenyum pahit atas kelakuan Fuuya, Regard tidak tahu harus bagaimana.
Memperhatikan ke Sasaki, dia mendapati dirinya yang terlihat cemberut saat tahu bahwa Fuuya mengambil garis start terlebih dahulu untuk merebut dan memikat hati tuannya, Regard.
Seperti biasanya ya.
Hanya bisa pasrah atas keadaan sekitar, Regard sudah terbiasa akan hari-hari barunya yang berbeda dari dirinya bersama Fuuya di waktu itu.
"Hentikan keributan terlebih dahulu! Kita lebih baik mandi ke pemandian umum. Mengerti?"
"Ya."
"Baik."
Regard yang berjalan ke lemari untuk mengambil pakaian dan handuk yang disediakan, bingung atas gerakan mereka yang terlihat sama seperti dirinya.
Kalian tidak perlu ikuti aku.
Dia ingin mengatakannya namun sulit untuk dikeluarkan.
Keduanya adalah orang yang bisa dikatakan sudah menjadi bagian dari temannya di The Necromancer miliknya, tapi hanya saja Regard masih belum bisa menghapus bayang-bayang akan kehancuran yang terus-menerus berulang kali diingatnya di Desa Elforia, desa tempat tinggalnya.
Keluar dari kamarnya, mereka bertiga bergegas menuju ke pemandian umum yang disediakan di penginapan.
Beberapa menit yang lalu sebelum Regard dan kedua gadis di sisinya pergi, dia dengan segera mengubah penampilannya menggunakan [Illusion] pada dirinya.
Mulai dari rambut hitam panjang, kulit putih yang mulus dan lembut, payudara yang besar dan menonjol, pinggang ramping dengan tubuhnya yang kurus, serta bokongnya yang menonjol benar-benar terlihat seksi.
Apalagi dia mengenakan pakaian tidur yang tipis yang dapat terlihat jelas ****** dan paha miliknya ketika dia berjalan.
Mereka berdua yang ada di dekat Regard, tersenyum.
__ADS_1
Perubahan Regard yang mendadak membuat mereka tidak jijik maupun takut, sebaliknya, semakin Regard mengubah jenis kelamin dan penampilannya, mereka semakin ingin dekat dengannya meski dia berubah menjadi sesama jenis seperti mereka berdua.