
Tiba-tiba seluruh pandangan beralih ke tempat berbeda, Regard yang melihatnya yakin kalau suasana di sekitar yang sangat familiar membuat kedua tangannya terkepal kuat, kesal dan benci atas apa yang dilakukan oleh Stahark, Fuzikumibaru, dan Fallen Angel yang dengan teganya membunuh para penduduk, petualang, serta pedagang yang singgah, orang-orang yang tak berdosa mereka bunuh dengan mudah.
Seluruh petualang yang sedang berada di pemukiman penduduk, mereka sedang bersiap-siap untuk mencegah terjadinya penyerangan terhadap desa yang mereka tempati, mereka berniat untuk melindunginya dari apapun yang berniat untuk menghancurkannya.
Setiap petualang yang Regard lihat, mereka memiliki beragam tingkatan yang berbeda mulai dari; Black Adventure, Colorful Adventure, serta White Adventure, ketiganya tidak terlihat takut maupun lari dari tempatnya karena mereka yakin mereka akan tiada pada akhirnya, mereka siap untuk mengerahkan segala kemampuannya demi desa ini.
"Mustahil mereka bisa memenangkan pertarungan ini."
Dilihat dari segi manapun, musuh memiliki jumlah banyak yang terlihat di kedalaman hutan. Mulai dari; Undead, Golem, Skeleton, Witch, serta Hound, mereka menyerang penuh ke barisan depan, sedangkan barisan belakang terdapat; Fuzikumibaru, Fallen Angel, dan Stahark, mereka menunggu pasukan dihabisi terlebih dahulu agar mereka muncul sesudahnya.
Itulah apa yang Regard lihat melalui kegelapan yang menyelimuti pemukiman penduduk desa di Desa Elforia yang telah tiada sepenuhnya melalui class Necromancer miliknya.
"Sudah kuduga."
Tepat saat seluruh petualang yang telah bekerjasama berhasil mengatasi gerombolan monster yang maju, tenaga mereka yang telah terkuras habis tidak memiliki petualang lain yang dapat digunakan sebagai cadangan, pikiran Regard ialah ini merupakan akhir bagi mereka, para petualang yang akan tiada di Desa Elforia.
Fuzikumibaru yang membawa Marionette Makhluk Hidup berupa; wanita iblis, vampir, pria bertubuh besi, pria dengan palu petir, keempatnya adalah makhluk terkuat yang dibawanya, mereka dengan mudah meluluh lantakkan seluruh pasukan barisan depan.
Tidak peduli apakah mereka menggunakan pelindung, sihir pendukung dan lain-lainnya, keempat Marionette Makhluk Hidup itu dengan mudah melenyapkan mereka tanpa ampun tanpa simpati sedikitpun layaknya boneka yang dikendalikan.
Berikutnya yaitu Fallen Angel, mereka berdua yang terdiri dari pria dan wanita, mereka menyerang pasukan barisan belakang, menghancurkan setiap petualang yang memiliki class pendukung seperti High Priest, Minstrel, Bishop, Cleric, Wizard, Magic Barrier, High Archer, Summoner, semua telah tiada dengan cepat dan mudah oleh Fallen Angel.
Sisa dari pasukan yang masih selamat, mereka dilenyapkan oleh Stahark. Dengan satu kali tebasan vertikal yang melengkung, seluruh rumah-rumah penduduk, beberapa pohon yang terkena tebasan, hancur dan tumbang dalam sekejap.
"Graaaaaarrrrr!"
Dengan satu kali teriakan yang memekikkan telinga manapun, dari langit-langit malam yang gelap terdapat banyak lingkaran berwarna merah terang. Lingkaran sihir merah yang begitu terang mengeluarkan bongkahan meteor dalam jumlah banyak yang turun dengan cepat, menghantam permukaan tanah yang menyebabkan ledakan beruntun terjadi terus-menerus, membuat semua yang terkena jangkauan serangannya lenyap tak tersisa.
"Ini adalah pemandangan yang benar-benar membuatku kesal dan benci."
Dari lubuk hati terdalam, Regard yang membenci atas kelemahannya tidak dapet melakukan apapun saat tahu kondisi para penduduk desa maupun orang-orang yang singgah di desanya telah tiada karena ketidakberdayaannya.
Meskipun Regard sudah memiliki kemampuan dan kekuatan sebagai seorang Necromancer, ia tetap merasa putus asa, benci, dan dendam atas perlakuan buruk yang keji dari Stahark dan iblis lainnya yang mengikutinya.
"Apakah sudah selesai?"
Saat tahu kabut tebal yang sebelumnya sirna yang memperlihatkan masa lalu Regard mulai terlihat kembali, kabut itu perlahan-lahan sirna yang membuat pandangan Regard melihat kalau ia masih berada di tempat asing, tempat yang membuatnya terjebak dan terperangkap di dalamnya.
"Bagaimana, Manusia? Apakah kamu merasa kesal dan benci padaku? Ataukah kamu ingin menangis dan putus asa?"
Memperkirakan kalau ini yang terjadi, senyum melengkung di bibir Regard menandakan kalau ia senang atas penglihatannya di masa lalu kembali terulang untuk kedua kalinya. Ia yang tidak terlihat gemetar dalam diam dan takut, hanya terkekeh dan tertawa keras atas apa yang ditunjukkan Stahark padanya tadi.
"Semua itu sia-sia kau lakukan, Iblis. Tidak peduli sejauh mana kau menunjukkan masa lalu kelam yang kumiliki, aku tetap ingat bahwa aku telah menetapkan satu hal."
"Oh... jadi, kamu tidak gentar sedikitpun ya."
"Ya, begitulah."
Stahark yang berada di suatu tempat yang sedang memperhatikannya melalui cermin transparan dari kristal es yang memperlihatkan Regard menggigit jarinya, kesal dan jengkel atas ketidakberhasilannya dalam mengendalikan emosi Regard.
Rencana Stahark sebenarnya ingin memanipulasi emosi negatif Regard untuk bisa dikendalikan sepenuhnya menjadi pion, tapi tampaknya Regard tidak terpengaruh, Stahark hanya bisa melanjutkan untuk melakukan rencana berikutnya.
•••••
Shilphonia POV
__ADS_1
"Friya, Reita, Fuuya, Sasaki, dimana kalian berada?"
Tidak ada jawaban dari mereka, aku menelusuri setiap tempat yang tidak dikenal untuk berhati-hati terhadap musuh yang tidak diketahui.
Akan lebih baik jika kami bersama-sama memudahkan kami untuk menelusuri tempat, melawan musuh dengan kerjasama yang terjalin diantara kami, serta rasa saling percaya diri, aku bersyukur memiliki teman-teman di dekatku.
Tapi, kenapa mereka tidak ada di dekatku?
Berhati-hatilah, Shilphonia! Aku merasakan ada yang tidak biasa di tempat ini.
Tidak biasa?
Ya, sesuatu yang mengintai tanpa disadari, hanya itu firasat yang kurasakan.
Mendengar peringatan dari Stephani, aku yakin itu bukanlah peringatan biasa.
Biasanya Stephani tidak mengatakan itu padaku, dia memilih lebih cuek terhadapku. Tapi kali ini dia memperingatkan aku tentang meningkatkan kewaspadaan, aku yakin instingnya benar-benar dapat dipercaya.
"Dimana orang-orang?"
Mereka? Mereka sudah masuk ke tempat ini namun di tempat yang berbeda-beda."
"Itu artinya..."
Ya, kamu, Elf, Fenrir, Hu-Machina, Manusia, mereka berempat dipindahkan ke dimensi yang berbeda-beda namun dalam tempat yang sama.
Itu artinya aku dan teman-temanku yang ada di situasi sekarang, mereka juga mengalaminya?
Ya, tepat sekali.
Aku mengerti.
"Stephani!"
Jangan khawatir, itu hanya kabut biasa!
Kabut biasa?
Ya. Tidak ada monster maupun jebakan, bahkan iblis juga tidak ada.
Mendengar perkataan Stephani, aku bernafas lega, senang mengetahui tidak ada yang mengancam aku dari balik kabut.
Akan sangat merepotkan jika aku bertemu musuh yang bersembunyi dibalik kabut tebal, mungkin aku akan membabi buta serangan ke berbagai macam arah tanpa diketahui, aku akan melakukan tindakan yang beresiko demi melindungi diriku sendiri.
Atau aku mungkin akan bertukar tempat dengan Stephani, dia dengan mudah melakukannya tanpa kesulitan sedikitpun. Jadi, wajar bila aku harus mengabulkan permintaannya demi bertahan hidup untuk tidak tiada, aku rela membiarkan dia bersenang-senang dengan Regard.
"Ini...."
Di depan mataku, pandangan yang terasa akrab terlihat jelas di penglihatan aku sekarang.
•••••
Friya POV
Berdasarkan cerita Nek Ryadu, aku telah paham sepenuhnya.
__ADS_1
Sehari yang lalu, Nek Ryadu menceritakan padaku tentang ia dan beberapa elf pendahulu yang ikut terjebak di tempat yang sama sepertiku dan teman-temanku, ia menjelaskan padaku kalau dia dan teman-temannya dipisahkan dari satu dimensi ke dimensi lain.
Dengan kata lain, ada berlapis-lapis dimensi yang ada di tempat ini. Meskipun kami berada di tempat dan posisi yang sama, cara untuk menemukan satu sama lain tanpa kami ketahui bisa atau tidak, itu percuma saja dilakukan.
Itulah apa yang kudengar dari cerita Nek Ryadu.
Kalaupun bisa menemukannya, itu akan membutuhkan mana dalam jumlah banyak yang menyebabkan mana di tubuhku yang awalnya biasa terkuras habis, membuatku kelelahan dan menginginkan untuk beristirahat sejenak.
Ada cara lain agar bisa melakukannya yaitu mengalahkan Stahark, cara ini bisa dikatakan sebagai tindakan bunuh diri dan nekat jika aku benar-benar tidak mampu membunuhnya dengan tanganku sendiri.
Jangankan membunuh Stahark, melukainya pun aku tidak tahu bisa atau tidak, itulah yang aku takutkan dari sosok Stahark.
Seingat aku, Nek Ryadu menjelaskan tentang pertarungannya melawan Stahark.
Saat dia dan Stahark saling berhadap-hadapan, Nek Ryadu seringkali menghindar dan bertahan dari serangan yang dilancarkan oleh Stahark. Ketika tiba kesempatannya untuk menyerang, Nek Ryadu menggunakan seluruh sihir miliknya untuk melenyapkan Stahark lalu berniat berpindah tempat ke dimensi semula dengan membuat retakan.
Dari apa yang kudengar, Nek Ryadu yang awalnya berpikir berhasil, beliau justru malah mengenai tubuh hingga bagian kakinya yang membuat tubuh Stahark dari perut ke kaki terpotong oleh sihir terkuat Nek Ryadu. Sebelum Stahark menyerang beliau, beliau dengan cepat membuat retakan dan kabur dari dimensi itu untuk selama-lamanya.
Itulah apa yang dia ceritakan padaku yang menyebabkan Stahark, sosok menakutkan dan mengerikan itu muncul hanya dengan bagian perut ke kepalanya.
"....."
Secara mengejutkan, seluruh kabut tiba-tiba muncul dari pijakan, memenuhi pandangan membuatku memusatkan mana pada tubuhku untuk merasakan adakah ancaman di sekitar.
Selesai memastikannya, aku menyudahinya karena tidak ada apapun di sekitar melainkan hanya kabut biasa. Tapi meskipun begitu, aku tetap harus berhati-hati dan waspada atas apa yang ada dibalik kabut yang tidak aku ketahui sekarang.
"Ini...."
Sudah kuduga ini akan dimunculkan lebih cepat dari perkiraan aku, aku hanya terdiam sambil melihat ke sekitar saat kabut mulai sirna yang terganti oleh pemandangan yang akrab untukku lihat.
•••••
Di sepanjang jalan, Reita yang terus-menerus memperhatikan keindahan dan kecantikan yang ada di ruangan tempatnya berada, terkagum atas inferior yang ada di sekitar.
Dinding keemasan, garnet merah yang membentang luas di permukaan, serta langit-langit yang terbuat dari marmer, ia terus memperhatikannya tanpa takut atas apa yang ada di tempat ini seperti; monster, iblis maupun makhluk lainnya yang sama seperti Fuzikumibaru, ia mengabaikannya karena tahu tidak ada apapun yang mengancam nyawanya di dekatnya berada.
Kalaupun ada musuh yang berkamuflase tanpa diketahuinya, ada kemungkinan kalau Reita sudah menyadarinya sejak awal, sejak musuh mendekatinya maka Reita dapat sadar saat pijakan lantainya mengetahui ada musuh di dekatnya.
Apakah Kak Regard baik-baik saja ya?
Bertanya-tanya tentang dimana dan apa yang sedang dilakukan oleh Regard, kakak tirinya, Reita penasaran seperti apa dia dihadapkan dalam situasi seperti ini. Situasi yang dimana dia berada di tempat asing dan baru, Reita khawatir kalau Regard bukannya tiada, tapi bisa saja dia dengan mudah menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya tanpa ampun.
Itulah yang menjadi beban pikirannya sebagai adik angkatnya, adik tiri Regard.
"Apa ini?"
Saat kabut mulai menutup kedua kakinya, Reita bertanya-tanya darimana itu berasal. Perlahan-lahan kabut itu mulai menyebar ke segala arah, menutup tubuh dan pandangannya sepenuhnya, Reita tidak tahu atas apa yang terjadi sekarang.
Selama ia tetap tenang dan menunggu, Reita yakin kalau situasi ini dapat diatasi dengan mudah. Seperti yang diduganya, kabut mulai sirna yang terganti oleh pemandangan yang familiar untuk Reita lihat.
Di lain tempat, Fuuya yang sedang mengendus bau dari tubuh Regard dan teman-temannya tidak menemukan apapun dari baunya.
Mungkinkah aku berada di tempat yang berbeda dari mereka?
Seingatnya, Fuuya yang menyadari kalau sesepuh elf yang bungkuk itu memberitahu dia tentang adanya kemungkinan kalau mereka akan berada di tempat yang berbeda satu sama lain, ekspresi Fuuya yang terlihat kesal dan benci berpikir ini benar-benar merepotkan untuk dilakukan.
__ADS_1
Seharusnya dia sadar bahwa sesepuh elf bungkuk itu bisa melakukannya dengan mudah untuk memindahkan dia dan Regard di satu tempat, tapi dari apa yang dilakukannya tampak tidak terlihat demikian.
Alih-alih rasa kesal dan benci menyelimuti hatinya, Fuuya terus berjalan menelusuri koridor yang membentang luas dihadapannya dengan ekspresi rumit di wajahnya.