
Berdasarkan informasi yang didapat oleh Friya, Gunung Baurme merupakan rute perdagangan yang menuju ke kota berikutnya, Kota Lien.
Kota Lien adalah kota pelabuhan yang menyediakan berbagai macam jenis ikan, makanan lokal, serta beragam jenis budaya ada di dalamnya.
Sepengetahuan yang berhasil aku baca, Kota Lien merupakan kota pelabuhan terbesar di dunia karena mereka memiliki mayoritas pedagang yang sedikit jumlahnya jadi memudahkan pedagang lain yang baru merintis untuk usaha di Kota Lien.
Yah, sepenuhnya aku bisa memahami kesedihan dan kepasrahan atas jalur perdagangan yang dihentikan mendadak.
Mengingat kembali ke beberapa saat yang lalu.
"Berdasarkan informasi yang didapat dari buku yang aku baca, Gunung Baurme terletak tidak jauh dari Kota Resihei."
"Gunung Baurme?"
"Kalau tidak salah, pegunungan itu dipenuhi oleh salju dan badai salju yang tak kunjung berhenti. Udaranya yang dingin dapat mengganggu siapapun yang terlibat dalam pertarungan."
"....."
Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa pada kata-kata Reita tadi.
Faktanya Reita telah mempelajari banyak hal mulai sekarang hingga seterusnya, tanpa sepengetahuan aku. Apalagi dia dengan mudahnya menjelaskan apa yang diketahui oleh iklim di wilayah tersebut tanpa kesulitan sedikitpun.
Ugh...
Entah kenapa aku mulai merasa jauh dari mereka dalam segi informasi.
"Tak hanya Gunung Baurme ada di dekat Kota Resihei, gunung itu sendiri terdapat Fenrir yang melindungi kawasan dan habitat mereka sendiri tanpa dapat diganggu oleh siapapun."
Fenrir ya.
Setahuku, Fenrir adalah makhluk yang mirip seperti Demi-human. Entah apakah fisik dan kemampuan mereka lebih kuat dari rata-rata atau justru sebaliknya, aku tidak boleh meremehkan mereka sedikitpun.
"Dan yang mengerikan dari informasi ini bukanlah mengenai keberadaan Fenrir, tapi efek yang akan terjadi jika kita terkena oleh gigitan dan cakar Fenrir."
"Apakah ada pengaruh khusus yang dapat terjadi?"
Mengangguk pada pertanyaan Shilph, Friya berjalan ke arah jendela, terdiam dan menoleh ke arah Shilph.
"Ya. Gejala khusus yang diderita ialah mereka akan kedinginan dan perlahan-lahan tubuh mereka akan berubah menjadi kawanan Fenrir."
"....."
"Itu benar-benar mengerikan."
Reita yang mendadak memelukku, aku mengelus punggungnya.
Wajar jika dia terlihat ketakutan.
Saat ini tidak ada musuh yang lebih berbahaya dan mematikan selain dari penjelasan Friya mengenai keberadaan Fenrir. Kebanyakan dari musuh-musuh yang kami hadapi hanya musuh biasa tanpa kemampuan dan kekuatan khusus di dalamnya.
Namun, kasus Fenrir tampak berbeda yang membuatnya spesial.
Gigitan dan cakaran dari dirinya dapat menyebabkan seseorang berubah menjadi kawanan Fenrir dalam sekejap.
Dengan kata lain, manusia maupun iblis tidak akan berani mengganggu habitat mereka dengan mudah karena mereka tahu efek yang akan mereka dapatkan bukanlah efek ringan.
Anggap saja seperti kasus Fuzikumibaru yang dapat dengan mudah mengendalikan tubuh makhluk hidup untuk dijadikan sebagai Marionette. Dalam kasus Fenrir, kawanan Fenrir akan diadopsi oleh Fenrir itu sendiri jika mereka berhasil menjadi rekan barunya.
Ini benar-benar merepotkan.
Di satu sisi, aku penasaran atas kehebatan dari kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh Fenrir. Tapi di sisi lain, aku harus hati-hati dan waspada untuk tidak terkena serangan apapun darinya.
Ini seperti menginjak jebakan tanpa tahu dimana jebakan itu berada.
"Apakah kita akan bergegas ke Gunung Baurme?"
"Tidak, kita tidak akan pergi."
"Tidak pergi?"
"Apa maksudmu, Regard?"
Tampaknya mereka telah salah mengartikan penolakan aku.
Dari ekspresi mereka yang terlihat kesal dan benci atas jawaban yang aku berikan, mereka berpikir aku tidak peduli terhadap jiwa yang telah tiada akibat dari keganasan Fenrir.
Aku paham atas kekhawatiran dan kecemasan yang mereka rasakan, tapi musuh kita adalah Fenrir jadi aku tidak tahu sejauh mana kita mampu menaklukkannya tanpa ada satu diantara kita yang terluka.
"Kita butuh persiapan terlebih dahulu."
"Persiapan?"
"Ya. Udara yang ada di Gunung Baurme sangat dingin karena badai salju yang tiada hentinya turun jadi kita harus melakukan persiapan sejak dini dengan membawa keperluan selengkapnya."
__ADS_1
Meskipun aku mengatakan keperluan, aku juga ingin mencoba cara baru agar tidak kesulitan dalam bertarung nanti.
Aku tidak tahu seberapa banyak persentase kehidupan yang dapat diraih jika kami berada di Gunung Baurme. Apakah itu tinggi atau rendah, aku sama sekali tidak peduli.
Selama aku menerapkan metode baru dalam petualangan kali ini, aku dapat menghindari persentase keburukan sebaik mungkin dengan mudah agar tidak menjadi korban seperti yang dialami oleh para korban yang berubah menjadi kawanan Fenrir.
"Butuh berapa lama kita menunggunya?"
"Seminggu."
"Seminggu?"
"Bukankah itu terlalu lama?"
"Ya. Tapi, itu adalah kondisi terbaik kita."
Jika kita tidak memiliki persiapan, kita akan mati.
Tatapan itu aku arahkan pada mereka bertiga yang membuat mereka paham atas maksud dari waktu yang dibutuhkan nanti dalam ekspedisi ke Gunung Baurme.
"Baiklah. Jika itu mau kamu..."
"Ya, kami akan menurutinya."
"Itu benar."
"Maafkan aku. Aku melakukannya demi kebaikan kalian dan diriku sendiri."
Bertindak sebelum berpikir adalah kecerobohan yang tidak dapat diperbaiki. Begitupun sebaliknya, berpikir sebelum bertindak adalah hal bijak untuk dilakukan agar mengurangi korban berjatuhan sekaligus menghindari luka parah yang terjadi selama kami berada di Gunung Baurme.
"Pokoknya kita akan berangkat usai persiapan dibutuhkan."
Selesai mengingatkan mereka, aku menatap ke meja yang terdapat banyak bijih material yang berhasil aku simpan dengan baik di [Dimension Portal] sesudah menyadarkan Reita di Penambangan Urei.
Membuat sesuatu adalah hal yang tepat.
Apalagi aku mendapatkan ketrampilan tambahan seperti [Blacksmith] dari Ayahku sendiri sekaligus [Alchemy] dari Ibuku yang dapat kukatakan berguna dalam penjelajahan di Gunung Baurme.
Menggunakan kemampuan aku mengubah bijih material, aku mengubah beberapa diantara mereka menjadi bentuk yang ada di duniaku dulu.
Selesai membuat senjata api, aku melanjutkan untuk membuat peluru dari bijih material yang berbeda. Tak lupa untuk menerapkan metode baru, aku memasukkan beberapa kemampuan yang diperlukan ke peluru agar efisien dalam pertarungan nanti.
Sip. Sudah selesai.
Senjata ini dibutuhkan dalam kondisi terdesak di situasi tak terduga seperti Gunung Baurme yang kemungkinan fokus dan konsentrasi akan hilang akibat kedinginan di sana.
Senjata api yang dilengkapi dengan beberapa peluru yang dilapisi oleh elemen api, diperkuat menggunakan tanah, dan kristal yang berguna untuk mengalihkan pandangan dari sinar terang benar-benar membuat terlihat hebat dan keren.
Sisanya ialah menguji coba sejauh mana ini akan efektif.
•••••
Di dalam kereta kuda yang terdiri dari empat orang di The Necromancer membuat mereka saling berhadapan satu sama lain. Berbeda dengan kereta kuda mereka, ketiga kereta kuda lainnya diisi oleh para Ksatria Kerajaan yang dengan siap mulai melakukan ekspedisi di Gunung Baurme.
"Apakah kau yakin mengajaknya untuk ikut bersama kami?"
"Ya. Jangan khawatir atas hal itu. Arthen dapat mengatasi apapun yang ada di dekatnya lebih baik dariku."
"....."
Kanae yang masih tidak percaya kata-kata Veru, merenung dan berpikir sejenak.
Menurut Kanae, melibatkan orang lain dalam ekspedisi mereka hanya memperlambat kemajuan yang ada. Tidak peduli apakah dia petualang veteran maupun penduduk kota biasa, selama mereka ikut maka beban yang harus dipikul oleh para Ksatria Kerajaan terasa lebih berat daripada sebelumnya.
Veru yang ada di depannya, tersenyum. Dia tentu paham atas maksud dari kata-katanya tadi.
Meskipun Kanae tampak serius dan menakutkan, Veru yakin di dalam dirinya terdapat hati nurani yang membuatnya bertindak untuk melindungi mereka.
Terlihat jelas dari bagaimana ekspresinya mengkhawatirkan dan mencemaskan mereka membuat Veru merasa bahwa dirinya jauh lebih rendah dari Kanae dalam kepeduliannya terhadap orang-orang di sekitarnya.
Buktinya Veru selalu melibatkan Regard dalam ekspedisi mengerikan dan menakutkan setiap kali menemukan lawan yang berbahaya tanpa mempedulikan perasaan Regard sama sekali.
Selama beberapa jam mereka tempuh, akhirnya mereka tiba di Gunung Baurme.
"Terimakasih atas tumpangannya Pak."
"Ya. Harap berhati-hati! Jika sesuatu terjadi pada kalian, aku ingin kalian segera pergi meninggalkan misi ini."
"Baik."
Melambaikan tangan padanya, Regard yang tersenyum seolah-olah pria polos yang terlihat berbeda dari Regard yang mereka kenal membuat mereka terdiam.
Berbeda dengan kelompok The Necromancer, pasukan ksatria tiba beberapa menit lebih lama dari kereta kuda yang memuat Regard dan rekan-rekannya.
__ADS_1
"Apakah kalian sudah siap?"
"Ya."
Sebelum melakukan ekspedisi, sebisa mungkin mereka menepi ke kejauhan untuk keluar dari Gunung Baurme ke Dataran Ukar.
Di Dataran Ukar, mereka menggunakan beberapa pakaian hangat di dalam mantel, sapu tangan, selendang musim dingin, topi, sepatu tebal, dan celana tebal mereka gunakan tanpa terkecuali.
Veru dan Kanae kebingungan atas apa yang mereka lakukan.
Tak hanya mereka berdua, para ksatria sama sekali tidak menyangka bahwa mereka dapat berganti pakaian dengan mudah tanpa kesulitan sedikitpun di alam liar.
Terkecuali para gadis, yang telah menggunakan penghalang agar tidak dilihat oleh siapapun memudahkan mereka untuk mengganti pakaian.
"Baiklah. Mari kita lakukan."
"Ya."
Mengabaikan selera aneh yang dimiliki oleh petualang yang bersama mereka, Kanae tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke kedalaman Gunung Baurme.
Menelusuri dengan jalan kaki, The Necromancer berada di barisan tengah. Di barisan depan dipimpin oleh Kanae dan pasukan ksatria kerajaan miliknya, dan di belakang barisan dipimpin oleh Veru dan pasukan kerajaan miliknya yang mengawasi keadaan.
Bagaimana ini, Regard?
Apakah kita harus mengerahkan kemampuan kita?
Tidak, kita tidak perlu terlihat mencolok sekarang.
Apakah tidak apa-apa jika kita berpura-pura lemah?
Ya.
Melalui [Mind Reading] dalam kepalanya untuk berkomunikasi, Regard yakin kalau mereka bertindak diluar perkiraan, para ksatria kerajaan tidak akan segan-segan untuk mengeksekusi mati mereka berempat, terkecuali Veru.
Bagi Regard, Veru adalah orang yang dapat dipercayai jadi mudah untuknya dalam mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuannya tanpa perlu mengkhawatirkan dirinya di masa depan.
Berbeda dengan Veru, Kanae tampaknya tidak terlihat bisa dipercaya.
Tindakan dan ekspresinya benar-benar memperlihatkan dirinya sebagai ksatria yang serius dalam menjalani apapun di kehidupannya. Bisa dikatakan dia jauh lebih baik dari Veru, tapi dia lebih rendah dalam segi kepercayaan dari Veru.
Itulah mengapa membiarkan Kanae tahu tentang dirinya sebagai seorang Necromancer adalah pilihan yang salah. Dia akan kehilangan seluruh yang dimilikinya di dunia yang sekarang. Mulai dari kehilangan tempat tinggal, kepercayaan, dan tujuan, Regard juga akan menerima ujaran kebencian dan hinaan yang terus-menerus dilakukan oleh orang-orang terhadapnya.
Tak hanya akan kehilangan semuanya, Regard akan diundang oleh iblis untuk ikut bersamanya yang menyebabkan masa depannya hancur.
"....."
Pergi ke tempat berbeda, Regard menepi ke pinggir area.
"Kemana kau akan pergi, Nak?"
"Kami... kami berempat ingin membuang air terlebih dahulu. Apakah boleh?"
"Baiklah."
Tersenyum pada izin yang diberikan oleh Kanae, Veru yakin itu hanya alasan Regard semata.
Sebenarnya Veru tahu bahwa Regard sengaja menjauh agar dirinya tidak terlihat mencolok dihadapan publik, khususnya pasukan ksatria dan Kanae yang berada di barisan depan.
"Berhati-hatilah, Nak!"
"Ya."
"Tentu."
"Terimakasih atas peringatannya."
Mereka berempat pergi dari barisan tanpa peduli atas keselamatan mereka.
Reita, apakah kau merasakannya?
Ya. Di kedalaman gua yang letaknya tidak jauh, ada kawanan serigala dan sosok yang jauh lebih kuat.
Friya!
Aku juga merasakannya.
Merasa yakin ini adalah kesempatan untuk berburu terlebih dahulu, satu-satunya keinginan Regard adalah melawan Fenrir dan mengetahui alasan dibalik tindakannya tersebut.
Selama informasi yang didapat minim dari Friya, Regard sama sekali tidak dapat memperkirakan alasan mengapa Fenrir terlihat kejam dan menakutkan pada manusia yang melewati Pegunungan Baurme.
"Ini..."
Melewati badai salju yang tiada hentinya, mereka melihat bahwa kawanan serigala terkapar di permukaan tanah.
__ADS_1
Tubuh mereka yang dipenuhi darah, anggota tubuh mereka yang sebagian patah, serta beberapa diantaranya ada yang hilang anggota tubuhnya membuat Regard dan yang lainnya merasa tempat ini benar-benar mengerikan.