The Necromancer

The Necromancer
Ch. 32:Permintaan Liliana


__ADS_3

"Ini tidak bisa dibiarkan."


Memandang ke papan yang ada di Kerajaan Minra, seorang gadis berambut perak dengan zirah di tubuhnya dan pedang yang tersingkap di pinggangnya memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya.


Gadis berambut perak itu melihat papan yang bertuliskan "harap segera ditemukan" pada pencarian yang dituliskan ciri-cirinya dalam papan yang ada di Kerajaan Minra, sama persis seperti orang yang dikenalnya.


Kenapa kamu harus terlibat dalam masalah, Ketua?


Memejamkan matanya sekali lagi, gadis berambut perak, Liliana mengingat kembali atas apa yang selama ini dia dan orang itu lakukan.


Setiap kali dia ditugaskan di Kerajaan Eruguard, Liliana selalu berdedikasi penuh pada misinya. Hari-hari berlatih pedang di tiap pagi dan sore hari, sedangkan malamnya dia gunakan untuk menambah wawasan dan pengetahuan melalui buku-buku yang sering dibacanya.


"Kamu akan ditugaskan di pasukan khusus hari ini."


Satu kalimat membuat Liliana bertanya pada dirinya, kenapa harus aku yang dipindahkan bukan orang lain. Dia ingin mengatakannya namun tidak bisa melakukannya karena orang yang berbicara bukanlah komandan dari pasukannya melainkan Raja di Kerajaan Eruguard.


"Baik, saya akan laksanakan."


Dibalik sikap yang tenang, Liliana yang pergi meninggalkan Aula Umum di Kerajaan Eruguard menggigit bibirnya, kesal dan benci atas kepindahannya yang mendadak.


Pagi telah terbit. Udara yang sejuk diikuti dengan cahaya mentari yang hangat membuat siapapun yang beraktivitas di pagi hari terasa nyaman dan nikmat.


Di dalam Kamp Pelatihan, Liliana dengan pedang yang dimilikinya mengayunkan beberapa kali di udara hampa tanpa ada siapapun yang melihatnya.


Aku harus kuat! Aku tidak boleh kalah!


Tekadnya yang kuat membuatnya tidak menyerah atas kekurangan yang selama ini dimilikinya dalam misi-misi sebelumnya yang selalu gagal akibat dari kelemahannya sendiri.


Itulah mengapa dia berlatih sendiri.  Demi menutupi kelemahannya, Liliana dengan sekuat tenaga berlatih setiap dua kali dalam sehari, berulang kali dilakukannya.


Sayangnya usahanya masih belum cukup untuk bisa mengalahkan musuh yang lebih hebat dari dirinya.


"Lemah sekali."


"Eh..."


Secara mengejutkan Liliana hampir melompat atas kehadiran tak terduga dari salah satu Ksatria Kerajaan yang memiliki pangkat lebih tinggi dari dirinya, namun dia mencoba menahannya.


"Sejak kapan kamu ada di sini?"


"Sejak awal."


Bangun dari jongkoknya, pria itu dengan senyum berjalan mendekat ke box berisikan senjata yang disediakan. Mengambil salah satu pedang di dalamnya, pria itu mendekati Liliana dan menunjukkan beberapa gerakan yang terbilang berbeda dari gerakan pada umumnya.


Setiap langkah dan gerakan dari pria yang sedang menunjukkan latihannya pada Liliana, tatapan Liliana tidak teralihkan sedikitpun melainkan dia fokus pada apa yang pria itu tunjukkan untuknya.


"Beginilah cara memainkan pedang yang benar."


Bertepuk tangan atas kehebatan dan kemahiran dalam memainkan pedangnya, Liliana berpikir pria ini terlihat hebat dan kuat melebihi dirinya.


Mungkin aku bisa belajar darinya.


Hanya ada satu pemikiran yang terlintas di benaknya membuat dia mendekat ke pria itu lalu tersenyum padanya.


"Maukah kamu mengajari aku teknik pedang yang kamu tunjukkan padaku?"


" Tidak masalah."


"Benarkah?"


Mata Liliana yang bersinar terang seakan-akan harapannya terwujud membuat pria yang ada di hadapannya mengalihkan pandangannya.


Pria itu tidak tega atas semangat dan tekad yang diperlihatkan oleh Liliana dalam latihan yang akan diajarkan langsung padanya.


Sejak pertemuan pertamanya, Liliana dan pria itu melakukan aktivitas di tiap harinya untuk berlatih memainkan pedang.


Pria itu yang sebagai gurunya sedangkan Liliana yang sebagai muridnya, keduanya terus berlatih satu sama lain hingga akhirnya Liliana dapat mempelajari teknik dasarnya dan teknik yang dimiliki oleh pria yang menjadi gurunya, Veru.


"Dalam misi apapun, perlu diketahui untuk mengamati situasi terlebih dahulu."


"Mengamati?"


"Ya.  Seperti; seberapa banyak mereka, sekuat apa kemampuan dan kekuatan yang mereka miliki, adakah cara untuk mengatasi kelemahan, dan mampukah kalian memiliki peluang untuk berhasil menumbangkan musuh yang kuat dan hebat, sesuatu seperti itu diperlukan."


Mendengar dan mengingatnya untuk perjalanan misi dilakukan oleh pasukan khusus Liliana yang baru, dia tidak akan pernah melupakan ajaran dan penjelasan yang dilakukan oleh Veru terhadapnya.


Akan tetapi...

__ADS_1


Satu-satunya hal yang membuat dirinya terkejut adalah ketika dia bertemu kembali dengan gurunya, Veru dalam suatu misi.


"Aku ingin kau tahu satu hal, Lily."


"Tentang apa?"


"Seseorang yang jauh lebih hebat dan kuat."


"Apakah ada yang lebih kuat dan hebat dari dirimu?"


"Ya. Orang itu adalah Regard Arthen, anak angkat yang aku rawat sejak kecil."


"....."


Hanya itu yang dapat diingat Liliana pada kata-kata Veru.


Mengepalkan kedua tangannya di papan, wajahnya yang menggantung menggigit bibirnya, kesal atas kehadiran Regard yang diakui oleh gurunya, Veru melebihi pengakuan kekuatan dan kemampuan yang dimiliki Liliana selama ini.


Apakah dia benar-benar sekuat itu?


Keraguan masih menyelimuti dirinya.


Entah apakah orang yang dimaksud gurunya benar-benar kuat dan hebat atau justru sebaliknya, Liliana berpikir itu hanya melebih-lebihkan untuk membuat dirinya bersemangat dalam berlatih.


Secara keseluruhan, gurunya selalu mengolok-olok Liliana dengan orang-orang yang lebih hebat yang membuatnya kesal dan benci hingga akhirnya Liliana memutuskan untuk melatih dirinya untuk mencapai batasnya.


Hasilnya dapat terlihat jelas, Liliana yang sekarang bisa dikatakan mahir dalam memainkan pedang dan sihir yang dapat dikuasainya sebulan yang lalu.


Di Kota Resihei, Regard dan kedua gadis yang ada di sisinya yaitu Fuuya dan Sasaki, mereka terlihat dekat satu sama lain padanya.


"Bisakah kita memulai aktivitas hari ini?"


Di dekat mereka, Reita yang hanya tersenyum pada kedekatan mereka, berharap dapat menggantikan tempat yang mereka miliki untuk dirinya.


Sayangnya semua itu tidak dapat dia gambarkan karena Reita tahu bahwa Regard melakukannya hanya untuk mempedulikan dan memperhatikan mereka, bukan untuk dirinya.


"Jangan khawatir, aku tidak akan meninggalkan dirimu. Kita berdua bersaudara bukan?"


"Ya, kamu benar."


Hanya itu yang dapat Regard katakan pada Reita ketika dia sedang memasang ekspresi murung di wajahnya.


"Tidak, kita akan menyelesaikan misi biasa."


Layaknya anak anjing yang tunduk terhadap tuannya, Sasaki yang mendongak menghadap Regard menyandarkan kedua tangannya yang terlipat di celananya, berlutut, dan memasang ekspresi berharap atas kebaikan tuannya.


"Kamu benar-benar menyedihkan sekali ya."


"....."


Tak terima atas hinaan dari Fuuya, Sasaki menatap tajam dengan mata menyala padanya seakan-akan menandakan bahwa dia bisa saja melakukan peperangan terhadap Fuuya.


"Bagaimana kalau kita ambil yang ini?"


"Hmmm..."


Mendekati Reita dan mengambil misi dari tangannya, Regard memperhatikan dengan seksama sambil membaca keseluruhan misi yang tertera di kertas yang dipegangnya.


Misi Padang Pasir di Treint ya.


Seingat Regard, Padang Pasir di Treint merupakan padang pasir yang lokasinya jauh dari Kota Resihei. Butuh waktu selama tujuh hari agar mereka tiba di Treint yang artinya perjalanan panjang akan menyita banyak waktu mereka untuk bisa tiba di Padang Pasir di wilayah tersebut.


Ditambah lagi dengan kota yang ada di wilayah Treint, Kota Fiasfa, kota yang terkenal akan industri daging yang seringkali di ekspor maupun impor ke berbagai wilayah yang ada.


"Bagaimana?"


Kembali sadar dari lamunannya, tatapan Regard dan Reita saling bertemu membuat Regard batuk, dan mulai memandang serius pada pertanyaan dari adik tirinya, Reita.


"Kita akan memilih misi yang dekat terlebih dahulu agar menghemat waktu dan biaya dalam perjalanan."


Meskipun Regard mengatakan demikian, dia sebenarnya tertarik atas apa yang terjadi di Padang Pasir di wilayah Treint.


Selain dataran pasir yang membentang luas sejauh mata memandang, monster-monster yang berada di daerah tersebut dipenuhi dengan monster berbahaya yang sulit untuk dikalahkan oleh Black Adventure, bahkan Colorful Adventure akan kesulitan dalam melawan gerombolan monster dari monster yang menjegal mereka.


"Baiklah."


Menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya, Reita telah salah dalam mengambil misi yang membuat perasaannya sedih.

__ADS_1


"Dia lemah sekali."


"Ya, kamu benar."


Bahkan Fuuya dan Sasaki yang memperhatikan betapa lemahnya mental Reita, mengolok-olok dirinya yang membuat Reita sadar dan menatap mereka dengan ekspresi kesal.


Bersembunyi dibalik punggung Regard, kedua gadis itu tersenyum seolah mengejek atas ekspresi Reita yang berubah menjadi marah pada kata-kata mereka tadi.


•••••


Regard POV


Misi ya.


Sepanjang aku memperhatikan misi yang tersedia, aku kesulitan untuk memutuskan untuk memilih yang mana.


"Ini...."


Secara tidak sengaja, aku mengambil misi yang seharusnya disediakan khusus untuk Colorful Adventure yang tidak sengaja tercampur ke papan misi di Black Adventure.


Misi ini sendiri menjelaskan tentang reruntuhan yang bersembunyi di kedalaman Padang Pasir di Treint, dimana orang yang membuat misi memberitahukan pada kami untuk menjelajahi dan menelusuri reruntuhan tersebut karena ada sesuatu yang janggal di kedalaman reruntuhan.


Reruntuhan ya.


Sudah sejak lama, aku tidak pernah menjelajahi Reruntuhan Sylvia. Entah apakah ada monster baru yang muncul atau iblis di Reruntuhan Sylvia, aku yakin mereka hanya monster lemah menurutku.


Tak peduli apakah jumlah mereka banyak atau tidak, jika mereka lemah maka aku bisa menghabisinya dengan mudah tanpa perlu mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatan yang kumiliki.


"Bukankah itu misi khusus untuk Colorful Adventure? Kenapa ada di papan misi kita?"


"Sssttt.."


Menutup mulutku ke arah Reita, dia memahami maksud dari gerakan tubuhku.


Aku paham.


Itu yang tersirat di wajahnya.


Syukurlah jika dia memahami gerakan yang aku buat padanya. Jika tidak, aku tidak tahu apakah kami akan dilarang untuk mengambil misi lagi di Guild Petualang di Kota Resihei atau tidak, aku hanya perlu berpura-pura bahwa misi itu tidak ada di papan misi kami.


Mengantongi misi yang aku ambil, kami bergegas memilih misi lain untuk segera kami lakukan sebelum para petualang lain mendekati papan misi.


Baiklah. Ini dia.


Mengambil misi yang terlihat mudah, aku menunjukkannya pada Reita. Dia yang melihatnya, terkagum dan tersenyum atas apa yang aku ambil dari misi kali ini.


Tentu.


Misinya sangat mudah untuk petualang seperti kami lakukan yaitu memeriksa kondisi yang ada di sekitar Kota Resihei agar tidak ada satupun monster maupun iblis yang berkeliaran di dekat kota.


Terdengar mudah dan cepat, itulah yang kuinginkan.


Meskipun pada imbalannya terbilang lebih rendah dari misi lainnya yang biasa kami ambil, tapi setidaknya ini cukup untuk kami jalani tanpa perlu berjalan jauh dengan membuang-buang waktu, usaha, dan tenaga yang kami miliki ke wilayah lain.


Selesai mengkonfirmasi misi, kami berempat bergegas meninggalkan Guild Petualang untuk menunggu hingga malam hari agar bisa melakukan dua hal secara bersamaan; mengamankan Kota Resihei dari penjahat di dalam kota, dan memeriksa daerah sekitar Kota Resihei di luar kota dari ancaman iblis, monster maupun sesuatu yang membahayakan lainnya.


"Kalian pergilah terlebih dahulu!"


"Apakah kamu yakin?"


"Kami tidak bisa membiarkan kamu pergi. Benarkan, Sasaki?"


"Ya. Tuan tetap ada di sisiku."


Apa-apaan itu?


Menghela nafas pada keakraban antara Fuuya dan Sasaki, aku tidak tahu harus senang atau tidak, mereka justru terlihat mulai memahami satu sama lain.


"Aku tidak apa-apa. Ada hal yang perlu aku lakukan terlebih dahulu."


"Baiklah. Kabari aku jika kamu membutuhkan kami."


"Ya."


Dengan memperhatikan Reita, adik tiri baruku yang menarik kerah Fuuya dan Sasaki, aku hanya bisa melambaikan tangan pada mereka yang perlahan-lahan menjauh lalu menghilang dibalik kerumunan.


Baiklah.

__ADS_1


Seperti biasanya, aku ingin membeli beberapa keperluan di toko buku yang disediakan di kota agar dapat mempelajari dan memahami atas apa yang belum aku ketahui di dunia ini.


__ADS_2