
"Sepertinya kita benar-benar sepemikiran ya."
"Kamu benar."
Walaupun Shilphonia dan Friya memikirkan hal yang berbeda, pemikiran mereka yang sama-sama memikirkan kelebihan yang dimiliki oleh Regard benar-benar membuat mereka tersenyum satu sama lain, senang atas persamaan mereka dalam memikirkan orang yang sama.
•••••
"Ah... lelah sekali."
"Kamu benar."
"Aku tidak menyangka kalau hari ini benar-benar melelahkan melebihi hari-hari sebelumnya."
Di sepanjang jalan di malam hari, Regard, Reita, Fuuya dan Sasaki berjalan terhuyung-huyung, kelelahan atas tenaganya yang tinggal sedikit di tubuhnya akibat kebanyakan bekerja di restoran membuat mereka terlihat lelah atas jerih payah mereka dalam menjalani aktivitas misi hari ini.
Apa yang mereka lakukan terbilang sederhana yaitu; menyajikan hidangan terhadap pelanggan, mencatat menu pesanan yang dipesan, menyarankan menu yang direkomendasikan terhadap pelanggan, serta meminta saran lebih atas menu makanan yang dimakan dan minuman yang diminum oleh pelanggan untuk bisa dievaluasi lagi di hari berikutnya.
"Apakah kau tidak terlihat kelelahan, Kak Regard?"
"Itu benar. Terlihat seperti kamu masih dapat melakukan apapun tanpa kesulitan sedikitpun."
Tersenyum pada perkataan Reita, Regard dengan tawanya yang ringan membuat Reita penasaran darimana asal usul tenaga yang tidak mudah habis yang dimiliki oleh Regard.
Menghentikan langkah kakinya, mereka bertiga mengikutinya yang bertanya-tanya tentang apa yang ingin dikatakan oleh Regard.
"Itu karena aku suka bekerja keras sejak masih kecil, aku jadi terbiasa melakukan pekerjaan berat."
"Aku tidak menyangka bahwa kamu benar-benar hebat dalam melakukannya ya."
"Ya, aku sendiri tidak menyangka bahwa Tuanku mampu melakukannya saat masih kecil."
Mendengar pujian dari Fuuya dan Sasaki, Regard menggaruk rambut belakangnya, tertawa pelan atas pujian mereka yang membuat wajahnya memerah, malu atas kata-kata yang mereka katakan terlalu berlebihan untuknya.
Menurut Regard, dirinya yang sebenarnya adalah pekerja keras dari kehidupan lamanya sebagai seorang kuli bangunan. Bekerja dari pagi hingga malam, mendapatkan penghasilan yang minim, serta membayar hutang-hutangnya yang dimiliki di masa lalu di keluarganya, semua adalah perjalanan yang sulit untuk Regard tempuh.
Dikarenakan Regard tidak bisa mengatakannya, dia memilih untuk tetap diam agar dirinya tidak diketahui berasal dari dunia lain sebelum kematiannya tiba yang dikenal sebagai Liberation, seseorang reinkarnasi yang dapat membawa kekuatan dan kemampuan melebihi makhluk-makhluk yang ada di dunia ini, Dunia Symposium.
"....."
"Ada apa, Regard?"
"Ah... tidak ada apa-apa."
Segera setelah langkah kakinya berhenti, Regard yang menyadari bahwa ketiga gadis di dekatnya menanyakan sesuatu padanya, dia tersenyum pada mereka seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
Padahal didepan Regard, sosok yang bersembunyi dibalik kegelapan malam, samar-samar dapat dirasakannya perlahan-lahan. Sosok itu sedang mengawasi dirinya bersama ketiga gadis di dekatnya, tapi Regard memilih diam untuk tidak membicarakannya karena berbahaya, dia memilih membiarkan dirinya sendiri yang tahu tentang ini.
"Bisakah kalian pulang terlebih dahulu? Aku baru ingat ada yang tertinggal di restoran tempat kita bekerja sebelumnya."
__ADS_1
"Apakah itu sesuatu yang penting?"
"Ya, bisa dibilang begitu."
Sesaat, Fuuya yang menoleh ke arah Regard merenungkan kata-katanya, terdiam sambil berpikir tentang barang seperti apa.
"Baiklah, aku biarkan kamu pulang sendirian, Tuan. Ingat untuk tidak pulang larut malam karena itu akan membahayakan dirimu."
"Sasaki..."
Terkejut atas kata-kata dari temannya yang berada di sisinya, Fuuya yang berpikir kalau Sasaki akan mencegahnya justru kebalikannya, dia sengaja membiarkan tuannya, Regard pergi tanpa merasa keberatan sedikitpun.
"Jangan khawatir, serahkan Fuuya dan Sasaki padaku, Kak Regard!"
"Reita..."
Diikuti dengan nada bicara Reita yang terlihat lebih tinggi dari nadanya yang biasa, Reita yang memegang salah satu pundak Fuuya, tersenyum penuh percaya diri sambil memegang dadanya dengan satu lengannya, berwajah yakin seolah-olah memperlihatkan bahwa dia tidak mempermasalahkannya sedikitpun.
"Baiklah, aku mengandalkan kalian."
Tanpa berlama-lama lagi di tempatnya berada, Regard berlari ke arah berlawanan dari tempatnya jalan sebelumnya.
Selama kepergian Regard yang perlahan-lahan menjauh dan menghilang di kejauhan, Fuuya mendesah pelan, berpikir kalau dia tidak bisa mencegahnya karena kedua orang di dekatnya mengatakan setuju padanya.
"Mari kita pergi, Fuuya!"
"Ya, aku mengerti."
Reita dan Sasaki yang melihat wajahnya cemberut, terkekeh pada sikapnya seolah-olah itu adalah hal yang lucu dari dirinya yang tidak pernah ada di diri orang lain.
Setelah berlari cukup jauh, langkah kaki Regard terhenti, terdiam sejenak sambil menarik nafas dalam-dalam, menenangkan dirinya lalu berdiri tegap sambil menoleh ke belakang, ke sosok yang transparan yang masih mengikutinya diam-diam.
"Keluarlah! Aku tahu kau masih mengikuti aku."
Saat mendengar perkataan Regard, sosok transparan itu mulai memperlihatkan wujudnya dihadapan Regard.
Seorang gadis berambut merah muda panjang, bertubuh kurus dan berpinggang ramping, berdada besar dan bokongnya yang menggoda, serta terdapat permen lollipop di lengan kanannya yang dimasukkan ke dalam mulutnya, gadis itu berjalan pelan mendekati Regard.
"Fufufu... aku akui kamu mampu menyadari kehadiranku ya."
"Tentu. Aku dapat merasakannya berdasarkan mana, pendengaran, perasa, dan penciuman."
"Benar-benar menarik."
Tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berada, Regard hanya menatap gadis berambut merah panjang yang memutari tubuhnya sambil memakan permen lollipop di mulutnya, gadis itu terhebat sejenak, menoleh ke arahnya saat dia berada di kanan Regard.
"Bolehkah aku tanya sesuatu padamu? Kenapa orang sepertimu yang memiliki kekuatan dan kemampuan yang sama seperti beliau tidak bergabung dengan kami?"
"Entahlah... aku sendiri juga bingung."
__ADS_1
Melanjutkan jalannya kembali, gadis itu tiba didepan Regard, tersenyum lebar padanya sambil menjilat lollipop di tangannya lalu membuangnya ke permukaan tanah.
"Jujur aku tidak suka pria yang berbohong jadi aku ingin kamu jujur terhadapku. Beritahukan alasan mengapa kamu tidak mau bergabung bersama kami?"
Tubuh dari gadis berambut merah muda panjang yang didekatkan pada tubuh Regard membuat kedua *********** yang besar dapat dirasakan oleh Regard, kenyal dan lentur untuk dirasakannya.
Meskipun tubuhnya didekatkan pada Regard, dia sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya untuk segera mundur ke belakang, menjaga jaraknya agar dia tidak dipermainkan olehnya, sebaliknya, Regard tetap diam di tempatnya dalam kondisi tenang tanpa panik dan takut sedikitpun.
"Sederhana. Aku melakukannya karena aku ingin manusia tidak bersalah tidak jatuh dalam kegelapan yang pernah kurasakan sebelumnya."
"Kegelapan? Apa maksudmu?"
"Maksudku ialah kegelapan yang akan memenuhi hati mereka seperti; dendam, amarah, kebencian, keputusasaan, kehampaan, serta ketidakberdayaan adalah apa yang pernah kurasakan sejak dulu."
Setelah menjawabnya dengan jujur pertanyaan dari gadis berambut merah muda panjang di dekatnya, tatapan Regard berubah tajam ke arahnya tanpa dikendurkan sedikitpun penglihatannya pada gadis itu.
Gadis itu yang mengetahuinya, tersenyum lalu memundurkan langkah kakinya ke belakang, menjaga jaraknya agar dia tidak diperlakukan buruk tanpa sepengetahuannya oleh Regard.
"Sekarang giliran aku yang menanyakan ini padamu, Nona."
"Apa yang ingin kamu tanyakan padaku?"
Dengan senyum yang melebar di wajahnya, ekspresinya yang terlihat senang seolah-olah tahu kalau Regard akan melemparkan pertanyaan menggantikan dirinya yang bertanya pada Regard sebelumnya.
"Kenapa kau memasang seluruh jebakan ini?"
"....."
"Secara keseluruhan, aku memang tidak bisa bergerak, tapi setidaknya aku mampu memotongnya berkali-kali sesuai dengan keinginan aku, aku bisa lolos dari jebakan ini."
"....."
Masih terkejut atas kata-kata Regard, gadis itu memejamkan matanya sejenak, menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri lalu menatap Regard penuh dengan wajah bahagia.
"Kamu benar-benar mengetahuinya ya."
"Tentu."
Tersenyum atas pengetahuan yang dimiliki oleh Regard, gadis itu menjentikkan jarinya, memperlihatkan jebakan yang telah dipasangnya di seluruh kota.
Jebakan yang terdiri dari tali-tali merah panjang yang berwarna merah gelap layaknya darah, terhubung ke setiap bangunan kota, melebar dengan cepat layaknya seperti tentakel gurita yang memanjang, Regard telah mengetahuinya sejak dia bertemu dengan kedua sosok yang ditemuinya di malam itu.
"Sudah kuduga ternyata kau pelakunya ya."
"Tentu. Alasanku melakukannya adalah aku ingin melumpuhkan aktivitas kalian agar kalian disalahkan sepenuhnya oleh orang-orang, itulah mengapa aku menyuruh mereka melakukan tindakan keji terhadap orang-orang tak bersalah."
Regard yang mendengarnya, mendesah panjang, berpikir kalau rencana itu benar-benar membuatnya kerepotan dan kewalahan karena dia dan teman-teman di grupnya tidak dapat melaksanakan tugasnya di perburuan malam, sebaliknya, mereka terpaksa menjalani hari-harinya dengan rutinitas yang berbeda seperti misi dari Guild Petualang, semua itu demi menambah pemasukan ekonomi mereka masing-masing.
Walaupun Shilphonia dan Friya tidak termasuk dalam petualang karena tidak mendaftarkan diri di Guild Petualang, Regard, Fuuya, Sasaki, dan Reita tetap membagikan hasil terhadap mereka seperti; mengumpulkan suatu tanaman, mengumpulkan barang-barang penting dari perburuan seperti daging, kulit, dan hal-hal yang bisa digunakan sebagai senjata maupun pembuatan perlengkapan, semua diberikan pada kedua temannya yang berada di penginapan.
__ADS_1
Meskipun mereka tidak dapat memberikan hasil pendapatan dari misi harian yang dijalani, Shilphonia dan Friya merasa cukup puas dan senang atas pemberian dari mereka membuat Regard yakin itu adalah pilihan yang bijak untuk dilakukan.