
"Apakah anda ingin menyewa satu kamar lagi, Tuan?"
"Ya."
"Baiklah. Mohon tunggu sebentar!"
"Baik."
Seorang gadis keluar dari meja resepsi ke lantai atas untuk memeriksa kamar penginapan yang masih tersedia. Dikarenakan ada beberapa kamar kosong, gadis itu takut kalau barang-barang bekas orang yang menyewa penginapan tertinggal jadi dia mencoba memeriksa untuk mengetahui adakah ketertinggalan dari penghuni sebelumnya atau tidak, dia hanya mau memastikannya.
"Apakah tidak apa-apa untukku memiliki satu kamar untuk menginap bersamamu? Bukankah lebih baik jika aku satu kamar bersamamu untuk melayani dirimu sepuasnya?"
"Itu tidak perlu."
"Tidak perlu? Kenapa?"
"Aku tidak tertarik untuk melakukannya padamu."
"Tidak tertarik ya."
Tersenyum pahit atas kata-kata kasar dan tegas yang diberikan oleh tuannya yang baru, gadis itu menundukkan kepalanya untuk menutupi ekspresinya yang sedih atas penolakan mentah-mentah darinya.
Apakah aku tidak layak untuknya?
Pikiran itu muncul dalam benaknya yang sama sekali tidak dapat terjawab setiap kali dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Setelah kita mendapatkan kamar, aku ingin kau masuk ke kamar dan beristirahat untuk keesokan harinya."
"Apakah tidak apa-apa untukku?"
"Ya. Kau bebas melakukan apapun yang kau sukai seperti makan, tidur, dan mandi, semua terserah padamu."
"....."
Regard yang memahami situasi canggung berusaha membuat suasana membaik, tapi dia justru malah membuatnya terlihat bingung atas perkataan yang disampaikannya tadi pada gadis Demi-human.
Dia benar-benar polos ya.
Memegang keningnya, Regard pusing untuk menjelaskannya darimana terlebih dahulu.
Selama dia tidak menjelaskannya, gadis Demi-human terus kebingungan atas kata-kata yang tidak seharusnya dia dapatkan dari perlakuan baik Regard padanya. Tentunya Regard paham atas hal tersebut jadi dia menyadarinya lebih cepat tanpa perlu gadis itu menanyakannya langsung pada dirinya.
"Mulai hari ini dan seterusnya, aku ingin kau menjalani kehidupan seperti orang-orang pada umumnya untuk tahu arti sesungguhnya dari namanya kehidupan."
"Itu..."
Menatap Regard sesaat lalu menundukkan kepalanya, ekspresinya berubah menjadi terharu atas kebaikan yang tidak dapat dibalasnya terhadap dirinya. Regard yang sedari tadi terdiam tanpa mengatakan apapun memandang kedua lengannya yang mengepal dan gemetar sesaat menandakan bahwa dia sedang bersedih atas kebaikannya.
Selama beberapa saat mereka menunggu di lantai dasar, gadis itu kembali ke lantai dasar mendekati mereka berdua.
"Kau boleh menempati kamar yang ada di sebelah kamarmu."
"Lucky."
Mengeluarkan kantong kain berisikan koin tembaga, Regard memberikannya pada gadis itu lalu beranjak naik ke lantai kedua tanpa mengatakan apapun.
"Tunggu apalagi? Cepat naik dan beristirahatlah!"
"Baik."
Tanpa mengatakan keberatan maupun menolaknya, gadis Demi-human mengikuti perkataannya yang menyuruhnya untuk beristirahat di kamar hingga hari esok tiba.
"Sebelum kau beristirahat, aku akan memesan beberapa makanan dan minuman."
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku masih kenyang karena telah diberi makan tadi pagi oleh tuanku sebelumnya."
"Oh... tuan itu rupanya baik sekali padamu ya."
"Ya."
Tersenyum pada Regard yang memandangnya dalam diam, dia menyudahinya dan masuk ke dalam kamarnya tanpa mengatakan apapun pada gadis Demi-human.
Gadis Demi-human menghela nafas panjang, dia lega atas keberhasilannya menipu tuannya sendiri bahwa dia telah makan tadi pagi. Padahal sebenarnya gadis itu belum makan maupun minum selama pagi hari, dia hanya melakukan aktivitasnya untuk melayani pelanggan dan pengunjung, memberikan servis tambahan pada mereka menggunakan tubuhnya, dan beristirahat.
Kalaupun diberi makan oleh tuannya, dia hanya diberikan satu roti kering yang memiliki satu kepalan tangan yang dirasanya tidak cukup untuk mengenyangkan perutnya. Apabila dia memintanya, dia akan disiksa dengan cambuk membuatnya enggan untuk menolaknya.
•••••
"Saksikanlah kekuatan yang kumiliki sekarang untuk kamu ketahui, Fallen Angel."
Seluruh pusaran angin berwarna perak mengelilingi Sasaki yang tubuhnya masih dipenuhi oleh cahaya keperakan yang menyilaukan. Ekornya yang perlahan-lahan bertambah satu-persatu mulai terhenti di ekor delapan yang membuat tubuhnya berubah drastis menjadi dirinya yang berbeda.
Rambutnya yang awalnya berwarna putih pendek berubah menjadi warna pirang, sepasang mata berwarna perak berubah menjadi keemasan, serta pakaiannya yang sebelumnya Hu-Machina berubah drastis ke penampilan lamanya yang memperlihatkan lekukan *********** dan tubuhnya yang ideal dapat terlihat usai cahaya keperakan sirna.
"Kamu..."
"Ya, aku adalah orang yang kamu sebut sebagai sampah."
Menghilang cepat di tempatnya berada, sosok iblis itu mengitari area sekitar untuk mengetahui dimana dirinya berada.
Dimana dia? Kenapa dia cepat sekali?
Tidak menemukan tanda-tanda dari pergerakannya maupun hawa keberadaan dari Sasaki, sosok iblis itu menggigit bibirnya dan mulai mengeluarkan cahaya hitam dari kedua telapak tangannya yang terbuka.
"Tapi, kamu telah sepenuhnya salah karena aku adalah orang yang akan menghabisi dirimu."
"....."
Sial. Dimana dia?
Masih mencari-cari keberadaannya, sosok iblis itu dengan segera terbang ke langit-langit lalu melemparkan kedua bola hitam ke permukaan tanah membuat jarum-jarum dalam jumlah banyak berukuran panjang muncul dari permukaan tanah yang retak.
"Keluarlah kamu, Dasar Manusia!"
"Aku disini."
"....."
Salah satu tinjunya mengenai perut sosok iblis itu membuat dia tersenyum karena itu gagal membuat dirinya terpental. Tapi sayangnya senyumnya sirna saat dia mengetahui tinjunya berbeda dari perkiraannya, tinju yang sebelumnya terlihat tidak mempan perlahan-lahan memiliki aura kebiruan di tinjunya membuat tubuhnya terdorong dan terpental dalam sekejap.
Tidak membiarkan iblis itu dapat menjaga keseimbangannya, Sasaki menggunakan beberapa cloning yang dimilikinya untuk membuatnya babak belur. Mengerahkan seluruh pukulan pada tubuh, wajah, dan pergelangan tangan iblis itu berkali-kali, Sasaki yang asli mengakhirinya menggunakan sebilah pedang perak yang berkilauan menusuk tepat di perutnya.
"Berakhir sudah, Iblis!"
"Kamu..."
Kedelapan ekornya yang bergerak mengibas membentuk lengkungan ke atas, menciptakan sebuah aura kebiruan terang cerah yang dipenuhi mana dalam jumlah banyak. Mana tersebut perlahan-lahan mulai terbentuk di ujung ekornya yang terdapat bola berukuran kecil berwarna biru cerah yang dapat dilihat oleh iblis yang berusaha melepaskan tusukan pedang perak dari tubuhnya.
Aku harus segera menghindar!
Instingnya yang berkata dia dalam bahaya membuat tubuhnya meronta-ronta untuk dapat bebas. Sayangnya itu tidak berhasil dilakukannya.
"Selamat tinggal!"
Bola berukuran kecil berwarna biru cerah yang menembakkan laser menembus tubuh iblis itu membuat beberapa bagian tubuhnya berlubang tanpa ada darah di dalamnya sedikitpun.
Terjatuh dan tergeletak di permukaan tanah tanpa dapat melakukan pencegahan, ekspresinya yang sebelumnya terkejut berubah menjadi senyum yang menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Kamu benar-benar hebat."
Memejamkan matanya yang tetap terlihat bahagia, dia telah sepenuhnya salah atas dirinya yang meremehkan lawannya.
Seharusnya dia yang menyadari bahwa dia tidak akan jatuh lebih dalam, wanita itu justru merendahkan dan meremehkan orang-orang sekitar dengan menganggap dirinya lebih kuat dari siapapun.
"Ugh...."
Menahan tubuhnya yang akan terjatuh, Sasaki memegang kepalanya yang terasa sakit.
Tubuhnya yang sudah lama tidak menggunakan wujud aslinya dari dirinya yang lama benar-benar membuat beban pada tubuh barunya yang dapat terlihat jelas seperti kondisi yang dialaminya sekarang.
Rasa sakit yang menyebar ke seluruh tubuhnya, kepala pusing, tubuhnya yang terasa berat, serta keringat dingin yang mengalir di tubuhnya membuat dia tidak dapat terus-menerus mempertahankan wujud lamanya.
Memejamkan matanya dan mengatur nafasnya sejenak, penampilan Sasaki yang awalnya memiliki penampilan lamanya berubah menjadi penampilan barunya yaitu Hu-Machina.
Tadi itu hampir saja.
Beruntung dia dapat mengembalikan penampilannya seperti semula. Kalau tidak, dia akan pingsan dan tak sadarkan diri selama beberapa hari.
•••••
Regard POV
Sasaki adalah Demi-human yang benar-benar mengerikan dan menakutkan.
Ketika aku dan dia melakukan perburuan di hari pertamanya menjadi seorang petualang dulu, dia kehilangan kendali atas tubuhnya disaat aku membuka aliran mana yang terlihat rumit di salah satu anggota tubuhnya membuat seluruh mana mengalir deras di dalam tubuhnya yang menyebar ke setiap tempat yang ada.
Kala itu, aku dibuatnya terpojok. Sosoknya yang berbeda dari Sasaki yang kukenal, dia memiliki pandangan tajam dan dingin, kata-katanya yang kasar dan tajam, serta aura keberadaannya yang lebih tinggi untuk makhluk sepertinya benar-benar membuatku bingung siapa dia dan mengapa dia terlihat begitu elegan.
Setiap kali dia menyerang aku, dia menggunakan tinjunya dan beberapa bilah pedang berwarna perak untuk menusukku. Aku memang sempat menghindar waktu itu dengan menggunakan [Acceleration] dan [Wall of Skeleton] yang mampu menahan tebasan pedang perak miliknya lebih kuat daripada pertahanan biasa.
Sayangnya hal itu tak berlangsung lama.
"Itu..."
Mengingat atas apa yang terjadi dulu, aku dikejutkan dengan beberapa ekor miliknya yang melengkung ke atas yang diselimuti oleh aura biru dapat terasa jelas olehku, menyebar ke ujung ekornya. Perlahan-lahan partikel muncul dan membentuk sebuah bola berukuran kecil berwarna biru cerah di setiap ekornya.
Ini benar-benar gawat!
Instingku berkata aku akan tiada jika bertindak gegabah pada serangannya nanti. Satu kesalahan saja, aku akan langsung tiada meskipun aku seorang necromancer.
Benar saja. Rentetan bola berwarna biru cerah menembak langsung ke arahku, menembus pertahanan [Wall of Skeleton] dan mampu membuat retak pada [Infinity Spirit] yang kumiliki dengan mudahnya.
Sayangnya hal itu berhasil aku cegah dengan cepat menggunakan [Death Slash] membuat dirinya tiada dalam sekejap mata untuk segera memanfaatkan kesempatan tersebut mengambil sebagian jiwanya untuk menekan sejumlah mana di dalam tubuhnya agar dia tidak kehilangan kendali seperti sekarang.
Itulah apa yang telah aku perbuat dahulu.
Alasan mengapa Sasaki tidak terlihat kuat maupun lemah ialah sesuatu menahannya di dalam dirinya. Apa yang menahannya adalah [Soul Contract] milikku yang membuat dia tidak mampu mengerahkan segenap kekuatannya untuk dilepaskan, sebaliknya, dia hanya mampu menggunakan kekuatannya standar seperti yang dilakukan oleh orang-orang pada umumnya.
Jikalau aku melepaskannya, aku akan sebisa mungkin menggunakan [Soul Contract] dan membiarkan [Infinity Spirit] di dalam tubuh Sasaki menyebar ke seluruh tubuhnya agar dia dapat mempertahankan kesadarannya dalam menggunakan kemampuannya.
Kemampuan yang dimiliki oleh Sasaki ialah [Goddess of Wolf], itu adalah kemampuan mematikan dan menakutkan untuk digunakan olehnya dalam menghabisi musuhnya.
Perubahan drastis pada penampilannya, statistik yang meningkat empat kali lipat, serta kemampuannya yang jauh di atas rata-rata makhluk terkuat, Sasaki lebih unggul dalam segala aspek melebihi mereka.
Benar-benar tak terduga.
Itu adalah apa yang aku rasakan selama aku tidak tahu jatidiri Sasaki sebelumnya.
Awalnya aku pikir dia hanya seorang Demi-human biasa, tapi perkiraan itu salah. Dia adalah anak campuran dari Hybrida yang memiliki ras antara Demi-human dan keturunan langsung dari Goddess of Wolf yang menurut legenda sudah punah sepenuhnya.
Kau benar-benar hebat, Sasaki.
__ADS_1
Selesai mengirimkan kata-kata itu padanya, aku bergegas meninggalkan Guild Petualang untuk menjemputnya karena dia telah berhasil menyelesaikannya sesuai perkiraan aku.