The Necromancer

The Necromancer
Ch. 41:Jati Diri Sasaki


__ADS_3

Huh....


Berendam di pagi hari dengan air hangat terasa sangat menyegarkan dan menyehatkan.


Setelah berhasil menyelesaikan tugasku, kami akhirnya kembali ke Kota Resihei.


Paman Veru yang berniat untuk memulai hidup barunya sebagai seorang petualang, dia sudah tidak lagi bekerja di ksatria kerajaan karena telah mengkhianati rekan-rekannya sendiri. Sedangkan Paman Kanae, dia telah aku bangkitkan kembali menggunakan [Soul Return] dan [Soul Contract] kepadanya lalu menjelaskan atas apa yang terjadi pada pertemuan antara aku dengan Paman Veru.


Pada akhirnya Paman Kanae berhasil memahaminya dan meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi diantara kami bertiga, itu adalah akhir yang benar-benar bahagia menurutku.


Sekarang...


Beberapa kemampuan yang berhasil didapat adalah kemampuan dari Fuzikumibaru dan Fallen Angel Lucifer, serta Fallen Angel Erina, ketiganya berhasil didapat setelah aku membangkitkan jiwa mereka dan membunuh mereka sekali lagi saat mereka masih belum memiliki tanda-tanda kehidupan untuk diriku sendiri.


Berdasarkan ingatan dan pengalaman yang mereka miliki, satu iblis tersisa untuk dilenyapkan. Ya, dia tidak lain adalah Stahark, monster yang telah melenyapkan orang-orang di Desa Elforia dan kedua orangtuaku yang menjadi korban, aku akan membalasnya nanti.


Yah, sementara waktu aku tidak perlu memikirkan apapun karena beristirahat sejenak adalah hal yang baik untuk dinikmati dengan santai dan tenang.


Memikirkan tentang balas dendam pada hal-hal yang tidak diperlukan, aku tidak dapat menikmati hari libur sekarang jadi aku memutuskan untuk menundanya sampai takdir mempertemukan aku dan Stahark.


•••••


Di dalam pemandian umum wanita, keempat wanita sedang duduk merendam tubuh bagian dada ke bawah di permukaan air sambil menyandarkan tubuhnya di bebatuan dengan wajah tenang.


"Aku terkejut saat kamu memiliki kemampuan itu."


"Itu benar. Mengapa kamu tidak memberitahu pada kami?"


"....."


Seorang gadis berambut pirang panjang yang memiliki kedelapan ekornya di dalam air dapat dilihat oleh mereka yang sedang ada di sekitarnya, kornya yang melambai-lambai dan bergerak terlihat cantik dan indah, bahkan halus saat itu bergerak-gerak, terdiam karena tidak tahu harus menjawabnya seperti apa.


Mulai dari gadis berambut pirang yang ada di sisinya yang menonjolkan payudara miliknya ke depan, Friya yang terkejut atas pertempuran mereka beberapa hari lalu melawan Fallen Angel Erina memperlihatkan senyum padanya. Gadis berambut biru panjang yang pandangannya berbinar-binar, Reita tampak penasaran mengapa orang ini tidak memberitahu pada mereka tentang kemampuannya.


Tidak seperti kedua gadis di dekatnya, gadis kecil yang sedari tadi menatapnya dengan tajam menyadari bahwa posisinya terlihat berbeda antara dirinya satu sama lain, Fuuya yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa saingannya memiliki penampilan yang cantik dan sempurna melebihi dirinya.


"Kenapa mereka begitu antusias? Apalagi dengan Sasaki, dia terlihat berbeda dari biasanya ya."


Tidak jauh dari tempatnya mereka, Shilphonia keheranan atas kedekatan mereka yang terlihat penasaran atas apa yang terjadi pada mereka tanpa sepengetahuannya.


Secara keseluruhan Shilphonia tidak memahaminya karena setelah berhasil mengalahkan teman seperjuangannya dulu, Lucifer, dia memutuskan untuk kembali ke Kota Fiasfa tanpa perlu membantu mereka. Tapi entah kenapa saat melihat kedekatan mereka, Shilphonia merasa diabaikan dan dijauhi karena suatu hal.


"Itu karena kalian tidak menanyakan apapun padaku tentang diriku yang sebenarnya."


"Apakah ini adalah dirimu yang asli?"


Melirik ke arah saingannya, Fuuya, gadis berambut pirang panjang dengan telinga serigala dan ekor delapan yang terlihat melambai-lambai, terkekeh pada pertanyaannya.


"Ya, ini adalah diriku yang asli yang telah dibebaskan oleh Tuan Regard."


"....."


Mengatupkan giginya pada saingannya, Fuuya benar-benar menahan amarahnya karena dia merasa kesal atas ekspresi Sasaki yang sengaja mengejeknya.


"Apakah dia melakukan sesuatu yang aneh padamu?"


"Tidak, dia tidak pernah melakukan apapun tentang itu. Dia hanya melakukan sesuatu yang tidak dapat aku sangka sebelumnya."


"Tentang apa?"


Terdiam sejenak pada pertanyaan Friya dan Reita yang terlihat penasaran, Sasaki yang memegang dagunya berpikir sejenak. Ingatannya yang kembali ke tempat dimana dia pertama kali bertemu dengan orang sebaik Regard, muncul dalam benaknya.

__ADS_1


"Apakah kamu benar-benar yakin tidak mau aku layani sepuasnya?"


"Ya, aku tidak tertarik terhadap siapapun."


"Kamu aneh sekali ya."


"Begitulah diriku."


Di dalam kamar penginapan yang sepi dan sunyi, Sasaki yang sengaja melepaskan pakaian dan berganti pakaian yang dibeli Regard ingin sekali melayani Regard dengan layanan khusus, tapi sayangnya dia telah ditolak.


Regard yang ada beberapa meter darinya, dia sama sekali tidak membalikkan punggungnya menghadap Sasaki, sebaliknya, dia yang menatap dinding kayu yang ada di depannya sama sekali tidak tertarik atas hal-hal tentang tindakan senonoh yang ingin dilakukannya.


"Bagaimana?"


"Kau tampak cantik."


"Benarkah?"


"Ya."


Regard yang selesai berbalik dan menatap penampilan Sasaki, dia mendekatinya dan mengelus-elus kepalanya dengan senyum di bibirnya yang diperlihatkan padanya.


Senyum itu benar-benar membuat Sasaki memerah dan malu, dia jadi mengalihkan pandangannya karena tidak kuat melihat pandangan dari sosok pria yang membeli dia karena suatu hal mengenai kehidupan baru yang harus dijalaninya.


"Mari kita pergi ke pemandian."


"Sekarang?"


"Ya."


"Baik."


"Kenapa kau tidak masuk?"


"Aku tidak tahu apakah bisa mandi sendirian atau tidak, aku terlalu takut."


Sasaki yang memegang pakaian Regard membuatnya merasa merinding mengingat bahwa siksaan yang dilakukan oleh tuannya yang lama membuat trauma dan ketakutannya masih terlihat jelas di wajahnya.


Memperhatikan wajahnya yang terlihat trauma dan ketakutan, Regard menghela nafas dan memutuskan untuk menghiburnya dengan memegang kedua pundaknya dan tersenyum.


"Kalau kau tidak bisa mandi sendirian, aku akan menemanimu."


"Benarkah?"


"Ya. Sebagai gantinya aku ingin kau tidak melakukan apapun padaku, apakah kau paham?"


"Baik."


Terkejut atas senyum yang kembali muncul di wajah Sasaki, Regard senang bahwa kata-katanya dapat mengembalikan perasaannya saat dia menyelamatkannya dari perbudakan di restoran lamanya.


Mereka berdua yang masuk ke pemandian umum wanita bergegas mengganti pakaian dan masuk ke dalam permukaan air untuk merendam tubuh mereka.


Regard yang awalnya terlihat yakin untuk tetap berada di sisi Sasaki, dia terpaksa mengubah penampilannya menggunakan [Illusion] agar dirinya menjadi seorang wanita berambut hitam panjang yang memiliki tubuh ideal yang diidamkan para gadis di dunia lamanya.


Di sisi Regard, Sasaki yang merangkul tangannya dan melingkarinya, dia terlihat waspada atas para wanita yang sedang sibuk dengan aktivitas mereka sendiri.


"Jangan khawatir, mereka tidak memperlakukan dirimu dengan buruk!"


"Ya."


Mendengar nasihat dari Regard, Sasaki menghela nafas karena dia lega bahwa mereka tidak berbahaya untuk diwaspadai.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong namamu siapa?"


"....."


"Aku belum tahu namamu jadi aku kesulitan untuk memanggil siapa dirimu."


"....."


Mendengar perkataan Regard, Sasaki enggan untuk memberitahu nama lamanya padanya.


Bagi Sasaki, nama lamanya hanya berisi penderitaan dari rasa sakit, kesedihan, keterpurukan, kekesalan, dan kebencian dapat terukir jelas di benaknya berkali-kali mengingat namanya berasal dari tuan lamanya.


"Aku tidak mau menggunakan nama lama aku."


"Kenapa? Apakah kau takut pada masa-masa itu?"


"Ya."


"Baiklah."


Terdiam dan merenung sejenak di dalam pemandian dan berpikir, Sasaki perlu nama baru jadi Regard sengaja memberikan namanya sebagai Sasaki karena itu tampak cocok untuk dirinya dalam namanya yang baru.


"Sasaki, kenapa kau tidak melawan balik pada pemilik restoran itu sebelumnya?"


"Aku sudah melakukannya, tapi dia memperlakukan aku dengan buruk dan kasar."


Di kedalaman hutan, Regard dan Sasaki yang sedang berjalan sambil berbincang-bincang usai mandi dan berniat untuk melakukan aktivitasnya sebagai petualang membuat mereka menelusuri jalan setapak demi menghindari para monster dan bandit yang akan menghadangnya.


Sasaki yang diperkenalkan di Guild Petualang, dia mendapat bantuan atas Regard untuk menjadi seorang petualang di hari pertamanya di tingkat Black Adventure, tingkat yang sama sepertinya jadi ini adalah misi pertama kalinya dia melakukannya.


"Sasaki, aku ingin tahu sebentar tentang dirimu."


"Diriku?"


"Ya. Kamu adalah Demi-human, tapi aku tidak merasakan apapun tentang mana yang ada di dalam dirimu."


"Aku tidak memiliki mana, aku hanya seorang Demi-human biasa."


Regard yang terkejut melihat wajah sedihnya, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sasaki yang bersyukur karena Regard dapat memahaminya, dia menatap jauh ke depan untuk melihat sesuatu yang terbilang cukup menyeramkan.


Dirinya yang selalu lemah membuat seluruh orang yang memperlakukan dirinya sebagai seorang budak mengambil manfaat atas keuntungan mereka sendiri dalam menggunakan tubuhnya. Ada yang menggunakannya untuk memuaskan hasrat seksual, menjual kembali dirinya, dan melecehkannya sebagai pelampiasan adalah hal-hal kelam yang dimiliki oleh Sasaki.


Kalau Sasaki tidak salah ingat, dirinya sudah sepuluh kali berganti tuan di setiap bulan bahkan tahun, sedangkan Regard, tuannya yang kesebelas adalah tuannya yang baik hati dan pemurah jadi dia sangat senang atas dirinya yang mendapat perlakuan baik darinya.


"Bolehkah aku tahu sesuatu tentang dirimu, Tuan? Kenapa kamu menginginkan aku untuk tetap hidup? Apakah seorang budak sepertiku wajar untuk hidup seperti orang-orang pada umumnya?"


Mendengar kata-katanya, Regard terdiam sejenak. Selama beberapa hari dia bersama Sasaki yang dulunya adalah Asahi, dia bingung apakah menjelaskannya akan membuat Sasaki mengerti atau tidak, dia harus menjawabnya.


"Dengarkan aku, Sasaki..."


Langkah kakinya yang terhenti di depan Sasaki, Regard membalikkan tubuhnya menghadapnya dan menatap dengan serius pada Sasaki yang ikut terhenti dan melihatnya dengan kebingungan.


"Aku melakukannya karena aku tidak mau ada budak yang kulihat mengalami nasib buruk seperti disiksa dan dilecehkan tanpa keinginan dari mereka sendiri."


"Alasannya sederhana yaitu aku telah diajarkan arti dari kehidupan oleh seseorang."


Menolehkan pandangannya ke langit-langit yang terdapat dedaunan dan ranting-ranting pohon dalam jumlah banyak, senyum menghiasi bibir Regard membuat Sasaki terdiam saat tahu ekspresi yang diperlihatkan oleh tuannya terlihat sedih.


Apakah dia pernah mengalami kehilangan untuk hidup?


Hanya itu yang dapat Sasaki pikirkan saat mengetahui ekspresi tersebut dari tuan barunya.

__ADS_1


__ADS_2