The Necromancer

The Necromancer
Ch. 40,8:Belenggu dan Kebebasan (8)


__ADS_3

Di dalam reruntuhan yang telah lama ditinggalkan, seluruh pasukan sedang bersandar dan duduk di beberapa tempat sambil menyiapkan persediaan yang telah mereka bawa sebelumnya.


"Apakah masih ada iblis tingkat rendah di sekitar?"


"Tidak ada. Semuanya telah selesai."


"Syukurlah."


Seorang pria berambut mohawk dengan warna coklat tua, wajahnya menghadap ke langit-langit atap yang sebagian telah runtuh memperlihatkan cahaya kecil dari balik sela-sela bangunan.


Bagi dirinya, perlawanan yang dilakukan antara pasukan Ksatria Kerajaan yang dibawanya dengan pasukan iblis berjalan lancar. Tidak ada tanda-tanda iblis tingkat menengah muncul maupun iblis tingkat tinggi seperti iblis bangsawan dan iblis kerajaan, mereka tidak ada satupun di reruntuhan.


"Aku harap kita dapat menyelesaikannya dengan cepat ya."


Mendengar perkataan dari salah satu rekannya yang menghadap ke kedalaman reruntuhan, pria berambut mohawk berwarna coklat teringat dengan sosok temannya yang sedang menjalankan tugas yang tidak terlalu mudah dan sulit.


Tugas itu tidak hanya menginvestigasi tentang penambangan di Desa Elforia, tapi juga ada kemungkinan misi lainnya seperti evaluasi penduduk desa harus dilakukan jika iblis yang terlihat merupakan iblis tingkat tinggi.


Jadi, harapan Kanae ialah temannya dapat kembali selamat selama dia menjalankan misi tanpa terluka sedikitpun.


Meskipun dia sangat membenci sikap dan kata-katanya yang terdengar tidak terlihat seperti seorang ksatria, Kanae tetap menghormatinya dan menganggapnya sebagai sahabat dekatnya selama beberapa tahun mereka habiskan bersama-sama.


Hari demi hari, bulan demi bulan, Kanae yang sudah berkali-kali menjalankan misi tanpa terluka dan kehilangan rekan-rekannya sedang bolak-balik di Aula Umum Kerajaan Eruguard yang tidak terdapat siapapun di dalamnya.


Pikirannya yang terus-menerus memikirkan kondisi sahabatnya tidak pernah bisa dilupakannya, baik itu tentang keselamatan para penduduk desa, keselamatan rekan-rekannya, serta keselamatan tentang dirinya yang menjalankan misinya, Kanae masih belum tahu tentang keberadaannya.


Setiap kali Kanae memasuki Kamp Pelatihan, dirinya selalu teringat atas gerakan-gerakan dasar yang dilakukan oleh sahabatnya dalam mengayunkan pedang ke boneka zirah yang tersedia di sisi kanan kamp.


Gerakannya yang terbilang biasa namun dengan beberapa gerakan tambahan, Kanae hanya bisa tersenyum pada ingatannya yang terus-menerus mengingat sosok sahabatnya berlatih lebih giat dan rajin dari ksatria lainnya di Kamp Pelatihan Prajurit.


Lima tahun kemudian, Kanae yang sedang mengambil cuti beberapa minggu seringkali duduk di dekat pos gerbang utama sambil menatap ke kejauhan yang ada di dalam hutan menunggu kedatangan seseorang yang diharapkannya.


"Itu..."


Di kejauhan di jalan setapak, kedua sosok terlihat di kejauhan yang perlahan-lahan mendekat ke arah gerbang utama Kota Farihiora.


Ketika kedua sosok semakin mendekat, Kanae terlihat familiar dengan salah satu sosok yang diduganya sebagai sahabat dekatnya, Veru yang sedang membawa salah seorang pemuda yang tubuhnya ditutupi oleh selimut panjang berwarna coklat tua, dia terdiam untuk beberapa saat.


Kenapa dia membawa pemuda itu? Jangan bilang kalau...


Berbagai pemikiran buruk melintas di benaknya namun ditepis oleh Kanae sebelum dia mengetahui kejadian sebenarnya melalui mulut sahabatnya sendiri, Veru.


"Yo, Kanae, bagaimana kabarmu?"


"Aku baik-baik dan sehat seperti biasanya. Kau sendiri bagaimana?"


Melihat Kanae yang mengalihkan pandangannya ke sosok pemuda yang berdiri di samping Veru, Veru paham atas tatapannya tersebut.


"Dia adalah salah satu orang yang berhasil aku selamatkan."


"Satu orang? Jangan bilang..."


"Ya, Desa Elforia telah hancur sepenuhnya oleh iblis dan segerombolan monster yang menyerangnya."


Ekspresinya yang awalnya terlihat senang dan tersenyum berubah menjadi sedih saat Kanae melihat bibirnya berubah melengkung ke bawah.


Tak hanya Veru, sosok pemuda itu terlihat kesal atas apa yang terjadi pada Desa Elforia, desa tempat kelahirannya.


Terlihat dari lengannya yang mengepal dengan erat pada selimut coklat yang membungkus tubuhnya, ekspresinya yang kesal dan marah atas sesuatu yang terjadi, serta bibirnya yang digigitnya terlihat jelas oleh Kanae.


"Maaf, aku tidak bisa berbicara lama denganmu karena aku ingin mendaftarkan anak ini ke kota karena dia adalah satu-satunya korban yang berhasil diselamatkan."


"Baik."

__ADS_1


Memandang sahabat dan pemuda itu menjauh dari tempatnya berada, Kanae masih diam dengan banyaknya pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Apa yang dilihatnya, dirasakannya, dan dilakukannya selama misi di Desa Elforia, Kanae tidak tahu pasti tentang tindakan yang dilakukan oleh sahabatnya, Veru.


Satu-satunya hal yang diperkirakan olehnya ialah dia telah kehilangan banyak pasukan dan harga dirinya sebagai seorang pemimpin karena lalai dalam menjalankan misinya. Itulah mengapa dia sengaja tidak bertanya pada Veru karena tahu temannya tidak akan mau menjawabnya.


•••••


"Awalnya kau membawa pemuda itu karena aku pikir dia hanya korban dari kekejaman yang dilakukan oleh iblis, tapi rupanya aku telah salah."


Menggenggam pedang hitam legam dengan kuatnya, rasa benci dan kesal menyelimuti perasaan Kanae saat kembali mengingatnya.


Ingatan tentang dirinya dan pasukannya yang terjebak oleh kedua iblis yang saat ini sudah tiada. Kedua iblis itu mengatakan padanya bahwa dia telah dikhianati oleh teman baiknya. Seseorang yang diselamatkan oleh temannya adalah biang dari kesalahannya, dia adalah pemimpin dari pasukan iblis yang menyamar, serta orang sepertinya tidak pantas untuk hidup dijelaskan oleh pria berambut putih dengan tubuhnya yang gagah dan berotot.


"Apakah pemuda itu yang menyelamatkan dirimu?"


"Ya, aku berhutang budi padanya."


"Kenapa? Kenapa orang sepertinya menyelamatkan manusia? Apakah dia tidak berpikir tindakannya naif?"


"Naif? Dia tidak naif seperti dirimu."


"....."


Mengernyitkan alisnya atas perkataan yang tidak dimengerti, Kanae menyipitkan matanya ke Veru seolah-olah meminta penjelasan padanya secara langsung.


"Dia memang selalu menyelamatkan orang dengan kemampuannya sendiri, tapi setidaknya dia tidak tertelan oleh kegelapan sama seperti dirimu."


"Sama sepertiku?"


"Ya."


Merenungkan sesaat pada kata-kata Veru, Kanae tahu atas konsekuensi yang dihadapinya sekarang. Menyerahkan dirinya pada kegelapan membuat dia lebih kuat dan hebat dari sebelumnya, tapi di sisi lain hati Kanae semakin gelap dan sulit untuk menentukan mana yang benar dan salah.


"Kita sudahi pembicaraan ini."


"Ya, kau benar."


Salah satu lengan Veru yang memegang belakang mengambil secarik kertas panjang tipis bertuliskan huruf kuno di dalamnya yang tertulis 'ledakan'.


Kanae yang menancapkan pedang ke permukaan tanah, seluruh tanah retak dan hancur dalam sekejap. Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, gravitasi mengambang pada beberapa bongkahan batu di udara yang kemudian di tendang oleh Kanae berkali-kali ke arah Veru.


"....."


Tersenyum atas tindakannya yang begitu mengerikan, Veru tidak merasa takut pada serangannya. Dirinya yang tetap terdiam membiarkan bongkahan batu mendekatinya.


Sekarang!


Secarik kertas yang dilemparkan dan menempel di salah satu bongkahan batu yang berada di dekatnya sekitar beberapa meter, Veru melompat menjauh dari tempatnya berada.


Ledakan terdengar begitu keras. Asap hitam yang membumbung tinggi terlihat di malam hari membuat mereka berdua saling memandang dengan ekspresi waspada.


"Aku akui kau masih memiliki trik yang cukup pintar untuk digunakan padaku, tapi..."


Dalam sekejap mata, Kanae langsung menghilang dari tempatnya yang Veru lihat di kejauhan. Memeriksa ke sekitarnya, tidak ada tanda-tanda keberadaan Kanae melainkan hanya suara hening yang ada di sekitar hutan dimana dia berada.


"Kau tidak cukup ahli dalam membaca dimana hawa keberadaan aku."


"....."


Trang!


Tepat ketika bayangan dan bisikan terdengar dari arah belakang, insting Veru meletakkan pisau belati yang ada di lengan kirinya menahannya tanpa berbalik.

__ADS_1


"Heh... kau benar-benar berpikir bahwa aku tidak bisa menemukan hawa keberadaan dirimu ya."


Suara ini....


Dengan cepat Kanae mendorong pedangnya membuat Veru memutar tubuhnya dan menjaga jarak dengannya.


•••••


Regard POV


"Kau..."


"Ada apa, Paman Kanae?"


Dihadapan aku, seorang pria dengan zirah hitam terlihat kebingungan atas suara dariku yang berbeda.


Tentu aku dapat memahami kebingungannya.


Pertama, aku gunakan tubuh Paman Veru untuk menyelesaikan ini secepatnya agar dia tidak menundanya lebih lama. Kedua, aku tidak tahu apakah dia berniat untuk menghabisi Paman Kanae yang sebagai sahabatnya atau tidak. Ketiga, aku takut dia akan tiada lagi ketika persediaannya telah menipis.


Benar-benar pilihan yang buruk untuk tetap memperhatikannya di kejauhan.


"Kenapa kau ada di tubuhnya?"


"Kenapa katamu? Sederhana."


Mengaktifkan [High Acceleration] dan muncul di belakangnya dengan pedang hitam yang berhasil aku buat, Paman Kanae menghindari tebasan aku.


"Aku melakukannya agar dia tidak tersakiti."


"Tersakiti?"


"Ya. Dikhianati oleh dirimu dan dimanfaatkan oleh rekannya sendiri, tidakkah kau seharusnya malu?"


"Malu? Aku tidak pernah melakukan apapun, sebaliknya, semua ini salahnya karena dia tidak mau berterus terang padaku."


Menerjang langsung ke titik buta ya.


Tebasan demi tebasan dia lakukan. Mulai dari tebasan yang berniat mengincar salah satu kakiku, aku melompat dan menahannya dengan pedang hitam sekuat mungkin. Tebasan kedua yang dilakukan ke perut yang dapat dihindari dengan mencondongkan tubuhku ke kiri dan menangkisnya. Tebasan ketiga yang dilakukan ke kepalaku, aku menepis tebasan tersebut menggunakan salah satu pisau tipis hitam yang berhasil aku bentuk dengan mudah.


"Menyedihkan sekali ya. Padahal aku pikir kau lebih hebat dari sebelumnya, tapi kau tetap lemah seperti manusia pada umumnya."


"....."


Teruslah mengamuk dan lakukan sepuasnya!


Ketika dia sedang mengamuk, orang akan langsung melupakan cara-cara baik dalam menghadapi lawannya, itulah yang kusukai. Tapi, aku tidak bisa terus-menerus bermain dengan tubuhnya selama ini jadi aku berniat untuk mengakhirinya dengan cepat.


Trang!


Menangkis pedangnya dan mengunci pergerakannya dengan beberapa rantai emas muncul di permukaan mengikatnya, aku mengeluarkan beberapa [Imitation Sword] di belakang yang telah dilapisi oleh beberapa elemen sihir di dalamnya dan mana dalam jumlah banyak.


"Inilah yang harus kau sebut dengan kekuatan, Paman Kanae."


"....."


Membalikkan tubuh tanpa melihat ke arahnya, tusukan demi tusukan pedang mengenai perutnya membuat teriakan terdengar langsung melalui suaranya yang meneriakkan namaku berkali-kali.


Aku tidak peduli karena itu adalah akhirnya.


Akhir dari perjuangannya dalam menegakkan keadilan, berjuang dalam mencari tahu kebenaran yang salah yang berakhir dimanfaatkan oleh kegelapan dan iblis, serta kekalahannya yang telah tidak dapat terbantahkan olehku.


Semuanya adalah hasil yang harus diterimanya.

__ADS_1


"Kini kau telah bebas, Paman."


__ADS_2