
Regard POV
Baiklah. Apa yang harus kulakukan?
Menerjang masuk ke kedalaman gua hanya membuatku dalam bahaya, aku harus memikirkan cara yang tepat untuk mengantisipasinya.
"Haruskah aku membuat diriku yang lain?"
Jika aku yang lain dapat masuk dan dikalahkan, aku bisa tahu sejauh mana kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh orang tersebut.
Dengan mengetahuinya, aku dapat melakukan berbagai cara dalam menenangkan emosi yang bergejolak, hanya itu yang bisa kulakukan demi menyadarkannya kembali.
"Kalau diingat-ingat, dia dan aku hampir sama ya."
Kehilangan kendali pada tubuh sendiri atas kematian yang dialami oleh keluarga kami, dia dan aku dipaksa untuk menghancurkan dan meruntuhkan apapun yang ada di sekitar kami.
Aku paham atas perasaannya saat dia berteriak.
Setiap kali dia berteriak, dia selalu menyebut "aku tidak ingin kehilangan kakak!" berkali-kali dengan ekspresi sedih, putus asa dan depresi yang terlihat di wajahnya.
"Baiklah."
Memejamkan mata sejenak, aku mengeluarkan mana untuk mengaktifkan Shadow Clone yang berguna untuk menganalisa kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh orang itu.
Setelah berhasil mengaktifkannya, aku memberikan beberapa mana dalam jumlah banyak, Mana Transfer pada diriku yang lain agar tidak cepat kalah dan ditumbangkan dalam sekejap.
"Aku mengandalkan dirimu, Sobat."
Bergegas meninggalkan gua, aku kembali ke tempat dimana mereka menunggu kedatangan aku.
"Bagaimana kondisinya, Arthen?"
"Apakah di dalam baik-baik saja?"
"Adakah iblis yang bersembunyi di kedalaman gua?"
Mendekati mereka, aku menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak. Mereka yang mengetahui penolakan dari gelengan kepalaku, terkejut atas jawabanku.
Itu wajar. Mengingat aku bertindak secara tidak langsung, aku hanya melakukan tugas tanpa perlu mengacaukannya.
Yah, sudah beberapa kali di masa lalu aku mengacaukannya yang membuatku perlahan-lahan mulai memahami dan mengerti situasi yang ada untuk bisa mengambil keputusan yang berbeda dari biasanya.
Itu sebabnya aku mulai peka terhadap keadaan dan situasi apapun.
"Aku rasa hanya ada manusia yang mengamuk di dalam gua."
"Manusia mengamuk?"
"Ya, dia adalah seorang wanita berambut biru panjang dengan dress putih yang dikenakannya."
"....."
"Ada apa? Kenapa kau melihatku seperti itu, Paman?"
Secara tidak langsung, aku tahu maksud dari tatapannya. Bisa dikatakan bahwa Paman Veru ingin menyampaikan kalau ini sama seperti yang dialami aku dahulu.
Hari dimana Desa Elforia dilenyapkan, para penduduk desa dibunuh tak tersisa, serta kami berdua yang terbunuh, aku pernah merasakan emosi bergejolak di dalam diriku sendiri.
"Kita jadi teringat masa lalu ya, Arthen."
"Ya, kau benar."
Kami berdua saling memandang dan tersenyum satu sama lain.
Hari-hari itu sudah tiada namun membekas di ingatan kami berdua. Ingatan dimana kami mempelajari berbagai hal baru yang diajarkan olehnya terhadap kami, membuat kami dapat bertahan hidup hingga sekarang.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?"
"Kita akan masuk."
"Eh?"
"Apakah kamu yakin?"
"Ya, hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang."
Tampaknya mereka bertiga memutuskan untuk segera masuk ke kedalaman gua.
Aku akui tindakan itu sangat wajar namun di dalam terdapat bahaya yang menanti mereka jadi aku tidak bisa membiarkan mereka masuk tanpa persiapan yang cukup matang, yang dapat membahayakan nyawa siapapun.
"Tidak perlu. Kita hanya perlu melihatnya di tempat ini."
"Melihatnya?"
"Jangan bilang kalau kau sudah..."
__ADS_1
"Tidak, aku tidak melakukan apapun. Aku hanya ingin tahu sejauh mana diriku yang lain mengatasinya."
Pandanganku mengarah ke kedalaman gua yang terdapat diriku yang lain yang akan berhadapan langsung dengannya.
"Kira-kira cara apa yang akan kau gunakan dalam menghadapinya, Diriku?"
Aku penasaran bagaimana cara dia mengatasi masalah kali ini. Apakah dengan cara kekerasan atau komunikasi, aku hanya penasaran atas hasilnya nanti.
•••••
Di kedalaman gua, dentuman tanah yang kuat menyebabkan langit-langit gua yang terdapat bebatuan runtuh dalam sekejap.
"Sial. Mengapa dia kuat sekali?"
Dibalik debu yang berhamburan, seorang pria keluar dan menjauh dari tempatnya berada. Setelah pria itu menjauh, rentetan tembakan kristal, Crystalize Shoot dilancarkan terhadapnya yang membuatnya sebisa mungkin menghindarinya.
(Crystalize Shoot, kemampuan yang mampu menembakkan objek apapun yang telah dirubah menggunakan Change Material menjadi kristal dengan beragam warna, kemampuan ini mampu ditembakkan ke arah target yang diinginkan baik satu maupun banyak, semua tergantung dari si pengguna menggunakannya)
Setelah pria itu dapat menghindarinya, sepasang tangan besar dari tanah menghantam ke arahnya menyebabkan getaran lebih kuat di permukaan tanah.
"....."
Di kejauhan, wanita itu dengan tajam memperhatikan kondisi pria tersebut.
Tidak ada tanda-tanda bahwa dirinya hidup maupun bangkit yang artinya wanita itu sudah berhasil membunuhnya dalam sekejap.
Mendekatinya sebentar ke tempat pria itu berada, wanita itu kembali menjauh lalu mengamuk, dan berteriak. Setiap kali dia mengamuk dan berteriak, daerah di sekitar gua runtuh dengan mudah menyebabkan debu-debu berhamburan ke setiap tempat membuat pandangan siapapun yang berada di dalamnya akan terganggu oleh debu tersebut.
"Sial. Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah seharusnya negosiasinya berjalan lancar? Kenapa dia malah menyerang dan melenyapkan aku?"
Dalam tubuhnya yang terkapar di permukaan tanah, Regard kembali mengingat ke beberapa saat sebelumnya.
Saat dimana dia berpikir bahwa negosiasi akan berjalan lancar tanpa kendala apapun. Awalnya semua perkataannya cukup bagus untuk didengarnya yang menyebabkan wanita itu berhenti dan mendekati dirinya, tapi semua itu gagal saat dia mencoba mengajaknya keluar dari dalam gua.
Tak hanya gagal, wanita itu bahkan menargetkan dirinya sebagai target untuk dilenyapkan. Itulah mengapa selama pertarungan Regard menahan diri untuk tidak menyerangnya melainkan mempertahankan dirinya untuk tidak lenyap karena berbahaya baginya untuk tiada dalam sekejap.
Dirinya akan dianggap gagal oleh dirinya yang asli, yang dapat menyebabkan dia tidak akan berguna lagi di kemudian hari.
"Apa yang harus kulakukan? Negosiasi sudah tidak berguna lagi jadi hanya ada satu cara untuk menyadarkannya kembali."
Mengingat satu hal tersebut, Regard kembali bangkit dari dirinya yang terkapar di permukaan tanah.
"Kau tidak bisa mengalahkan aku, Nona!"
"....."
"Sayang sekali kau masih terlalu jauh untuk mengalahkan aku."
"....."
Sebelum sempat menembak tubuhnya dengan rentetan bola tanah berukuran besar, Regard mengeluarkan Golden Chain dalam jumlah banyak, menekan pergerakan bola tersebut untuk tidak menghantamnya.
"Sekarang waktunya."
Lenyap di tempatnya berada, Regard menggunakan Acceleration untuk berpindah tempat ke tempat lain.
Berada di langit-langit menggunakan Wind Walk dan Air Step, Regard mengeluarkan busur emas di tangannya, membidik langsung ke arah wanita berambut biru panjang.
"Mungkin ini akan sedikit menyakitkan, tapi aku harap kau dapat menahannya."
Melepaskan anak panah berwarna hitam ke arahnya, wanita itu dengan cepat menggunakan batu besar yang dirubah menjadi tangan untuk melindungi dirinya di dalam genggaman tangan buatannya.
Sayangnya, anak panah yang dipikirnya hanya satu telah berubah menjadi sejumlah anak panah dalam jumlah banyak yang dapat mengenai jangkauan yang luas menyebabkan tangan yang menggenggamnya tidak sanggup untuk menahannya dan hancur karena daya ledaknya yang kuat.
"....."
"Ada apa? Apakah kau marah atas kelemahan yang kau miliki?"
Memijak tanah, wanita itu mengeluarkan gundukan tanah yang mengarah ke Regard.
Regard tahu itu yang akan terjadi mulai mundur dan terbang menjauh dari tempatnya berada sebisa mungkin.
Tepat di saat dia mundur dan menjauh, tsunami pasir berhamburan di permukaan tanah. Wanita yang menggerakkan tsunami pasir berhasil terbang menggunakan permukaan kristal dengan beragam warna yang dipijaknya.
"Kau memang hebat ya."
Sambil mengatakan itu padanya, Regard mengeluarkan Dark Ball di lengannya.
Wanita itu yang tahu bahwa dia akan melancarkan serangan padanya, menggerakkan lengannya ke arah Regard yang membuat seluruh langit-langit bebatuan jatuh mengenainya.
Sebelum dapat bergerak cepat, wanita tersebut menggunakan permukaan tanah yang berada jauh di bawah untuk mengikat pergerakan kaki dari Regard.
"Sial. Dia sudah memperkirakannya."
Tak dapat melakukan apapun, Regard dengan segera mengeluarkan Dark Aura yang mampu meningkatkan statistik dirinya sebanyak dua kali lipat dari biasanya.
__ADS_1
(Dark Aura, kabut kegelapan yang mampu menyelimuti tubuh si pengguna yang mampu meningkatkan statistik miliknya sebanyak dua kali lipat dari biasanya)
Hasilnya seperti yang dilihat. Ikatan yang kuat di kaki Regard yang berasal dari permukaan tanah yang membatasi pergerakannya dapat dihancurkan dengan mudah sehingga memudahkan Regard pergi dengan cepat menggunakan Acceleration miliknya.
Muncul di kejauhan, Regard terkejut pada apa yang dilihatnya dari wanita tersebut.
Di sekitar tubuhnya terdapat aura berwarna-warni yang mengelilinginya, disertai dengan kristal dengan berbagai warna yang tampak indah dan cantik, ditambah dengan beberapa lengan yang ada di sisinya benar-benar membuat Regard berpikir bahwa wanita itu terlihat seperti monster.
"Enyahlah!"
"Whoa!"
Menghindari rentetan tangan berukuran besar yang berasal dari pasir, Regard terkejut atas apa yang dilakukannya.
"Ini tidak bisa dibiarkan."
Menatap tajam ke arahnya, Regard tersenyum penuh percaya diri. Kali ini, dia akan mengakhiri semuanya dalam sekejap tanpa memerlukan kekuatan terhebatnya, Infinity Spirit.
Berusaha menghindar berkali-kali dari serangan tangan pasir milik wanita itu, Regard dengan cepat menggunakan Shadow Clone dalam jumlah yang banyak.
Kebanyakan dari mereka mengarah langsung ke wanita yang menjadi targetnya namun sebelum mereka dapat mencapai ke tempatnya, mereka dihancurkan tanpa sisa oleh rentetan kristal dalam jumlah banyak yang mengenai tubuh mereka membuat mereka terluka lalu lenyap.
"....."
Tidak dapat melihat siapapun, tatapan wanita itu mengitari seluruh area yang ada di sekitarnya.
Dia sama sekali tidak menemukan keberadaan Regard di pandangannya melainkan hanya ada bebatuan, bijih material, mineral, serta pasir yang berada di beberapa tempat membuatnya bertanya-tanya dimana Regard berada.
"Sip. Sekarang waktunya untuk...."
Di kedua tangan Regard, dia bersiap untuk menggunakan kemampuannya yang biasa.
"Rasakan ini, Nona!"
Phantom Slash diaktifkan oleh Regard.
(Phantom Slash, tebasan yang dilakukan berulang kali dibalik kegelapan yang tercipta dari kabut, tebasan beruntun yang dapat dilakukan secara sendiri maupun bersamaan dengan cloning mampu digunakan oleh si pengguna yang memberikan efek lebih kuat daripada kemampuan sebelumnya, Dark Slash)
Di sekitar tubuh wanita terdapat tebasan berwarna hitam yang mengenai tubuh wanita berambut biru panjang membuatnya terluka akibat goresan yang tak kunjung berhenti.
"Dance of Shadow."
(Dance of Shadow, kemampuan yang dapat membuat bayangan yang dibuat si pengguna berlari ke arah lawan, menebasnya dengan cepat di segala arah dengan tarian yang terlihat indah dan cantik untuk dilihat oleh mata telanjang)
Menggunakan kemampuan lainnya, bayangan dari tubuh Regard berlari ke arahnya tanpa disadarinya. Itu karena sebelum Regard pergi, dia telah mengaktifkan Transparency yang membuat tubuhnya tidak dapat diketahui dan dirasakan oleh musuhnya.
Tepat ketika kedua bayangan mendekati wanita tersebut, tebasan pedang yang diiringi dengan tarian dapat mengenai luka yang sebelumnya tergores menjadi besar menyebabkan darah menyembul keluar dari dalam tubuhnya yang terluka akibat tebasan beruntun yang dilakukan Regard terhadapnya.
Ketika tarian pedang dihentikan oleh bayangan Regard, tebasan besar dengan jangkauan yang luas membuat tubuh wanita itu terluka sepenuhnya.
Wanita itu memejamkan matanya dan terjatuh karena seluruh kemampuannya sirna tak tersisa. Kesadarannya yang perlahan-lahan menghilang, disertai dengan rasa hampa yang akan didapatnya usai kematian datang menjemputnya, membuatnya tersenyum.
"....."
Melihat kejatuhannya, Regard berjalan mendekati wanita berambut biru panjang untuk memeriksa kondisinya.
Tubuhnya yang terdapat banyak luka fatal dan luka ringan, disertai dengan darah yang tiada henti menyembul keluar, ditambah dengan genangan darah yang membasahi tubuhnya membuat Regard tidak tahu harus melakukan apa padanya.
"Baiklah. Sepertinya tidak ada pilihan lain."
Mengarahkan lengannya ke depan dimana wanita itu telah tiada, cahaya keunguan menyelimuti tubuhnya dan bersinar terang.
Di lain tempat, Regard yang menduga bahwa ini yang akan terjadi, tersenyum dan tertawa.
"Kamu aneh sekali ya, Regard."
"Ya. Apakah ada sesuatu yang terjadi?"
"Aku dapat menebak atas apa yang kau lakukan di dalamnya, Arthen."
Berbeda dengan kedua gadis di dekatnya, Veru sudah menganggap bahwa dia telah melakukan tindakan lebih awal terhadap wanita berambut biru panjang yang mengamuk di kedalaman gua.
Terlihat jelas dari bagaimana dia tersenyum dan tertawa, Veru pasti menduga dia telah mengacaukannya kali ini.
Namun sebelum menyalahkannya, Veru berpikir bahwa keputusannya mengajak Regard adalah keputusan yang tepat untuk dilakukan. Meskipun dia dikacaukan oleh Regard, dia tetap bangga bahwa dirinya dapat mempertahankan sisi kemanusiaan untuk tidak tertelan oleh kegelapan yang sama seperti yang terjadi di masa lalu.
"Kau benar-benar hebat ya, Arthen."
Hanya bisa tersenyum, Veru bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu masuk gua.
"Cepat kita bawa dia pergi sebelum bala bantuan tiba."
"Ya."
"Baik."
__ADS_1
Mereka pun bergegas pergi memasuki gua untuk membawa jasad wanita itu ke kota sebelum bala bantuan dari pasukan Veru tiba di tempat, dimana mereka berada sebelumnya.