
Di kegelapan yang sunyi, segerombolan orang sedang berjalan menyusuri hutan. Masing-masing dari mereka membawa senjata berupa tombak, pedang, dan panah, disertai dengan zirah ringan yang mereka kenakan.
"Apakah mereka masih ada?"
"Tunggu sebentar!"
Seorang gadis yang berdiri di batang pohon melompat jauh ke batang pohon lainnya untuk memeriksa situasi yang ada.
Terhenti sejenak, gadis itu memusatkan perhatiannya pada apa yang ada di kedalaman hutan yang sedang dilihatnya.
Apa yang dilihatnya terdapat sekelompok monster seperti Orc membuat gadis itu yakin situasinya cukup berbahaya. Bergegas kembali ke tempat teman-temannya berada, gadis itu dengan cepat menjelaskan rinciannya.
"Begitu rupanya ya."
"Apakah kita akan melakukan pembasmian terhadap mereka?"
"Tidak, kita akan menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya."
Di depan mereka terlihat seorang gadis berambut pirang panjang dengan tampilan yang cantik untuk dilihat, apalagi dengan tubuhnya yang seksi dan menggoda membuat siapapun akan terpana pada keindahan tubuhnya, serta kecantikan dari penampilannya.
•••••
"Apakah masih jauh menuju ke Fairy Forest?"
"Ya, butuh waktu dua hari untuk tiba di tempat itu."
"Begitu ya."
Duduk di sisi jalan setapak, Regard mengeluarkan botol kaca kecil berisikan darah di dalamnya yang berasal dari monster yang berhasil diburunya sebelumnya.
Shilphonia yang memperhatikan sikap santai Regard, menggelengkan kepalanya dan mendekatinya.
"Mau sampai kapan kamu tetap beristirahat?"
"Aku tidak kuat jika terus melanjutkannya. Itu sebabnya aku seringkali beristirahat untuk menenangkan semua yang ada di dalam diriku."
"Maksudmu kegelapan itu?"
"Ya."
Meneguk darah yang diminumnya, Regard merasa tubuhnya kembali segar.
Tubuhnya yang terasa ringan membuatnya senang jadi dia sudah sanggup berjalan jauh dengan darah yang berhasil dikonsumsinya.
"Mari kita pergi, Shilph!"
"Ya."
Melanjutkan perjalanan, mereka tidak saling berbicara apapun satu sama lain.
Di lain tempat di dalam pemukiman penduduk, seorang gadis dengan tongkat sihirnya memperhatikan kondisi di dalam perumahan salah satu penduduk.
"Kenapa ini bisa terjadi?"
"Apa yang harus kita lakukan, Nona?"
"Kita akan mempertahankan hutan ini agar tidak dihancurkan oleh mereka. Jika mereka melakukannya, aku akan turun tangan untuk menghadapi mereka."
"Baik."
Seorang pria yang memahami maksud perkataannya pergi dari tempatnya dan keluar dari rumah salah satu penduduk.
Memperhatikan isi di dalam rumah tersebut, gadis berambut pirang panjang dengan telinga runcing yang panjang menghela nafasnya.
Tidak ada pilihan lain ya.
Mendekati beberapa orang yang terluka, gadis itu mengeluarkan sihir kepada salah satu korban.
Tubuh korban yang sebelumnya terluka parah di perut dan salah satu lengannya yang hilang yang terus-menerus mengeluarkan darah perlahan-lahan perutnya kembali pulih, begitupun lengannya yang mulai terhenti pendarahannya namun tidak bisa mengembalikan lengannya yang telah hilang.
Aku harap semuanya berakhir baik.
Pandangannya yang mengarah ke beberapa prajurit yang masih mengintai pergerakan musuh membuat gadis itu cemas dan khawatir atas kondisi mereka.
Apakah mereka dapat kembali dengan selamat tanpa terluka atau sebaliknya, pikiran gadis itu terus mengarah pada kondisi mereka.
•••••
"Ini..."
"Kita benar-benar terkepung ya."
Memperhatikan ke sekeliling tempat, Regard dan Shilphonia dikerumuni oleh Orc dalam jumlah banyak.
__ADS_1
Kebanyakan dari Orc mengenakan zirah dan membawa senjata berupa; kapak, pedang, dan tombak. Masing-masing dari mereka membentuk tim sendiri yang terdiri dari pedang, tombak, dan kapak dalam satu tim membuat Regard kagum pada formasi tim mereka.
"Apakah kita harus menghabisinya?"
"Tunggu sebentar!"
Menahan Shilphonia untuk tidak bertindak gegabah, Regard merasakan kehadiran yang perlahan-lahan datang ke tempat mereka. Kehadiran itu sendiri bukan berasal dari iblis maupun monster, tapi makhluk hidup lainnya dalam jumlah banyak secara berkelompok yang siap mendekati mereka.
Gawat! Apa yang harus kita lakukan?
Menyadari posisi ini akan membuat Regard disandera oleh mereka, satu-satunya ide baginya ialah memberitahukan ide ini pada Shilphonia.
"Shilph, kita akan melakukan rencana yang sedikit nekat. Apakah kau mau melakukannya?"
"Rencana apa?"
"Kemari!"
Mendekati Regard, Shilphonia memasang telinganya untuk mendengar rencana Regard.
Selama Regard mengatakan itu padanya, Shilphonia terkejut pada ide gila yang termasuk nekat untuk dilakukan. Meskipun terdengar gila, Shilphonia yakin ini adalah satu-satunya cara agar mereka bisa selamat tanpa melakukan masalah apapun pada mereka.
"Baiklah, mari kita lakukan!"
"Ya."
Di tempat yang tidak jauh dari Regard dan Shilphonia, sekelompok Elf dengan senjata tombak dan pedang sedang berjalan menelusuri hutan menuju ke tempat dimana segerombolan Orc berada.
Selama beberapa menit mereka berjalan, mereka tiba di tempat Orc berada.
"Itu..."
"Semuanya, tetap ikuti aturan dan jangan lengah!"
"Baik."
Sekelompok Elf dengan cekatan berlari ke arah Orc.
Orc yang memegang kapak mengayunkannya ke depan yang membuat debu berhamburan di sekitar. Tidak melewatkan kesempatan yang ada, Orc pedang mencoba untuk menyerang beberapa Elf yang terlihat lengah. Namun sebelum pedang itu mengenai tubuh Elf, tombak panjang sempat menahannya.
Elf yang tahu kalau Orc akan memanfaatkan kesempatan yang ada, mulai menyerangnya balik. Pasukan Elf pedang mulai menahan seluruh serangan yang dilancarkan oleh Orc tombak, sedangkan Elf tombak mulai melancarkan serangan pada Orc pedang.
Siklus itu terus berlangsung hingga debu yang sebelumnya mengelilingi mereka telah sepenuhnya sirna.
"Sial...."
Meskipun Elf berhasil bertahan dan berada di posisi yang menguntungkan, ekspresi mereka menegang ketika tahu Orc yang tersisa adalah Orc dengan kapak besar. Mereka yang tahu kalau Orc dengan kapak besar lebih kuat dari diri mereka memutuskan untuk menggunakan sesuatu agar bisa menyeimbangi kekuatan satu sama lain.
"Lakukanlah, Pemanah!"
"Baik."
Anak panah dalam jumlah banyak melayang di udara dan menghujani tubuh Orc. Masing-masing dari Orc terkena anak panah yang membuat tubuh mereka terlihat lemah tak berdaya.
Alasan mereka lemah tak berdaya adalah anak panah yang mengenai tubuh mereka bukanlah anak panah biasa, tapi anak panah yang telah dilumuri oleh racun yang membuat tubuh mereka jatuh ke tanah sembari menahan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh mereka. Regard dan Shilphonia yang tergeletak di tanah juga ikut terkena anak panah tersebut.
Untungnya sebelum anak panah mengenai mereka, Shilphonia sudah memberikan perlindungan kepada mereka berdua yaitu Absolute Defense yang membuat tubuh mereka kebal dengan berbagai macam serangan.
(Absolute Defense, pertahanan mutlak yang dapat menahan berbagai macam serangan fisik maupun sihir, serangan yang dapat ditahan ialah serangan tingkat dasar hingga tinggi, namun tidak dapat menahan serangan yang tidak pernah ada di dunia yang kekuatannya melebihi akal sehat manapun)
Walaupun kebal terhadap serangan apapun, Regard tidak melewatkan bahwa tubuhnya yang telah dilumuri darah miliknya di tubuhnya maupun tubuh Shilphonia membuat mereka yakin kalau orang yang mereka temui telah tiada.
Itu sebabnya tanpa ragu mereka melakukan serangan berskala besar, tanpa mempedulikan orang yang tergeletak di tengah-tengah pertarungan mereka.
"Serang!"
Pasukan Elf pedang dan tombak mulai maju secara bersamaan. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, mereka dengan segera memotong lengan, menyayat tubuh dengan goresan yang besar, serta menebas kepala Orc, semuanya dilakukan bersamaan yang membuat darah Orc menyembul keluar ke permukaan tanah di sekitar dipenuhi dengan genangan darah mereka.
Benar-benar mengerikan sekali.
Ya, aku tidak menyangka kalau itu akan berubah menjadi pertarungan menakutkan.
Shilphonia yang awalnya terkejut dengan formasi mereka menyatakan ketidaksukaannya terhadap cara bertarung mereka yang keji dan ganas.
Regard juga sama. Bagi Regard, Elf seharusnya memberikan kesempatan pada mereka untuk tidak melakukan kesalahan. Tapi, tampaknya semua itu jauh dari perkiraan Regard.
Bukannya memaafkan dan memberikan kesempatan pada Orc, Elf itu justru menghabisinya tanpa rasa kasihan.
•••••
"Nona, kami menemukan dua manusia yang telah tiada."
"Bisakah kamu membawanya kemari?"
__ADS_1
"Baik."
Pria Elf yang sebelumnya melaporkan tentang penemuan mereka terhadap kedua mayat manusia yang telah diserang dan dihabisi oleh Orc pergi meninggalkan ruangan menuju ke luar rumah penduduk.
Diluar rumah penduduk, pria elf itu menyuruh pasukannya untuk membawa mereka masuk ke dalam, mereka mengikuti perintahnya dengan membawa Regard dan Shilphonia masuk ke dalam rumah penduduk.
Regard, dia adalah....
Ya. Tidak salah lagi, dia adalah Elf yang kuat.
Merasakan adanya energi kehidupan yang berlimpah, disertai dengan mana dalam jumlah banyak, Shilphonia dan Regard hanya bisa terkejut dalam diam selama mereka berpura-pura telah tiada.
Meskipun nafas mereka sengaja tidak terlihat, mereka tetap saja diharuskan untuk mempertahankan posisi ini agar tidak dicurigai oleh mereka.
"Kami sudah bawa mereka, Nona!"
"Mereka..."
"Ada apa, Nona?"
"Tidak ada. Cepat letakkan di sana!"
"Baik."
Mengikuti perintahnya, mereka meletakkan tubuh Regard dan Shilphonia di sudut ruangan agar tidak tercampur dengan elf lainnya yang sedang terluka parah dan elf yang telah disembuhkan olehnya.
Baiklah.
Mendekati tubuh mereka, gadis elf itu menatapnya penuh kebingungan.
Walaupun dia tahu kalau mereka tidaklah tiada, dia tetap sebisa mungkin menjaga ketenangannya agar tidak membuat keduanya bangun.
"Mungkin ini akan sedikit menyakitkan, tapi aku ingin kalian menahannya."
Menyakitkan?
Mungkinkah dia...
Tepat ketika gadis elf memejamkan matanya, cahaya muncul dari tongkat sihir miliknya.
Di lantai kayu di dalam rumah, lingkaran sihir berwarna merah terang menyilaukan seisi ruangan. Perlahan-lahan cahaya itu mulai bersinar terang yang membuat tubuh Shilphonia kesakitan.
Berbeda dengan Shilphonia yang kesakitan, Regard justru tidak merasakan apapun.
Bertahanlah, Shilph!
Mana bisa! Jika aku bertahan lebih lama, aku akan mati.
Mengelak untuk bertahan, Shilphonia memilih untuk bangun daripada pura-pura mati dan menjaga jarak dari gadis elf tersebut.
Pandangannya yang tajam diarahkan ke gadis elf membuatnya yakin kalau gadis cantik itu terlihat kesal dan benci pada sihir yang digunakannya tadi padanya.
Tidak ada pilihan lain ya.
Bergegas bangun dari pura-pura mati, Regard dengan cepat mengangkat kedua tangannya.
"Apa yang kamu lakukan, Regard?"
"Aku menyerah."
"Menyerah, katamu? Apakah kamu yakin?"
"Ya."
Tidak dapat memahami tindakan Regard, gadis elf itu terlihat kebingungan atas sikapnya yang tiba-tiba menyerah dan mengangkat kedua tangannya.
"Bolehkah aku tahu mengenai alasan kedatangan kalian kemari?"
"Ya."
Menurunkan lengannya, Regard menjelaskan kedatangannya untuk memburu beberapa Orc yang ada di Fairy Forest.
Gadis elf yang mendengarnya, paham dan mengangguk jadi dia tidak melakukan apapun selain menerima kedatangan mereka di Desa Elf.
"Silahkan ikuti aku!"
"Ya."
"Baik."
Mengikuti arahan dari gadis elf, Regard dan Shilphonia yang berada di belakang merasa lega karena mereka berhasil lepas dari kecurigaannya.
Jika Regard berkata jujur dan berterus terang tentang kedatangannya yang ingin mencari tahu tentang keberadaan Stahark, elf itu akan curiga dan menganggap kalau mereka berdua adalah mata-mata dari pasukan iblis.
__ADS_1
Tentunya Regard paham atas hal itu jadi dia sengaja berbohong agar tidak dicurigai oleh mereka. Apalagi jika dia diinterogasi dan dibunuh, itu akan tetap menyakitkan untuk dijadikan kenyataan baginya.