The Necromancer

The Necromancer
Ch. 10:Berpesta dan Bersantai


__ADS_3

"Itulah mengapa aku memberikan darah padanya bukan karena dia adalah vampir, tapi karena dia adalah seorang Necromancer jadi dia membutuhkan darah untuk menenangkan kegelapan dari dalam diri Regard."


Menatap ke arahku, Shilph dengan wajah mempersilahkan membuatku maju ke depan dan mulai menjelaskan pada Furuhiora tentang diriku.


"Shilph benar, semuanya kulakukan demi menenangkan kegelapan yang ada dalam diriku. Jika aku tidak mendapatkan darah yang cukup, tubuhku akan dikendalikan oleh kegelapan yang dapat membuatku kehilangan kendali atas tubuh dan pikiranku."


Mendengarnya dengan jelas, Furuhiora pasti berpikir itu sangat menyakitkan untukku.


Yah, memang benar bahwa itu menyakitkan.


Terlepas dari kekuatan dan kemampuannya yang hebat, aku diharuskan untuk terus-menerus mengkonsumsi darah disaat yang bersamaan. Meskipun awalnya menjijikkan, aku tetap memaksa diriku saat pertama kali meminumnya yang terasa menjijikan dan aneh.


"Aku mengerti. Kalau begitu..."


Menurunkan pakaian di leher ke bawah pundaknya, dia dengan cepat memamerkan lehernya yang terlihat jelas kalau kulitnya putih dan mulus.


"Silahkan jika kamu mau menghisap darahku!"


Aku tidak tahu apakah dia benar-benar setuju atau tidak, tapi jika dia benar-benar ingin ikut dengan kami, bukankah itu tindakan yang keterlaluan?


Aku tahu bahwa aku membutuhkan darah namun aku tidak menyetujui jika aku mengambil darah dari makhluk hidup, itu akan beresiko fatal.


"Regard..."


Menoleh ke Shilph, aku menghela nafas.


Sepertinya tidak ada yang bisa kulakukan selain menerimanya.


Masalahnya ialah pandangan Shilph yang memohon padaku untuk menerimanya, aku terpaksa mendekatinya dan mencoba untuk menggigit lehernya.


Maaf jika ini akan memerlukan waktu yang lama.


Menghisap darahnya dengan perlahan, aku bisa merasakan rasa segar dari darah Furuhiora. Aku yakin alasan mengapa darahnya terasa seperti ini adalah Furuhiora masih hidup dan sehat, yang menyebabkan darahnya terasa seperti ini.


Sejujurnya aku ingin menambah sedikit porsi darahnya namun aku tidak yakin apakah menambahnya akan membuat situasi menjadi suram dan menakutkan atau justru sebaliknya, aku memutuskan untuk menyudahinya.


"Terimakasih banyak"


"Sama-sama."


Menutup kembali kedua pundaknya dengan pakaian, aku mengalihkan pandangan ke arah sekitar untuk tidak melihat sesuatu yang menonjol dari dirinya.


"....."


"Apakah kamu baik-baik saja, Furuhiora?"


"Ya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit kelelahan..."


"Furuhiora! Furuhiora! Furuhiora!"


Furuhiora yang kehilangan kesadaran jatuh tepat dihadapan kami. Shilph yang mencoba membangunkan dan memanggil namanya berkali-kali, tidak ada respon apapun darinya.


Yah, aku sudah menduga ini yang akan terjadi.


Masalahnya bukan karena aku menginginkan darah atau tidak, melainkan ada peraturan khusus yang diberitahukan Raja Iblis sebelumnya padaku tentang menghisap darah makhluk yang telah tiada maupun makhluk yang hidup.


Ada dua definisi yang berbeda di dalamnya.


Pertama, makhluk yang telah tiada. Raja Iblis memberitahu padaku bahwa menghisap darah dari makhluk yang telah tiada dapat menguntungkan diriku sendiri. Masalahnya adalah mereka sudah tiada jadi aku dapat mengambil banyak darah dari tubuh mereka untuk kehidupan sehari-hari. Tak hanya itu, dia memberitahu tentang alasan mengapa dia menyarankan aku untuk mengkonsumsi darah dari makhluk yang telah tiada adalah dia ingin untuk menghindari kemungkinan yang terjadi jika makhluk yang masih hidup dihisap darahnya olehku, dia akan mengalami gejala yang mengerikan.


Kedua, makhluk yang masih hidup. Dikarenakan dia melarang aku untuk menghisap darah dari makhluk yang masih hidup, dia menjelaskan bahwa alasannya ialah dia ingin makhluk yang masih hidup untuk tidak mengalami gejala-gejala tertentu.


Gejala itu sendiri ialah sama seperti yang dialami oleh Furuhiora, mulai dari; kulitnya yang perlahan-lahan memucat, nafasnya yang terengah-engah, keringat yang mengalir deras di tubuhnya, serta tubuhnya yang menggigil membuat aku yakin itu adalah gejala yang dialami oleh makhluk hidup yang telah aku hisap darahnya.


Alasan mengapa aku mengerti karena aku pernah mencobanya terhadap monster yang masih hidup.


Awalnya aku pikir menghisap monster yang masih hidup akan membuatku jauh lebih kuat dan hebat, tapi nyatanya salah. Bukannya menjadi kuat, monster itu justru mengalami gejala yang sama seperti yang disebutkan sebelumnya, menyebabkan monster itu tewas dalam sekejap dalam hitungan beberapa menit.


"Regard, apa yang harus kita lakukan!?"


"Adakah cara untuk menyelamatkan Furuhiora dari kondisi aneh ini?"


Yah, satu-satunya cara adalah dengan apa yang akan aku lakukan terhadapnya.

__ADS_1


"Mungkin ini membutuhkan waktu sedikit lebih lama, tapi aku ingin kamu berjaga-jaga di sekitar untuk memastikan tidak ada gangguan dari siapapun yang mendekati kita."


"Baik."


Menjauh dari tempat kami, Shilph dengan cepat merubah penampilannya menjadi malaikat dan memegang busurnya untuk berjaga-jaga kalau ada monster di sekitar kami.


Sekarang mari lakukan yang terbaik.


Mengeluarkan sejumlah mana dalam jumlah banyak di telapak tangan, aku mengalirkannya masuk ke dalam tubuh Furuhiora.


Furuhiora sempat bereaksi sesaat namun itu tidak bertahan lama. Setelah berhasil mentransfer sejumlah mana ke dalam tubuhnya, dia dengan wajah yang cantik tertidur pulas tanpa ada gejala apapun yang terlihat seperti yang terjadi sebelumnya.


Sip. Berhasil.


Sekarang yang diperlukan ialah menunggu waktu agar dia bisa sadar kembali.


Masih terus mentransfer sejumlah mana dalam jumlah banyak, aku mengeluarkan Shadow Clone untuk membantu Shilph agar dia tidak kewalahan dan kesulitan dalam menghadapi segerombolan Orc yang akan menggangguku.


"Tampaknya sudah kembali normal."


Aku memutuskan untuk melepaskan lenganku dari tubuhnya agar dia tidak salah paham atas apa yang terjadi.


Mendekati Shilph dan menghilangkan Shadow Clone dalam jumlah banyak, aku menjelaskan kondisi Furuhiora padanya.


"Begitu ya. Dengan kata lain, dia tidak memenuhi syarat untuk dihisap darahnya karena dia masih hidup."


"Ya, itu sebabnya aku ragu untuk melakukannya tadi."


Memahami maksud dari perkataan aku, Shilph yang melemparkan pandangannya ke arah Furuhiora merasa bersalah. Ekspresinya yang ikut terlihat sedih membuatku yakin dia pasti menyesal karena menyuruh Furuhiora untuk mempersembahkan darahnya padaku.


"Jangan khawatir, dia tidak akan marah padamu, sebaliknya, dia akan meminta maaf karena dia tidak tahu semuanya tanpa penjelasan langsung dariku."


"Benarkah?"


"Ya, percayalah padaku."


"Baik."


Aku tidak tahu harus bertindak apa, tapi aku rasa lebih baik aku membalas pelukannya agar dia merasa senang dan bahagia.


•••••


"Kau akhirnya sadar ya, Furuhiora."


"....."


Memperhatikan ke sekeliling tempat, Friya dengan ekspresi bingung atas dimana dia berada sekarang.


Di pandangannya, semuanya terasa asing. Mulai dari perabot kayu seperti; meja, kursi, kasur, rak baju, dan lemari yang terlihat di setiap tempat. Jendela, pintu kayu, dan lantai kayu yang dilihatnya benar-benar membuatnya kebingungan atas keberadaannya sekarang.


Apakah aku dibawa ke tempat yang berbeda?


Mengingat kembali atas apa yang terjadi, Friya hanya ingat kalau dirinya jatuh pingsan usai memberikan darah pada Regard. Selebihnya Friya tidak ingat apapun.


Mungkinkah ini hanyalah ilusi?


Mengetahui hanya ilusi, Friya dengan cepat menyentuh wajah Shilphonia yang duduk di sisi kasur.


Shilphonia yang kebingungan atas tindakannya, memiringkan kepalanya dan memasang ekspresi heran pada apa yang dilakukan Friya kepadanya.


"Apakah ada sesuatu yang terjadi, Furuhiora?"


"Tidak, tidak ada apa-apa."


Friya yang menyadari kalau sentuhannya terasa nyata menarik lengannya dan memegang dadanya.


Dia sendiri masih belum mengerti atas apa yang terjadi padanya sebelumnya. Setahunya, dia sudah berada dalam ruangan gelap yang tidak ia ketahui.


"Jangan khawatir, kau tidak mati maupun dihidupkan kembali olehku."


Mengetahui pandangannya mengarah pada Regard, dia menjelaskan bahwa Friya masih hidup. Friya yang mendengarnya menghela nafas lega, senang dan bersyukur.


"Mengenai permintaan yang kau berikan, aku dan Shilph setuju untuk menerima kedatangan kamu."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Ya, Regard mengatakan bahwa dia menerima dirimu sebagai rekan baru di petualangan kami."


Mendengar perkataan Regard dan Shilphonia yang tersenyum pada Friya, Friya senang pada dirinya sendiri yang diterima oleh mereka berdua.


Friya tidak menyangka kalau tindakannya berhasil. Meskipun masih ada beberapa pertanyaan dalam dirinya sendiri, Friya memutuskan untuk tidak menanyakan apapun melainkan diam sebagai bukti bahwa dia menerima apapun dari mereka berdua.


"Satu hal lagi."


"Apa?"


"Apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan?"


"Ya."


Mengalihkan pandangannya dari Shilphonia, Regard menatap Friya dengan serius. Friya yang terkejut dengan ekspresi Regard yang serius mengalihkan pandangannya, malu dan gugup karena dia tidak berani mengatakan apapun padanya.


"Mengenai darah yang kau berikan sebelumnya, kau hampir saja mati."


"Mati?"


"Ya. Menurutku, kau tidak seharusnya mendengarkan perkataan aku dan Shilph untuk memberikan darahmu padaku."


"Kenapa.... kenapa aku tidak diperbolehkan memberikan darah padamu?"


Regard yang terkejut atas perubahan situasi yang ada di dekatnya mengalihkan pandangan dari Friya, dia tidak sanggup melihat tatapan sedih yang terlihat di sorot matanya. Apalagi kata-kata Friya terdengar lemah yang membuatnya tidak tega untuk mendengarnya lebih lanjut.


Tenanglah! Aku yakin aku pasti bisa. Semangat, diriku.


Menyoraki dirinya sendiri, Regard mengangguk dan meyakinkan dirinya untuk menjelaskan secara detail tentang kejadiannya pada Friya.


Mendekati Friya, Regard menjelaskan semua yang terjadi sebelumnya padanya. Friya yang mendengarnya terkejut bahwa dia mengalami gejala yang dapat dirasakan sebelumnya sebelum dia mendekati ajalnya, terutama dalam mana yang dimilikinya telah sepenuhnya terkuras, Friya yang mendengarnya terkejut atas mana yang ada dalam tubuhnya berkurang drastis tanpa sebab apapun. Dan penyebab yang dapat Friya pahami tidak lain adalah Regard. Saat menghisap darahnya, Friya hampir saja mati. Untungnya dia ditolong olehnya yang membuat tubuhnya kembali pulih namun membutuhkan waktu tiga hari untuk dirinya terbangun dari tidur lamanya.


Hanya itu yang bisa Regard jelaskan.


Bagi Regard, Friya boleh melampiaskan kemarahan dan kemurkaannya pada dirinya, terutama karena syarat yang tidak masuk akal. Selama Friya mau melampiaskan semuanya pada Regard, dia dengan senang hati menyambut kemarahan dan kemurkaan Friya padanya.


"Terimakasih."


"Eh?"


"Terimakasih telah menyelamatkan aku. Aku benar-benar minta maaf karena telah merepotkan dirimu untuk kedua kalinya."


Berbeda dengan perkiraannya, Friya justru berterimakasih pada Regard.


Regard yang mengalihkan pandangan darinya menggaruk pelipis dekat mata kirinya dan tersenyum paksa atas kondisi tak terduga. Shilphonia juga sama, dia awalnya berpikir bahwa Friya akan marah terhadapnya dan Regard, tapi justru dia malah berterimakasih pada kebaikan yang dilakukan Regard terhadapnya.


"Ngomong-ngomong Shilph, kita berada dimana?"


"Kita berada di Kota Farihiora."


"Kota Farihiora?"


Mendengar kata Farihiora, Friya ingat bahwa dirinya dulu pernah dilahirkan dan dibesarkan di kota ini. Itulah sebabnya Friya diberikan nama Furuhiora karena orangtuanya ingin dia memegang nama kota ini sebagai bukti bahwa dia dulunya tinggal di tempat manusia berada.


Sayangnya, semuanya tidak sesuai dugaan keinginan mereka.


Kedua orangtuanya yang awalnya menyayangi dan mencintai dirinya perlahan-lahan dibunuh satu-persatu oleh pasukan iblis yang menyebabkan Friya kehilangan kedua orangtuanya menyebabkan dirinya hidup sebatang kara.


Walaupun hidup sebatang kara, Friya menjalani hidupnya bersama bibi terdekatnya, Nek Ryadu yang sejak kecil mengurus dan merawat dirinya hingga akhirnya Friya diajarkan olehnya tentang cara menggunakan sihir yang membuatnya kuat dan hebat di usianya sekarang.


"Sudah lama sekali aku tidak kemari."


Berjalan mendekati jendela, Friya melihat pemandangan yang disajikan diluar jendela.


Pemandangan dimana orang lalu-lalang di jalan raya yang besar, rumah-rumah yang megah dan mewah yang terlihat di sepanjang jalan, serta kereta kuda yang berjalan pelan seringkali terlihat olehnya membuatnya merasa nostalgia pada masa lalunya sendiri.


"Regard..."


"Ya, aku yakin dia berasal dari kota ini sebelumnya."


Regard dan Shilphonia yang sadar bahwa nama Friya adalah Furuhiora, mereka berasumsi kalau dirinya dulu pernah tinggal di kota ini. Terlihat jelas dari reaksinya yang tersenyum dan senang, serta kata-katanya tadi yang menurut mereka berdua yakin kalau Friya adalah elf yang pernah berada di Kota Farihiora.

__ADS_1


__ADS_2