The Necromancer

The Necromancer
Ch. 21:Jalur Perdagangan Dihentikan


__ADS_3

Akhir-akhir ini pedagang banyak sekali menetap di Kota Resihei.


Selama tiga hari terakhir, menurut pengamatan aku, kenaikan pedagang yang masuk ke Kota Resihei meningkat drastis. Persediaan barang dagang yang dibawa lengkap mulai dari bahan pokok, pakaian, aksesoris, perlengkapan, serta ada juga yang menjual bijih material dapat aku temukan di setiap jalan.


Meskipun Kota Resihei dikenal sebagai Kota Robot, banyak para pedagang manusia yang berjualan di kota untuk meningkatkan pendapatan dan penghasilan mereka melebihi keuntungannya.


Yah, aku tahu karena aku selalu mengerahkan pasukan dari diriku menggunakan [Shadow Clone] dan [Transparency] agar tidak ada siapapun yang menyadarinya.


Benar-benar aneh.


Tidak peduli bagaimana aku melihatnya, ekspresi yang para pedagang perlihatkan tidak tampak senang dengan diri mereka yang menetap di Kota Resihei.


Apa yang membuat mereka terlihat seperti ini?


Aku sama sekali tidak tahu dan mengerti jadi aku berpura-pura tidak peduli pada mereka daripada mereka membuatku membantu mereka.


Jujur saja, itu merepotkan jadi abaikan saja.


"....."


Tidak jauh dari tempatku berada, Shilph dan Reita yang membawa tas belanjaan melambaikan tangan padaku. Aku membalas lambaian tangan mereka.


Tampaknya mereka membeli sesuatu yang tidak aku sadari.


"Apakah kalian bersenang-senang?"


"Ya."


"Mall itu sangat besar jadi aku kesulitan untuk memilih keperluan yang kuinginkan."


"Yah, itu wajar. Mengingat dunia ini tidak ada mall sebesar dan sehebat ini di Kota Resihei, kalian pasti kebingungan dalam berbelanja bukan?"


"Bagaimana kamu mengetahuinya?"


"Rahasia."


Memperhatikan Reita yang terdiam sedari tadi, ada sesuatu yang aneh dari sikapnya.


Biasanya dia selalu ikut dalam pembicaraan kami, tapi kali ini dia diam seolah-olah tidak tertarik pada obrolan yang kulakukan bersama Shilph.


"Ada apa, Reita?"


"Ah... tidak ada apa-apa."


Aneh sekali ya.


Dia yang pulang terlebih dahulu ke penginapan membuat kami berdua kebingungan atas sikapnya yang berbeda.


Apakah aku mengatakan sesuatu buruk?


Jika diingat kembali, aku sama sekali tidak salah jadi aku bukanlah orang bersalah dalam mengatakan apapun padanya.


"Kenapa dengan Reita ya?"


"Entahlah."


Mungkin saja dia sedang merasakan jatuh cinta di dalam mall terhadap seseorang atau dia bersenang-senang dalam memainkan permainan yang disediakan di dalam mall, ada kemungkinan salah satunya merupakan jawaban.


Yah, lupakan tentang Reita.


"Shilph, apakah kau menyadarinya?"


"Ya, mereka terlihat tidak bahagia sama sekali."


"Itu benar. Apa yang sebenarnya membuat mereka terlihat sedih dan pasrah pada keadaan yang seharusnya menguntungkan mereka."


Mereka, para pedagang seharusnya bangga atas barang dagangan mereka yang laku terjual. Tapi apa yang kami lihat justru tidak tercermin dari wajah mereka, sebaliknya, mereka terlihat menyerah atas suatu hal yang tidak kami ketahui alasan mereka menyerah.


Satu-satunya yang dapat aku perkirakan, harga jual mereka lebih rendah dari biasanya yang menyebabkan mereka menderita kerugian besar akibat harga jual yang rendah.


Itu jika pikiran positif.


Jika pikiran negatif, aku yakin mereka tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi pada jalur lintasan mereka yang kemungkinan disabotase oleh iblis dan monster yang menyergap mereka dan membawa barang dagangan mereka untuk diambil semuanya.


Tapi, pikiran negatif lebih masuk akal dibandingkan pikiran pertama.


Apapun yang terjadi, bertindak terlebih dahulu sangat beresiko dan berbahaya.


Jika lawan kami merupakan iblis tingkat tinggi dari kalangan bangsawan, kami akan tiada. Begitupun sebaliknya, jika lawan kami hanya iblis tingkat rendah, kami mampu mengatasinya.

__ADS_1


Meskipun aku berkata demikian, aku yakin para petualang dari Colorful Adventure dapat mengatasi monster tingkat rendah dan tingkat sedang dengan mudah tanpa kesulitan sedikitpun.


Yang menjadi pertanyaan adalah apakah iblis terlibat dalam sabotase yang terjadi diantara para pedagang, aku tidak tahu pasti namun satu-satunya yang aku yakini itu bisa saja terjadi.


"Lebih baik jika kita amati dulu situasi yang ada."


"Ya, kamu benar."


Kembali ke penginapan, aku dan Shilph memutuskan untuk merundingkan ini bersama-sama.


Aku tidak tahu secara spesifik tentang apa yang membuat mereka sedih dan pasrah. Apakah stok persediaan mereka mulai menipis atau jalur perdagangan mereka dihentikan oleh sesuatu yang tidak kami sadari.


"Baiklah. Ini terdengar sangat tidak masuk akal."


Berjalan bolak-balik di depan mereka, mereka memperhatikan aku dengan seksama.


"Beberapa pedagang merasa tidak puas atas hasil dagangannya yang berhasil mereka jual. Entah apakah karena ada sesuatu yang terjadi menyebabkan mereka terlihat sedih dan pasrah atau mereka dipaksa oleh suatu organisasi lain?"


"Kemungkinan besar mereka dipaksa oleh organisasi lain."


Dipaksa ya.


Kedengarannya terlalu berlebihan, tapi apa boleh buat aku gunakan itu untuk alasan daripada menggunakan jalur perdagangan mereka dihentikan oleh sesuatu yang tidak kami ketahui.


"Ada apa, Regard?"


"Tidak, aku hanya terkejut mendengarnya darimu, Friya."


Memang benar bahwa dipaksa oleh organisasi misterius akan membuat mereka dirugikan, misalnya seperti anggota keluarga mereka yang diculik dan dijadikan sandera agar mereka mengikuti aturan yang ada, dan lain-lain sebagainya yang masih merupakan ancaman atas tindakan mereka.


Walaupun aku sedikit meragukan ide itu, satu-satunya yang membuatku kurang ialah sebuah organisasi tidak akan mampu bergerak dari balik bayang-bayang tanpa sepengetahuan kami. Sebaliknya, ada kemungkinan jejak mereka dapat tertinggal yang menyebabkan kami meliriknya untuk menghabisi dan melenyapkan mereka.


"Apakah ada lagi?"


"Bagaimana jika rute perdagangan mereka dihentikan paksa oleh sesuatu?"


"....."


Entah kenapa Reita yang dipikir tidak cukup pintar, dia dapat mengemukakan ide yang masuk akal melebihi Friya.


Jika apa yang dikatakan oleh Reita benar, yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang menyebabkan para pedagang tidak mampu melewati rute perdagangan ke kota lain. Apakah mereka iblis, bandit atau sejenis mahluk seperti Fuzikumibaru.


"Aku merasa tidak perlu langsung untuk menduganya karena ini masalah serius."


Tanggapan Shilph terlihat lebih wajar dari yang lainnya jadi aku mengangguk dan setuju pada usulannya.


"Pokoknya saat ini, kita hanya bisa mengawasi mereka dengan seksama secara tidak langsung untuk mengetahui atas apa yang terjadi pada mereka."


"Baiklah."


"Dimengerti."


"Ya."


Pembicaraan ini selesai. Mereka yang kembali keluar kamarku memutuskan masuk ke kamar masing-masing, menyisakan aku dan Reita yang masih menetap di dalam kamar.


"Ada apa?"


"I-itu... ini..."


Melihat kedua tangannya yang terdapat bingkisan berwarna merah muda berbentuk love, disertai dengan tali simpul berwarna hijau, aku mengambilnya.


"Terimakasih."


"Ya."


Dia yang pergi meninggalkan kamarku membuat aku penasaran atas isi dari hadiah yang diberikannya tadi.


Membuka tali simpul berwarna hijau, aku mengintip dengan membukanya sedikit. Tapi, apa yang kulihat jelas-jelas bukanlah hal yang masuk akal.


Itu adalah hadiah yang berisikan coklat dalam jumlah yang banyak yang terdapat 20 isi di dalamnya. Terdapat berbagai macam bentuk dan tampilan, aku tertarik untuk mencicipinya terlebih dahulu sebagai jaga-jaga agar tidak ada racun di dalamnya.


Enak sekali.


Menyantapnya berkali-kali, aku menyisakan beberapa coklat untuk Friya dan Shilph agar mereka dapat nikmati selagi Reita tidak menyadarinya.


•••••


Di tengah keramaian penduduk kota, di Guild Petualang, seluruh petualang Colorful Adventure berkumpul di lantai kedua.

__ADS_1


Masing-masing dari mereka memperhatikan selembar misi yang terbilang mudah untuk dilakukan jadi mereka bersiap untuk bergegas pergi ke tempat tersebut dengan cepat sebelum petualang lain mengambil imbalannya.


"Apakah mereka akan melakukan misi yang sama?"


"Entahlah."


Disaat sebagian besar petualang di Colorful Adventure pergi bersama kelompoknya masing-masing, petualang di Black Adventure hanya bisa memasang ekspresi cemas dan khawatir atas kelompok sebelum mereka yang belum kembali pulang dan melakukan aktivitas sebagai petualang setiap harinya.


"....."


Di salah satu kursi, seorang pria dengan tenang menyeruput teh di cangkirnya tanpa mempedulikan pembicaraan yang terjadi baru-baru ini di Guild Petualang.


Tatapannya yang tertuju pada kepergian Colorful Adventure hanya membuatnya acuh.


Di lain tempat, di dalam kekaisaran ibukota Resihei, Walikota Resihei hadir dalam acara pertemuan bersama pemimpin dari kedua ksatria kerajaan terhebat di Kota Farihiora yaitu Veru dan Kanae.


"Maaf jika aku mengundang kalian secara mendadak."


"Tidak apa-apa."


"Kenapa aku harus bersamamu?"


Tidak seperti Veru yang memiliki sikap santai dan ramah, Kanae tampak tidak terima atas undangan yang diberikan Walikota Resihei terhadapnya, yang membuat Veru  ikut ke dalam pembicaraan kali ini.


"Aku ingin tahu apakah kalian telah menyadarinya?"


"Menyadarinya? Aku tidak tahu."


"Kau terlalu bodoh untuk menyadarinya ya."


"Apa maksudmu? Huh?"


Tidak terima atas ejekan temannya, Veru memasang ekspresi jengkel di wajahnya pada Kanae.


Kanae yang tahu itu yang akan terjadi hanya bisa tersenyum lalu mulai menjelaskan atas pengamatan yang dilakukannya selama beberapa hari yang lalu.


"Berdasarkan hasil survei dari pasukan kami, kami melihat bahwa kebanyakan para pedagang menetap di Kota Resihei."


"Ya. Apakah kamu tahu alasannya?"


"Tidak, kami tidak tahu sama sekali."


"Mungkinkah terjadi sesuatu diluar sana?"


Mengambil cangkir teh lalu menyeruputnya perlahan-lahan, Walikota Resihei dengan ekspresi tenang mulai menjelaskan situasinya pada mereka.


Di lain tempat, Friya yang sedang membaca buku mengenai informasi yang diperlukan di dalam kamarnya.


Kali ini dia membaca informasi tentang Fenrir.


Fenrir adalah makhluk legendaris yang memiliki kemampuan dan kekuatan yang jauh berada di atas rata-rata dari manusia maupun makhluk lainnya. Mereka hidup dalam kawanan masing-masing dan mampu berburu dalam habitat mereka sendiri.


Penampilan Fenrir terbilang mirip seperti Demi-human namun mereka cenderung lebih kuat dari Demi-human.


Dengan kata lain, kemampuan dan kekuatan mereka lebih tinggi daripada makhluk lainnya yang membuat Friya terkesan atas usaha mereka dalam bertahan hidup dan berburu selama berabad-abad.


Menurut buku yang dibacanya, Fenrir berada di Gunung Baurme, gunung bersalju yang letaknya tidak jauh dari Kota Resihei.


"....."


Mungkinkah penyebabnya ialah...


Menyadari ada sesuatu yang tidak beres terhadap pedagang lain yang terlihat sedih dan pasrah, Friya bergegas ke kamar lain untuk memberitahu atas apa yang terjadi pada teman-temannya.


•••••


"Ampun... ampuni kami!"


Di tengah badai salju yang tiada hentinya, kawanan serigala yang mengepung sekelompok petualang Colorful Adventure, disertai dengan sosok kecil yang memiliki penampilan manusia dengan telinga serigala di kepalanya dan ekornya yang berbulu lebat dapat dilihat, sosok itu terdiam menatap tajam penuh kebencian pada mereka.


"Kalian telah berbuat kejam pada keluarga aku jadi kalian harus menerima ganjarannya."


Selesai mengatakan itu, sosok itu pergi meninggalkan mereka bersama kawanan serigala yang mulai mencabik-cabik tubuh dan menggigit mereka.


Mereka adalah pendosa, dan pendosa harus dihukum.


Dalam sudut pandangnya yang terlihat, manusia merupakan makhluk yang dipenuhi kesalahan.


Ketika ketenangan dan kedamaian berhasil didapatnya, manusia datang tanpa rasa bersalah membunuh salah satu dari mereka menyebabkan murka dan amarah sosok itu tak kunjung berhenti meskipun itu hanya masa lalu.

__ADS_1


Apapun yang terjadi, aku akan musnahkan kalian yang datang kemari.


__ADS_2