The Necromancer

The Necromancer
Ch. 36:Pesta dan Rumor


__ADS_3

Sehari sesudah kejadian di Ibukota Finier, para Ksatria Kerajaan datang bersama kuda yang tiba di waktu fajar.


"Kenapa tidak ada yang terjadi?"


"Apakah ada sesuatu yang kita tidak kita ketahui?"


"Aku tidak tahu."


Seorang gadis berambut putih panjang yang memperhatikan dengan seksama kebingungan atas Ibukota Finier yang berada di bagian utara tidak hancur maupun terbakar akibat keganasan monster yang terjadi sehari yang lalu.


Apakah seseorang telah melakukan sesuatu?


Berinisiatif untuk mengetahuinya, gadis berambut putih panjang dengan kudanya berjalan pelan ke dekat pintu gerbang untuk mengintip di kedalaman kota yang dilihatnya.


Tidak ada tanda-tanda bahwa kehancuran terjadi baik itu bangunan yang runtuh, puing-puing, bekas hitam akibat ulah Wyvern, semua tidak terlihat olehnya.


"Ketua, bisakah kita masuk untuk menginvestigasi lebih lanjut?"


"Ya."


Mereka bergegas memasuki gerbang dan melihat-lihat di kedalaman yang tidak ada satupun penduduk kota yang menghuni di Ibukota Finier bagian utara melainkan hanya keheningan dan kesunyian.


"....."


Salah seorang Ksatria Kerajaan yang tidak sengaja melihat sesuatu di atas permukaan di dekat bangunan Guild Petualang terdiam sesaat dan merenung.


"Ketua, cepatlah kemari!"


"Baik."


Tidak hanya gadis berambut putih panjang, para Ksatria Kerajaan lain datang dan mulai melihat ke salah satu ksatria yang sedang melihatnya.


"Ini...."


Di depan mereka terlihat jelas tulisan yang terbuat dari darah yang mengering dengan nama "The Necromancer" yang tertera di bangunan yang ada di Guild Petualang.


The Necromancer?


Gadis berambut putih panjang yang terdiam yang turun dari kuda merenung sejenak.


Baginya, The Necromancer adalah nama asing yang belum diketahuinya selama ini. Tidak ada tanda-tanda bahwa nama tersebut berasal dari nama petualang maupun nama yang pernah didengarnya sebelumnya, sebaliknya, nama itu sendiri merupakan nama baru yang masih belum diketahui darimana asal-usulnya.


Apakah ini ulah iblis?


Satu-satunya dugaan yang kuat yang dapat diperoleh adalah iblis yang melakukannya.


Fakta Iblis dikenal sebagai makhluk yang mampu mengendalikan class Necromancer dapat membangkitkan jiwa yang telah tiada, memanggil para skeleton dan undead, serta memiliki entitas tinggi melebihi makhluk-makhluk pada umumnya.


"Apakah kita harus melaporkan kejadian kali ini?"


"Tidak, kita akan menetap di Ibukota Finier di bagian tengah."


"Baik."


Meskipun ada dugaan yang melakukannya adalah iblis, gadis berambut putih panjang berpikir jika melaporkan ini lebih awal maka ada kemungkinan sesuatu yang berkaitan dengan The Necromancer dan Iblis masih minim dan bisa saja menjadi kesalahpahaman yang ada di kerajaan tempat dia tinggal.


•••••


Regard POV


Seminggu telah berlalu sejak kami tiba di Ibukota Finier bagian tengah.


"Hei, apakah kau dengar bahwa The Necromancer telah melakukan hal yang luar biasa?"


"Benar. Mereka telah melakukan kehebatan yang tidak akan pernah bisa dilakukan oleh manusia manapun."


"Mungkinkah mereka adalah iblis?"


"Jangan berkata sembarangan! Mereka mungkin berasal dari para pahlawan yang datang untuk membantu kita."


Di sepanjang jalan, aku, Reita, Fuuya, dan Sasaki mendengar banyak rumor baru yang terjadi di kalangan penduduk selama kami tinggal dua hari yang lalu.


Berita itu sendiri tidak lain adalah kelompok kami, The Necromancer.


Yah, aku menduga itu akan menyebar dengan cepat karena aku sengaja meletakkan nama The Necromancer di bangunan Guild Petualang yang ada di Ibukota Finier bagian utara. Alasannya sederhana yaitu aku ingin menjadikan nama itu misteri sekaligus tanda tanya bagi siapapun yang melihat nama kami.


Bukan bermaksud untuk pamer atau apa, aku melakukannya demi mengembalikan kota yang hancur sebelumnya.


Meskipun ada beberapa dari Ibukota Finier yang hancur di bagian lain seperti barat dan timur, aku tidak mau melakukan apapun selain dari tugas sebelumnya.


Apalagi jika diharuskan untuk menghidupkan kembali para penduduk dan Ksatria Kerajaan yang telah tiada akibat keganasan dan kekejian para monster yang membunuh mereka, aku tidak sudi menggunakannya pada mereka karena itu terlalu merepotkan.


Tujuan aku hanya satu yaitu menghidupkan seseorang yang menurutku lebih kuat agar bisa mendapatkan kekuatan dan kemampuan dari [Copied Skill] yang aku miliki untuk bisa digunakan sebaik mungkin di masa mendatang.

__ADS_1


Entah apakah ada makhluk yang lebih tinggi entitasnya atau tidak, aku berjaga-jaga agar keberlangsungan hidupku terjaga dan aman dari kematian pertama yang terjadi di dunia ini.


•••••


Di Aula Umum di Kerajaan Finra, seluruh anggota bangsawan dan kerajaan berkumpul. Masing-masing dari ekspresi mereka terlihat rumit antara senang, bingung dan heran atas apa yang terjadi sebelumnya di seminggu yang lalu di Ibukota Finier bagian utara.


"Apakah ada sesuatu yang berkaitan dengan iblis?"


"Sejauh yang kita ketahui, tidak ada tanda-tanda bahwa iblis muncul di kedalaman Ibukota Finier bagian utara."


"Tidak ada?"


"Ya."


Setelah mendengar informasi akurat dari Ksatria Kerajaan yang melaporkan situasinya, mereka yang mendengarnya dengan seksama terdiam dan merenung sejenak.


Menurut mereka, manusia tidak mungkin melakukan hal sehebat dan menakjubkan seperti mengembalikan bangunan yang hancur seperti semula dan membunuh kawanan Wyvern dalam jumlah banyak yang sulit dibunuh dan dilenyapkan oleh para petualang dari Colorful Adventure, serta mayat mereka yang tiada di permukaan benar-benar membuat mereka bertanya-tanya kemana perginya.


"The Necromancer ya."


Di atas tahta miliknya, seorang raja yang berusia 50 tahun memegang janggut putih panjang yang sedang merenung sejenak.


Kehadiran dari The Necromancer masih terlalu minim informasinya. Apakah dia baik atau jahat, Raja tidak tahu apapun yang sedang terjadi pada kota di seminggu yang lalu di bagian utara bekas penyerangan monster dalam jumlah banyak di malam hari.


Di dalam kamar penginapan, keempat orang kembali dari Guild Petualang setelah menyelesaikan misi harian yang tidak terlalu penting.


Misi itu sendiri tidak lain ialah mengawal beberapa penjaga yang sedang berpatroli di bagian utara di Ibukota Finier yang ditemani oleh Colorful Adventure.


"Aku harap mereka tidak sadar akan eksistensi kita ya."


"Ya."


"Jangan khawatir, kita tidak akan ketahuan karena kita tidak akan beraksi di malam hari."


Meletakkan beberapa barang belanjaan di atas kasur di kamarnya sendiri, seorang pria berambut putih yakin bahwa mereka tidak akan ketahuan yang membuat semua orang yang ada di dalam kamar menatapnya dengan heran.


Yang membuat mereka heran bukanlah kata-katanya melainkan rasa percaya diri yang terlihat di wajah pria tersebut.


"Apakah kamu yakin kita tidak akan melakukan perburuan di malam hari?"


"Tidak akan. Sudah beberapa hari lalu mereka sedang melakukan investigasi bukan tentang The Necromancer."


"Ya, kamu benar."


Seingat mereka, para Ksatria Kerajaan yang menyadari bahwa The Necromancer merupakan ancaman yang dapat datang sewaktu-waktu tidak akan membuat mereka, para anggota The Necromancer dan pemimpinnya untuk memunculkan diri dalam perburuan malam hari.


"Apa yang akan kita lakukan berikutnya, Regard?"


"Haruskah kita segera pindah dari Ibukota Finier?"


"Tidak, kita akan menetap beberapa hari lagi."


"Beberapa hari?"


"Bukankah kita akan terus diawasi oleh mereka kalau kita melakukan perburuan malam hari?"


"Ya. Tapi, aku bermaksud untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi seminggu yang lalu di Ibukota Finier."


"Maksudmu penyerangan besar-besaran yang dilakukan oleh segerombolan monster?"


Mengangguk pada pertanyaan Reita, Regard yakin ini ada kaitannya dengan iblis yang sempat dirasakannya ketika dia berhasil menjilat darah Wyvern yang berhasil diburunya sebelumnya.


Menurut ingatan yang didapat Regard, mereka sebelumnya adalah Wyvern liar yang secara kebetulan sedang beristirahat sejenak di kedalaman gua di bukit yang tidak jauh dari Ibukota Finier. Bukit itu sendiri awalnya tidak ada masalah apapun namun karena kehadiran seseorang, mereka dikendalikan dan dihilangkan kesadarannya membuat mereka terpaksa menyerang Ibukota Finier secara kejam dan ganas.


Itulah informasi yang bisa didapat Regard melalui darah yang berhasil dikonsumsinya.


"Shilph, apakah kau ada kenalan dengan seorang Fallen Angel sebelumnya?"


"Fallen Angel? Ah... maksudmu adalah pria itu?"


"Ya."


"Apakah ada sesuatu yang terjadi?"


Memejamkan matanya sejenak, Regard ragu untuk membicarakan ini pada semua orang.


Secara keseluruhan, mereka tidak tahu apapun yang terjadi di Fairy Forest sebelumnya mengenai kehadiran yang ada di Friya dan kesalahpahaman yang terjadi antara mereka bertiga, tidak ada satupun dari Regard, Friya maupun Shilphonia yang menjelaskannya pada mereka.


"Ikuti aku!"


"Baik."


Berjalan keluar tanpa membiarkan orang-orang ikut, kedua gadis yaitu Friya dan Reita bingung dengan apa yang akan mereka berdua bicarakan. Berbeda dengan mereka, Fuuya dan Sasaki yang ingin menempel di tubuh Regard dipandang tajam dengan aura intimidasi yang kuat membuat mereka tidak mampu menggerakkan kakinya untuk ada di kedua sisi Regard.

__ADS_1


Sebaliknya, mereka berdua yang terdiam ketakutan gemetar diam tanpa dapat bergerak sedikitpun ke arah Regard.


•••••


Reita POV


Kira-kira apa yang mereka bicarakan ya?


"Aku ingin tahu tentang pembicaraan mereka."


"Tidak perlu, Fuuya!"


"Kenapa kamu melarang aku? Apakah ada sesuatu yang disembunyikan oleh Regard kepada kami?"


"Entah. Aku hanya tidak ingin kamu berakhir dibenci olehnya."


"Uh..."


Memperhatikan Fuuya yang sedang meringkuk di permukaan tanah sambil memeluk kedua lutut dengan tangannya, dia menggelengkan kepalanya di dalam.


Berdasarkan suara yang berhasil aku dengar, dia tampaknya tidak terima atas dirinya yang tidak tahu apapun mengenai pembicaraan yang akan mereka bicarakan.


"Jangan khawatir, Fuuya. Kita akan tanyakan ini pada Tuan nanti."


"Ya, kamu benar."


Aneh sekali ya.


Tidak seperti biasanya Kak Regard berbicara sembunyi seperti ini dari hadapan kami, kira-kira apa yang dia bicarakan pada Shilph.


Apakah dia menyatakan perasaan cinta padanya atau dia ingin menjadikan Shilph sebagai tunangan dalam hidupnya? Aku sendiri tidak tahu dan tidak mengerti.


Kalaupun pilihannya adalah bersama dengan Shilph, aku rela setuju asalkan aku tetap berada di nomor pertama dari adik yang disayanginya menggantikan Kak Daffa yang telah tiada.


"Ada apa, Reita?"


"Tidak ada. Aku hanya berpikir apa yang sedang mereka lakukan ya."


"Ya, kamu benar."


Aku penasaran jadi aku ingin tahu tentang pembicaraan mereka, tapi aku mengurungkan niat untuk mencari tahu lebih lanjut karena itu akan menyebabkan Kak Regard marah terhadapku.


•••••


Regard POV


"Apakah ini ada kaitannya dengan waktu itu?"


"Ya, begitulah."


Menjelaskan pada Shilph tentang hal yang masih tidak aku mengerti antara hubungan dia dengan Fallen Angel yang kami temui di Fairy Forest, dia dengan cepat tersenyum dan mengangguk.


"Aku mengerti. Aku akan jelaskan semuanya padamu."


Dia mulai menjelaskan sejak awal antara hubungan dia dan Fallen Angel yang kami temui sebelumnya di Fairy Forest.


Mulai dari Fallen Angel yang membantu Shilph sebelumnya yang bernama Lucifer, seorang malaikat yang ikut jatuh ke bumi karena telah membela Shilph yang telah membunuh banyak sekali malaikat lainnya dalam ketidakpercayaan dan keputusasaan saat tahu usahanya sia-sia.


"Sejak saat itu aku berpikir bahwa Lucifer telah tiada, tapi aku tidak menyangka dia bergabung dengan iblis."


Aku setuju.


Jika dia Fallen Angel sama seperti sisi kepribadian Shilph satunya lagi, Stephani, Lucifer tidak akan mungkin bergabung dengan mereka karena kekuatan dan kemampuannya yang mampu melakukan sendiri.


Tapi, aku yakin ada alasan tertentu mengapa dia bergabung dan ikut bersama pasukan iblis.


"Apakah kita harus memberitahu ini pada mereka?"


"Tidak, kita akan merahasiakannya terlebih dahulu."


Memperhatikan Shilph yang terlihat ragu dan kurang yakin, aku bingung dengan apa yang dipikirkannya sekarang.


"Apakah ada yang membuatmu khawatir?"


"Ya. Aku ingin tahu apakah kamu telah menemukan tempat persembunyian mereka?"


"Tentu. Mereka berada di reruntuhan gua di dalam bukit yang tidak jauh dari Ibukota Finier."


"Bukit Erlin ya."


"Ya."


Seingat aku, Stephani dulu juga tinggal di Reruntuhan Sylvia. Dia yang terikat dan terkurung benar-benar membuatku yakin itu adalah hal yang tak ingin dilakukannya selama ini sebelum akhirnya dia dibebaskan olehku.

__ADS_1


Yah, meskipun bayarannya mahal atas monster yang menjaganya, aku tetap bisa melakukannya berkat class Necromancer.


Jika aku tidak memiliki class Necromancer, aku tidak tahu akan seperti apa jadinya jika aku berpetualang tanpa memiliki persiapan apapun baik dari kemampuan dan kekuatan, serta pikiran yang matang, aku dapat mati kapanpun begitu aku lengah.


__ADS_2