The Necromancer

The Necromancer
Ch. 37,5:Kita Ketemu Lagi


__ADS_3

Kedua pria saling menatap satu sama lain. Pandangan mereka yang saling mencari tahu tentang kelebihan dan kekurangan yang ada pada musuhnya benar-benar tidak bergerak maupun berbicara sedikitpun tentang apa yang terjadi pada mereka.


Keduanya menerjang ke depan tanpa mengurangi kecepatannya sedikitpun.


Seorang pria yang memegang pedang perak mengeluarkan aura keperakan di cahaya pedangnya lalu mengubah beberapa cahaya yang bersinar menjadi empat bilah pedang di belakangnya yang melayang. Berbeda dengan pria pedang perak, pria berambut putih memegang pedang hitam yang mengeluarkan kabut. Kabut hitam yang mengelilingi berubah menjadi sosok dirinya yang berjumlah tiga orang yang siap menerjang secara langsung.


Setiap bayangan yang menyerupai dirinya terdapat aura hitam pekat yang ada di sekitarnya yang dilapisi dengan cahaya keunguan di luarnya.


"Lambat!"


Trang!


Beberapa kali tebasan dilakukan oleh pria dengan pedang perak tanpa celah sedikitpun. Sebisa mungkin pria dengan rambut putih mencondongkan tubuhnya ke depan, samping dan beberapa kali menundukkan kepalanya agar bisa dengan cepat mengantisipasi berbagai serangan dari tebasan pria pedang perak.


"Lemah!"


Sebelum dapat bergerak memutar arah pedangnya, pria dengan pedang perak, Veru dikejutkan oleh gelombang udara yang meledak dengan cepat hampir membuatnya terpental.


"Cih."


"Bagaimana? Apakah kau terkejut dengan kemampuan baru aku?"


"Ya."


Menguatkan kakinya, aura berwarna merah muda terpancar dari seluruh tubuhnya. Pedang berwarna perak yang sebelumnya ada di udara dan melayang diarahkan ke pria berambut putih, Regard dengan beberapa kali.


Sebelum Regard asli dapat bergerak, beberapa bayangan dapat menangkisnya berkali-kali membuat rentetan pedang cahaya terjatuh ke bawah dan redup pada sinarnya.


Dia benar-benar hebat.


Mengepalkan pedangnya dengan kuat, cahaya merah muda semakin terang yang menyebabkan area di sekitar berubah menjadi kobaran api dalam jangkauan yang luas untuk Regard ketahui.


"Tapi, kau tidak akan mampu melawan di dalam area kekuasaan aku, Arthen."


Di sekitar Regard, rentetan pedang api dalam jumlah banyak yang tak terlihat menebasnya berkali-kali pada tubuhnya membuat goresan dan darah mengalir dapat dilihat oleh Veru.


Tidak dapat melakukan apapun, Regard hanya bisa terdiam terus-menerus sembari dirinya dicabik-cabik oleh rentetan tebasan yang tiada hentinya.


"Berakhir sudah, Arthen!"


Menarik jari-jari di lengannya, Veru yang berniat mengakhiri dengan kemampuan terkuatnya yaitu [Buster Blade:Unlimited Slash] mulai dilakukannya.


[Buster Blade:Unlimited Slash] yang berubah menjadi benang berkali-kali dapat mengikis tubuhnya dan menyebabkan darah muncrat dari goresan yang dihasilkan benang yang mengenai tubuh Regard membuat dia menahan rasa sakitnya.


Setelah berubah menjadi benang, ketika ditarik oleh Veru berubah menjadi tebasan tak terlihat dalam jumlah banyak yang terdapat elemen api di dalamnya menyebabkan tubuh Regard terkena luka bakar.


"Sayang sekali ya, Arthen."


Melihat tubuh Regard yang telah terbakar sepenuhnya menjadi abu yang tergeletak di permukaan membuat Veru yakin ini adalah akhirnya.


Tidak peduli apakah Regard kuat atau tidak, selama dia lengah dan tidak melakukan apapun, Veru yang akan menang, setidaknya itulah yang dipikirkannya.


"Kau benar-benar hebat ya, Paman."


Melompat dari pohon-pohon yang jauh dan melesat dengan kecepatan tinggi menggunakan [High Acceleration], Regard berada di sisi Veru yang menatap tajam ke arahnya.


"Tapi, apakah kau mampu bertahan dari serangan ini?"


"....."


Tanah tiba-tiba berguncang kuat menyebabkan runtuh membuat mereka berdua masuk ke dalam lapisan paling dalam di permukaan tanah.


"Sekarang!"


Mengeluarkan beberapa kristal dari belakang punggung Regard, dia dengan cepat mengarahkan dan melemparkannya satu kristal berwarna merah terang.


Kristal itu perlahan-lahan retak lalu menyebar dengan lahar yang terdapat di dalamnya menyebabkan vulkanik dalam area luas di permukaan sebelum mereka jatuh.


"Aku harap kau bisa bertahan dari itu, Paman."


Mengeluarkan sayap dari punggungnya, Regard hanya bisa menyaksikan Veru yang dalam beberapa detik siap menyentuh lahar mendidih dan mati.


"Kuh...."


Menggunakan kemampuannya yang lain, Veru mengaktifkan [Wind Blade] yang mampu membuat pedang yang terbuat dari cahaya ke arahnya yang melayang berukuran besar mampu dipijaknya.


"Sayang sekali kau tidak bisa membunuhku."


"Ya, kau benar."

__ADS_1


Terkekeh dan tertawa, Regard tanpa perasaan simpati mulai melemparkan beberapa kristal ke arahnya.


Kristal berwarna biru salju membuat suasana di sekitar berubah menjadi kristal es dalam jumlah banyak yang membentuk [Ice Lance] melesat dengan cepat ke arah Veru. Kristal berwarna hijau muda yang pecah membuat pusaran angin besar, [Storm] yang sulit untuk dihindari. Kristal berwarna biru yang menyebabkan [Tsunami Wave] jatuh tanpa henti menciptakan gelombang kuat dari tsunami dari air sungai.


Dan yang terakhir ialah kristal putih yang menyilaukan mata membuat orang yang melihatnya akan buta sementara waktu tanpa dapat melihatnya, [Silver Binding].


"....."


Inilah akhirnya.


Tanpa dapat melakukan apapun, Veru yang terjatuh ke permukaan [Tsunami Wave] terombang-ambing oleh ombak besar yang mengenai tubuhnya. Beberapa [Ice Lance] yang mengenai tubuhnya membuatnya tergores dan berdarah, serta membeku. Kemudian pusaran angin besar yang mampu merobek kulit dan dagingnya membuat dia tidak dapat melakukan apapun selain pasrah dan menyerah pada takdirnya.


Selesai melakukan semua dan melihatnya, Regard dengan cepat turun ke bawah usai kemampuan sirna dalam sekejap.


Ugh...


Tidak dapat menahan rasa lapar dan haus akan daging dan darah, dia mengambil penyimpanannya dari [Dark Dimension] membuat dia duduk di permukaan dan menyantap beberapa daging dan darah yang masih mentah.


•••••


Di hutan bagian tengah, seluruh orang berkumpul di satu tempat.


"Apakah kamu yakin kalau musuh kita adalah Veru Sukijane?"


"Ya, kurang lebih begitu."


"Hmmm..."


Merenung sejenak atas apa yang sebenarnya terjadi saat ini, Shilphonia, Friya, dan Reita sama sekali tidak memahami atas kehadiran dan kedatangannya yang mendadak yang tiba-tiba menjadi musuh bagi mereka.


Berdasarkan laporan yang diberikan oleh Sasaki sebelumnya, mereka menerima kabar bahwa Veru adalah musuh yang dihadapi oleh Regard. Entah apakah dia dikendalikan atau tertelan oleh kegelapan di dalam dirinya, Sasaki hanya tahu bahwa Veru sedang melawannya sekarang.


"Dia tidak akan menang melawan Regard."


"Ya, aku setuju."


Mengalihkan pandangannya dan mengangguk pada perkataan Friya dan Reita, Shilphonia yakin itu adalah kebenaran yang tak bisa terbantahkan.


Regard adalah ancaman yang lebih besar untuk dikalahkan. Tidak peduli siapapun musuh dan lawannya, jika dia sudah siap memutuskan untuk melenyapkan dan memusnahkan seseorang, dia tidak akan segan-segan untuk melakukannya maupun menundanya.


Itulah yang terlintas di pikiran Shilphonia selama dia berhasil memahami tindakan Regard.


"Ya."


"Tunggu!"


Sebelum mereka bergerak, Friya yang mendadak menyuruh mereka berhenti membuat semua orang bertanya-tanya tentang apa yang dilakukannya.


"Ada apa?"


"Apakah ada sesuatu yang terjadi?"


"Ya."


Mengalihkan pandangannya ke arah Reita dan Fuuya, Friya dengan yakin mencoba untuk memastikannya langsung pada mereka.


"Apakah kalian berdua merasakannya?"


"Ya."


"Mereka sedang bertarung satu sama lain."


Terkejut atas perkataan Reita dan Fuuya, Shilphonia dan Sasaki segera berlari ke arah Regard.


Mereka berdua yang tidak mengkhawatirkan kondisi Regard lebih ke arah Veru yang takut kalau dia akan dilenyapkan tanpa sisa oleh kekejian Regard terhadapnya.


Tak menutup kemungkinan yang ada pada masa lalu Shilphonia yang hampir dibunuh karena Stephani menjadi musuhnya, Shilphonia yakin Veru juga akan bernasib sama seperti dirinya.


Berbeda dengan pemikiran Shilphonia, Sasaki yakin bahwa tuannya akan membunuh siapapun yang mengancam dirinya dan kelangsungan hidupnya tanpa ampun seperti yang dilakukan oleh Hu-Machina terhadapnya sebelumnya.


"Ini..."


"Mustahil..."


Tak dapat berkata apa-apa pada penglihatan yang sedang mereka lihat, kedua lutut di masing-masing mereka terjatuh lemah tak berdaya sambil tertawa tidak percaya.


"Shilph, Sasaki!"


"Ini bohong bukan?"

__ADS_1


"Tuan..."


Dihadapan mereka terlihat seorang pria berambut putih yang dengan cepat melenyapkan orang yang mereka kenal sebelumnya tanpa sisa sedikitpun, terkecuali darah yang membekas dan pertempuran yang masih tampak jelas.


Matanya yang berwarna merah menatap mereka seakan-akan mengintimidasi setiap orang yang hadir ke tempat mereka membuat semua orang tidak dapat bergerak melainkan diam tanpa berbicara sedikitpun.


"Menyedihkan."


Selesai mengatakan itu, matanya yang berwarna merah kembali seperti semula tanpa terlihat intimidasi bagi mereka yang memperhatikannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Mungkinkah kamu telah menghabisi Sukijane?"


"Ya."


Mengalihkan pandangannya ke belakang, Regard yakin itu bukanlah hal yang sulit untuk melenyapkan seseorang yang berada di dekatnya dari muka bumi.


Meskipun mudah untuk dilakukan, hatinya masih merasa ragu dan bimbang setelah apa yang dia lakukan dalam melenyapkan orang yang memberikan kehidupan berharga sebagai seorang manusia dulu.


"Mari kita pergi."


"Pergi?"


"Ya. Kita kembali ke kota untuk menyelesaikan misi terlebih dahulu."


Tidak mengatakan apapun tentang pemikirannya pada mereka, Regard berjalan terlebih dahulu memimpin jalan di depan mereka yang mengikutinya dari belakang tanpa menanyakan apapun pada Regard.


Bagi Shilphonia, Friya dan Reita merasa berat atas apa yang Regard pikirkan sekarang, terutama Shilphonia.


Menurut Shilphonia, Regard terlihat sedang memikul beban berat yang tidak seharusnya dia pikul sekarang. Membunuh orang yang telah diberikan kehidupan dan hak sebagai manusia, Regard justru membalasnya dengan kematian dan kemusnahan tanpa sisa sedikitpun.


Aku harap dia tidak apa-apa.


Walaupun di permukaan tenang, batin Shilphonia bergejolak cemas dan khawatir atas kondisi Regard nantinya.


Apakah dia akan ditelan oleh kegelapan atau tidak, dia takut kalau penyelamat hidupnya akan berubah menjadi sosok iblis yang menelan hak manusianya selama ini.


Kak Regard...


Tak hanya Shilphonia, Reita sebagai adik tirinya merasa cemas dan khawatir atas kondisinya.


Setahunya, Regard mudah frustasi dan putus asa lebih dari perasaan mereka sekarang. Seperti yang terjadi padanya dulu ketika menyelamatkan dan memberikan kehidupan Fuuya, menunggu kehadiran Sasaki, keduanya dilakukan oleh Regard dengan sepenuh hati tanpa dapat diganggu oleh mereka.


Aku harap kau tenang di alam sana, Paman.


Meyakinkan dirinya bahwa Veru, Paman yang telah memberikan kehidupan pada dirinya sebagai seorang manusia tersenyum pada apa yang dilakukan Regard terhadapnya dalan mengakhiri penderitaannya.


Ketika Regard menghabisinya tanpa sisa, dia sempat melihat senyum pasrah atas usahanya yang dilakukan Regard. Tak hanya itu, kesedihan yang dapat dilihat jelas melalui pandangannya membuat Regard yakin bahwa itu adalah keputusannya dalam membiarkan dia mengakhiri hidupnya yang penuh dengan penderitaan.


•••••


Bulan terang begitu menyilaukan di malam hari. Bintang-bintang yang menghiasi malam berbaris dengan cahaya yang menyilaukan membuat suasana malam terasa lebih indah dan cantik untuk dilihat.


"[Soul Return]."


Cahaya berwarna putih melayang dari permukaan tanah yang kemudian berubah menjadi gumpalan putih yang memutari pergelangan tangan Regard.


Mungkin ini sedikit berlebihan, tapi setidaknya cukup untuk dilakukan.


Menyakini dirinya untuk melakukan ujicoba berikutnya, Regard dengan segera mengaktifkan lingkaran sihir dalam jumlah banyak, [Curse of The Death] yang mengakibatkan seluruh jiwa yang berasal dari lingkaran sihir mulai berkeliaran keluar dan memenuhi gumpalan putih di telapak tangannya menjadi ukuran yang lebih besar.


"Baiklah."


Mengaktifkan [Infinity Spirit], roh dan sosok ungu yang berasal dari tengkorak berubah menjadi sosok hitam yang diselimuti jubah ungu dapat terlihat di sepanjang dataran hijau.


Menginjak tanah berkali-kali dengan satu kaki kanannya, lapisan tanah yang keluar terbentuk menjadi orang yang kemudian berubah menjadi penampilan pria yang dikenal Regard berkat [Change Material] dalam sekejap.


"Ini mungkin akan cukup mengerikan dan menakutkan. Tapi apa boleh buat, selama aku bisa tahu dan berbicara jelas dengannya, aku mungkin dapat mengetahui kejadian sebenarnya."


Selesai mengatakan itu pada dirinya sendiri, Regard memukul perut boneka yang berasal dari tanah yang berhasil berubah menjadi daging, darah, dan kulit layaknya seorang manusia.


Aku ingin kau segera bangkit kembali untuk kedua kalinya, Paman.


Selesai mengatakan itu, tanda-tanda mulai bermunculan di telapak tangannya yang berubah menjadi garis kuno yang perlahan-lahan menyebar ke seluruh tubuhnya dan lenyap setelah beberapa saat kemudian.


Selesai.


Membiarkan tubuhnya tertidur, Regard dengan cepat mengganti penampilannya menjadi seorang gadis berambut cokelat panjang yang mengenakan kacamata baca dan pakaian biasa yang membuatnya terlihat layaknya seorang penduduk kota.

__ADS_1


__ADS_2