
Tidak ada pilihan lain ya.
Mengerahkan seluruh kemampuan yang ada, Regard mengaktifkan rentetan kemampuan yang berasal dari Necromancer.
Mulai dari [Infinity Spirit] yang melindungi dan membungkus dirinya di dalam aura ungu yang berubah menjadi sosok menyeramkan dengan kedua tangan dan katana yang ada di sisi kanan, [Dark Soul] yang berada di belakangnya yang mampu melayang di udara layaknya roh kecil dengan warna hitam, [Dark Aura] yang mampu meningkatkan statistik baik dari pertahanan dan serangan berkali-kali lipat tanpa kekurangan apapun.
Setelah Fenrir dan Regard selesai mengerahkan kemampuannya dalam sekali serangan, mereka bergegas menerjang langsung ke arah lawan.
Dum!
Getaran tanah dari permukaan salju yang kuat menghempaskan butiran salju yang ada di permukaan tanpa sisa sehingga menyebabkan kawah di permukaan tanah. Udara yang berhembus kencang yang lebih kuat dari sebelumnya membuat badai salju buatan dapat terlihat jelas oleh pertarungan mereka.
Dalam sekejap mereka menghilang di tempat lalu muncul dengan saling beradu serangan.
Regard yang menggunakan [Death Slash] mampu ditangkis oleh Fenrir menggunakan [Rage Mode] pada [Fenrir Mode] yang dimilikinya menyebabkan Regard tidak dapat melakukan apapun.
Menduga itu yang terjadi, Regard melemparkan [Dark Soul] ke arahnya menyebabkan area di sekitar berubah menjadi hitam.
Semua itu tidak berlangsung lama.
Fenrir yang dengan mudah mengaktifkan [Wind Slash] menyebabkan udara yang ditebas menggunakan kedua cakar di lengannya membuat tebasan angin yang kuat.
Fenrir yang sedari tadi berada dalam posisi bertahan, dia membuka mulutnya bersiap untuk menyerang Regard.
Regard yang tahu dengan jelas, menggunakan [Dark Dimension] di depannya yang menyebabkan laser berwarna biru yang disertai kobaran api melesat dengan cepat memasuki portal hitam lalu meledak di tempat lain.
"....."
"....."
Keduanya yang saling berhadapan, bergegas untuk menyelesaikan pertarungan yang ada.
Fenrir yang dengan cepat menggunakan [Ice Lotus] mengirimkannya pada Regard menyebabkan area di sekitar pijakan berubah menjadi kristal es yang bermekaran berkali-kali.
Menghunuskan pedangnya menggunakan [Infinity Spirit], Regard kali ini menggunakan metode berbeda yang didapat dari kemampuan yang dimiliki oleh orang-orang yang dirasanya berhasil dia [Copied Skill].
Mengaktifkan [Unlimited Blade], rentetan pedang dengan berbagai macam jenis dan warna mengarah langsung ke arah Fenrir.
Dalam sekejap mata, Fenrir mampu membuat gelombang kejut di udara dengan gerakan tubuhnya dan keempat kakinya membuat seluruh pedang yang mengarah padanya berjatuhan ke permukaan salju.
Sudah kuduga itu takkan berhasil.
Menguatkan diri, Regard menggunakan [Skeleton Knight] yang diperkuat oleh [Dark Aura] miliknya.
[Skeleton Knight] dalam jumlah banyak berubah menjadi besar dan berpenampilan seperti makhluk iblis yang siap untuk menyerang Fenrir. Memegang keempat kakinya, Fenrir menggigit bibirnya, kesal atas kemampuan yang tidak berguna ini untuk dirasa cukup dalam menahannya.
Jadi, Fenrir menggunakan [Ice Burst] yang menyebabkan [Skeleton Knight] dalam jumlah banyak meledak usai bola es mengenai tubuh mereka membuat mereka lenyap tak tersisa.
"Mari kita akhiri ini, Manusia."
"Ya. Dengan senang hati, aku akan melakukannya."
Dengan sekuat tenaga, Regard dan Fenrir, keduanya bersiap untuk mengakhirinya dalam sekali serangan.
Udara di sekitar berubah menjadi dingin dan tegang yang tidak ada satupun dari mereka berdua terlihat tidak serius dalam menanggapi pertarungan yang ada, sebaliknya, mereka benar-benar berniat untuk mengakhirinya kali ini tanpa melakukan serangan apapun melainkan satu serangan penuh.
"....."
"....."
Tepat ketika keduanya menerjang, daya ledakan jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Kawah yang sebelumnya telah mereka buat berubah menjadi lebih dalam dari biasanya. Tak hanya itu, salju yang ada di sekitar mereka perlahan-lahan hilang tanpa jejak menggantikan permukaan tanah yang telah dihancurkan oleh mereka berdua.
"Matilah, Manusia!"
"....."
Saking dahsyatnya pertempuran mereka dalam satu serangan, getaran tanah yang disertai hembusan angin dapat dirasakan oleh ketiga gadis yang masih sibuk melawan kawanan serigala yang mengepung mereka.
Tak hanya mereka bertiga, Veru dan Kanae yang berada di tempat yang berbeda satu sama lain, keduanya menyadari bahwa suasana di Gunung Baurme sangat berbeda dari biasanya.
Mungkinkah dia sedang bertarung?
Sambil menahan rasa sakitnya di lengan akibat luka gigitan dan cakar yang berhasil dipulihkan menyebabkan Veru tidak dapat bergerak banyak melainkan dia terdiam sejenak, memperhatikan badai salju yang ada di kejauhan yang tahu itu bukanlah faktor alam melainkan gaya bertarung Regard yang sembrono namun kuat dan hebat.
Aku mengandalkan dirimu, Nak!
Sebelum akhirnya memejamkan matanya untuk beristirahat, Veru yakin cepat atau lambat, pertempuran ini akan dimenangkan oleh Regard tanpa kekalahan sedikitpun.
Regard mampu bertindak dibalik layar di malam hari di Kota Farihiora benar-benar terlihat hebat tanpa diketahui oleh Ksatria Kerajaan manapun.
__ADS_1
Tak hanya itu, Veru juga sempat mengingat bahwa Regard dengan mudahnya mengalahkan Colorful Adventure yang dirasanya kuat dan hebat melebihi dirinya, serta iblis bernama Fuzikumibaru berhasil dikalahkannya tanpa ada luka sedikitpun di tubuhnya.
Benar-benar seorang monster. Itulah apa yang akan dipikirkan Veru saat pertama kali melihatnya. Namun, pandangannya telah berubah saat tahu bahwa Regard telah membuka hatinya terhadap teman-teman barunya.
Seorang manusia yang hebat. Itulah deskripsi yang cocok untuk diartikan dari sosok Regard.
•••••
Regard POV
Hampir saja.
Jika aku tidak menggunakan kemampuan lainnya, aku mungkin akan mati oleh Fenrir.
Namun...
Aku berhasil memenangkan pertarungan berkat kemampuan dari [Copied Skill] yang didapat dari ketiga gadis di dekatku membuahkan hasil kemenangan.
Secara tidak sengaja, aku terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari dalam mulutku.
Sial. Sepertinya sudah batasnya ya.
Mengambil beberapa botol kaca berisikan darah yang disimpan untuk berjaga-jaga dalam kondisi tertentu, aku meminumnya.
Rasanya benar-benar nikmat namun tidak segar seperti biasanya.
Baiklah.
Sekarang waktunya menyantap hidangan pertama.
Mendekati tubuh Fenrir yang bersimbah darah, aku dengan cepat menggigit lehernya dan menghisap darahnya.
Aku tahu kalau ini akan ada efek tertentu, tapi aku melakukannya karena aku penasaran atas pandangannya yang seakan-akan membenci manusia melebihi apapun layaknya Fuzikumibaru serta iblis lainnya.
Apakah dia ada kaitannya dengan Stahark atau tidak, aku akan mencari tahunya dengan darah yang berhasil dihisap dalam mengetahui masa lalunya.
Baiklah. Sudah cukup.
Dirasa cukup untuk menenangkan diri dari kegelapan yang mengamuk di dalam tubuhku, aku mulai menyembuhkan secara acuh agar dia dapat segera kembali sadar.
Aku tahu ini sedikit nekat dan ceroboh, tapi dia tetaplah makhluk hidup jadi hak untuk hidup adalah satu-satunya yang dapat aku kembali menggunakan, [Soul Return] dan diikuti oleh [Infinity Spirit] kepadanya.
Selesai.
Tak lama setelah beberapa jalan, tubuhku terasa berat menyebabkan aku terjatuh ke permukaan tanah lalu memejamkan mata.
Gelap, gelap, dan gelap.
Itulah yang kurasakan sekarang.
Tidak dapat melihat maupun mendengar.
Apakah aku telah tiada?
Tidak, mustahil jika itu terjadi. Lantas, apa yang terjadi padaku?
Aku sendiri tidak tahu atas apa yang terjadi jadi aku mencoba meraba-raba di sekitar untuk mengetahui dimana aku berada.
Mungkinkah tubuhku dikendalikan oleh kegelapan? Itu adalah pernyataan yang tidak masuk akal.
Setelah menenangkan kegelapan yang menyelimuti diriku, darah dari Fenrir cukup untuk memuaskan hasrat lapar atas kekuatan dan kemampuan yang digunakan sebelumnya di pertarungan jadi itu sangat mustahil.
Kalaupun aku kehilangan kendali, aku pasti sudah mengalami gejala-gejala dari kehilangan kendali pada diriku.
Lupakanlah.
Pokoknya saat ini yang perlu kulakukan ialah menjelajahi ruangan gelap yang sunyi dan hening untuk menemukan jalan keluar.
"....."
Selama beberapa langkah aku meraba-raba di dalam kegelapan, cahaya putih dapat terlihat tidak jauh dari tempatku.
Baiklah. Waktunya menuju ke kebebasan.
"....."
Sayangnya harapan itu sepenuhnya sirna.
Hamparan salju, kristal es yang berada di langit-langit gua, serta kawanan serigala yang saling berkumpul satu sama lain.
Aku tahu atas apa yang terjadi sekarang.
__ADS_1
Setelah menghisap darahnya, tubuhku langsung tak sadarkan diri menyebabkan aku dapat melihat masa lalunya dengan mudah dan cepat.
"Dahulu kala, kami selalu berjuang demi kehidupan kami."
"....."
Mengalihkan pandangan ke belakang, aku mendapatkan kalau Fenrir mendekati aku dan tersenyum.
Apakah dia benar-benar Fenrir? Kenapa dia bisa masuk ke dalam masa lalu sama sepertiku? Mungkinkah dia berniat membalas dendam atas kekalahannya?
Berbagai pemikiran bermunculan membuatku menjaga jarak darinya. Namun, dia sama sekali tidak bergerak sedikitpun melainkan tersenyum dengan ekspresi sedih yang dapat dilihat jelas.
"Aku kemari karena aku merasa bahwa kamu adalah orang yang berbeda dari manusia pada umumnya."
"Orang yang berbeda?"
"Ya. Lihatlah itu!"
Menunjuk ke arah masa lalu diputar layaknya film bioskop, aku memperhatikan dengan jelas teror yang dilakukan oleh manusia terhadap mereka.
Mereka dengan keji menghabisi kawanan Fenrir, membawa Ibu Fenrir, menyiksanya, serta menelantarkan Fenrir dari Ibunya sendiri menyebabkan kemurkaan dan kemarahan yang tidak dapat ditahan olehnya.
Saat murka dan kemarahan dirasakannya, tubuhku juga bereaksi.
Layaknya ibu yang dipisahkan dari seorang anak, aku merasakan sensasi bergejolak dari dalam diriku seolah-olah ingin menyadarkan aku bahwa itu sulit untuk diterimanya.
Apakah ini akibat darinya?
Hanya ada satu kemungkinan yang terjadi. Ya, itu tidak lain adalah Fenrir yang mampu dengan mudah mengendalikan emosi dari dalam tubuhku akibat menghisap darah miliknya.
"Aku mencoba untuk menyelamatkan Ibuku, tapi..."
Sekali lagi, penglihatan berubah menjadi kelam.
Ibunya yang sepenuhnya disiksa, dalam detik-detik terakhirnya, dia mencoba menyelamatkan Fenrir menyuruhnya untuk tetap hidup hingga seseorang datang kepadanya.
"Awalnya aku ragu atas ramalan yang Ibuku katakan, tapi..."
Masa kelam itu berubah menjadi saat dimana dirinya bertemu dengan seorang pemuda yang masuk ke dalam gua.
Pemuda itu tidak terlihat jahat. Dia dengan ekspresi polos mengulurkan tangannya ke Fenrir yang seharusnya berbahaya untuk didekati namun dia tidak takut terhadapnya melainkan dia datang untuk mengajaknya bermain.
"Aku bermain bersamanya selama beberapa hari sebelum akhirnya kami berpisah."
Ingatan itu berubah menjadi hari dimana pemuda itu terkapar di dinginnya salju yang deras dengan genangan darah yang cukup banyak mengalir di permukaan.
Nafasnya yang sudah tiada yang terdapat beberapa anak panah yang menancap di tubuhnya, disertai dengan bunyi pertempuran yang tidak jauh dari lokasi membuat Fenrir kesal dan muak untuk menghampirinya dan melenyapkan mereka semua.
"Hanya itu yang dapat aku perlihatkan padamu."
Aku mulai paham sekarang.
Tindakannya yang membenci dan dendam terhadap manusia bukan karena ulah iblis melainkan ulah manusia itu sendiri.
Setahuku, Demi-human juga bernasib sama seperti Fenrir namun mereka memiliki perlakuan yang sedikit berbeda dari kasus Fenrir.
Fenrir yang dapat dieksekusi mati sedangkan Demi-human menjalani hidup sebagai seorang budak, keduanya ditakdirkan berbeda satu sama lain tanpa ada kaitan yang terhubung diantara mereka.
"Apakah kamu sudah paham? Alasanku membenci manusia adalah..."
"Ya. Kau menjalani hari-hari yang sulit untuk aku lakukan."
Jika itu aku, aku tidak tahu akan seperti apa diriku yang sekarang.
Akankah aku memiliki pendapat dan pemikiran yang sama seperti Fenrir? Dimana mereka, para manusia telah berubah keji dan jahat padaku menyebabkan aku terus-menerus menghabisi sebagian dari mereka.
Ataukah aku justru akan mengakhiri hidupku di tangan mereka?
Aku rasa pilihan kedua tidak mungkin untuk dilakukan jadi satu-satunya jawaban ialah pilihan pertama.
"Manusia?"
"Terserah atas apa yang terjadi padamu di masa lalu. Aku..."
Memeluknya dengan erat, aku yakin dia terkejut atas tindakan aku yang tidak masuk akal.
Itu wajar. Mengingat kami sebelumnya saling bermusuhan jadi mustahil jika aku dan dia terlihat berdamai seperti yang kami lakukan saat ini.
Tidak peduli apapun yang terjadi, aku mungkin akan melindungi dirinya dari orang lain yang akan berbuat kejam dan jahat. Itulah keputusan yang aku buat dari lubuk hati terdalam.
Jiwanya yang hancur, mental dan perasaannya yang retak akibat ulah manusia, aku akan mencoba membangun kembali kehidupannya untuk tidak terus-menerus membenci manusia.
__ADS_1
Itulah tujuanku sekarang.