The Necromancer

The Necromancer
Ch. 49,2:Akhir Mengenaskan (2)


__ADS_3

Regard POV


Sudah kuduga kalau ini akan sulit untuk dilakukan.


Rencana pertama, aku berencana untuk menghancurkan kemampuan dan kekuatan miliknya dengan kemampuan yang sama, tapi berakhir sia-sia yang menyebabkan diriku yang lain, cloning milikku hilang saat tiada.


"....."


Haruskah aku mencoba untuk menggunakan rencana kedua? Tidak, kurasa itu sangat sulit untuk dilakukan jika aku melakukannya dengan ceroboh tanpa berpikir panjang, itu akan membuat tubuhku terbebani.


"Mungkin lebih baik jika aku gunakan sesuatu untuk melawannya."


Daripada terus berdiam diri tidak ada gunanya, aku memilih untuk keluar dari Dimensi Shilph menuju ke tempat dimana Stahark dan cloning dirinya berada, aku muncul yang membuat mereka berdua tidak terkejut atas kehadiran aku.


"Seperti yang kuduga, kamu benar-benar jenius dalam melakukannya ya."


Jenius ya.


Mungkin Stahark berpikir kalau tindakan aku terbilang jenius, tapi sebenarnya alasan aku sengaja menggunakan umpan agar mengetahui apa yang dimiliki dan dilakukannya, aku lebih terlihat seperti pengecut daripada pemberani.


Lupakanlah. Lebih baik jika aku akhiri dengan cepat semuanya kali ini.


"Oh... tampaknya kamu benar-benar serius ya."


Tentu. Tidak peduli apakah kamu mampu menyerap segalanya atau tidak, aku hanya akan mengakhirinya dengan cepat dan mudah kali ini tanpa membiarkan dirimu seenaknya melakukan sesuatu padaku.


•••••


[Infinity Spirit] yang menjulang tinggi merubah bentuk menjadi penampilan sosok hitam yang berbalut jubah ungu gelap, serta [Fenrir Mode] yang mengubah bentuk [Infinity Spirit] menjadi bentuk Fenrir yang dibalut oleh jubah ungu dengan ekornya yang berjumlah 4 ekor, di atas punggungnya terdapat Regard yang dibungkus oleh aura ungu dan biru disaat bersamaan, tubuhnya yang berubah menjadi wanita dewasa tanpa busana apapun, kedua lengan dan kakinya yang memiliki bulu-bulu lebat dan panjang terlihat sama persis seperti Fenrir.


"Menarik sekali."


Cloning Stahark yang mengaktifkan [Infinity Spirit] dipadukan oleh wujud Stahark yang memiliki monster setengah badan dari pinggang ke kepala, itu dilapisi oleh zirah yang dibuat dari [Infinity Spirit], zirah berwarna ungu gelap yang terbilang lengkap sepenuhnya.


"....."


Terkejut atas apa yang dilihatnya, Regard yang dalam kondisi terdesak tidak memiliki pilihan lain selain maju untuk menghabisinya dengan segera.


Fenrir yang berlari cepat ke arah Stahark, melaju menggunakan [High Acceleration] yang membuat gerakannya lebih cepat dari kilat, menerjang dengan kedua lengannya ke depan, menahan kedua tangan Stahark yang kosong.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Regard yang membuka mulut Fenrir, memberikan sejumlah mana dalam jumlah banyak, mengaktifkan [Element Burst] yang dipadati antara lima elemen menjadi satu; api, air, angin, batu, dan kilat yang terkumpul menjadi bola berukuran kecil ditembakkan ke arah Stahark yang membuat ledakan berskala besar tiada hentinya memenuhi ruangan di dalam kegelapan.


Bagaimana mungkin dia bisa...


Sebelum dapat menyelesaikan kata-katanya, cloning Stahark disertai dengan [Infinity Spirit] dan Stahark yang dalam bentuk monster sirna dalam sekejap ditelan oleh rentetan ledakan yang tiada hentinya memenuhi ruangan.


Regard yang berada di dalamnya juga ikut terkena dampaknya. Tubuhnya yang terluka akibat ledakan berskala besar tiada henti, goresan-goresan yang berada di kulit-kulitnya akibat potongan udara yang dihasilkan oleh [Wind Cutter], serta bekas hitam akibat [Flame Ball] yang meledak berkali-kali tanpa hentinya menyebabkan tubuhnya terkena dampaknya.


Apakah aku berhasil?


Menahan tubuhnya untuk tidak tersungkur ke permukaan, Regard yang mengeluarkan [Black Sword] menjadikannya sebagai sanggahan agar dia tidak terjatuh sambil melihat kondisi Stahark.


Bisa dikatakan kalau tubuhnya yang telah kembali seperti semula, kelamin pria, penampilan yang sama seperti Regard, pandangannya yang samar-samar membuat Regard tidak tahu atas apa yang terjadi.


"Aku akui kamu memang hebat, tapi..."


Stahark yang kehilangan cloning miliknya tidak bergerak sedikitpun, sebaliknya, ia tetap terdiam sambil menggerakkan salah satu lengannya dari sisinya ke depan, beberapa tentakel yang muncul dari permukaan menusuk tubuh Regard, menyerap seluruh mana yang mengalir di tubuh Regard dengan cepat, Stahark yang awalnya diam di tempat menghilang, muncul tepat di sebelah Regard, menghantamnya dengan tangan kirinya yang besar yang membuat tubuh Regard terpental menghantam dinding yang gelap gulita yang seluruhnya hitam.


Ah... aku sudah tidak sanggup lagi.


Memejamkan matanya saat tubuhnya terjatuh dengan hantaman kuat ke permukaan, pandangan Stahark yang tajam pada Regard memastikan apakah itu benar-benar Regard asli atau palsu.


Sudah lebih dari dua kali dia ditipu kalau dirinya telah menang, tapi justru sebaliknya, itu hanya cloning yang sengaja diciptakan oleh Regard sama persis seperti dirinya yang asli, Stahark tidak mau tertipu untuk kedua kalinya lagi jadi dia memastikan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Muncullah!"


Dengan satu kali perintah yang diberikan, cloning Stahark yang tercipta dari [Shadow Clone] berdiri dari balik kabut hitam yang membungkus tubuhnya, berdiri dan berjalan mendekati Regard yang tergeletak, cloning Stahark mengeluarkan lima tentakel yang muncul dari permukaan, menusuknya berkali-kali, menendang tubuhnya ke langit-langit lalu menghantamnya dengan tinjuan kuat dari beberapa tentakel yang menjadi satu dalam bentuk tangan, tidak ada tanda-tanda kalau tubuh Regard hilang.


Yang artinya tubuh Regard yang ada dihadapan mereka berdua merupakan tubuh asli, Stahark dan cloning miliknya terkekeh, tertawa terbahak-bahak atas ketiadaan Regard yang cepat dilakukan daripada menunggu kematiannya sendiri.


Di sisi lain di tempat yang berbeda dan jauh, Reita dan Fuuya yang baru terbangun dari pingsannya melihat ke sekitar untuk memastikan dimana mereka berada.


"....."


"....."


Saat mereka berdua saling berhadapan, mereka bingung mengapa bisa mereka berada di dalam tenda, berduaan yang seharusnya mereka pikir tidak mungkin terjadi bisa terjadi.


Kenapa aku malah bertemu dia? Bukankah seharusnya aku bertemu dengan Regard?


Mengalihkan pandangannya dari Reita, Fuuya mengembangkan pipinya, kesal atas kehadiran yang tidak diinginkan dari saingannya yang kedua usai Sasaki, Reita.


Ugh... bisa-bisanya aku malah bertemu dengan Fuuya bukan Kak Regard.


Reita yang merasa depresi menghela nafas panjang, frustasi atas ketidaksukaannya terhadap Fuuya yang tidak ingin dilihatnya karena telah merebut Kak Regard dalam situasi apapun.


"Aku harus memeriksa keluar."


"....."


Fuuya yang hanya diam sambil duduk dengan kedua lengannya di depan, ia menatap Reita yang bangun dari duduknya, berjalan keluar tenda untuk memeriksa sesuatu, Fuuya hanya menajamkan pandangannya tanpa peduli terhadapnya.


Menurut Fuuya, dari penciumannya sekarang bisa dikatakan cukup bagus. Mulai dari; aroma elf yang dikenalnya, suasana tempatnya, serta bunyi dari desiran air yang terdengar di telinga yang tajam, ia bisa menebak kalau dirinya bukan lagi berada di tempat yang sama seperti sebelumnya melainkan tempat yang berbeda, tempat yang pernah ditempatinya sebelumnya, Desa Elf yang berada di ruang bawah tanah, itulah anggapan Fuuya.


Tapi karena ia tidak membicarakannya pada Reita, Fuuya sengaja membiarkan Reita pergi meninggalkan dirinya sendiri agar memeriksanya tanpa perlu bertanya padanya adalah hal yang sengaja dilakukannya.


Dimana kamu, Regard?


Meskipun wajahnya terlihat kesal atas kehadiran Reita, kekhawatiran dan kepeduliannya terhadap Regard, pria yang membuatnya sadar bahwa tidak semua manusia jahat melainkan baik, ia ingin tahu bagaimana kondisinya; apakah ia baik-baik saja atau tidak, Fuuya penasaran atas kondisinya.


"....."


Selama berjalan menyusuri setiap tenda yang ada di setiap sisi dekat dinding ruang bawah tanah, Reita bertanya-tanya bagaimana ia bisa berada di sini, siapa yang membawanya, dan apa yang sebenarnya terjadi, itulah apa yang ada di benaknya sekarang.


Berbeda dengan Fuuya yang tahu sesuatu menggunakan penciuman dan pendengarannya yang tajam, Reita yakin kalau dia langsung memahaminya dengan cepat begitu sadar dari pingsannya, yang membuat Reita iri atas kelebihan yang dimiliki oleh Fuuya.


"Itukan..."


Melihat ke arah yang jauh dari tempat Reita, ia melihat kedua gadis yang dikenalnya, Shilphonia dan Sasaki, keduanya terlihat berbeda dari penampilan biasa mereka.


Reita yang mengetahui kalau Sasaki bukanlah Sasaki yang asli melainkan Goddess of Wolf, itu adalah hal yang wajar untuk diketahui. Namun untuk kasus Shilphonia, Reita sama sekali tidak tahu apakah dia Shilphonia atau bukan, Reita benar-benar tidak tahu apapun tentang diri Shilphonia selama ini melainkan hanya tahu tentang Fuuya dan Sasaki.


"....."


"Apakah kamu baru sadar, Reita?"


Stephani yang melihatnya dengan tatapan kesal dan benci terpancar jelas melalui pandangan matanya yang mengarah pada Reita membuat Reita berpikir kalau dia tidak menyukai kehadirannya.


Berbeda dengan Stephani yang memancarkan aura ketidaksukaannya pada Reita, Sasaki atau lebih tepatnya Goddess of Wolf yang memberikan senyuman hangat padanya yang terlihat ramah dan mengenalnya membuat Reita senang atas kebaikan dan keramahannya terhadap orang yang dikenalnya.


"Apa yang sedang kalian lakukan? Apakah kalian tahu mengapa kami bisa ada disini?"


"Sederhana. Kalian telah diselamatkan oleh nenek yang ada di sana."


Dengan acuh tak acuh saat menjawab pertanyaan Reita, tangan kanan Stephani yang menunjuk ke arah Friya dan Nek Ryadu yang sedang berbincang-bincang di kejauhan terlihat jelas oleh Reita.


Goddess of Wolf yang mendengar kata-kata Stephani terkekeh dalam mulutnya yang tertutup oleh kipas lipatnya yang menutup mulutnya.

__ADS_1


"Kenapa kami bisa dibawa kemari?"


"Kenapa kamu menanyakan itu pada kami? Bukankah lebih baik tanyakan saja pada nenek tua itu?"


"....."


Mendengar kekesalan yang diarahkan dari Stephani, Reita yang mengira kalau Shilphonia membencinya karena suatu hal yang tidak diketahui bertanya-tanya tentang kesalahannya yang diperbuat padanya.


Apakah itu kesalahan di masa lalu yang didasari olehnya atau tidak, Reita sama sekali tidak ingat memiliki masalah apapun terhadap Shilphonia.


Sasaki yang mendengarnya hanya memegang bahu Stephani, menggelengkan kepalanya seolah-olah menyuruhnya untuk tidak bersikap kasar pada Reita, ia pun maju ke depan sambil meletakkan kipas lipatnya di dalam kedua dadanya dibalik kimono yang dikenakannya.


"Maafkan atas sikap kasar dan buruk darinya. Dia tidak benci maupun kesal atas dirimu yang pernah melakukan kesalahan di masa lalu, sebaliknya, dia adalah kepribadian yang memang terlihat seperti itu."


"Aku mengerti sekarang. Itu sebabnya dia terlihat kasar terhadapku."


"Ya, begitulah."


Dengan wajah jengkel yang diperlihatkan Stephani pada kedua gadis di dekatnya, ia mendengus kesal dengan mengalihkan pandangannya dari mereka membuat Reita dan Sasaki yang melihatnya terdiam tanpa tersenyum pada sikapnya.


Kenapa kamu terlihat kesal, Stephani?


Bukankah sudah jelas? Mereka, terutama gadis Ookami itu terlihat membelanya bukan membelaku, tidakkah kamu juga ikut kesal atas temanmu yang tidak membela dirimu?


Mendengar pernyataan yang tidak mengenakan dari Stephani, Shilphonia yang berada di dalam tubuhnya terkekeh, lucu atas kata-katanya tadi.


Dia tidak menyangka kalau Stephani merasa iri atas pembelaan yang dilakukan oleh Goddess of Wolf yang ada di tubuh Sasaki, Shilphonia berpikir itu wajar untuk merasa iri atas kebaikan dan kebijakan yang dilakukan oleh Sasaki sekarang.


Terlepas dari dirinya juga pernah merasa iri atas kedekatan yang dilakukan antara Fuuya, Reita, dan Sasaki, Shilphonia hanya bisa memaklumi hal tersebut karena dia dulu pernah mengalami hal serupa seperti yang dialami oleh Stephani.


•••••


Regard POV


Apakah aku sudah tiada?


Di sekitarku, tidak ada tanda-tanda keberadaan makhluk hidup yang dapat kudengar dan kulihat melainkan hanya kegelapan yang tiada artinya yang membuat tubuhku terapung sepenuhnya, aku hanya berpikir kalau ini adalah akhir dari hidupku.


Walaupun Necromancer milikku bisa dikatakan sebagai abadi, itu tetap saja lemah terhadap Stahark, monster yang memiliki keunggulan menghisap mana dalam jumlah banyak dari tubuh korban, mengambil dan merampas seluruh kekuatan dan kemampuan milik orang lain untuk digunakannya, serta membunuhnya tanpa ampun dengan cara keji, semua itu dilakukan olehnya yang membuatku terlihat seperti sekarang.


Benar-benar menyedihkan. Itu yang kurasakan sekarang. Terlepas dari keinginanku untuk menyiksa dirinya saat ia sudah tiada, aku justru malah berakhir seperti ini, mati di tangannya tanpa dapat menggores sedikitpun tubuhnya.


"Apakah kamu merasa kesal dan benci? Tidakkah seharusnya kamu yang berada di atas sekarang?"


Lagi-lagi suara ini... suara yang pernah kudengar dulu yang tiba-tiba menghilang, sekarang terdengar kembali yang memenuhi seluruh kegelapan yang ada—tidak, lebih tepatnya ia masuk melalui kepalaku.


"Siapa kau? Kenapa kau selalu muncul di dalam kepalaku? Apakah kau selalu memperhatikan aku?"


Tidak ada jawaban apapun darinya melainkan hanya keheningan yang kurasakan, tawa tiba-tiba terdengar darinya yang membuatku tidak tahu apakah kata-kataku tadi lucu untuknya atau tidak, aku bingung.


"Kamu benar-benar menarik ya, Manusia. Sekarang pejamkan matamu!"


Pejamkan? Untuk apa?


Aku tidak mengerti atas kata-katanya jadi aku bingung apakah aku harus mengikutinya atau tidak, aku ragu jika aku memejamkan mata, dia akan melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan aku.


"Ikuti kata-kataku agar kamu tahu siapa diriku!"


Wanita ini....


Bagaimana bisa dia mengetahui aku meragukan kata-katanya?


"Aku tahu karena kamu dan aku sama, kita memiliki hubungan yang tidak jauh berbeda satu sama lain."

__ADS_1


Hubungan ya.


Benar-benar aneh sekali. Tapi biarlah, aku juga tidak terlalu peduli atas hubungan apa yang dimaksudkan olehnya tadi, aku memilih mengikuti kata-katanya.


__ADS_2