The Necromancer

The Necromancer
Ch. 40,4:Belenggu dan Kebebasan (4)


__ADS_3

Dirasa sudah cukup untuk melenyapkan cloning milik Sasaki, sosok iblis itu kembali mendekati Sasaki asli yang masih terdiam di tempatnya dengan berjalan santai.


"Kamu sudah terpojok sekarang, Demi-human."


"Ya, kamu benar."


Tersenyum dan berterus-terang padanya, kedua tangan Sasaki diangkat ke atas menandakan bahwa dia sudah menyerah.


"Pada akhirnya kamu tidak lebih hanya Demi-human yang lemah."


"Kamu benar."


"Tidak dapat melakukan apapun selain pertunjukan tadi, kamu hanya seorang sampah."


"Ya."


"Bahkan kamu tidak layak disebut sebagai orang hebat oleh mereka."


"Tepat sekali."


Setiap kali sosok iblis itu merendahkan dirinya, Sasaki setuju pada kata-katanya.


Dirinya tidak kuat maupun lemah melainkan berada di tingkat umum yang sedang tanpa ada satupun dari dirinya yang terbilang hebat dan kuat. Itulah mengapa Sasaki setuju karena dia sadar bahwa dirinya tidak seperti mereka, keempat orang yang selalu berada di dekat tuannya, Regard selama perjalanannya berlangsung.


Setiap Sasaki memperhatikan kedekatan mereka, dia selalu berpikir dalam kesendiriannya di malam hari.


Apakah dia sudah cukup kuat untuk disandingkan dengan mereka ataukah belum, pola pikir itu terus-menerus berputar dalam benaknya setiap kali dia sendirian di kamarnya.


"Beristirahatlah dengan tenang!"


Di lengan kanan sosok iblis terdapat pedang berukuran besar yang seharusnya dipegang dua tangan mampu dipegang satu tangan olehnya yang diangkat ke langit-langit dan siap untuk menghunuskan pedangnya ke tubuh Sasaki.


Trang!


"....."


Gelombang kejut membuat perisai transparan bereaksi beberapa kali hingga akhirnya retakan mulai terlihat dibalik transparannya.


Aku serahkan padamu, Sasaki.


Baik.


Seseorang yang menghubungi dirinya melalui [Mind Reading] membuat dia tersenyum atas ketahuannya rencana yang dimiliki oleh tuannya, Regard atas apa yang akan dilakukannya.


"Meskipun aku lemah dan sampah, tapi aku masih memiliki harga diri untuk bisa hidup bersama mereka."


Cahaya keperakan terlihat membungkus tubuh Sasaki yang begitu menyilaukan mata wanita tersebut.


Wanita yang ada di dekatnya dengan cepat melompat mundur untuk menjaga jarak sambil menghalangi pandangannya dengan kedua lengannya disilangkan ke depan untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.


Mengamuk sesuka hatimu, Sasaki.


Kata-kata itu masih terngiang dalam hati Sasaki yang membuat dia yakin bahwa tuannya sedang menunggunya.


Aku akan menyelesaikan ini secepatnya, Tuan.


Diikuti dengan ekspresi serius dan tatapan matanya yang tajam, tubuh Sasaki tidak terlihat karena cahaya perak yang menyilaukan telah membungkus seluruh tubuhnya membuat wanita itu sulit untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Aura ini...."


"Mungkinkah mana dalam jumlah banyak ialah miliknya?"


"....."


Reita yang dapat merasakan aura yang berbeda dipancarkan oleh sosok yang mereka kenal, Sasaki yang berada jauh dengan aura keperakan yang cukup kuat untuk dapat dirasakannya.


Friya yang mengetahui sejumlah mana dalam jumlah banyak mengalir di tubuh Sasaki membuat dia terdiam dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri, siapa sebenarnya Sasaki dan apa yang sedang dilakukannya dengan mana dalam jumlah banyak.


Tidak seperti mereka berdua, Fuuya yang menyadari ada bau yang berbeda dari sosok familiar yang menjadi saingan sekaligus temannya, Sasaki hanya terdiam sambil mengatupkan giginya seolah-olah tidak senang atas keberadaan seseorang yang berbeda.


Di dalam Kota Fiasfa bagian tengah, seorang pria berambut putih sedang menyeruput teh di cangkirnya sambil menikmati aroma wangi teg yang terasa menenangkan.

__ADS_1


Pria itu meletakkan cangkir di meja, tersenyum dan melihat ke sekeliling untuk mengetahui keramaian yang ada di Aula Guild Petualang.


Cepat atau lambat, semuanya akan berakhir.


Berpikir bahwa dia akan menyelesaikannya, Regard harap semuanya dapat teratasi dengan mudah tanpa kesulitan sedikitpun.


Beberapa tahun yang lalu.


"Ini benar-benar menguntungkan sekali."


Di dalam aula umum di suatu restoran, Regard yang mengikat kantong kain yang dimainkan talinya menggunakan jari, tersenyum pada penghasilan yang didapat melalui petualang. Meskipun hasilnya terbilang cukup rendah, dia bersyukur bahwa itu dapat membuatnya bisa hidup serba kecukupan tanpa perlu ada kemewahan di dalamnya.


Apalagi dirinya yang memiliki penghasilan lebih melalui perburuan malam sebagai Dark Knight Hero maupun Demon Nightmare yang dirumorkan oleh orang-orang, dia sama sekali tidak menggunakannya untuk foya-foya melainkan dia simpan untuk keperluan nanti.


"Ini dia, Tuan!"


"Terimakasih."


"....."


Pandangannya yang bertemu dengan pandangan seorang gadis berambut pirang panjang yang melayaninya dengan cangkir berisikan teh dan pancake yang disediakan di meja membuat Regard terdiam sesaat.


Menurut Regard, tatapan mata yang terlihat dari mata gadis berambut pirang panjang dengan telinganya yang ada di kepala sangat sedih karena suatu hal. Entah alasan apa yang membuatnya sedih, Regard hanya bisa mengartikan tatapannya seperti itu sebelumnya.


Apa yang membuatnya sedih?


Dalam diam sambil menyeruput teh dan menyantap makanan pancake miliknya, Regard memperhatikan gadis Demi-human yang mengenakan pakaian minim berwarna putih yang terlihat tipis sehingga memperlihatkan *********** yang besar dan bokongnya yang menggoda membuat siapapun merasa senang.


"Nona, bisakah aku meminta dirimu untuk melayani aku?"


"Baik."


Melalui ekspresi sedih yang diperlihatkannya, gadis itu mendekati salah satu pengunjung restoran yang meminta dia untuk melakukan pelayanan servis yang disediakan di restoran dia bekerja.


Permintaan layanan darinya terbilang aneh menurut Regard yaitu dia yang menyentuh pahanya dan meraba-raba menggunakan tangan kanannya hingga menyentuh selangkangannya membuat ekspresi gadis Demi-human terlihat tidak ingin dirinya dikotori.


Meskipun dia tidak ingin dikotori, gadis Demi-human tetap tidak bisa melakukan apapun.


Ini benar-benar keterlaluan sekali.


Berdiri dan berjalan mendekati meja yang berisikan petualang yang sedang bersenang-senang dengan gadis Demi-human, Regard terlihat kesal atas tingkah laku mereka yang seakan-akan terlihat tidak berdosa dalam memainkan hati seorang wanita.


"Bisakah kalian hentikan itu? Aku muak melihat kalian mempermainkannya."


"Huh? Apa maksudmu?"


"Kenapa kau terlihat kesal pada kami?"


"Itu benar. Bukankah itu hal wajar bagi kita meminta layanan tambahan dari budak ini?"


Ketiga pria yang awalnya duduk berdiri dan menatap tajam pada Regard dengan ekspresi yang tidak terima atas kata-katanya tadi.


Bagi mereka, budak tetaplah budak. Jika mereka mau bertahan hidup, mereka harus mengikuti perintah tuannya, setidaknya itulah pemahaman mereka mengenai perbudakan.


Tidak seperti mereka, Regard berpikir kalau pola pikir mereka telah sepenuhnya salah.


Walaupun Demi-human adalah seorang budak, dia tetap memiliki hak untuk hidup jadi dia dapat memutuskan apakah dia mau melakukannya atau tidak, dia harus dapat memilihnya.


Jika semua makhluk yang menjadi budak tidak memiliki hak untuk memilih hidupnya, Regard yakin kalau mereka tidak akan tahu arti dari kehidupan yang bermakna dan tidak bermakna yang dirasakan dan dimiliki oleh orang-orang pada umumnya.


"Apakah kau kemari ingin mengganggu kami, Nak?"


"Benar. Bukankah lebih baik kau menutup mata dan berpura-pura untuk tidak melihat atas apa yang kau lihat sekarang?"


Memejamkan matanya dan menghela nafas panjang, Regard sama sekali tidak mau membiarkan situasi seperti ini terjadi lagi jadi dia menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Kalian benar-benar bodoh sekali."


"Apa katamu!?"


Seorang pria bertubuh kurus dengan wajahnya yang cekung mendekatinya dan memukul dengan tinju tangan kanannya ke Regard tanpa perlu menahannya.

__ADS_1


Regard yang tahu itu akan terjadi menghindar dan menangkisnya berkali-kali.


"Kalian bantu aku untuk memberinya pelajaran!"


"Baik."


Kedua pria yang mulai mendekati Regard mengepalkan tangannya dan bersiap untuk meninjunya.


Seorang pria bertubuh gemuk menerjang langsung ke arahnya, meninjunya berkali-kali namun gagal dilakukannya karena Regard dengan mudahnya mampu menghindari tinjuannya yang mudah terbaca.


Kesal atas dirinya yang selalu menghindar, pria gemuk itu mendorong tubuh Regard dengan kedua tangannya yang membuat tubuhnya membentur beberapa meja dan kursi menyebabkan beberapa pelanggan restoran yang sedang menikmati makanan bergegas keluar dan pergi secepat mungkin karena kericuhan yang terjadi.


"Kuh...."


"Rasakan ini!"


Berhasil mendorong tubuhnya dengan kuat menggunakan kekuatannya ke dinding, pria gemuk berniat memukul wajah Regard berkali-kali untuk memberinya pelajaran dengan membuatnya babak belur.


Setiap kali tinjuan diarahkan ke wajahnya, Regard menahannya dengan kedua pergelangan tangannya yang menyilang menutupi wajahnya agar dia menghindar dari luka memar akibat tinjuan pria gemuk tersebut.


"Kau benar-benar menyebalkan sekali."


"....."


Mengetahui pria itu dengan cepat berniat memukul dalam sekejap menggunakan gerakan spiral oleh tangan kanannya, Regard menundukkan kepalanya dan menyerang perut pria gemuk itu tanpa perlu menahannya lagi.


Pria gemuk yang terkena tinjuannya jatuh ke lantai dan meringis kesakitan karena pukulannya tidak terasa hanya sakit, tapi juga membuat beberapa tubuhnya masih tersisa pukulan darinya.


"Kau..."


Pria dengan tubuh sedang berlari ke arah Regard bersiap-siap untuk menikamnya menggunakan belati yang disimpannya di saku celana zirah miliknya.


Berkali-kali dia menggerakkan pisau belatinya, Regard selalu menghindar tanpa kesulitan sedikitpun dalam menghadapinya maupun terpojok oleh pria bertubuh sedang yang mahir dalam menggunakan pisau belati.


"Aku akan membantumu!"


Pria kurus yang berlari ke arah Regard mencoba meninjunya berkali-kali namun gagal untuk mengenai wajah maupun perutnya. Setiap kali tinjuannya diarahkan padanya, Regard dengan mudah menghindar dan bahkan menangkisnya dengan cepat tanpa kesulitan sedikitpun.


"Sekarang!"


"Baik."


"....."


Di belakang Regard terlihat pria bertubuh sedang berlari dari arah titik buta membawa pisau belati yang bersiap untuk menusuknya.


"Bercanda!"


Ekspresinya yang terlihat terkejut berubah menjadi senyum atas reaksi mereka yang berpikir bahwa mereka dapat memojokkannya.


Sayangnya tidak semudah itu.


Regard yang mengerahkan beberapa mana membuat keduanya terpental dan tersungkur ke lantai tidak sadarkan diri.


Sepertinya aku telah membuat keributan besar ya.


Selesai memperhatikan sekitarnya dengan seksama, Regard menghela nafas panjang.


Sulit untuk berpikir bahwa dia tidak menyebabkan masalah sedikitpun. Baik itu ketiga pria yang mencoba berniat membunuh dan membuatnya babak belur maupun dirinya sendiri, mereka telah salah karena membuat suasana di restoran menjadi berantakan dan hancur seperti yang terlihat sekarang.


"Kau benar-benar menakjubkan sekali ya, Nak."


Di dekat pintu masuk karyawan, seorang pria bertubuh gemuk berdiri sambil menyilang kedua tangannya di dada dan menatap Regard dengan tajam.


"Tapi, apa yang harus kau lakukan sekarang? Maukah kau bertanggungjawab atas kerusakan semua yang terjadi di restoran aku dan mengganti rugi semuanya atau kau mau lari dari masalah ini?"


Berjalan mendekati Regard, di salah satu lengannya terdapat sebuah pisau dapur yang berukuran besar yang digunakan untuk memotong daging terlihat mengkilap saat terpantul cahaya di dalam restoran.


"Aku akan bertanggungjawab atas masalah ini."


"Baguslah kalau kau mau bertanggungjawab."

__ADS_1


Tanpa perlu berjalan mendekati dirinya dan memberinya pelajaran, pria itu meletakkan kembali pisaunya ke ruangan khusus karyawan dan membiarkan Regard sendirian di tempatnya berada.


__ADS_2