The Necromancer

The Necromancer
Ch. 46,2:Menghadapi Takdir (2)


__ADS_3

Sasaki POV


"Dimana Tuanku berada? Apakah dia baik-baik saja atau tidak?"


Sepanjang jalan, aku tidak menemukan keberadaan Tuan Regard, yang artinya aku berada di tempat yang berbeda darinya. Jangankan tempat Tuanku berada, aku bahkan tidak melihat siapapun yang ada di dekatku seperti teman-temanku, mungkin mereka dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.


Adanya kemungkinan seperti itu, aku yakin ini akan menjadi rumit untuk melakukan sesuatu tanpa aku ketahui. Masalahnya bukan hanya tempat ini yang terasa sepi dan sunyi, ada kemungkinan kalau tiba-tiba monster ataupun iblis menyerang disaat aku lengah, tamatlah riwayat aku.


Memang secara keseluruhan, aku tidak bisa dibandingkan siapapun dalam bertarung. Tubuhku yang dahulunya lemah, ada kemungkinan aku akan tiada dengan mudah seperti yang terjadi sebelumnya di kota yang telah dihancurkan oleh Hu-Machina.


Walaupun sekarang aku memiliki tubuh dan kemampuannya, aku ragu jika aku bisa mengalahkan Stahark dengan mudah. Bisa saja aku yang melakukan tindakan nekat dan ceroboh berakhir bunuh diri karena tidak mampu mengukur kemampuan dan kekuatan lawan.


"Kuharap kalian baik-baik saja ya, Teman-teman."


Seharusnya aku lebih memikirkan kondisiku sendiri, aku justru malah mencemaskan kondisi mereka.


Yah, mau bagaimana lagi, selama ini aku selalu berduaan bersama Tuan Regard, serta petualang lainnya yang ada di Guild Petualang yang sedang berbincang-bincang bersama jadi aku belum pernah memiliki teman seangkatan denganku, aku jadi bersyukur memiliki mereka.


Mungkin bisa dikatakan ini semua berkat Tuan Regard. Andai saja aku tidak diselamatkan dan dibawa pergi olehnya untuk menjalani hidup seperti biasa, aku akan berakhir di restoran yang sama sebagai seorang budak yang pasrah atas takdirku sendiri.


"Kabut? Apakah ada musuh?"


Berinisiatif untuk mengetahui dengan pasti dimana musuh berada, dengan cepat aku memunculkan pedang di kedua tanganku, bersiap-siap untuk serangan tak terduga yang ada kemungkinan itu berasal dari balik kabut.


Menunggu beberapa lama, kabut tebal yang menutupi tubuh dan pandanganku sirna sepenuhnya tergantikan oleh tempat yang akrab untuk kukenal sekarang.


"Bagaimana bisa ini terjadi?"


Melihat pemandangan yang menyedihkan dan menakutkan untuk diingat, perasaanku dipenuhi oleh emosi yang meluap-luap yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.


•••••


Shilphonia POV


Shilphonia, apakah kamu baik-baik saja? Sadarlah! Sadarlah!


Tubuhku terasa mati rasa saat mengetahui apa yang ada di sekitarku.


Seluruh pemandangan yang tidak ingin kulihat sebelumnya, sekarang membentang luas di penglihatan aku. Mulai dari kehancuran yang terjadi di wilayah tempat aku bertugas, Kota Elforia, rekan-rekan yang bertugas telah tiada, seekor naga besar yang mengamuk dengan menghancurkan bangunan apapun, serta membunuh mereka yang tak bersalah, naga itu terbang dengan mudahnya.


"Kenapa aku harus mengalami hal seperti ini?"


Seandainya aku tidak ditugaskan seperti ini oleh mereka, mungkin aku akan mengalami hidup yang tenang dan damai di Istana Langit tanpa khawatir dan cemas atas kondisiku.


Apalagi dengan pemandangan buruk yang disajikan di depan mataku, rekan-rekan yang tewas saat bertugas, mereka semua tiada demi melindungi aku dari serangan naga buas yang sulit kami tembus pertahanannya.


Shilphonia, sadarlah! Jangan terpancing emosi oleh pemandangan seperti!


Aku tidak tahu apakah ini semuanya karena aku, aku menyesal saat tahu kenyataan yang ada bahwa mereka, Para Tetua yang ada di Istana Langit salah dalam memihak Manusia sebelumnya.


Gawat! Kamu benar-benar akan tertelan oleh kegelapan  jikalau kamu tidak segera sadar, Shilphonia!


Ah... aku ingin sekali menikmati hari-hari itu sebelumnya.


Hari dimana aku merasa bersyukur memiliki teman-teman di Istana Langit, mereka yang peduli, hormat dan kagum atas tugas yang kujalani, mereka adalah malaikat junior yang selalu menghabiskan waktu bersamaku, menikmati waktu untuk membaca buku, meminum teh, serta berbincang-bincang, aku ingin hari itu kembali.


Cih, tidak ada gunanya.

__ADS_1


"....."


•••••


Terkejut atas apa yang terjadi pada dirinya, pandangan Shilphonia yang mengitari seluruh ruangan di dalam tubuhnya, berpikir ada yang aneh.


"Dengar ini, Shilphonia, jika kamu tertelan oleh kegelapan sekali lagi, aku akan membencimu sepenuhnya."


"Stephani..."


Memperhatikan Stephani yang memandangnya dengan kesal, menyilang kedua tangannya di dada, kaki kanannya yang diketuk berkali-kali membuat Shilphonia tersenyum atas sikapnya.


"Terimakasih."


"Berisik! Aku melakukan ini demi dirimu, paham?"


Berjalan mendekati Shilphonia, Stephani yang menghentikan langkahnya dan berdiri di sisinya menepuk salah satu pundaknya, melirik ke arah Shilphonia. Shilphonia yang memperhatikan Stephani, ia hanya terdiam sambil menunggu apa yang ingin dikatakannya padanya.


"Tidak peduli apa yang terjadi padamu nantinya, aku hanya ingin kamu menjalani hidup di cahaya yang terang sebagai pembawa harapan, sedangkan aku sendiri akan berada di bayang-bayang kegelapan, menghisap seluruh kegelapan yang ada di dirimu untuk kekuatan dan kemampuan aku sendiri."


Kata-kata yang diucapkan Stephani benar-benar terasa sangat mendalam yang membuat sepasang mata Shilphonia berlinang air mata, mengalir deras di pipinya, ia menyekanya dengan segera.


"Terimakasih, Stephani. Berkatmu, aku kembali sadar dari keterpurukan yang kurasakan sebelumnya."


"Syukurlah. Jika tidak, aku mungkin akan mengamuk dan mengambil alih tubuhmu jika kamu telah menyerah terhadap semua yang kamu miliki."


"Ya, kamu benar."


Mereka berdua yang sekarang saling berhadapan, berpelukan dengan erat.


Bagi Stephani, Shilphonia yang terang bagaikan secercah harapan, ia tidak ingin kalau Shilphonia tertelan oleh kegelapan yang membuatnya sama seperti Stephani. Satu-satunya yang diperbolehkan untuk menelan kegelapan itu sendiri adalah Stephani jadi ia tidak akan membiarkan orang seperti Shilphonia melakukannya, ia sengaja mencegahnya.


"Apakah tidak apa-apa untukmu?"


"Ya. Jangan khawatir, aku yakin bisa menghadapinya melebihi dirimu."


Pandangan Shilphonia yang fokus pada ekspresi Stephani yang terlihat serius, serta sorot matanya yang terlihat percaya diri, Shilphonia memberikan senyuman hangat padanya, mengangguk ringan seolah-olah menjawabnya.


"Aku mengandalkan dirimu, Stephani."


"Ya."


Di lain tempat, Friya yang tercengang dalam diam mengetahui kalau seluruh kabut tebal yang sebelumnya menutupi tubuhnya telah berubah menjadi pemandangan yang menakutkan dan menyeramkan untuk dilihat.


Beberapa elf yang terbaring di permukaan tanah yang telah tiada, genangan darah yang terlihat, serta hujan darah, dihadapannya terdapat sosok yang telah menteror para elf selama ini, Stahark sedang terdiam tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya berada.


"....."


Menoleh ke arah sekitar, tidak ada tanda-tanda kalau bala bantuan datang, sebaliknya, siapapun yang datang untuk menyerang Stahark, mereka semua dengan mudah dikalahkan olehnya tanpa ampun yang membuat kedua tangan Friya mengepal kuat, kesal dan benci atas apa yang dilihatnya.


Memang Friya tidak bisa melupakan atas kekejaman yang dilakukan oleh Stahark terhadap para elf. Apalagi dengan kehancuran yang terjadi di masa lalu sebelum Friya lahir, Nek Ryadu yang menjelaskan bahwa banyak dari elf lain yang ikut terjebak mati demi mengorbankan dirinya, Friya yakin itu adalah tindakan yang mulia.


Tapi di sisi lain, dirinya yang dihadapkan pada satu pilihan hanya bisa merenung sejenak, berpikir kalau ini akan menjadi masalah jika Friya mengikuti suasana yang ada di sekitarnya.


Tenang dan amati sekitar.


Hanya itu yang diingatnya saat Nek Ryadu, guru sekaligus sesepuh elf yang mengasuh Friya sejak kecil, dia menjelaskan padanya bahwa saat dalam kondisi terdesak yang tidak tahu apakah ada cara untuk keluar atau tidak, Nek Ryadu mengatakan Friya untuk mengatur nafasnya, membuang segala pikiran dan perasaan negatif lainnya, serta fokus pada cara memahami situasi sekitar, itu adalah cara efektif yang seringkali Friya lakukan saat dirinya berada di kondisi terdesak.

__ADS_1


"Baiklah."


Berhasil mengumpulkan ketenangannya, hati Friya mulai lega dan tidak lagi terdapat dendam tersulut di hatinya maupun kekesalannya atas Stahark yang pernah dilakukannya pada para elf.


Jika dia mengikuti emosi negatif tersebut tanpa mengetahui konsekuensinya, ada kemungkinan Friya yang akan kehilangan akal pikirannya akan bertindak ceroboh dengan mengedepankan nafsu membunuhnya yang kuat pada Stahark, Friya tidak ingin dia mati sia-sia di tempat tak dikenal seperti ini.


Daripada mati di tempat asing, Friya lebih memilih mati untuk kebaikan yang dapat membawa ketenangan dan kedamaian jiwanya saat dirinya tiada nanti, itulah yang diinginkannya dari kematian tersebut.


Dirinya yang mengumpulkan sejumlah mana di dalam tubuhnya berniat untuk mencoba melakukan yang terbaik agar bisa terbebas dari pemandangan yang menjijikkan untuk dilihat.


"Sekarang!"


Setelah memejamkan matanya, Friya yang membuka matanya membuat retakan di seluruhnya yang menyebabkan pemandangan tadi tidak terlihat kembali, sekarang yang terlihat oleh Friya hanyalah ruangan besar yang tak dikenal yang terdapat pohon berukuran besar yang berada di tengah-tengah ruangan.


"Mungkinkah pohon ini penyebabnya?"


Menduga itu yang terjadi, Friya buru-buru mendekati pohon besar yang dilihatnya, bersiap untuk menebangnya dengan segera. Ia yang berniat untuk memotongnya melemparkan sihir [Windwheel Magic] dalam ukuran yang besar ke arah pohon, hembusan angin kencang berhembus ke segala arah membuat Friya yang menutupi pandangannya dengan salah satu lengannya memfokuskan diri untuk melihat apakah itu berhasil atau tidak.


Ini....


Alih-alih Friya yakin itu akan berhasil, ia justru dikejutkan kalau pohon itu bukanlah pohon biasa yang mampu dipotong menggunakan sihirnya melainkan pohon khusus yang mampu menyerap sihir yang Friya gunakan tadi ke dalam pohon tersebut yang membuat serangannya yang awalnya berpikir berhasil malah tidak.


"Ini akan benar-benar merepotkan."


Ada kemungkinan kalau pohon itu akan aktif kembali memperlihatkan ingatan masa lalu yang berupa penyesalan yang dimiliki oleh Friya, ia tidak tahu bagaimana cara mengatasi pohon besar yang harus dia rubuhkan dengan cepat tanpa kesulitan.


Dilihat dari hembusan angin tadi, itu memang efektif. Tapi sayangnya keefektifan yang dipikirkannya berhasil, justru berakhir gagal saat tahu pohon itu menyerap sihirnya. Apalagi sihir yang digunakan Friya tadi, [Windwheel Magic] adalah sihir yang berada di sihir dasar namun dengan mana dalam jumlah banyak, ia melakukannya.


•••••


Reita POV


"Kakak, berhati-hatilah!"


Tidak mendengarkan perkataan aku, Kak Daffa yang pergi meninggalkan aku sendirian di dalam gua, ia mencoba untuk melawan beberapa monster goblin yang memasuki gua.


Aku tidak mau itu terjadi padanya jadi aku berniat untuk mengejarnya. Akan tetapi aku tidak dapat meraihnya, jarak diantara aku dan Kak Daffa seakan-akan menjauh satu sama lain untuk ditakdirkan tidak bisa mendekatinya.


"Hentikan!"


Ini bohong kan?


Kak Daffa... kenapa kamu melindungi aku? Kenapa?


Melihat Kak Daffa yang tergeletak di permukaan tanah dengan beberapa luka dari tebasan pedang yang dilakukan oleh ketiga goblin, aku tidak tahan melihatnya.


Andai diriku tidak diselamatkan oleh Kak Daffa, mungkin aku sudah bisa menjalani hidup bersamanya tanpa penyesalan seperti sekarang. Bahkan saat ini di hadapanku, Kak Daffa yang terlihat sama persis seperti yang terjadi di masa lalu, dia benar-benar masih peduli dan sayang terhadapku, adiknya sendiri.


Padahal aku sudah seringkali berniat untuk membelanya dari perlakuan kasar dan buruk yang orang-orang dewasa lakukan saat ia bekerja untuk menyerahkan bijih material pada mereka, Kak Daffa malah menghentikan aku dan menyuruhku untuk tidak mencari gara-gara pada mereka.


"....."


Entah kenapa hatiku terasa sakit saat mengingatnya.


Selain sosok Kak Daffa, sosok yang kukenal satunya lagi juga mirip persis seperti Kak Daffa, dia tidak lain adalah Regard Arthen, pria yang memiliki class Necromancer, class terlarang yang tidak dimiliki oleh siapapun, aku yakin kalau kehidupannya sehari-hari cukup sulit untuk dijalaninya selama hidupnya.


"Tunggu aku, Kak Regard!"

__ADS_1


Menepis masa lalu yang diperlihatkan, aku berjalan pelan-pelan menelusuri ke dalam gua, melihat banyak goblin yang bersarang, aku berniat untuk membalaskan dendam atas kematian Kak Daffa.


Kali ini aku tidak akan kehilangan kendali karena aku memiliki sosok seorang kakak baru, Kak Regard jadi aman untukku membunuh mereka dengan segera untuk bisa menyusul ke tempat Kak Regard berada, hanya itu tujuanku.


__ADS_2