
Fuuya POV
"Hei, bolehkah aku berkenalan denganmu?"
Hari itu, hari pertama aku mengingat ada seorang anak lelaki yang mendekati aku tanpa sepengetahuan Ibuku, dia adalah orang bodoh yang sengaja memberikan nyawanya padaku, seorang Fenrir dengan mudahnya.
Andai saja aku melenyapkannya saat waktu pertama kali bertemu, mungkin Ibu masih tetap hidup tanpa perlu mengalami rasa sakit sebelum ia tiada meninggalkan aku.
"Apakah kau mau bermain denganku?"
Keesokan harinya, anak lelaki itu datang lagi mengunjungi gua es tempat kami, kawanan Fenrir berdiam diri di dalamnya.
Aku mengabaikannya dan memilih untuk tertidur daripada harus berurusan dengan anak lelaki yang ada dekatku, aku takut kalau hubungan yang kami jalani antara manusia dan Fenrir sangat tidak masuk akal.
Ibuku pernah bercerita tentang kehidupan yang dialami oleh pendahulu kita sebelumnya, dimana ada salah satu Fenrir yang secara tidak sengaja mendekati pemukiman penduduk kota yang terdapat banyak sekali manusia, Fenrir itu penasaran atas aktivitas yang dilakukan oleh manusia di dalam bangunan besar.
Dengan berhari-hari di setiap malam, Fenrir mengunjungi kota yang dipadati oleh para manusia, ia berpikir kalau hidup bersama mereka akan terasa menyenangkan. Dia yang memberanikan diri untuk menyamar sebagai orang lain dengan menghapus seluruh bulu-bulu di lengan dan kakinya, serta telinga yang ada di kepala beserta ekor yang memiliki bulu tebal untuk menjadi sama seperti mereka, manusia, mulai menjalani hidup layaknya mereka.
Awalnya Fenrir tersebut hidup damai dan bahagia tanpa kesulitan apapun. Dirinya yang mampu membaur dengan kerumunan orang, disuka oleh siapapun yang mengenalnya. Dirinya yang bekerja sebagai seorang pencuci piring di dapur di suatu restoran mendapatkan upah kecil yang cukup untuk membiayai sehari-harinya dalam bertahan hidup di kota.
Akan tetapi, semua itu tidak berjalan lancar selamanya.
Sejak Fenrir itu berkenalan dengan seorang manusia yang bertemu secara tidak sengaja, ia berteman dan memulai hidupnya sebagai seorang yang dicintai oleh pasangannya. Namun hal itu tak berlangsung lama, Fenrir yang kesulitan dalam mencari uang lebih untuk mengatasi insting berburunya yang mulai liar memutuskan untuk pergi ke hutan untuk berburu.
Sayangnya saat ia sedang berburu, pasangannya yang bekerja sebagai petualang menemukannya membawa satu ekor monster di mulutnya, terkejut atas sosok aslinya. Hasilnya tidak hanya hubungan yang terjalin antara mereka yang awalnya rukun dan damai telah hancur, Fenrir itu juga diusir, disiksa lalu dibunuh oleh manusia yang tidak menyukai keberadaannya.
Itulah apa yang diceritakan oleh Ibuku sejak dulu, aku takut itu yang akan terjadi terhadapku jika aku berkenalan dengan anak lelaki yang berkunjung hari ini, sebisa mungkin aku menghindarinya.
Akan tetapi, keesokan harinya anak lelaki itu datang mengunjungi aku di dalam gua.
"Apakah kau tidak lapar? Aku bawakan daging bakar yang sengaja disisakan untukmu."
Aromanya wangi sekali.
Hanya dengan mencium wanginya, rasa lapar mulai terasa di perutku. Padahal kupikir telah mengenyangkan perut dengan perburuan di pagi hari dengan beberapa hewan buruan yang kami dapatkan sebelumnya, aku tidak menyangka kalau lapar saat mencium aroma dari daging bakar membuatku ingin memakannya.
"....."
"Ambillah!"
Menggigit daging yang disodorkan oleh anak lelaki itu padaku, aku membawanya menjauh dari tempatnya berada. Sekilas, aku menoleh ke arah anak lelaki yang memperhatikan aku dari jauh, dia hanya menampilkan senyum tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya berada, aku kembali menyantap daging bakar yang ukurannya kurang untuk mengenyangkan perutku, tapi bisa menutup rasa lapar yang tak tertahankan ini.
"Ini...."
Aku belum pernah memakan daging yang berbeda dari biasanya.
Biasanya kami, Fenrir selalu menyantap makanan mentah-mentah maupun yang sudah dibakar tanpa ada rasa apapun, daging ini justru terasa lebih lezat dari hasil perburuan kami di pagi hari.
Benar-benar memuaskan.
"Apakah kau menyukainya?"
Ya, aku menyukainya.
Aku ingin mengatakan itu padanya namun tidak bisa kulakukan, aku takut dia akan datang kembali di keesokan harinya dengan daging yang sama untuk diberikan padaku.
Memang aku tidak mau melihatnya datang kembali kemari. Selain karena kami dari ras yang berbeda, ada kemungkinan kalau mereka, manusia akan membenci kami saat tahu aku berhubungan dengan salah satu dari mereka yang dapat menyebabkan kawanan kami, kawanan Fenrir musnah oleh keserakahan dan ketamakan manusia dalam berburu ras kami.
"Tidak enak!"
"Tidak enak ya."
Maaf, aku tidak bisa mengakui kalau daging ini enak dan lezat karena aku tidak ingin aku dan kamu berhubungan satu sama lain.
Lebih baik jika kamu menyerah sekarang daripada terus-menerus mendekati aku yang tidak terlalu peduli, aku ingin kamu pergi dari sini sebelum Ibuku datang.
__ADS_1
"Sampai nanti lagi ya, Fenrir."
"....."
Apakah aku telah menyakitinya?
Terlihat dari bagaimana cara dia berjalan, dia tampaknya terpukul atas kata-kataku tadi yang mengatakan daging pemberiannya tidak enak.
Mau bagaimana lagi, aku tidak memiliki pilihan untuk menjawabnya terus terang karena aku takut akan kejadian yang menimpa Fenrir di masa lalu, pendahuluku mengalami nasib mengenaskan saat berhubungan bersama seorang manusia.
Selamat tinggal, Manusia.
Aku harap kamu puas hanya dengan mendekati aku untuk terakhir kalinya hari ini.
•••••
"Ini...."
Dihadapan Sasaki terlihat pemandangan menakutkan dan menyeramkan untuk dilihatnya.
Seluruh manusia yang tergeletak di permukaan tanah, mereka telah tiada dengan genangan darah yang terlihat di bawah pakaian mereka. Di tengah mayat-mayat yang ada, seorang pria yang berdiri membelakangi Sasaki, ia penasaran siapa dia.
"Akhirnya kau datang juga ya, Sasaki."
Menoleh ke belakang ke arah Sasaki, Sasaki tercengang dalam diam saat tahu siapa dia. Dia yang tidak lain adalah tuannya, Regard, sekarang berdiri menghadapnya dengan wajah penuh emosi yang tersirat melalui pandangan matanya.
"Tuan.... kenapa kamu melakukan semua ini? Bukankah kamu seharusnya melindungi yang lemah yang meminta bantuan padamu dan membasmi kejahatan?"
Langkah kaki Sasaki yang terus mundur setiap kali Regard mendekatinya, ia sama sekali tidak mengerti atas apa yang dilakukan oleh tuannya saat ini.
Tuannya yang dipikirkan Sasaki akan membantu siapapun yang membutuhkan bantuan, ini justru bertentangan dengan apa yang dilihatnya, sebaliknya, apa yang dilihatnya tampak seperti kehancuran yang terjadi pada seluruh manusia yang dibunuh oleh tuannya sendiri tanpa pandang bulu sedikitpun.
"Aku menyelamatkan mereka? Jangan bercanda! Aku melakukan apa yang harus kulakukan, termasuk menghancurkan dunia dan melenyapkan kalian semua."
"....."
"Itu tidak mungkin! Tuanku tidak mungkin melakukannya! Di adalah pria yang baik yang peduli pada mereka yang membutuhkan termasuk aku sendiri jadi mustahil untuk dia menghancurkan dunia dan melenyapkan orang-orang!"
Berteriak atas kekesalannya terhadap kata-kata penuh kebohongan yang diberikan pada Regard, Sasaki yang melihat tuannya menghentikan langkah kakinya, terkejut dalam diam sambil memandangnya, senyum sempat terlihat di bibirnya.
"Ya, kau benar kalau aku tidak akan melakukan hal keji itu terhadap mereka, orang-orang yang tak bersalah."
Mendengar kata-katanya bisa diterima, ekspresi Sasaki yang terlihat senang berjalan pelan mendekatinya.
"Tapi, aku tidak bisa membiarkan mereka, orang-orang yang memperlakukan aku buruk karena class Necromancer ini membuat kehidupan yang kujalani cukup sulit setiap harinya."
"Eh?"
Terhenti langkah kakinya saat tiga langkah dilakukan Sasaki, ia tidak percaya atas apa yang dikatakan oleh tuannya kali ini.
Diperlakukan buruk? Sasaki sama sekali tidak mengerti maksudnya.
Setahu Sasaki, Regard, tuannya adalah orang yang mampu melewati apapun rintangannya dengan mudah tanpa kesulitan sedikitpun. Tapi kata-katanya tadi menandakan kalau Regard terlibat lemah, ia sadar kalau apa yang ada dihadapannya sekarang bukanlah Regard yang Sasaki kenal melainkan sosok lain yang berbeda dari tuannya sendiri.
"Siapa kamu? Kenapa kamu memiliki wujud yang sama seperti Tuanku?"
"Aku? Aku adalah Regard, Tuanmu. Kenapa aku memiliki wujud seperti ini? Itu karena aku adalah aku. Kenapa kau masih menanyakan tentang keberadaan aku?"
"....."
Terdiam tanpa menjawab pertanyaan dari Regard, Sasaki tidak tahu apa yang harus dijawabnya.
Baginya, ia tetap tidak mengerti atas apa yang dilihatnya sekarang. Bagaimana tidak, terlepas dari Regard adalah penyelamat dirinya dan orang-orang yang membutuhkan bantuannya, Regard ini benar-benar sulit untuk dimengerti oleh Sasaki.
"Aku paham atas ketidaktahuan yang kau miliki. Itu sebabnya aku..."
__ADS_1
Mengetahui ekspresi Sasaki yang terlihat masih sulit untuk menerima perkataan Regard, Regard menjentikkan jarinya yang membuat dirinya yang ada dihadapannya menghilang, begitupun dengan pemandangan yang Sasaki lihat sebelumnya terganti oleh pemandangan yang berbeda.
"Jangan mendekat! Menjauh dariku!"
Tiba-tiba ada segerombolan skeleton yang bangkit dari permukaan tanah mengepung Sasaki, dia tidak tahu harus melakukan apa.
Saat ini tidak peduli seberapa banyak Sasaki bisa mengalahkannya, gerombolan skeleton yang dilihatnya dari sela-sela kerumunan skeleton yang bangkit dengan cepat dari permukaan tanah mustahil untuk dihancurkan semuanya dengan mudah.
Mungkin saja sebelum menghabisi kawanan skeleton, Sasaki sudah kelelahan yang membuatnya tidak tahu harus apa yang menantinya nanti.
•••••
Stephani POV
Aku mengerti sekarang.
Seluruh pemandangan yang dilihat oleh Shilphonia sebelumnya yang berubah menjadi pemandangan yang kukenal dan akrab untukku ketahui, semua terlihat oleh kedua mataku.
Pandangan dimana mereka dilenyapkan, aku yang muncul usai Shilphonia telah membunuh mereka semua, para malaikat yang ada di Aula Istana Langit, aku muncul perlahan-lahan dari dalam kegelapan yang menyelimuti dirinya.
Sejak aku muncul dengan tidak sempurna, Para Tetua membuang aku dan Shilphonia dengan mudah, menyegel kami berdua di dalam Reruntuhan Sylvia, reruntuhan yang belum pernah terjamah oleh siapapun membuat kami kesal dan membenci atas kebijakan yang mereka miliki telah sepenuhnya menyimpang dari ajaran sejati yang telah diajarkan oleh para temurun kami sebelumnya, Para Leluhur Malaikat.
"Benar-benar pemandangan yang memuakkan."
Ya, aku setuju padamu. Tapi, bagaimana bisa kamu bertahan tanpa kesulitan sedikitpun?
"Mungkin karena aku sudah terbiasa dengan hal-hal kejam dan mengerikan seperti ini?"
Itu artinya urusan yang mengerikan dan menakutkan untuk dilihat, kamu mampu mengatasinya dengan mudah ya.
"Ya, begitulah."
Tapi, kenapa ini belum selesai juga.
Setelah memperlihatkan apa yang kukenal dan ketahui, tidak ada satupun pandangan yang disajikan ini lenyap dengan segera. Tidak peduli apakah aku menerimanya atau tidak, aku sudah tidak tahan atas pemandangan menjijikkan yang membuatku terus-menerus mengingat atas kekonyolan mere, Para Tetua Malaikat yang salah dalam jalurnya.
"Shilphonia, mungkin ini akan sedikit berbeda dari metode yang kita gunakan."
Metode?
"Ya, mengeluarkannya secara paksa. Aku ingin tahu sejauh mana aku mampu melakukannya."
Aku mengerti. Aku serahkan urusan itu padamu.
"Ya."
•••••
Mana dalam jumlah banyak yang keluar dari tubuh Stephani dikerahkan segenap kekuatannya agar bisa terbebas dari kenangan masa lalu yang kelam dan pahit.
Perlahan-lahan retakan mulai terbentuk lalu pecah menjadi berkeping-keping membuat Stephani yang melihat ke sekitar, tersenyum atas keberhasilannya.
"Kita sudah bebas."
Benarkah?
"Ya."
Terdiam sejenak atas apa yang ada di tengah-tengah ruangan, sebuah pohon berukuran besar membentang luas dengan akar-akar yang tumbuh dari dalam garnet merah, Stephani yang memperhatikannya dari jauh merasakan instingnya yang tidak enak atas apa yang ada di pohon tersebut.
Ada apa, Stephani?
"Kita akan segera pergi. Aku punya firasat kalau pohon itu tidak akan bisa dihancurkan maupun dilenyapkan."
Mungkinkah itu pohon yang memunculkan kabut sebelumnya?
__ADS_1
"Ya, ada kemungkinan seperti itu."
Mengabaikan pohon yang membentang luas, Stephani memutuskan meninggalkan ruangan itu tanpa menghancurkan pohon yang berada di tengah-tengah ruangan.