The Necromancer

The Necromancer
Ch. 27:Dia Adalah Musuh


__ADS_3

Di dalam perpustakaan, seorang pria berambut putih sedang membuka lembaran buku. Fokusnya yang tidak teralihkan oleh teman di sisinya yang merupakan seorang gadis berambut biru tua panjang, memeluknya dan mengelus kepalanya berkali-kali.


Hu-Machina ya.


Tidak ada penjelasan apapun mengenai Hu-Machina di dalam buku perpustakaan.


Setiap kali pria itu mencarinya, tidak ada informasi lebih tentang makhluk tersebut. Yang artinya makhluk yang disebut Hu-Machina merupakan keberadaan berbahaya yang harus diwaspadai selain Stahark.


"Apakah kamu sedang memikirkan sesuatu, Regard?"


"Ya."


Di samping Regard, wanita berambut biru tua panjang yang mencemaskan atas sikapnya yang berubah mendadak membuat dia tidak tahu harus bagaimana.


Secara keseluruhan, Fenrir hanya tahu bagaimana masa lalu Regard berada. Dia sendiri tidak tahu tentang fakta lain bahwa Regard telah memiliki Demi-human di kehidupannya di masa lalu.


"Apakah kamu benar-benar masih memikirkannya?"


"Ya. Keberadaan mereka... aku tidak bisa memaafkannya."


Ekspresinya yang diliputi kemarahan dan kebencian dapat dirasakan jelas oleh Fenrir jadi dia menghentikan kata-katanya dan diam di tempatnya berada.


Regard juga sama. Dia dengan mudah mengabaikan perasaan cemas dan khawatir Fenrir padanya memilih untuk memfokuskan diri pada informasi yang dibutuhkan dalam pencariannya.


Di dalam kamar penginapan, Shilphonia memandang ke arah jendela yang ada di depannya.


Pemandangan yang disajikan diluar jendela membuat dia tidak fokus pada keramaian penduduk kota yang sedang beraktivitas di siang hari. Satu-satunya yang menjadi pikirannya adalah kondisi Regard saat ini.


Shilphonia yakin alasan mengapa Regard tidak bertindak maupun berbicara dengan mereka bukan karena dia membenci orang-orang di dekatnya, tapi ada kemungkinan yang mereka tidak ketahui tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Bisa saja Regard yang terus memikirkan masa depannya membuatnya frustasi dan depresi menyebabkan dia mengabaikan semua orang di The Necromancer.


"Apakah dia baik-baik saja?"


Meskipun hanya ada dirinya seorang, Shilphonia tidak dapat menyembunyikan perasaan cemasnya terhadap Regard.


Selama Regard masih mengurungkan diri untuk berbicara, Shilphonia tidak bisa membuat kemajuan apapun baik dari menghiburnya maupun menenangkannya, keduanya sulit dilakukan jika dia tidak tahu permasalahannya.


Dalam Aula Guild Petualang, Reita dan Friya yang sedang bergegas mengambil misi segera meninggalkan Guild Petualang dengan cepat agar mereka bisa menyelesaikan misi secepat mungkin.


"Hei Friya, apakah tidak apa-apa membiarkan Regard berpikir sendirian?"


"Aku tidak tahu. Namun satu-satunya harapan kita saat ini adalah Fenrir yang menemaninya, hanya dia satu-satunya orang yang dapat memahami perasaan yang dirasakan oleh Regard."


"Kamu benar."


Ketika mereka keluar dari gerbang Kota Resihei, Friya dan Reita sama sekali tidak bisa melepaskan perasaan khawatir yang terjadi pada temannya, Regard.


Di tengah malam, bulan purnama melambung tinggi di langit-langit, diikuti oleh beberapa bintang yang bersinar terang berbaris memenuhi langit-langit malam membuatnya tampak indah.


Dentuman tanah terdengar keras.


Dibalik hutan-hutan yang ada di sekitar, sesosok bayangan hitam dengan mata merah keluar dari balik pohon, melompat tinggi di udara lalu melemparkan beberapa kemampuannya ke permukaan tanah.


Kobaran api yang membakar kawasan sekitar hutan, diikuti oleh bunga kristal es yang bermekaran di jangkauan luas di permukaan, sambaran kilat yang menggelegar mengenai permukaan berkali-kali menyebabkan area yang terkena sambaran gosong dalam sekejap, serta gundukan tanah yang berubah menjadi kawah dapat dilihat dengan jelas.


"Kenapa ini bisa terjadi?"


Dalam kata-katanya yang tenang, terdapat emosi yang mengandung di dalamnya.


Mendongak ke langit-langit, air mata membasahi pipinya membuat pria itu tak tega atas kenangan yang awalnya terlihat menyenangkan sekarang telah berubah menjadi suram.


Tidak ada satupun kawan dan rekan yang dapat dipercayai olehnya. Baik itu gadis berambut pirang panjang, gadis Elf berambut pirang panjang, gadis berambut biru, gadis berambut biru tua panjang, keempatnya sama sekali tidak berguna.


Mengepalkan tangannya, pria itu menggigit bibirnya.


Kesal dan benci, keduanya mulai menyelimuti hatinya. Sesekali ia ingin melampiaskan kekesalannya terhadap monster yang ada di sekitar maupun makhluk hidup yang ditemuinya, dia dapat dengan mudah menghabisi mereka tanpa ampun.


Namun jauh di dalam lubuk hatinya, memintanya untuk berhenti melakukan tindakan keji dan jahat pada makhluk tak bersalah.

__ADS_1


Apa yang harus kulakukan?


Menjatuhkan kedua lututnya, pria itu dalam posisi merangkak.


Perasaan yang sedang berkecamuk membuatnya sulit untuk melupakan kenangan bersama teman lamanya yang merupakan Demi-human.


Rasa senang, tawa, canda, sedih, dan bahagia, semuanya dirasakan olehnya tiap hari di Kota Farihiora selama dia pulang maupun berangkat ke misi yang akan dilakukannya.


Hujan mulai turun.


Diliputi oleh kesedihan mendalam, pria itu tidak bergeming untuk segera menghindar dari rintikan hujan. Akibatnya dirinya yang dibasahi oleh air hujan, terdiam di tempatnya dan terus merenungkan apa yang harus dilakukannya.


The Necromancer, rekan-rekannya yang baru, serta misi sebagai seorang petualang, ketiganya tidak lagi ada dalam pikirannya.


Satu-satunya yang tersisa adalah membalas dendam atas kematian Sasaki, teman lamanya yang menemani hidupnya dikala dia sendirian dulu.


"....."


Bangkit dari keterpurukannya, ide terlintas dalam benaknya.


Jika dia mati maka aku bisa hidupkan kembali. Hanya itu satu-satunya pilihan yang dapat dilakukan oleh pria tersebut jadi dia dengan segera mengaktifkan [Infinity Spirit] menyiapkan tubuh dari dirinya sendiri menggunakan [Shadow Clone] lalu mulai meletakkan [Soul Contract] yang sebelumnya dipegang olehnya untuk bisa membangkitkan sisa-sisa jiwa yang berhasil didapatnya.


[Shadow Clone] yang dirasuki oleh [Infinity Spirit] perlahan-lahan mengubah penampilannya menjadi sosok yang dikenalnya. Mulai dari rambut panjang, telinga serigala di kepalanya, ekor, tubuhnya yang kurus dengan pinggang ramping, dan kedua dada yang membesar dapat dilihat dengan jelas.


Sisanya ialah [Dark Contract] yang telah digunakan oleh Regard.


[Dark Contract] yang sebelumnya mengikat sebagian jiwanya berhasil ditanam dan diletakkan di tubuhnya membuat ingatan dan masa-masa sewaktu hidupnya dulu kembali semula.


"....."


"Apakah kau sudah sadar, Sasaki?"


"Tuan..."


Alih-alih dia senang, dia justru merasa terkejut atas kedatangan Regard yang berhasil membangkitkan dirinya, memeluk tubuhnya dengan erat dan menangis.


"Apakah sesuatu terjadi? Kau sudah lama tidak mengirimkan aku surat."


"Itu benar. Aku sempat ingin pulang beberapa hari lalu namun aku tidak dapat melakukannya."


"Tidak dapat melakukannya?"


"Ya. Selama beberapa minggu, aku memutuskan untuk menetap di kota-kota lain selagi aku melewatinya. Namun..."


"Sesuatu terjadi padamu bukan?"


"Ya."


Sekali lagi, Sasaki memeluknya dengan erat.


Regard yang sebelumnya memperhatikan kesedihannya yang mendalam atas ketidaktahuan dirinya yang membuat Sasaki seperti ini tidak dapat dimaafkan.


"Maafkan aku karena mengizinkan dirimu pergi waktu itu."


"Tidak... justru itulah sebabnya Tuan menyuruhku untuk pergi bukan?"


"Ya."


Walaupun dirinya menyuruh Sasaki pergi untuk menggali informasi lebih banyak, dia juga berkeinginan untuk membiarkan dia mendapat hak kebebasan dalam hidupnya sendiri agar tidak bergantung pada Regard.


Tapi, perkiraannya telah salah.


"Aku melihat bahwa mereka dalam jumlah banyak menghancurkan kota, membunuh para penduduk, dan memusnahkan seluruh gedung-gedung yang ada tanpa sisa."


Memahami perkataan dari Sasaki, Regard dapat membayangkan bahwa itu bisa saja terjadi.


Cepat atau lambat, dia yakin musuh kuat akan terus berdatangan seperti Hu-Machina. Mereka yang tidak memiliki informasi apapun membuat Regard frustasi untuk tahu sedikit informasi di perpustakaan namun sulit untuk didapatkan di tempat tersebut.


"Apakah jumlah mereka banyak?"

__ADS_1


"Ya. Mereka memiliki jumlah puluhan makhluk yang ada di langit-langit."


Puluhan ya.


Jika itu satu, Regard dapat mengalahkannya dengan mudah. Tapi saat mendengar jumlahnya puluhan, dia tidak tahu apakah dia mampu mengatasinya sendirian atau justru dia akan kalah.


Regard ragu untuk menjawab bahwa dia dapat melakukannya.


"Pokoknya saat ini, aku membutuhkan sebagian jiwamu kembali untuk berjaga-jaga. Apakah tidak apa-apa?"


"Ya."


Dengan senyum tulus di wajahnya, Regard mulai melakukan hal yang sama persis seperti sebelumnya.


•••••


Regard POV


"Begitulah ceritanya."


Setelah menjelaskan pada mereka alasan mengapa aku tidak berbicara, makan dan minum selama beberapa hari, aku merasa muak atas apa yang terjadi pada Sasaki.


Meskipun dia adalah peliharaan aku, dia adalah satu-satunya temanku dulu jadi siapapun yang menyakitinya akan ikut merasakan hal serupa seperti yang dialaminya dulu.


"Syukurlah jika kamu sudah kembali."


"Ya."


"Aku takut kalau kamu akan menyerah pada kegelapan yang ada di dirimu sendiri."


Mana mungkin.


Seandainya aku menyerah pada kegelapan, aku sudah lama dikendalikan olehnya. Setidaknya aku bisa seperti sekarang karena aku masih sedikit mempercayai bahwa membiarkan emosi mengendalikan diriku, aku akan kehilangan tubuh dan pikiranku sendiri.


Sebisa mungkin aku menanamnya di benak kepala sebagai peringatan.


"Oh ya Regard, apakah kamu mau ikut bersama kami?"


"Ikut?"


"Ya. Kami ingin pergi untuk menelusuri Lost Town yang ada di barat daya dari Kota Resihei."


Lost Town ya.


Seingat aku, Lost Town dulunya adalah kota yang ditinggal oleh para penduduk. Konon katanya di kota tersebut, kumpulan mayat hidup beraktivitas di malam hari, menjebak mangsanya dan membunuh siapapun yang memasukinya.


Itu hanya rumor ya.


Kalaupun benar terjadi, aku penasaran adakah seorang Necromancer yang mengendalikan mereka atau orang-orang yang dialiri oleh kegelapan di dalam diri mereka.


"Ada apa, Sasaki?"


"Lost Town adalah tempat dimana kota tersebut ditargetkan oleh Hu-Machina."


"....."


Hu-Machina ya.


Ini akan menjadi menarik.


"Kita akan pergi."


"Benarkah?"


"Ya."


Dengan begitu, kami pergi meninggalkan kota menggunakan transportasi umum di Kota Resihei.


Aku menyewa dua transportasi kali ini. Aku, Fenrir, dan Shilph, kami bertiga berada satu kereta, sedangkan Friya, Reita, dan Sasaki berada di kereta lain yang telah aku sewa sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2