
Di tempat yang tidak jauh dari keberadaan Regard, Shilphonia yang terbang dengan sepasang sayap putih melihat pergerakan mereka yang tampaknya sudah selesai membawa anak-anak pergi ke area lain.
Mendarat di salah satu gedung kota, Shilphonia menghilangkan sayapnya yang membuat dia bersiap untuk melakukan serangan dadakan terhadap mereka.
Apakah kamu mau membantuku, Stephani?
Membantu? Apakah aku bisa membantu dirimu?
Entahlah. Tergantung dari dirimu sendiri.
Diriku sendiri?
Ya. Jika kamu bisa membantuku, aku akan berterimakasih kepadamu.
Di dalam tubuh Shilphonia, Stephani yang duduk di permukaan tak beralaskan apapun, menyilang kakinya, melipat kedua tangannya di dada layaknya seorang ratu yang duduk dengan elegan.
Stephani yang mendengarnya terkejut. Dia terdiam sejenak dan merenungkan perkataan Shilphonia tadi untuk membantunya kali ini. Dia sendiri tidak tahu apakah dia mampu melakukannya atau tidak, Stephani hanya perlu memberikan jawabannya.
Apakah ada yang bisa aku dapatkan setelah membantumu?
Ya. Kamu bisa berhubungan langsung dengan Regard. Bagaimana menurutmu?
Berhubungan langsung ya.
Tersenyum dan terkekeh, Stephani bangun dari duduknya.
Baiklah. Mari lakukan sekarang!
Ya.
Memejamkan matanya, dalam sekejap Shilphonia merubah penampilannya menjadi Stephani. Mulai dari rambut pirang panjang yang berubah menjadi hitam panjang, sepasang mata berwarna keemasan berubah menjadi hitam, serta bibirnya yang merah terang berubah menjadi hitam dapat terlihat jelas.
"Waktunya untukku beraksi."
Membentangkan sayap hitamnya lalu terbang, Stephani yang telah bertukar tempat dengan Shilphonia memastikan jumlah orang yang ada di bawahnya.
Empat... tidak, lima orang ya.
Setelah berhasil menentukan berapa orang yang ada di bawah, Stephani dengan cepat mengaktifkan [Black Feather Shoot] ke mereka yang menyebabkan bulu-bulu hitam dari sayapnya berjatuhan, sebagian ada yang mengenai tubuh mereka dan sebagian lagi ada yang jatuh mengenai permukaan tanah.
Black Feather Shoot, hempasan bulu-bulu hitam yang ditembakkan ke arah mereka melalui sayap hitam, itu mampu memberikan ledakan di area kecil namun mematikan jika ledakan tersebut atau tepatnya bulu hitam itu menancap di tubuh manusia, mereka akan hancur lebur menjadi darah yang telah mengering.
Black Feather Shoot dapat aktif dengan cepat melalui mata si pengguna yang mendadak menyala terang, ledakan itu akan terjadi saat bulu-bulu hitam dari sayapnya berkedip beberapa kali maka peledak itu akan meledak usai terhenti kedipannya.
"Mari lihat apa yang akan terjadi!"
Matanya yang berubah menjadi kemerahan menyala dengan sendirinya.
Tepat di saat matanya memerah terang, bulu-bulu yang berhamburan di tanah dan bulu yang mengenai tubuh mereka berubah menjadi sedikit terang lalu berkedip-kedip. Saat kedipannya terhenti, ledakan dalam jangkauan yang kecil namun mematikan terasa di area yang terkena hempasan bulu-bulu hitamnya.
Benar-benar mudah sekali.
Hahahaha... itu karena kamu menuangkan segalanya dalam satu sekali serangan bukan?
Tentu. Orang seperti mereka tidak bisa diabaikan karena akan menyusahkan kita semua.
Selain itu...
Ya, aku akan menepati janji kita usai tiba di penginapan nanti.
Baguslah kalau kamu menepati janjimu.
Memejamkan matanya sekali lagi, Stephani bertukar tempat dengan Shilphonia.
Rambutnya yang hitam berubah menjadi pirang panjang, sepasang mata berwarna hitam perlahan-lahan berubah menjadi keemasan, disertai dengan bibir berwarna warna hitam berubah menjadi merah terang dapat terlihat jelas.
"Duh... kamu benar-benar mengacaukannya ya, Stephani."
Pipi Shilphonia yang mengembung kesal atas tindakan Stephani yang tidak bisa membersihkannya dengan tenang melainkan penuh dengan kekacauan dan kehancuran.
Stephani tidak menjawab apapun. Dia hanya tersenyum di dalam tubuh Shilphonia sambil mendongakkan kepalanya ke langit-langit di atasnya yang gelap.
•••••
Di lain tempat, Friya yang tiba di tempat kejadian memperhatikan detail kejadiannya yang jelas.
Beberapa kereta dalam jumlah banyak mengeluarkan anak-anak yang dibawa oleh para petualang untuk diletakkan ke kereta lain. Sebelum dapat meletakkan anak-anak ke kereta lain, Friya dengan cepat lenyap dari tempatnya berada menggunakan [Teleportation] agar muncul langsung di permukaan.
Teleportation, sihir yang mampu memindahkan satu target maupun multi target ke tempat yang dituju. Kemampuan ini membutuhkan mana yang cukup karena ini memerlukan lebih banyak syarat yang dibutuhkan agar si pengguna dapat berpindah tempat dengan cepat dan mudah.
"Oi, dia...."
"Apakah dia elf?"
"Ya. Dilihat dari telinganya, aku yakin kita bisa kaya raya dengan menjadikan elf ini sebagai budak."
Tatapan haus akan hasrat memenuhi diri mereka yang membiarkan anak-anak terdiam di tempatnya dengan sepasang rantai yang mengikat lengan, kaki, dan leher mereka untuk menyerang Friya yang tidak melepaskan topengnya.
Berbeda dengan topeng besi berbentuk elang yang digunakan Shilphonia, bentuk topeng Friya adalah sebuah wajah yang berasal dari patung seorang raja.
"[Wind Cutter]."
Mengeluarkan rentetan bola berwarna hijau muda, disertai dengan baling-baling angin yang mengelilinginya membuat orang-orang yang hendak maju mundur perlahan-lahan.
"Lakukanlah sesuatu!"
__ADS_1
"Baik."
"[Special Magic]."
Sebelum dapat sihirnya dipatahkan, Friya yang mengaktifkan [Special Magic] membuat jangkauan di sekitarnya yang luas membuat kedua Wizard tidak bisa menggunakan sihirnya, terkecuali dirinya sendiri.
Special Magic, sihir yang mampu menjangkau area yang luas yang dapat menonaktifkan sihir terhadap lawan untuk sementara waktu selama 3 menit.
Putus asa tidak dapat menggunakannya, High Archer membidik dan bersiap untuk melancarkan serangannya pada Friya. Berbeda dengan High Archer, seorang pria dengan pedang berukuran besar bergegas ke arah Friya menggunakan [Iron Body] pada tubuhnya yang kebal terhadap apapun. Dan yang terakhir adalah seorang pria dengan katana dan kimono berwarna putih dan biru menerjang langsung dengan ekspresi tenang mengaktifkan [Hidden Move] agar bisa bergerak tanpa diketahui oleh lawannya.
Ketiga orang berusaha untuk melakukan yang terbaik namun mereka terhenti melakukannya saat Friya yang mengeluarkan rentetan bola berwarna hijau, [Wind Cutter] mengarahkan ke segala arah menyebabkan jangkauan hembusan angin kuat menghempas apapun yang mengenainya.
Mulai dari mereka yang terkena hembusan terpental dan terluka karena goresan kuat dari tebasan angin yang dapat melukai tubuh mereka hingga akhirnya tubuh mereka dalam sekejap terbelah dengan mudah layaknya daging cincang.
"Kalian tidak bisa menandingi aku."
Berjalan ke arah anak kecil yang jauh dari kejadian, Friya membuka rantai yang mengikat lengan, kaki, dan lehernya lalu mengelus kepala salah satu seorang anak lelaki di dekatnya.
"Jangan khawatir, kakak hanya membantu kalian agar kalian dapat bebas."
"Terimakasih, Kak!"
Berlari dengan ekspresi senang dan bahagia, mereka melambaikan tangan sejenak saat terhenti lalu meninggalkan Friya yang masih menetap di tempatnya.
Baiklah. Kurasa lebih baik jika aku membawa sebagian darah dari mereka untuknya.
Mengeluarkan botol yang dibuatnya dengan [Magic Crafting], Friya mengambil darah mereka yang telah tiada menggunakan [Blood Water] yang memudahkan dia untuk memindahkannya tanpa kesulitan sedikitpun.
Magic Crafting, sihir yang mampu membuat suatu objek berdasarkan apapun yang diinginkan si pengguna, misalnya seperti pengguna ingin membuat meja maka ia mampu melakukannya hanya dengan Magic Crafting yang ditargetkan pada suatu objek untuk diubahnya. Magic Crafting tidak memerlukan mana dalam jumlah banyak melainkan sedikit, itu sudah lebih baik untuk digunakan untuk bepergian jauh.
Blood Water, sihir dengan elemen air yang berubah menjadi genangan darah, sihir tersebut mampu dikendalikan begitu ada darah yang cukup di permukaan maka pengguna dapat memanfaatkannya menjadi senjata maupun suatu keperluan biasa.
"Sepertinya sudah cukup."
Memutuskan untuk segera kembali ke penginapan, Friya lenyap dari tempatnya menuju ke kamar dimana dia dan orang-orang berjanji bertemu di dalam kamar Regard.
Di lain tempat yang sedikit jauh dari ketiga orang lainnya, guncangan gempa terasa begitu kuat. Getaran tanah yang begitu dahsyat, disertai dengan beberapa permukaan tanah yang berubah menjadi tombak panjang membentang ke langit-langit dapat terlihat jelas dari kejauhan.
"Ampun... ampuni aku!"
Di balik jalan yang sepi, teman-teman dari pelaku yang telah tiada menyisakan dirinya yang masih hidup.
Teman-teman yang berasal dari para petualang tingkat atas dari dirinya, Reita yaitu Colorful Adventure telah dipenuhi oleh serpihan kristal ungu yang menancap di beberapa anggota tubuh mereka menyebabkan kulit mereka berubah menjadi ungu akibat keracunan.
Tidak semua orang mati karena kristal, Reita yang mengenakan topeng besi berbentuk banteng juga telah menghabisi sisanya yang lari sebelumnya dengan sulur yang merambat luas di permukaan tanah hingga ke langit-langit yang menusuk tubuh mereka di ketinggian, dan duri-duri yang tampak di kulit mereka menyebabkan tubuh mereka mengering seketika.
"Aku minta maaf. Aku minta maaf atas perbuatan aku selama ini."
"....."
Earth Lance, gundukan tanah yang mampu diciptakan dengan mudah oleh si pengguna menjadi tombak tanah dalam jumlah banyak yang menargetkan musuh berjumlah banyak maupun sedikit, tergantung dari keinginan si pengguna dalam bertarung.
Sebelum sempat mengenainya, pria itu menghindar dan bergegas lari.
Kamu tidak bisa lari dariku.
Menjentikkan jarinya, sekumpulan angin berhembus di sekitar Reita tanpa bentuk apapun. Angin tersebut melesat ke arah pria yang menyebabkan tubuhnya terkena tebasan angin dari [Wind Slash] membuat daging di tubuh dan darah yang menyembur keluar dari tubuhnya membuat seluruh area dihujani oleh darahnya.
Wind Slash, tebasan angin bertekanan tinggi yang mampu menebas ke tubuh manusia yang menyebabkan mereka tiada, kemampuan ini dapat aktif begitu kedua tangan si pengguna di gerakkan dengan di udara kosong saat hembusan angin berwarna hijau mengelilinginya.
Aku rasa lebih baik jika aku memperbaikinya terlebih dulu.
Selesai melakukan pembunuhan berantai tanpa perasaan, Reita memutuskan untuk mengembalikan kehancuran yang terjadi seperti semula tanpa diketahui oleh siapapun. Setelah berhasil mengembalikan seperti semula, Reita mendekati salah satu mayat yang dibunuhnya tadi untuk mengambil darahnya menggunakan jarinya.
Alasan dia mengambil darahnya bukan untuk kepentingan pribadi maupun Regard, tapi sebaliknya, dia menggunakan jari yang berlumuran darah untuk menulis kata di dekat mayat yang baru dibunuhnya dengan nama 'The Necromancer' agar menjadi bukti bahwa keganasan dan ketakutan malam lebih mengerikan daripada sebelumnya.
"Baiklah. Sudah waktunya aku untuk kembali."
Terbang di langit-langit malam menuju ke kamar penginapan, Reita yang berdiri tepat di gedung tertinggi menghilang tanpa jejak bagaikan sosoknya yang tiada di tempatnya sejak awal.
•••••
Di malam hari yang panjang, semua orang berkumpul di dalam kamar milik Regard.
"Apakah semuanya berhasil?"
"Ya."
"Mereka lemah jadi kami menghancurkan mereka."
"Itu benar."
Tersenyum pada jawaban dari ketiga gadis di dekatnya, Regard merasa bersyukur kalau dia mengandalkan temannya daripada dirinya sendiri.
Menurut Regard, kebersamaan adalah segalanya. Meskipun sesulit apa situasinya, mereka dapat melakukannya bersama-sama. Itu sebabnya kali ini Regard mencoba membuka hatinya untuk bisa mempercayai mereka.
"Baiklah. Mari kita kembali tidur sebelum pagi tiba."
"Ya."
Mereka bertiga meninggalkan ruangan Regard dan dirinya sendirian di dalam kamar.
Duduk di sisi kasur, pandangan Regard mengarah ke jendela. Pemandangan yang disajikan diluar dengan bulan yang membentang luas di ketinggian benar-benar membuatnya merasa kalau malam ini dipenuhi dengan tragedi berdarah yang lebih mengerikan dan menakutkan dari malam-malam sebelumnya.
Teror, itulah kata yang tepat untuk Regard ungkapkan di malam ini.
__ADS_1
"Baiklah. Waktunya untuk tidur dan memulai aktivitas di keesokan hari."
Merebahkan tubuhnya di kasur, menutupi dirinya dengan selimut, Regard mencoba memejamkan matanya untuk segera tidur agar memulai aktivitas paginya di Guild Petualang sebagai seorang petualang.
•••••
Regard POV
Hmmm....
Sesuatu terasa jelas dari dalam selimut.
Sebelum dapat tidur dengan pulas, aku merasakan goyangan yang kuat di ranjang kasur yang aku pikir tidak ada siapapun.
Tapi...
"Hah... hah... hah..."
Dugaan aku sepenuhnya salah.
Di depanku, seorang gadis berada tepat di atas tubuhku. Dia meraba-raba aku lalu mencium pipi di kedua sisi, dan melingkarkan tangannya ke leherku.
Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Jika aku bangun dan terkejut atas dirinya yang mendadak masuk ke kamarku, aku takut dia akan malu dan marah terhadapku jadi aku memutuskan untuk berpura-pura tidur.
"Mari kita lakukan ini, Regard!"
Desahannya yang semakin keras membuatku tidak bisa membiarkan ini berlangsung lama.
Perlahan-lahan dia yang membuka kemeja yang aku kenakan, mengelus perut dan dadaku lalu membuka celana yang telah aku pakai.
"Hentikan itu, Shilph!"
"....."
Sedikit mengangkat tubuhku, Shilph yang terkejut atas diriku yang belum tertidur pulas membuatnya berpikir bahwa perkiraannya telah salah.
Awalnya aku pikir dia akan malu dan marah atas perlakuannya terhadapku, tapi itu semua salah lagi. Alih-alih dia malu dan marah, dia justru tersenyum menggoda dengan wajahnya yang memerah.
"Fufufu. Akhirnya kamu sadar ya."
"....."
Sial. Aku harus alihkan pandanganku.
Sebelum dapat mengalihkan pandangan darinya, dia dengan kedua lengannya memegang wajahku dan tersenyum.
"Tidak apa-apa. Hanya kali ini saja aku ingin tidur bersamamu."
"....."
Gawat. Apakah Shilph telah kehilangan kendali atas hasratnya sendiri? Tidak, itu tidak mungkin.
Selama beberapa hari sebelumnya, dia tidak pernah melakukan hal senonoh seperti ini jadi satu-satunya yang bisa aku pikirkan ialah dia bukanlah Shilph melainkan Stephani.
"Apakah itu kau Stephani?"
"Ya, aku telah membuat perjanjian sebelumnya dengan Shilphonia agar aku bisa memuaskan hasrat milikmu."
"Kenapa kau ingin memuaskan hasrat aku? Tidakkah kau tahu bahwa aku tak tertarik terhadap siapapun?"
"Benarkah?"
Semakin dia meraba dan mencoba melepaskan celanaku, aku hanya bisa menatapnya dengan tajam sambil terlihat kesal terhadapnya.
"Jangan khawatir, tidak apa-apa jika kita melakukannya hanya sekali saja."
Memegang wajahku, Stephani tidak mundur sedikitpun melainkan dia terus melakukannya dengan bibirnya yang berciuman padaku.
Aku harap semuanya berakhir dengan cepat.
Daripada melawannya, aku hanya bisa pasrah atas kondisi saat ini.
Shilph yang telah melakukan perjanjian pada Stephani, aku tidak bisa menyuruhnya untuk mencegah Stephani mengendalikan tubuhnya lagi karena aku tahu bahwa mereka berdua saling terikat satu sama lain.
"Bolehkah aku tahu alasannya?"
"Tentu. Hanya satu alasannya yaitu kamu telah menyelamatkan kami berdua jadi aku ingin berterimakasih dengan memberikan pelayanan spesial terhadapmu."
Aku mengerti sekarang.
Stephani yang awalnya jahat telah sepenuhnya paham atas niat baik aku yang membangkitkan mereka kembali menggunakan [Soul Return] agar mereka bisa menjalani hidup dengan bebas, tapi siapa sangka bahwa mereka malah berterimakasih padaku.
Terutama Stephani, dia ingin menyajikan layanan khusus terhadapku, sama seperti Sasaki dulu.
Meskipun aku ingin menolaknya, aku tidak mau menghalangi dirinya yang akan melakukan balas budi jadi aku menyerah dan memilih pasrah untuk membiarkan dia melakukannya.
"Lakukanlah!"
"Apakah kamu yakin?"
"Ya, kau melakukannya karena perjanjian jadi apa boleh buat selain menyerah."
"Fufufu. Kamu benar-benar mengerti ya, Regard."
__ADS_1