The Necromancer

The Necromancer
Ch. 44:Pertemuan Tak Disengaja


__ADS_3

"Apakah kalian sudah selesai melakukannya?"


"Ya, kami sudah selesai melakukannya."


"Itu benar."


Di lantai dasar, Regard yang duduk di kursi di aula umum yang memperhatikan kedatangan Reita, Fuuya, dan Sasaki, tersenyum pada jawaban mereka yang membuat dirinya bangun dari kursi.


"Mari kita pergi ke Guild Petualang."


"Ya."


"Hari ini kita akan melakukan misi seperti biasanya ya."


"Ya, kau benar."


Mereka berempat bergegas pergi ke Guild Petualang untuk segera mengambil misi yang tersedia hari ini di papan misi yang ada di Guild.


Setibanya di Guild Petualang, seluruh petualang berkumpul di Aula Umum bersama rekan-rekannya dalam kelompok dan grupnya masing-masing, berunding dan berdiskusi tentang apa yang mereka lakukan sekarang dan nanti.


"Benar-benar ramai ya."


"Ya. Terlepas dari mereka aktif di pagi hari, Kota Lien adalah kota dimana para petualang berkumpul untuk menjalani misi mereka masing-masing."


"Kamu benar."


Mereka berempat berjalan menuju papan, terdiam sejenak sambil memperhatikan misi-misi yang tertera di papan misi, memilih salah satu untuk mereka melakukan misi di hari ini.


Walaupun misi yang tersedia hanya ada tiga, Regard berpikir kalau mengambil salah satunya yang mudah merupakan langkah awal untuknya melakukan aktivitas petualang di kota baru, Kota Lien agar mendapatkan penghasilan lebih meskipun penghasilannya minim.


"Bagaimana kalau ini?"


"Biar kulihat!"


Regard yang mendekati Reita, memperhatikan misi yang ada di tunjuk Reita terhadapnya membuatnya membaca seluruh isi dari misi tersebut secara cepat di dalam hatinya.


"Menarik."


"Apakah ada sesuatu yang membuatmu tertarik, Tuan?"


"Ya. Aku penasaran apakah itu benar-benar sebuah misi yang pantas untuk membuatmu tersenyum."


Tatapannya yang beralih ke Sasaki dan Fuuya membuat mereka berdua kebingungan atas senyum yang dipasang di wajah Regard, terkekeh dan tertawa pelan atas apa yang dilihatnya tadi sebelumnya tanpa disadarinya sendiri.


"Ini, kalian bacalah!"


"Baik."


Mencabut selembar kertas yang ditancapkan di papan untuk diberikan pada Fuuya, Fuuya melihatnya dengan jelas dan membacanya perlahan-lahan. Sasaki yang ada di sisinya mendekati Fuuya, melihat isi dari misi tersebut secara bersamaan untuk mengetahui tentang apa yang membuat tuannya, Regard tersenyum dan tertawa pelan seperti tadi.


Mereka berdua membacanya sejenak, terdiam lalu menatap ke Regard dan Reita secara bergantian, Fuuya dan Sasaki saling bertatapan, tersenyum atas misi yang telah mereka baca dengan seksama lalu menyerahkannya pada Regard.


"Bagaimana?"


"Cukup menarik. Benar bukan, Sasaki?"


"Ya. Kurasa misi kali ini cukup mudah untuk dilakukan, Tuan."


"Ya, kau benar.


Tersenyum pada kata-kata Sasaki dan Fuuya, Regard dengan cepat mengelus kepala mereka berdua secara bergantian untuk memberikan mereka penghargaan atas pemahaman mereka yang tahu jelas tentang hal yang menurut Regard menarik untuk dilakukan dan dikerjakan.


Setelah melakukan itu pada kedua gadis di dekatnya, Regard berjalan menuju ke resepsi guild untuk meminta konfirmasi lalu meninggalkan Guild Petualang bersama dengan ketiga gadis di dekatnya yang ikut keluar dari Guild Petualang seperti dirinya.


•••••

__ADS_1


Regard POV


Selama kami menelusuri setiap jalan di dalam kota, akhirnya kami tiba di salah satu gedung besar yang memiliki tinggi yang berbeda dari gedung-gedung lainnya.


"Apakah ini tempatnya?"


"Ya. Berdasarkan lokasi yang tertera, ini adalah tempatnya."


Setelah mengecek lokasi yang tertera di dalam lembaran kertas misi, aku meletakkannya di dalam saku celana, berjalan mendekati pintu untuk dimasuki, mereka mengikuti aku dari belakang.


"Ramai sekali."


"Ya, kau benar."


Aku mengerti karena aku tahu misi seperti apa yang akan kami jalani sekarang.


Misi itu bukanlah misi-misi yang tersedia seperti biasanya; berburu monster, membantu evakuasi penduduk, menjelajahi reruntuhan, membantu perbaikan kota atau desa, itu bukanlah misi yang ada di setiap harinya, tapi misi ini adalah misi yang benar-benar unik untuk kami lakukan.


"Permisi, apakah ada orang yang bernama Tuan Riyan? Kami kemari berniat untuk melakukan misi yang tertera di kertas ini."


Reita yang mendekati meja yang aku anggap sebagai meja pesanan, menyerahkan selembar kertas kepada pria yang mengenakan setelan jas hitam dan seragam putih panjang di dalamnya, serta celana kain hitam untuk dibacanya.


Pria yang menerima selembar kertas dari Reita, dia melihatnya dengan seksama, mengangguk sekali pada apa yang dilihatnya, dia pun tersenyum pada kami.


"Silahkan tunggu sebentar di ruang tunggu!"


"Baik."


Salah seorang wanita berambut merah panjang yang diikat dalam bentuk ponytail mendekati kami, mempersilahkan kami berempat untuk mengikutinya karena dia mengarahkan kami ke ruangan tunggu, itulah yang dapat aku pahami.


"Mohon tunggu sebentar di tempat ini!"


"Baiklah."


Setelah kami berempat duduk di sofa berwarna merah tua yang saling berhadap-hadapan, wanita itu membungkukkan tubuhnya pada kami, berjalan pergi keluar ruangan dan menutup pintunya, meninggalkan kami berempat di dalam ruangan tunggu.


"Ya, begitulah."


"Apakah kamu bisa melakukannya, Fuuya?"


"Aku? Aku bisa melakukannya asalkan aku mendapat penghargaan dari Regard."


Ugh.


Mendengar perkataan jujur dari Fuuya, aku berpikir kalau dia adalah orang yang harus diperhatikan dan diwaspadai selama kami melakukan misi nanti.


Terlepas dari dia adalah seorang Fenrir, dia juga harus sebisa mungkin menahan insting liarnya, menahan amarahnya, dan rasa lapar yang kuat dari dirinya agar misi ini berjalan lancar dalam beberapa hari ke depan.


"Maaf membuat kalian menunggu lama."


Pintu terbuka, memperlihatkan seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas berwarna hitam panjang, seragam putih yang terlihat di dalamnya, serta celana kain berwarna putih panjang dikenakannya. Apalagi dengan topi kecil layaknya topi pesulap yang memiliki warna putih dengan garis berwarna merah muda, itu menunjukkan kalau dia berbeda dari orang-orang yang ada di gedung ini.


Pria itu duduk di satu kursi yang ada di sisi kanan dari tempatku dan Fuuya berada sedangkan sisi kiri dari tempat Sasaki dan Reita, kami saling memandang ke arah pria tersebut.


"Saya adalah Ruslan, pemilik restoran yang terkenal di Kota Lien, saya sengaja mengajukan permintaan itu pada Guild Petualang agar bisa meringankan beban yang dimiliki oleh para pelayan yang kami miliki dalam melayani pelanggan yang sering datang mengunjungi restoran maupun pelanggan baru."


Dari kata-kata Tuan Ruslan, aku yakin dia mencemaskan beberapa faktor yang ada di restoran miliknya.


Pertama, dia mengatakan bahwa restoran ini terkenal ramai di Kota Lien. Dengan kata lain, pelanggan yang seringkali mampir merupakan orang yang merasa nyaman atas masakan, pelayanan, serta sajian yang dihidangkan di restoran ini.


Kedua, saking terkenalnya di kalangan penduduk di Kota Lien, Tuan Ruslan mengirimkan permintaan pada kami agar kami menjalani misi harian yang dia berikan yaitu menjadi karyawan selama seminggu penuh untuk membantu meringankan beban yang dimiliki oleh pelayan yang bekerja di restorannya.


Ketiga, aku sendiri tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi dilihat dari ekspresinya, Tuan Ruslan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan di restoran ini yang aku sendiri tidak tahu apa hal yang tidak menyenangkan yang diketahuinya.


"Apakah kalian benar-benar bisa membantu saya?"

__ADS_1


"Izinkan aku meminta waktu sebentar!"


"Baik."


Aku alihkan pandangan ke arah mereka, Reita yang ada di sisiku melihatku dengan senyum ramah di wajahnya, mengangguk pada tatapan yang aku arahkan terhadapnya, Sasaki dan Fuuya yang mengangguk penuh keyakinan membuatku tersenyum atas pengertian mereka.


Selama mereka tidak keberatan maka tidak apa-apa untukku menerimanya, itulah apa yang aku dapatkan dari persetujuan mereka berdasarkan dari anggukan dan wajah yang mereka perlihatkan terhadapku.


"Baiklah, kami terima."


"Benarkah? Terimakasih!"


"Tidak apa-apa. Lagipula kami sedang senggang jadi kebetulan kami melihat itu di papan misi. Bukankah begitu, Teman-teman?"


"Ya, itu benar."


"Aku setuju pada perkataan Kak Regard."


"Tuan benar-benar melakukannya karena itu hanyalah kebetulan belaka."


Aku tidak mau membuat Tuan Ruslan berhutang budi terhadapku, aku putuskan untuk sengaja mengatakan itu sambil meyakinkan mereka untuk memainkan peran yang aku inginkan.


Mereka mengikuti peranku, membuatku merasa itu adalah ide bagus untuk mereka dapat memahami sikap, kata-kata, serta wajah yang mereka perlihatkan cukup meyakinkan untukku.


"Benarkah?"


"Ya. Jadi, kau tidak perlu berterimakasih kepada kami, Tuan."


Melepaskan kedua tangannya dari hadapanku, Tuan Ruslan berdiri tegap, menyeka air matanya yang terharu bahagia atas kedatangan kami, berjalan ke arah pintu lalu terhebat sejenak.


"Silahkan ikuti aku!"


"Ya."


Kami berempat memutuskan untuk mengikutinya dari belakang daripada memilih untuk menetap di tempat ini, tidak sopan untuk seorang tamu mengabaikan tuan rumahnya.


•••••


"Kenapa mereka lama sekali?"


"Apakah mereka pulang terlambat?"


Di salah satu kamar di dalam penginapan, kedua gadis sedang mencemaskan teman-temannya yang belum kunjung tiba di penginapan maupun di kamarnya masing-masing.


Biasanya mereka akan tiba di sore hari, mengetuk pintu setiap kamar teman-temannya yang menyuruhnya untuk makan bersama, kali ini tidak terdengar sama sekali membuat kedua gadis itu bertanya-tanya tentang misi apa yang mereka jalani sekarang.


"Hei Friya, apakah kamu berpikir kalau Regard benar-benar terlihat bisa diandalkan?"


"Kenapa kamu mengatakan itu padaku, Shilph?"


Shilphonia yang sedari tadi memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang di sepanjang jalan dari balik jendela mengalihkan pandangannya ke arah Friya, menghadap ke arahnya sambil memasang ekspresi cemas di wajahnya, mengkhawatirkan atas apa yang dikatakannya tadi.


Friya yang sedari tadi membaca buku yang duduk di sisi kasur, menutup bukunya lalu menatap Shilphonia yang memandangnya, memejamkan matanya sejenak, Friya mendesah pelan, bingung atas apa yang dipikirkan oleh temannya, Shilphonia.


"Maksudku ialah dia terlihat lebih dewasa daripada orang-orang pada umumnya."


"Kamu benar. Terlihat dari bagaimana dia menghadapi situasi yang sulit diatasi oleh orang-orang dengan matang, dia juga memiliki pemikiran yang luas yang jarang dimiliki oleh orang-orang pada umumnya."


Menurut Friya, perkataannya adalah sepenuhnya memuji kelebihan yang dimiliki oleh Regard. Mulai dari; Regard yang terlihat lemah dihadapan banyak orang namun terlihat kuat dan hebat di belakang orang lain, memikirkan keamanan yang dijalaninya sendirian dalam membasmi kejahatan yang ada di kota, menjalani aktivitasnya sebagai seorang petualang tingkat rendah, Black Adventure, serta mudah bersosialisasi terhadap siapapun adalah kelebihan yang dimilikinya.


Apalagi dengan satu hal yang terpenting yang tidak pernah dimiliki oleh orang-orang yang tertelan dalam kegelapan yang memiliki class Necromancer, Regard selalu mengutamakan haknya sebagai seorang manusia, mementingkan kepeduliannya terhadap orang lain seperti; keselamatan, keamanan, dan pertolongan, hal itu adalah nilai lebih yang dimiliki oleh Regard, menurut pandangan Friya.


"Kamu benar."


Berbeda dengan Friya yang merasa takjub pada kelebihannya, Shilphonia berpikir bahwa Regard adalah penyelamat hidupnya.

__ADS_1


Seorang penyelamat yang telah berhasil menyelamatkan dirinya dari kurungan yang membelenggunya selama beberapa abad, pria yang selalu antusias dalam menjalani hidupnya bersama dirinya, dan mau membantunya dalam menjalani hidup sehari-hari seperti manusia pada umumnya, Shilphonia benar-benar merasa yakin kalau Regard bukanlah pria biasa pada umumnya.


Apalagi dengan pemikirannya yang matang dan luas membuatnya terlihat seperti seorang pria dewasa, Shilphonia yakin kalau dia akan menjadi kepribadian yang lebih baik daripada orang-orang melebihi perkiraannya sendiri.


__ADS_2