
Derap langkah kaki terdengar menggema di kedalaman gua. Bunyi dari besi-besi yang menyentuh tanah dapat terdengar memenuhi seisi gua yang terulang lagi.
"....."
Sosok zirah hitam yang telah menyatu dengan kegelapan tidak dapat dilihat namun hanya satu yang dapat terlihat yaitu matanya yang berwarna merah terang di kegelapan menyala di satu matanya.
"Hmmm...."
Tepat ketika dia berhenti melangkah masuk ke kedalaman gua, sebuah cahaya keperakan dalam ukuran besar berwarna putih dan hitam menjadi sebuah bola melesat cepat ke arahnya.
Menyedihkan.
Disaat zirah hitam mengarahkan pedang yang diselimuti kegelapan ke depannya yang dipegang terbalik melindungi dirinya. Pedang yang awalnya terlihat pedang seperti ksatria berubah menjadi pedang berukuran besar yang seharusnya diangkat kedua tangan mampu diangkatnya dalam satu tangan.
Bola berwarna hitam dan putih menyebar ke sekitar gua menepis keberadaan zirah hitam yang terlindungi oleh cahaya berwarna hitam pekat yang membentuk sebuah setengah lingkaran membuatnya selamat.
"Kau benar-benar buruk sekali ya, Veru. Kau telah ditelan kegelapan. Benar-benar tidak terlihat sama seperti dirimu yang sebelumnya."
Dibalik suara yang datang dari depannya, sesosok pria dengan zirah berwarna merah terang bagaikan api terlihat jelas di gua yang gelap. Helm zirah yang menutupi wajahnya telah sepenuhnya hilang yang menampilkan wajah yang dikenal oleh soso zirah hitam.
"Kanae..."
Menghilang dari tempatnya berada, zirah hitam dengan tumpuan kaki yang kuat yang terdapat banyak beban dalam satu kali ayunan pedang besar yang sempat ditahan oleh pria dengan zirah berwarna merah terang, Kanae membuatnya kesulitan untuk mempertahankan posisinya.
Dia benar-benar sudah dibutakan oleh kegelapan.
Di lengan kirinya yang tidak menahan ayunan pedang dengan berat yang sulit untuk ditangkis oleh manusia manapun, pedang berwarna perak muncul lalu menusuk perut dari zirah hitam di dekatnya.
"Sayang sekali kau tidak unggul dalam hal ini tanpa pikiran jernih dari dirimu sendiri."
Melompat mundur dan memegang lukanya, zirah hitam yang melihatnya dengan cepat menyembuhkannya dengan mudah.
Salah satu lengan kirinya yang terdapat bercak darah yang membekas yang masib basah memegang perutnya membuat luka yang terbuat dari tusukan pedang berwarna perak tadi dapat dihilangkan dengan cahaya keperakan yang telah redup oleh kegelapan.
"Kanae..."
Dengan melontarkan teriakan yang menggema di kedalaman gua, sosok zirah hitam menerjang langsung ke arah Kanae.
Kanae yang berkali-kali menangkis ayunan pedang dari zirah hitam, menundukkan kepalanya dari tebasan cepat bagaikan kilat yang sulit dibaca manusia, dan mencondongkan tubuhnya ke depan untuk menebas bagian paru-paru dari zirah hitam.
Trang!
Sayangnya usaha Kanae tidak membuahkan hasil sama sekali.
Zirah hitam yang berhasil melindungi tubuh dari sosoknya terhadap pedang perak yang dipegang Kanae, dia tahu bahwa itu bukan hanya dilapisi oleh baja melainkan bijih material berkualitas yang terkenal sebagai Mythrill.
"Enyahlah!"
Ketika teriakan itu dilakukan, hembusan angin kejut menyebabkan tubuh Kanae terpental jauh ke belakang membuat tubuhnya terbentuk beberapa bebatuan di gua. Kepalanya yang mengalir darah dengan deras dipegang Kanae, dan tersenyum pada apa yang dilakukan oleh teman baiknya itu padanya.
"Kau benar-benar payah dalam bertarung."
Ekspresinya yang terlihat senyum ringan atas perkiraannya sesuai dugaan, Kanae merubah ekspresinya menjadi serius dan fokus.
Di sekitar lengan Kanae, beberapa bola berwarna hitam dan putih yang bercampur terlihat mengambang.
Tidak dapat menunggu lebih lama, Kanae berlari menerjang ke zirah hitam yang masih terdiam berdiri di tempatnya.
"Matilah!"
Tring~
Duar.
Rentetan ledakan yang disebabkan oleh Kanae pada tubuh zirah hitam membuat sekitarnya menjadi penuh dengan butiran debu tanah.
__ADS_1
"Cih. Dia masih dapat bertahan ya."
Melihat dan merasakan kehadirannya yang dapat dijangkau, Kanae yakin serangan tadi seharusnya bisa melumpuhkan maupun menembus zirah hitam miliknya yang kuat. Tapi, perkiraannya sepenuhnya salah jadi dia tahu itu hanya akan tindakan yang sia-sia.
"Kanae!"
Sejumlah mana yang diselimuti di ujung pedang mulai membesar yang membuat zirah hitam menebas udara kosong berkali-kali menghasilkan garis hitam dalam bentuk panjang dari udara tipis yang berubah menjadi warna hitam mengarah pada Kanae.
"Sayang sekali. Aku tidak akan bisa kau lukai."
Terkejut atas sosok zirah hitam yang sirna, Kanae melihat ke sekitar untuk memastikan dimana keberadaannya.
"Matilah!"
Tepat ketika pedang itu muncul dari langit-langit gua, Kanae yang menyadarinya mampu menahannya dengan pedang berwarna perak yang digenggamnya.
Tumpuan berat yang dihasilkan oleh gerakannya benar-benar membuat Kanae tidak dapat menahannya lebih lama karena itu akan menyebabkan ledakan yang hebat jika dia terus-menerus menahan pedang besar dari milik zirah hitam yang terus memojokkan dirinya.
"Hiyaaaa!"
Membuat gelombang kejut berwarna putih, cahaya menyilaukan terlihat di zirah hitam membuatnya lumpuh dalam melihat hal-hal di sekitarnya.
Ini kesempatan.
Kamae yang menduga ini yang akan terjadi, dia dengan mudah menendang perut dari zirah hitam dengan kuat. Sejumlah mana dialirkan di kakinya yang membuatnya diselimuti oleh warna biru laut terang yang menyebabkan zirah hitam terpental dan membanting di bebatuan di kedalaman gua.
Tidak melewatkan kesempatan yang ada, Kanae yang memasang ancang-ancang bersiap untuk melakukan serangan terakhir.
Beberapa cahaya berwarna putih yang tampak seperti bintang terlihat di kedua sisi yang mengambang di belakang punggungnya. Perlahan-lahan bintang itu mengarah ke ujung pedang dan mulai menyinari kegelapan yang berubah menjadi cahaya keperakan.
"Ini adalah teknik baru terkuat milikku."
Berlari langsung dan melompat salto, Kanae menebasnya sekali yang menyebabkan luka bagi zirah hitam yang tidak dapat merasakan apapun.
"Semuanya sudah berakhir."
Cahaya putih yang menyilaukan mulai terlihat di celah-celah zirah hitam yang perlahan-lahan membesar dan mulai membentuk sebuah bintang yang bersinar di kedalaman gua.
"Aaaarrrrggggghhhh!"
Tidak dapat menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya, sosok yang ada dibalik zirah hitam perlahan-lahan mulai terjatuh ke permukaan dan tak sadarkan diri.
Kegelapan yang ada di dalam dirinya telah sirna terganti oleh sosok pria yang tak berdaya yang tidak mengenakan pakaian di bagian tubuh atasnya.
"Kau benar-benar menyedihkan ya, Sobat."
Memandang rendah pada pria yang tak berdaya, Kanae mengeluarkan pedang dari udara kosong. Pedang yang dikeluarkannya bukanlah pedang hebat melainkan pedang biasa yang terbuat dari material tingkat rendah yang biasa digunakan di pelatihan para ksatria kerajaan.
"Selamat tinggal."
Tepat ketika kata-kata itu diucapkan, pedang itu menembus ke jantung milik sosok pria tanpa merasa simpati pada apa yang dilakukan Kanae terhadapnya.
•••••
Dia benar-benar kasihan sekali.
Terlepas dari ingatan yang dilihatnya, wanita itu hanya bisa simpati atas kondisi yang terjadi pada ksatria yang sedang duduk termenung dihadapannya.
"Aku... aku tidak tahu apa yang terjadi."
Mengingat-ingat tanpa ada satu jawaban dari dalam dirinya, pria itu terlihat kebingungan atas apa yang sebenarnya terjadi.
Menurutnya, dia terakhir kali sadar dan ingat berada di ruang bawah tanah dibalik jeruji besi yang menahannya. Tapi, ingatan lainnya sama sekali tidak dia temukan yang membuat dia keheranan atas apa yang terjadi pada dirinya sebelumnya.
"Apakah kamu mau ikut bersamaku, Tuan Ksatria? Aku bisa memberikan tempat tinggal untukmu."
__ADS_1
"Maaf, aku tidak bisa karena aku takut melukai dirimu."
Ditolak mentah-mentah oleh pria dihadapannya yang sedang merenung dalam duduknya, wanita itu hanya tersenyum kecil atas dugaannya yang menolak dirinya.
"Tidak apa-apa. Aku tidak akan semudah itu untuk dilukai olehmu."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku ialah aku adalah orang yang kuat jadi mustahil bagiku untuk dilukai olehmu."
Mengulangi kata-katanya sekali lagi, ksatria yang sedang termenung menatap padanya yang kebingungan atas maksud perkataannya.
Wanita itu yang menduga itu yang terjadi, terkekeh dan tertawa.
Dia tidak menyangka bahwa Ksatria Kerajaan yang terhormat yang seharusnya cukup kuat mudah untuk ditelan oleh kegelapan. Tak hanya ditelan oleh kegelapan, dirinya yang telah membunuh banyak sekali orang-orang tak bersalah dan tam berdosa membuat dirinya kebingungan atas apa yang diperbuatnya sebelumnya yang tidak dia sadari.
Dia benar-benar lucu sekali.
Masih memandang pria dihadapannya dengan senyum ringan, ksatria itu berdiri dan menjauh beberapa langkah darinya.
"Siapa kau? Apa yang kau mau dariku?"
"Kamu tidak sopan sekali ya, Tuan Ksatria. Aku adalah orang yang melihatmu untuk pertama kalinya dan menyelamatkan dirimu jadi kamu harus berterimakasih padaku."
"....."
Ekspresinya yang terlihat kesal dan benci, serta bibirnya yang digigitnya benar-benar pemandangan yang lucu untuk disaksikan langsung oleh wanita yang ada di depannya.
Baiklah. Sudah cukup untuk mengerjainya.
Di sekitar tubuhnya terdapat bayangan hitam yang membungkus dirinya dan merubah penampilan wanita yang mengenakan pakaian penduduk kota menjadi seorang pria berambut putih pendek.
"Bagaimana menurutmu, Paman? Apakah kau masih mengenali diriku?"
"Kau..."
Kedua tangannya yang mengepal lalu dilepaskan, serta lututnya yang terjatuh ke permukaan tanah benar-benar membuat pria itu tampak terpuruk saat tahu bahwa wanita itu adalah orang yang dahulunya pernah kehilangan kendali karena ditelan oleh kegelapan.
"Kenapa kau bisa ada disini, Arthen?"
"Itulah yang ingin kutanyakan padamu."
"Apa maksudmu?"
Keduanya saling bertatapan dalam waktu yang cukup lama sebelum salah satu dari mereka, Regard menjelaskan semua kejadiannya pada Veru.
"Kau yang tiba-tiba datang ke tempat ini menyerang aku dalam kegelapan yang menyelimuti dirimu."
"Aku..."
Tidak dapat berkata apapun, Veru yang terdiam di tempatnya masih berpikir keras tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak bisa mengingatnya ya.
Mendekat ke arah Veru dan memegang kepalanya dengan lengan kanan, Regard memberikan ingatan atas apa yang terjadi padanya secara langsung melalui kepalanya.
Ini....
Kepingan-kepingan ingatan mulai terlihat perlahan-lahan di benaknya membuat mereka menyatu membentuk ingatan dalam jumlah banyak yang sebelumnya tidak dapat disadarinya.
"Mustahil."
"Tidak, itu adalah apa yang sebenarnya terjadi."
"....."
__ADS_1
Ekspresinya yang pucat dan ketakutan menatap langsung pada Regard, pria yang ada dihadapannya. Regard yang menatap Veru tanpa memperlihatkan rasa simpati atas masalahnya membuat Veru yakin bahwa dia terlihat merendahkannya.