
Pukulan-pukulan terus dilakukan oleh Stahark.
Regard yang awalnya berniat untuk menggunakan kemampuan dan kekuatan yang berbeda dari setiap apa yang didapat dari mereka, teman-temannya maupun orang yang ditemuinya tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Stahark karena ia selalu menyerangnya tanpa ampun dengan keji dan brutal.
"Rasakan ini!"
Dengan menggunakan [Frost Punch] berturut-turut sekaligus memperkuat tubuhnya menggunakan [White Aura] untuk meningkatkan; pertahanan, serangan, serta mananya, tubuh Regard yang berulang kali membeku dan hancur sekarang terjatuh ke permukaan dengan hantaman kuat.
Stahark yang melayang di udara, ia mengarahkan lengannya ke Regard. Dalam sekejap mata, beberapa lingkaran sihir yang terbentuk yang membentang luas di langit-langit gelap dengan warna merah terang terpancar di dalam kegelapan, mengeluarkan bongkahan batu besar yang diikuti dengan kobaran api yang mengelilinginya, itu jatuh dalam jumlah banyak.
"....."
Berniat untuk menghindari dengan melayang di udara sama seperti Stahark, tubuh Regard yang tertahan oleh [Golden Chain] kesulitan untuk melepaskannya dengan mudah yang menyebabkan [Meteorit] dari atas jatuh dalam jumlah banyak, menciptakan dentuman keras yang terdengar memekikkan telinga diikuti dengan ledakan dan kobaran api yang menyebar ke segala arah.
"....."
Tidak dapat berkata apapun, pandangan Regard yang benar-benar terlihat kosong membuat Stahark yang memperhatikannya terkekeh yang mendekati Regard yang masih terpuruk dalam posisi tengkurap, ia mengeluarkan [Black Sword] yang dimiliki oleh Regard yang siap untuk melenyapkan nyawanya.
"Ini adalah akhirnya."
"....."
Masih tidak mendapat jawaban darinya, Stahark sudah menduga itu yang terjadi, ia dengan cepat menusuk [Black Sword] ke punggung Regard sekali, dua kali hingga kelima kalinya, ia meninggalkan Regard dengan pelan tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.
"Selamat tinggal, Pahlawan Menyedihkan."
Tepat saat kata-kata itu diarahkan pada Regard, pedang yang menancap di punggungnya yang gemerlap dengan warna hitam pekat dan hitam biasa, itu meledak dengan hebat yang menyebabkan tubuh Regard terkoyak-koyak seutuhnya menjadi daging yang hancur lembur berkeping-keping tak tersisa, dengan darah yang menyembur keluar yang mengering di permukaan dengan cepat.
•••••
"Tidak!"
Friya yang baru terbangun dari tidurnya terkejut atas mimpi yang dilihatnya benar-benar terasa nyata.
Mimpi yang dilihatnya adalah mimpi yang memperlihatkan Regard yang ditusuk oleh pedang berwarna hitam berkali-kali di punggungnya yang meledak kemudian saat Stahark mengatakan itu padanya, perkiraan Friya adalah mustahil jika itu terjadi pada Regard, Regard dapat hidup seutuhnya maupun selamat.
Ini...
Terperangah melihat ruangan yang familiar untuknya, Friya yang sebelumnya berpikir telah mengalahkan Nek Ryadu, sesepuh elf yang dihormati oleh para elf, tidak memahami mengapa dia bisa berada di tempat yang dikenalnya yang terdapat kedua gadis lainnya, teman-temannya yang masih terbaring di atas permukaan tenda, Friya benar-benar kebingungan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah aku sebelumnya berada di ruangan itu melawannya?"
Masih tidak memahami banyak hal yang tidak dimengerti, bangun dari duduknya di permukaan tenda, Friya berjalan keluar dari tenda.
"Nona Friya, anda sudah sadar?"
Salah satu elf wanita berkulit coklat, berambut hitam yang tidak sengaja bertemu dengan Friya yang keluar dari tenda mendekatinya.
Friya yang melihat banyak sekali elf yang lalu-lalang di setiap tenda antara keluar-masuk, ia masih tidak mengerti atas kesibukan yang terjadi diantara mereka, ia benar-benar kebingungan.
"Apakah ada sesuatu yang sedang anda pikirkan, Nona?"
"Ah... ya, kamu benar."
Daripada memikirkannya sendiri tanpa ada jawaban yang pasti, Friya lebih memilih untuk bertanya pada elf wanita berkulit coklat yang ada dihadapannya.
"Apakah sesuatu terjadi pada kami? Siapa yang melakukan ini saat kami tidak sadarkan diri?"
"I-itu..."
Ragu atas jawaban yang akan dikatakannya, elf wanita berkulit coklat itu terlihat bimbang, haruskah ia menjawabnya atau tidak, ia kebingungan.
Friya yang melihatnya bingung dan ragu menepuk salah satu pundaknya, tersenyum padanya dan mengangguk untuk meyakinkannya agar bisa menjawab pertanyaannya.
"Baik."
Elf wanita berkulit coklat yang menjelaskan padanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, mulai dari; penyatuan dimensi yang berbeda-beda menjadi satu dimensi hingga penyelamatan mereka berlima, semuanya dilakukan oleh Nyonya Ryadu, itulah yang dijelaskan oleh elf wanita dihadapannya.
__ADS_1
Mendengar perkataan elf didepannya, Friya yang terdiam sejenak, merenungkan tentang apa yang sebenarnya Nek Ryadu lakukan padanya dan teman-temannya.
Setahu Friya, Nek Ryadu yang telah kehabisan seluruh mana yang membuatnya tidak dapat membantu mereka bertemu dan membawanya keluar dari dimensi buatan Stahark adalah hal yang diketahuinya. Tapi secara tidak diketahui, Friya berpikir darimana Nek Ryadu bisa mendapatkan sejumlah mana dalam jumlah banyak yang mampu menyatukan dimensi dan membawa mereka pergi dengan selamat, itu yang patut dicurigai dan dipertanyakan oleh Friya.
"Dimana Nek Ryadu?"
Beliau berada di dekat pintu menuju ruangan bawah tanah."
Bergegas pergi meninggalkan elf wanita berkulit coklat yang sedang terdiam menatap Friya yang berlari menjauh, elf wanita itu terlihat khawatir atas apa yang akan mereka bicarakan nanti.
Dilihat dari ekspresi kesal di wajah Friya, elf wanita itu yakin pasti ini ada kaitannya dengan sesuatu yang tidak mereka mengerti dan ketahui atas apa yang dibicarakan antara Friya dan Nek Ryadu, hanya itu yang dapat dia simpulkan.
"Kenapa dia lama sekali ya?"
"Ya, kamu benar."
Di dekat perairan yang ada di tempat saluran pembuangan air yang sebelumnya mengering menjadi basah oleh permukaan air yang meninggi, Stephani yang sedang duduk sambil memasukkan kedua kakinya di air, bertanya-tanya kapan Regard akan tiba membuat wajahnya yang terlihat seperti bosan dan lelah dalam menunggunya.
Berbeda dengan Stephani, Sasaki atau lebih tepatnya Goddess of Wolf yang berdiri di sisinya, ia yang menyilang kedua lengannya di dada, menutupi mulutnya dengan kipas lipatnya, setuju pada perkataan Stephani yang lelah untuk menunggu kedatangan tuannya yang tidak diketahui kapan tibanya.
"Ah.... kalian berdua..."
Secara kebetulan bertemu dengan mereka berdua, Friya mendekati mereka untuk menyapanya.
Stephani yang awalnya memasukkan kedua kakinya ke dalam air yang terlihat bosan dan lelah bangun dari duduknya, berdiri tegap lalu mendekati Friya yang diikuti dengan senyuman di wajahnya. Sasaki juga sama, ia yang melenyapkan kipasnya berjalan mendekati Friya.
"Apa yang sedang kalian lakukan disini?"
"Menunggu? Kurasa itu kata yang tepat untuk kami."
"Ya, aku setuju padanya."
Menunggu? Apa yang sedang mereka tunggu?
Tidak dapat memahami maksud perkataan Stephani dan Sasaki, Friya hanya memiringkan kepalanya, heran atas apa yang tidak diketahuinya selama dia pingsan pada kedekatan keduanya yang tidak masuk akal untuk dilihat.
"Apa yang sedang kalian tunggu?"
"Apakah kamu tidak mengetahuinya? Kamu benar-benar bodoh sekali ya."
"....."
Tidak suka atas sindiran terang-terangan dari Stephani, Friya menajamkan pandangannya, benci dan kesal atas kata-kata Stephani yang dianggap oleh Friya adalah Shilphonia yang tidak ramah terhadapnya.
Sasaki yang hanya mendengarnya terkekeh, tertawa pelan dibalik kipasnya yang muncul di tangan kanannya yang menutup mulutnya, ia sama sekali tidak menyangka kalau kata-kata dari teman barunya akan terdengar kasar dan tidak sopan.
"Maaf kalau aku bodoh. Kamu sendiri siapa? Apakah kamu benar-benar Shilph atau bukan?"
Terkekeh atas pertanyaan dari Friya, Stephani yang awalnya terlihat biasa mencondongkan dadanya ke depan, memegang dadanya dengan bangga, senyum percaya diri terlihat jelas di bibirnya.
"Aku adalah Stephani, kepribadian yang berbeda dari Shilphonia. Bisa dikatakan Shilphonia adalah cahaya sedangkan aku adalah kegelapan, itulah keberadaan aku."
"....."
"Aku mengerti."
Sasaki yang hanya diam dengan wajah datar, mengalihkan pandangannya dari Stephani ke arah permukaan air yang dalam, berpikir kalau perkenalan yang dilakukan oleh Stephani terlihat memalukan untuk dilihat.
Friya sendiri tidak berpikir hal yang sama seperti Sasaki. Dia yang awalnya melihat kalau perkenalan diri itu sama seperti Shilphonia menduga itu adalah Shilphonia yang sengaja mengerjainya, tapi dilihat dari sikap dan kata-katanya tadi padanya, hatinya merasa ragu jika itu adalah Shilphonia melainkan Stephani, kepribadian yang berbeda dari Shilphonia yang tidak Friya kenal dan ketahui sebelumnya.
"Jadi, apakah kamu juga mengendalikan tubuhnya?"
Mengalihkan pandangannya dari Stephani, Friya yang melihat ke arah Sasaki yang membelakangi mereka berdua, Sasaki yang mendengarnya menoleh ke belakang dan menghadap ke arah mereka untuk berbicara.
"Ya. Aku mengendalikan tubuhnya karena aku tidak ingin dia mengalami mimpi buruk lebih dari ini, hanya itu keinginanku."
"Mimpi buruk?"
__ADS_1
Dengan anggukan sekali yang dilakukan Sasaki pada Friya, ia menjelaskan tentang apa yang terjadi pada Sasaki yang asli pemilik tubuh ini dalam melihat mimpi buruk yang tidak dimiliki dan dialami olehnya sebelumnya, mimpi yang terbilang menyeramkan dan menakutkan untuk dirasakannya, itu adalah mimpi terburuk melebihi mimpi-mimpi Sasaki sebelumnya.
"Aku kasihan padanya."
"Ya. Terlepas dari dirinya yang terlihat ceria, peduli dan ramah terhadap siapapun, aku tidak menyangka kalau dia akan mengalami hal yang mengguncang mental dan pikirannya."
"Aku setuju."
Mendengar mereka berdua yang merasa kasihan pada Sasaki yang asli, Goddess of Wolf yang tersenyum sedih pada mereka berpikir demikian, sama seperti mereka yang tidak ingin membiarkan Sasaki melihat mimpi buruk itu lebih dari sebelumnya.
Jangankan melihatnya, Goddess of Wolf tidak akan membiarkan Sasaki yang terus-menerus merasakannya akan mengalami hal yang menakutkan dan menyeramkan yang akan mengguncang mental dan pikirannya yang akan membuat dia sepenuhnya trauma atas apa yang dilihatnya.
"Ngomong-ngomong elf, siapa kamu? Kenapa aku belum pernah melihatmu sebelumnya?"
"Aku? Aku adalah Friya Furuhiora, kamu bisa memanggilku Friya."
Dengan satu tangannya yang diarahkan ke dadanya, Friya memperkenalkan diri dengan wajah ramah atas kehadiran Stephani yang baru untuknya.
Stephani yang melihat arah tangannya yang menyentuh dadanya, memicingkan matanya pada apa yang dilihatnya dari ukuran dadanya. Ukuran yang terbilang cukup besar melebihi dirinya, itu benar-benar sangat tidak masuk akal untuk gadis elf sepertinya.
Sepertinya Shilphonia masih harus tumbuh ya.
Apa katamu!?
Mengabaikan kata-kata Shilphonia yang ada di dalam tubuhnya, Stephani yang sempat melihat dadanya sekilas berpikir kalau kelebihan yang dimiliki oleh Friya hanya terletak pada dadanya.
Jika saja Friya bersaing menghadapi Stephani, Stephani tidak takut atas apa yang dimiliki oleh aset lawannya. Apalagi dengan dirinya yang sudah mengambil keperjakaan Regard, Stephani yakin itu adalah kemenangan mutlak pertamanya yang belum pernah orang lain lakukan sebelumnya meskipun dia harus mengorbankan keperawanan Shilphonia dan dirinya sendiri sebagai bayarannya.
"Oh... aku harus segera bertemu dengan Nek Ryadu. Apakah kamu mengetahui dimana dia berada?"
"Ya, dia berada di sana."
"Aku sendiri tidak mengetahuinya."
Stephani yang sama sekali tidak memperhatikan apapun melainkan hanya fokus pada perairan yang dilihatnya sebelumnya, memiringkan wajahnya dengan bingung, sedangkan Sasaki atau tepatnya Goddess of Wolf yang mendengar langkah kakinya yang terdengar berbeda dari langkah kaki biasanya menunjuk ke arah sana.
Arah dimana tanjakan aspal terlihat di kejauhan, Friya membungkuk sedikit pada mereka, berterimakasih atas jawaban yang diberikan oleh Sasaki, Friya meninggalkan mereka berdua.
"Kamu akhirnya sadar ya, Si Besar."
"Ya, begitulah."
Setelah berlari cukup jauh ke arah pintu masuk ruang bawah tanah, Friya yang kelelahan beristirahat sejenak sembari mengatur nafasnya kembali seperti biasa.
Di depannya, Nek Ryadu sedang memunggunginya membalikkan tubuhnya menghadap Friya, menatapnya dengan serius tanpa ada keramahan dan senyum di wajahnya.
"Apakah kamu yang membantu mami sebelumnya, Nek?"
"Ya, bisa dikatakan begitu. Tapi itu semua bukan karena aku seorang diri, tapi juga orang lain."
"Orang lain?"
Mengangguk atas pertanyaan Friya, Nek Ryadu yang terlihat serius yang berada di jarak 5 meter perlahan-lahan mendekat, berhenti tepat di depannya yang berjarak 2 meter, ia melambaikan tangannya, menyuruh Friya untuk mendekatkan telinganya kepadanya.
Friya yang mengerti atas lambaian tangannya mendekati wajahnya, memasang telinganya untuk mendengar apa yang akan dikatakan Nek Ryadu padanya.
"Yang membantu kalian keluar bukan hanya aku melainkan satu orang lagi adalah orang yang kamu kenal, Nak Necromancer."
"....."
Terkejut atas apa yang dibisikkan oleh Nek Ryadu, Friya sama sekali tidak menyangka kalau Regard-lah yang membantu mereka keluar dari dimensi itu, dimensi yang berlapis-lapis yang dimana semua yang disesali di masa lalu harus mereka hadapi sebelumnya.
"Apakah dia baik-baik saja?"
Menggelengkan kepalanya dua kali, Nek Ryadu yang mengubah pandangannya menjadi menunduk ke bawah, memasang ekspresi sedih atas dirinya yang tidak bisa membawa Regard pergi.
Friya yang memperhatikannya, ia hanya terdiam sejenak, mengepalkan kedua tangannya yang merasa tidak enak atas kebaikan dan kepedulian Regard terhadap mereka, Friya benar-benar ingin mengungkapkan semua yang selama ini Regard berikan padanya dengan jujur tanpa ada yang perlu disembunyikan dari dalam hati dan pikirannya.
__ADS_1